Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 81 : Ikatan Batin.


__ADS_3

Adryan, Bryan, dan Natalie menemani Reagen di ruang perawatannya. Pagi ini, pria itu akan melakukan tindakan pembedahan dengan prosedur Neuroendoskopi, yaitu membuat lubang kecil di kepala untuk memasukan alat yang disebut endoskop. Alat ini terdiri dari tabung panjang dan dilengkapi dengan kamera yang bisa terhubung dengan monitor dalam lensa mata yang dipakai oleh dokter bedah.


Melalui endoskop, dokter bisa melihat bagian dalam otak untuk menemukan lokasi tumor ganas. Di ujung endoskop juga terdapat tang dan gunting yang bisa digunakan oleh dokter untuk mengangkat sebagian sel tumor yang ada di kepala Reagen.


Sel tersebut memang tidak dapat diangkat sepenuhnya, karena sudah menyebar ke jaringan-jaringan terdekat yang sulit dijangkau. Maka dari itu, setelah selesai melakukan pembedahan, dia akan melakukan radioterapi menggunakan sinar-x atau proton untuk membunuh sisa-sisa sel tumor yang masih ada.


Ketiganya tengah menatap Reagen yang tampak sumringah menerima telepon dari sang istri. Sesekali, Reagen bahkan tertawa kecil menanggapi celotehan panjang Zenaya.


"Baiklah, Nyonya Walker," balas Reagen ketika Zenaya kembali memberi petuah-petuah sederhana untuknya.


Reagen juga tak lupa memberitahu Zenaya untuk tidak mengkhawatirkannya, karena dalam beberapa waktu ke depan dia tidak akan dapat menerima telepon, dan hanya bisa mengirim pesan saja, sebab kedua pria itu akan mulai sibuk.


Reagen awalnya sempat ragu karena takut Zenaya akan marah dan merajuk. Namun ternyata tidak demikian. Wanita itu bersikap bijaksana dengan tidak menanyakan hal-hal yang membuat Reagen harus mencari alasan lagi. Zenaya menuruti perkataan sang suami tanpa bantahan.


"Aku akan sering-sering mengirim pesan untukmu," ujar Reagen tersenyum. Bersamaan dengan itu, dua orang suster masuk ke dalam ruangannya. Adryan buru-buru menghampiri kedua suster tersebut, sebelum mereka bersuara.


Melihat isyarat yang diberikan Adryan. Reagen pun berpamitan pada Zenaya.


"Aku harus segera meeting. Bryan sudah menungguku," katanya.


"Baiklah. Selamat bekerja," ucap Zenaya.


"Hmm ... aku mencintaimu," balas Reagen.


"Aku mencintaimu juga."


Reagen menutup sambungan teleponnya duluan. Pria itu menatap layar ponselnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya menyerahkan benda tersebut pada Bryan.


Selama menjalani pengobatan, Reagen mungkin tak akan memegang ponselnya. Oleh sebab itu, Bryan lah yang bertugas menjadi menggantikannya nanti. Pria itu diminta Reagen untuk membalas semua pesan Zenaya, seolah-olah itu dirinya.


Beberapa saat kemudian, dua orang perawat masuk kembali ke dalam ruangan dan membawa Reagen pergi dari sana. Adryan, Bryan, dan Natalie mengikuti mereka dari belakang.


"Jangan pikirkan apa pun. Kau akan baik-baik saja," pesan Adryan pada Reagen yang hendak memasuki ruang operasi. Mereka berhenti sejenak di sana.


Reagen menganggukkan kepalanya. "Aku titip Zenaya, Kak." Seulas senyum menenangkan terpatri di wajah tampan pria itu.


Adryan menggenggam tangan Reagen dan menepuknya lembut.


Reagen kemudian beralih pada Bryan. Mereka berpelukan untuk saling menguatkan.


"Awas kalau di dalam sana kau tak kembali pada kami!" ancam Bryan.


Reagen tersenyum. "Baik, saudaraku."

__ADS_1


Natalie sudah bersimbah air mata ketika Reagen kemudian menatapnya lembut. Pria itu bahkan menghapus air mata sahabat baiknya itu sembari menenangkannya.


"Kau tak boleh mati! Aku akan berbalik membencimu selamanya kalau kau sampai pergi!" seru Natalie sambil terisak-isak.


