Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 31 : Mengidam.


__ADS_3

Zenaya lagi-lagi tidak dapat memejamkan matanya. Wanita itu sudah belasan kali berganti posisi tidur demi menyamankan diri, tetapi tak juga kunjung terpejam.


Sudah tiga malam ini Zenaya memang tak dapat tidur dengan nyenyak. Bukan karena sedang sakit atau mengalami insomnia, melainkan ada sesuatu hal yang ingin wanita itu makan.


Jika pada saat pagi hari dia susah menelan makanan, tidak begitu dengan tengah malam. Ada saja sekelebat makanan yang terlintas dalam benak wanita itu. Kemarin Zenaya membayangkan semangkok sup jamur hangat dengan garlic bread, kali ini bayangan seporsi ayam goreng begitu memikat hatinya yang mendadak gundah gulana.


Zenaya bisa saja membelinya sendiri, tetapi entah mengapa dia tak mau melakukannya. Wanita itu menginginkan makanan yang dibeli orang lain.


Batinnya meringis, hampir menangis. Dua hari kemarin dia masih bisa menahan keinginannya, tetapi sekarang tidak lagi. Dia benar-benar menginginkan seekor ayam goreng yang baru di angkat dari wajan. Aromanya bahkan sudah dapat dirasakan wanita itu.


Matanya menoleh pada sosok di sebelahnya. Reagen tampak tertidur pulas di sana. Pria itu sama sekali tidak terusik dengan tingkah Zenaya yang tak bisa diam, padahal dia yakin gerakan tubuhnya membuat kasur mereka bergerak.


Zenaya mengusap-usap perutnya yang mulai bergemuruh. "Kita pergi berdua saja ya, Nak," gumam wanita itu sembari menghapus air matanya. Semenjak hamil, wanita itu memang sedikit lebih sensitif.


Zenaya memandang bengis sang suami, sebelum kemudian beranjak dari ranjang.


...***...


Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi ketika Zenaya sampai di luar apartemen dengan berjalan kaki.


Kawasan menuju palang pintu parkir apartemen sebenarnya selalu ramai hampir 24 jam. Mata Zenaya memandangi satu persatu kedai makanan yang berderet di sisi kirinya, sembari membaca plang nama kedai-kedai tersebut.


Matanya sontak berbinar senang, ketika mendapati salah satu kedai makanan ayam goreng, yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa pikir panjang, Zenaya masuk ke dalam dan langsung memesan satu ekor ayam goreng dengan sauce keju di atasnya.


Zenaya mengambil tempat duduk tepat di sebelah jendela. Jadi, sembari menunggu wanita itu bisa menatap suasana di luar kedai.


Meski tak banyak kendaraan yang berlalu lalang, tetapi aktifitas di tempat itu masih terlihat hidup. Zenaya juga masih mendapati beberapa penghuni apartemen yang baru pulang.


"Permisi, Nona. Ayam goreng dengan saus keju sudah siap." Seorang lelaki berusia belasan mengantarkan pesanan Zenaya. Sepertinya dia anak dari pemilik kedai. Tak lupa, sebotol air dingin juga tersaji untuk dirinya.


"Padahal ayam ini lebih enak dinikmati dengan segelas bir dingin. Sayang sekali Anda tidak terbiasa minum," ujar pemuda tersebut, mengingat perkataan Zenaya saat memesan tadi.


Zenaya tersenyum simpul. "Ayam ini sendiri yang membuatnya enak." Jawabnya ramah.

__ADS_1


Si pemuda tersenyum senang mendengar pujian Zenaya. "Terima kasih, Nona. Kalau begitu, silakan dinikmati," katanya sembari undur diri dari hadapan Zenaya.


Zenaya tertawa kecil mendengar panggilan yang disematkan si pelayan. Nona adalah panggilan bagi wanita yang belum menikah.


Sepiring besar ayam goreng yang masih menguap tersaji di depan matanya.


"Akhirnya!"


Meski makanan yang dia inginkan bukan didapat dari orang lain, tetapi dia tetap bisa menikmatinya.


...***...


Reagen berlari tunggang langgang ke luar dari apartemen menuju mobilnya. Pria itu terkejut saat mendapati Zenaya tak ada di tempat tidur. Dia juga tidak terlihat di kamar mandi, mau pun di dapur. Ponsel wanita itu juga tertinggal di atas nakas.


