Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 63: Ulah Lea.


__ADS_3

Hari ini Reagen dengan timnya sedang meninjau pembangunan Zen-tral Park Mall, yaitu mall yang digadang-gadang akan menjadi tempat teraman ketika terjadi bencana alam.


Peletakan batu pertama sudah dilakukan minggu lalu dan ini adalah kali kedua dia datang kemari, dan sebagai penghormatan dari Jeff pada Reagen, pria itu memberikan kewenangan pada sang atasan untuk menamakan mall tersebut sesuai yang dia inginkan.


Hal yang terpikirkan dalam benak Reagen pertama kali adalah nama sang istri. Itu lah mengapa dia menamakan mall tersebut, dengan nama Zen-tral.


Netra cokelat Reagen bergulir, menatap hamparan bahan bangunan yang ada di depannya. Ingatan pria itu tiba-tiba tertuju pada Frans, sekretaris pribadinya yang sampai saat ini tidak dapat dihubungi.


Frans lah yang banyak membantu dirinya dan suka memberi masukan dalam setiap keputusan yang dia ambil. Tak jarang, dia juga memberi sedikit nasihat. Maklum, usianya cukup jauh di atas Reagen, 11 tahun. Kendati begitu, Frans tetap menghormati pria itu sebagai atasan.


Bryan dan orang suruhannya yang dimintai pertolongan sama sekali tidak menemukan jejak yang ganjil dari kepergian Frans.


Hanya saja, di hari kejadian dia pergi tiba-tiba, pria itu menarik ratusan dollar uangnya melalui atm. Mungkin agar bisa melakukan pembayaran secara tunai, sebab sejak itu Frans tak pernah lagi menggunakan atm-nya.


Reagen juga sudah melihat sendiri rekaman CCTV di mesin atm, dan memang benar itu adalah Frans.


Pria itu memang sudah seperti bersiap meninggalkan semuanya guna memulai hidup baru.


Seperti yang Reagen ketahui juga, bahwa Frans memang tidak bisa menetap di satu tempat dalam waktu yang lama. Identitas baru yang dia miliki mungkin saja tidak menjamin keselamatan diri pria itu.


Helaan napas keluar dari mulut Reagen. Biar bagaimana pun dia berharap mereka bisa bertemu lagi. Sulit baginya mencari orang kepercayaan yang penuh tanggung jawab seperti Frans.


Namun, walau Frans terlihat pergi atas kemauannya sendiri, Reagen tidak bisa mengesampingkan kecurigaannya. Entah ada hubungannya atau tidak, dia dan Bryan merasa Alex ada dibalik semua ini.


"Tuan Reagen." panggilan kedua Lea menyadarkan Reagen dari lamunannya.


" ... ya." Reagen menoleh ke arah Lea.


Lea melirik dua orang pria yang ada di hadapan mereka.


Jeff dan Rolland, salah satu arsitek yang bekerja sama dengan Walker Group, memandang Reagen dengan tatapan heran.


Reagen tersenyum simpul. "Maaf, melihat ini saya jadi memikirkan istri saya."


"Ahh, dari nama yang diberikan pada mall ini dan melihat sikap Anda barusan, saya yakin Anda pasti sangat mencintai istri Anda, Mr. Reagen?" Rolland tertawa sumringah. Pria itu memegang janggutnya yang lumayan lebat.


"Ya, begitu lah. Dia adalah hidup saya." Jawaban Reagen sukses membuat Jeff dan Rolland saling bertukar tawa. Sementara Lea melirik pria itu sinis.


"Sialan! Dia sengaja memanas-manasiku atau apa!" Wanita itu membatin.


Ketiga pria itu kemudian berbincang sejenak, sebelum akhirnya Reagen pamit untuk kembali ke kantor.


...***...

__ADS_1


[Aku bosan di rumah.]


Reagen tersenyum membaca pesan singkat yang dikirimkan Zenaya.


Pria itu mengetik balasan untuk sang istri.


^^^[Kemarilah, kau tidak pernah melihat kantorku, kan?]^^^


[Boleh kah?]


^^^[Tentu saja.]^^^


[Aku malu.]


^^^[Tidak perlu malu. Aku ingin memamerkanmu ke khalayak ramai.]^^^


[Cih!]


Reagen tertawa. Pria itu mengusap lembut foto pernikahannya yang dia jadikan wallpaper di ponselnya.


Lea yang duduk di depan melirik tingkah Reagen dari spion tengah dengan raut wajah kesal.


Sesampainya mereka di kantor. Reagen langsung berkutat dengan pekerjaannya. Masih ada waktu sedikit sebelum jam pulang tiba dan dia juga tengah menunggu istrinya datang. Jadi, lebih baik dia menyelesaikan satu lagi pekerjaannya.


"Tolong ambilkan dokumen perjanjian kerja sama dengan Jack Group," pinta Reagen pada Lea.


Seperti orang bodoh, Lea melihat satu persatu rak dan membuka dokumennya selembar demi selembar.


