Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.


__ADS_3

"Kau keterlaluan, bro!" pekik Bryan. Matanya memandang tajam sahabat baiknya tersebut. Bagaimana tidak, dia meninggalkan sang istri sendirian di pinggir jalan dan pergi begitu saja. Meski di dalam mobil sekali pun, tetap saja itu bukan tindakan yang dapat dibenarkan.


Reagen bergeming. Tak peduli pada makian Bryan dan celotehannya yang panjang setelah itu.


"Sekarang katakan padaku, kenapa kau bisa seperti ini? Aku setuju dengan Zenaya, kau pasti tidak hanya memikirkan kondisi keluargamu, kan?" Bryan menyilangkan kakinya dan bersedekap. Pria itu menelisik raut wajah sang sahabat yang mulai terlihat gelisah.


"Katakan yang sebenarnya! Kau tahu kita tak pernah saling menyembunyikan sesuatu, bukan?" Sambung Bryan.


Reagen menenggak cola-nya hingga habis. Kali ini dia sama sekali enggan menenggak minuman beralkohol. Jangankan menenggak, menatap saja sudah membuat pria itu merasa jijik. Dia berjanji dalam hati untuk tidak menyentuhnya lagi.


"Aku belum bisa menceritakannya sekarang." Hanya itu yang dapat dia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Bryan.


"Why?" Bryan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Jangan katakan ini ada hubungannya dengan wanita lain?"


Mendengar pertanyaan Bryan selanjutnya, Reagen membuang muka dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong.


"Biarkan aku di sini dulu," ucap Reagen.


...***...


Reagen sampai di apartemen pukul satu dini hari. Pria itu memilih tidur di sofa dari pada harus bergabung bersama Zenaya di ranjang yang sama.


Alasan tersebut diambil bukan karena Zenaya, melainkan dirinya sendiri yang merasa sangat kotor dan berdosa. Dengan begitu, Zenaya mungkin akan membencinya lagi jika dia bersikap demikian, dan rasa bersalah yang bersemayam ini bisa jadi tidak akan semakin membesar.


...***...


Zenaya tak mengerti letak kesalahannya. Selama ini dia merasa tak memiliki kesalahan atau mengajak Reagen bertengkar, tetapi sikap suaminya sungguh berubah.


Pasca kejadian terakhir, saat dia ditinggalkan malam itu, Reagen sama sekali tidak mempedulikannya. Pria itu tidak pernah menjelaskan maksud dari tindakannya, bahkan meminta maaf pun tidak.


Reagen membiarkan semua itu berlalu begitu saja tanpa penjelasan.

__ADS_1


Zenaya berulang kali mencoba menanyakan hal tersebut, atau minimal mengajaknya berbincang-bincang seperti biasa, tetapi Reagen selalu menghindari dirinya. Pria itu bahkan pernah kelepasan menghardiknya lagi.


"Pagi, Bu," sapa beberapa perawat muda ketika Zenaya sampai di rumah sakit untuk menjenguk mertuanya.


Jennia sudah sadar dari koma dan berangsur-angsur menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Begitu pula dengan Krystal, sang kak ipar. Wanita itu sudah tak lagi banyak menangis dan mulai sedikit bisa menerima kenyataan.


Namun, semua berbanding terbalik dengan kondisi supir pribadi mereka. Pria berusia 47 tahun itu menghembuskan napas terakhirnya semalam. Kondisi sang supir tak pernah membaik sejak pertama kali dibawa ke rumah sakit, bahkan semakin hari semakin memburuk hingga akhirnya harus mer3g4ng nyawa.


Noah mengurus pemakaman Hugo, nama supir pribadi mereka, sebagai bentuk pertanggung jawaban keluarga. Craig juga berencana akan menyekolahkan dua anak beliau yang masih kecil-kecil. Meski kecelakaan tersebut bukanlah kesalahan mereka, Craig tetap berusaha memberikan yang terbaik, karena biar bagaimana pun, Hugo sudah ikut bersama mereka sejak belasan tahun lalu.


Soal supir tronton yang menabrak mereka dan beberapa korban lainnya, sampai saat ini masih kekeh dengan jawaban, bahwa dirinya mengantuk dan tak sengaja menginjak pedal yang salah.


Namun, penyidik tidak mempercayainya begitu saja. Sebab dari bukti rekaman CCTV yang terdapat di lokasi kejadian, tersangka terlihat sedang menelepon seseorang terlebih dahulu, sebelum akhirnya membuang ponsel tersebut ke danau yang dia lewati. Hingga kini, polisi masih berusaha mencari keberadaan ponsel milik tersangka.


Jennia melempar senyum lemah pada dua menantunya yang datang. Zenaya menawarkan diri untuk mengajak Krystal menemui ibu mertua mereka.