Reagen sempat berpikir kalau Zenaya mungkin saja kabur dari rumah. Namun, pikirannya kontan tertepis saat melihat seluruh pakaian sang istri masih tertata rapi di lemari.


"Ke mana dia?" gumam Reagen khawatir. Dia memundurkan mobilnya dan keluar dari tempat parkir.


Reagen mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran jelek lainnya. Zenaya tak mungkin kabur ke rumah orang tua mereka. Terlebih pada tengah malam begini. Sehambar apa pun rumah tangga yang mereka jalani, dia pasti tak ingin membuat para orang tua dilanda kekhawatiran.


Reagen memijit keningnya. Baru saja dia hendak melajukan mobilnya secepat mungkin, sesosok wanita yang sedari tadi dikhawatirkannya, tiba-tiba terlihat duduk di dalam sebuah kedai ayam goreng yang sudah sepi.


Zenaya terlihat asyik menikmati makanannya seorang diri.


Reagen tertawa kecil. Pikiran-pikiran jelek yang semula berkeliaran dalam benaknya mendadak lenyap.


Pria itu kemudian memutuskan memarkirkan mobilnya di samping kedai dan turun dari sana.


"Sel–"


Reagen tersenyum sembari memberi isyarat pada si penjaga kedai untuk diam. Dia lalu menunjuk Zenaya yang sama sekali belum menyadari keberadaannya.


Zenaya menghentikan acara makannya ketika Reagen tiba-tiba duduk di hadapan wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkanku kalau ingin makan di luar? Kau membuatku khawatir," ujar pria itu.


"Kau m4ti suri, bukan tidur!" jawab Zenaya kejam, sebelum kembali menggigit ayam gorengnya lagi.


Reagen menghembuskan napasnya. Dia sudah mulai terbiasa dengan kata-kata Zenaya yang terbilang ceplas-ceplos. Matanya kemudian beralih pada seporsi ayam goreng pesanan sang istri yang kini tinggal setengah.


"Kau menghabiskan ayam ini sendirian?" tanyanya terperangah.


Zenaya hanya melirik sekilas, tanpa berniat menjawab.


Memperhatikan sang istri makan dengan lahap membuat perut Reagen tiba-tiba ikut merasa lapar. Pria itu kemudian mencoba mengambil sepotong ayam goreng milik sang istri yang nampak menggiurkan.


Namun, tanpa diduga Zenaya malah menampar punggung tangan Reagen. "Pesan sendiri sana! Ini milikku!" ketusnya.


Reagen tertawa kecil. "Maaf," ucapnya gemas. Tak ingin mengganggu kesenangan sang istri, dia pun memesan makanannya sendiri.


...***...


Reagen dan Zenaya sampai di apartemen menjelang subuh. Untung saja besok merupakan hari libur, jadi dia tak perlu cemas akan bangun kesiangan.


Pria itu berjalan menuju ke dapur dan meletakkan tiga kantong plastik di meja pantry, sementara Zenaya pergi ke kamar mandi.


Selepas makan ayam goreng, keduanya mampir ke sebuah minimarket 24 jam untuk membeli berbagai camilan.


Pria itu tentu dengan senang hati menuruti kemauan Zenaya. Hatinya menghangat seketika. Meski Zenaya tetap berlaku dingin, setidaknya Reagen dapat menghabiskan waktu bersama wanita itu tanpa harus bertengkar.


Zenaya sudah tertidur pulas begitu Reagen selesai merapikan camilan di rak makanan.


Dia mematikan lampu apartemen dan ikut bergabung di ranjang bersama sang istri.


Reagen menatap sendu dua buah guling berukuran besar yang di letakkan, di tengah-tengah mereka.


Zenaya memang tidak menolak tidur di ranjang yang sama dengannya, asal tidak saling bersentuhan. Maklum, wanita itu pernah berteriak-teriak histeris kala Reagen tanpa sadar memeluknya erat. Sejak saat itulah Reagen memutuskan untuk membuat pembatas di antara mereka.

__ADS_1


Hingga kini, wanita itu pun masih menjalani konseling, walau tidak sesering dulu. Itulah mengapa dia tak lagi merasa ketakutan berhadapan dengan Reagen.


"Maafkan aku," ucap Reagen seraya mendaratkan kecupan ringan di kening Zenaya.


__ADS_2