Melihat itu tentu saja membuat Reagen gerah sendiri. Padahal jelas-jelas dokumen-dokumen baru ada di rak hadapannya. Frans dengan telaten memisahkan tiap dokumen baik yang lama mau pun yang baru, baik bulan ini mau pun bulan lalu. Semua rak bahkan diberi nama.


Reagen mau tak mau menghampiri Lea.


"Dokumen baru semua ada di sini dan kau pasti melihatnya," ujar pria itu sembari meminta Lea untuk menggeser sedikit tubuhnya agar tidak menutupi dokumen yang ingin dia ambil.


"Ma–maaf, Tuan, saya lupa." Lea tertunduk.


"Hasil wawancaramu mengagumkan, CV-mu pun sangat baik, tetapi mengapa cara kerjamu semenyedihkan ini?" tanya Reagen datar.


Wajah Lea memerah menahan marah. Wanita itu pun terdiam dan menggeser tubuhnya ke samping.


Entah bagaimana ceritanya, saat Reagen hendak kembali ke meja, tiba-tiba dia tak sengaja menabrak tubuh Lea hingga terjatuh ke dalam pelukannya.


...***...

__ADS_1


Ini adalah hari pertama Zenaya cuti. Sejak tadi pagi dia sibuk membersihkan seluruh apartemen seorang diri. Wanita itu baru menyadari bahwa waktunya yang lebih banyak dihabiskan di kantor, membuat tempat tinggal dia dan sang suami sedikit terbengkalai.


Meski terkadang mereka menggunakan jasa kebersihan, tetapi tetap saja Zenaya ingin menyentuh seluruh tempat ini dengan tangannya sendiri.


Dokter sudah memperingatinya agar tidak terlalu kelelahan, jadi Zenaya sebisa mungkin melakukan semua pekerjaan dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan. Lelah seidkit dia akan langsung beristirahat dan menikmati segelas jus dingin yang sang ibu berikan tadi pagi. Kedua orang tuanya sempat mampir ke sana untuk melihat keadaannya.


"Akhirnya selesai juga," ucap Zenaya dengan wajah puas. Matanya kemudian beralih pada setumpuk sprei dan gorden yang baru saja dia ganti. Sementara yang kotor rencananya akan dia bawa ke laundry room yang ada di bawah.


Wanita itu pun bergegas membasuh diri dan berganti pakaian. Dia berniat datang ke kantor Reagen sekaligus menjemputnya.


...***...


Kehadiran Zenaya di kantor membuat kehebohan kecil. Pasalnya, mereka tak pernah melihat sosok istri dari pimpinannya tersebut. Hanya Bianca lah yang sering mereka lihat, sebab wanita itu sering menghampiri Noah ke kantor. Saat Reagen menikah pun, hanya orang-orang tertentu saja mendapat undangan.


"Ruangan beliau ada di lantai dua puluh, Nyonya Walker," jawab resepsionis kantor yang menatapnya nyaris tak berkedip. Resepsionis itu juga memberikan id-card pengunjung agar Zenaya bisa melewati barier gate.


"Terima kasih," ucap Zenaya ramah.


"Sama-sama, Nyonya Walker," jawab resepsionis tersebut.


Setelah Zenaya menjauh, kedua resepsionis itu langsung membicarakan istri dari pimpinan mereka.


"Tuhan begitu tak adil. Nyonya Jennia, Nyonya Bianca, dan sekarang anggota baru mereka, Nyonya Zenaya, memiliki keunggulan yang tidak dapat tertandingi. Mereka adalah wanita-wanita pintar dan bermartabat. Hanya orang bodoh dan tak sadar diri yang berusaha memisahkan mereka." Medina, resepsionis yang tadi menatap Zenaya nyaris tak berkedip, menundukkan kepalanya.


"Kau benar. Aku berjanji hanya akan mengagumi Tuan Reagen saja," ujar Belinda.


"Ya, kau harus sadar diri." Kikikan kecil keluar dari mulut Medina. Gadis itu menyenggol tubuh temannya, bermaksud menggoda.


"Sialan kau!"


...***...


Zenaya mematung di ambang pintu ruangan Reagen saat melihat pemandangan ganjil di dalam sana.


Reagen tengah menahan tubuh Lea yang terjatuh dalam pelukannya.


Pria itu bahkan terlihat mendekap erat tubuh seksi Lea menggunakan kedua tangannya.


Melihat sang istri sudah datang, Reagen dan Lea buru-buru berdiri. Lea memicing menatap wanita hamil yang terlihat anggun itu.


"Sepertinya aku mengganggu." Sebuah senyum simpul terpatri di wajah Zenaya. Senyum yang sangat manis, yang malah membuat bulu kuduk Reagen meremang seketika.


"Sayang," panggil Reagen.

__ADS_1


Zenaya menutup pintu ruangan Reagen dan pergi meninggalkan tempat itu.


Melihat sang istri pergi, Reagen menatap dingin Lea dan menghardiknya untuk segera merapikan dokumen-dokumen yang tercecer di lantai.


__ADS_2