Zenaya membantu mendorong kursi roda Krystal menuju ranjang Jennia.


Satu orang maid yang membantu mengurus Jennia membungkukkan badannya.


"Biar saya saja," pinta Zenaya ramah.


Perawat tersebut memberikan air dan handuk kecil itu sebelum pergi dari sana.


Dengan dibantu asisten rumah tangga sang ibu mertua, Zenaya membasuh tangan dan kaki Jennia perlahan-lahan. Wanita itu sesekali meringis kesakitan pada dadanya. Maklum saja, operasi yang beliau lakukan merupakan operasi besar. Meski sudah diberi obat pereda nyeri, tetap saja terasa sedikit menyakitkan. Terlebih, jika beliau dengan batuk atau pun menelan makanannya.


"Terima kasih, Sayang. Maaf, Mama sudah merepotkan dirimu," ucap Jennia lirih. Wanita itu menggenggam tangan Zenaya menggunakan tangan kirinya, dan tangan Krystal menggunakan tangan kanannya.


Zenaya membalas perkataan sang ibu mertua dengan senyuman tulus. "Jangan khawatirkan apa pun ya, Ma? Mama hanya boleh memikirkan diri sendiri," kata Zenaya seraya membalas genggaman tangan Jennia.


Jennia mengangguk lemah. Wanita itu kemudian menoleh pada Krystal. "Jangan bersedih lagi, Sayang," ucapnya sendu.

__ADS_1


Krystal mencium tangan Jennia dan mengangguk. Setetes air mata kembali mengalir membasahi pipinya. "Setelah ini, kita harus hidup lebih bahagia ya, Ma?" Seulas senyum menyejukkan terpatri di wajah cantik Krystal. Dia pun menatap adik iparnya dengan raut wajah yang sama.


...***...


"Mau apa kau?" Reagen memicing sinis kala mendapati Lea masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu, saat jam pulang kerja. Pria yang sedang bersiap-siap pulang itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan wanita itu.


Lea memasang senyum termanis yang mungkin terlihat seksi di mata pria lain, tapi sangat menjijikan di matanya.


"Tuan ini bagaimana, aku hanya ingin memberikan ciuman perpisahan sebelum pulang, seperti biasa," ujar wanita itu manja.


Memang, selama beberapa hari terakhir ini Lea semakin berani terhadapnya. Dia bahkan tidak sungkan menyentuh wajah Reagen, meski itu hanya sekadar ciuman mesra di pipi.


Lea menarik dasi Reagen dan membawanya ke sofa. Wanita itu kemudian duduk menyamping di sebelah Reagen dan membelit kakinya mesra.


"Jangan membuang muka begitu, Tuan." Tangan lentik Lea menyentuh dagu Reagen, dan menuntun wajah pria itu untuk menghadapnya.


"Jangan kurang ajar Lea!" desis Reagen dingin. Tangannya mencengkeram tangan Lea dan melepasnya. Pria itu pun dengan cepat bangkit dari sofa dan meninggalkan Lea.


Tak ingin membiarkan pria pujaannya pergi begitu saja, Lea menarik kasar tangan Reagen hingga terduduk kembali di sofa, kemudian menindihnya.


"Anda tahu, saya bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini Tuan. Ingat, kita berdua memiliki cerita kelam yang sama. Jadi, jangan pernah merasa bahwa hanya saya sajalah yang menjijikan." Lea menahan tubuh Reagen yang berusaha memberontak.


"Terserah apa katamu! Aku sudah muak!" seru Reagen dingin. Dia hendak mengangkat tubuh Lea dan menyingkirkannya, tetapi Lea dengan siap mencengkeram dasi Reagen, hingga membuat pria itu sedikit tercekik.


"Anda lah yang sudah membawa saya ke ranjang dan m3nodai saya. Jadi, wajar saja jika saya meminta pertanggungjawaban!" teriak Lea marah. Tanpa disangka, wanita itu dengan beringas memberanikan diri mencium bibir Reagen.


Suara benda jatuh terdengar sedetik kemudian.


Reagen menoleh ke arah sumber suara. Mata pria itu kontan terbelalak begitu melihat sosok Zenaya berdiri di ambang pintu ruangannya, dengan wajah luar biasa terkejut.


Sekotak kue yang sengaja dia beli untuk sang suami saat dalam perjalanan kemari, hancur berantakan menghantam lantai.

__ADS_1


Niatnya untuk memberikan kejutan pada Reagen dan memperbaiki semua, gagal total. Sesampainya di sana, dia lah yang dibuat terkejut oleh tingkah mereka berdua.


"Zen!" seru Reagen. Dia menampar Lea dan menghardik wanita itu keras, sebelum akhirnya bangkit dari sofa untuk mengejar sang istri yang sudah menghilang dari sana.


__ADS_2