Reagen tertawa kecil, mereka pun berpelukan layaknya seorang sahabat.


Natalie masih memegang tangan Reagen, saat pria itu di dorong masuk ke dalam ruang operasi.


Pegangan tangan mereka terlepas seiring kepergian Reagen.


Adryan merangkul tubuh Natalie dan menepuk-nepuknya. Dia sama sekali tidak cemburu dengan interaksi keduanya, sebab pria itu tahu benar bahwa perasaan Natalie pada Reagen tak lagi sama seperti dulu. Meski mungkin masih tersisa, Adryan bisa memahami. Mencintai seseorang tak butuh waktu lama, tetapi melupakannya butuh segenap kekuatan.


...***...


Zenaya yang sedang duduk di dalam gazebo taman sendirian, dikejutkan dengan kedatangan Adryan. Pria itu langsung menghampiri adiknya begitu mendengar dari salah satu maid, bahwa Zenaya sedang berada di taman, saat dia baru saja sampai di rumah.


Pria itu membawa selembar selimut yang langsung disampirkan ke bahu sang adik.


"Udara malam sangat dingin, kau bisa sakit," kata Adryan seraya duduk di sebelah Zenaya.


"Terima kasih, Kak. Kakak sudah pulang? Bagaimana hari ini?" tanya Zenaya sembari mengulas senyum.


Adryan terdiam sejenak. "Seperti biasa saja. Tak ada yang istimewa," jawabnya berbohong. Dia tak mungkin mengatakan jika seharian ini menemani Reagen di St. Maria Hospital.


"Zen," panggil Adryan. Matanya memandangi wajah sang adik dalam-dalam.


Zenaya yang sedang sibuk memainkan beberapa tangkai bunga baby breath yang dipetiknya, menoleh ke arah Adryan.


"Boleh Kakak tanya sesuatu?" tanya Adryan kemudian.


"Tanya apa, Kak? Sepertinya penting sekali." Zenaya mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan raut wajah serius sang kakak.


"Tidak. Kakak hanya ingin tahu, sedalam apa perasaanmu pada Rey?" Adryan tersenyum tipis.


Zenaya mengayun-ayunkan kakinya seraya menatap langit malam yang tampak sepi dari kumpulan bintang-bintang.


"Kalau harus diukur, aku sendiri tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Semua berjalan begitu saja setelah aku hidup bersama dirinya. Kebencian dan air mata yang semula menguasai diriku pun perlahan-pahan terkikis. Aku tak tahu kapan tepatnya hal itu terjadi." Zenaya menjawab panjang lebar pertanyaan sang kakak.


Wanita itu kemudian menoleh pada Adryan. "Memangnya kenapa, Kak? Tak biasanya Kakak menanyakan hal-hal sensitif seperti ini."


"Tidak ada. Kakak ingin tahu saja. Hubungan kalian, kan, tidak diawali dengan sesuatu yang baik. Jadi Kakak harap kalian bisa hidup sehat dan bahagia." Tangan pria itu terangkat untuk mengelus perut Zenaya.


"Aku harap, Kakak juga bisa menerimanya dengan baik kali ini," pinta Zenaya.

__ADS_1


Adryan melebarkan senyumnya sedikit. "Asal dia bisa menjadi adik yang penurut, tak masalah!" kelakarnya.


Zenaya tertawa kecil. "Namun, ada satu hal yang sedikit mengusik batinku, Kak," ujar wanita hamil itu.


Adryan mengalihkan perhatiannya dari perut sang adik. "Apa?" tanyanya.


"Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku sama sekali tidak mengetahui alasannya." Raut wajah Zenaya mendadak sendu.


"Setiap kutanya alasannya, dia pasti selalu menjawab, bahwa itu hanyalah masalah pekerjaan belaka. Aku memang tidak mengerti apa pun soal pekerjaan yang digelutinya, tetapi bukankah sebagai pasangan, ada baiknya kita saling terbuka? Dengan begitu, satu sama lain bisa saling menguatkan. Kesakitannya adalah kesakitanku, begitu pula dengan kebahagiaannya."


Zenaya tertunduk. "Kalau seperti ini terus, aku merasa seperti belum benar-benar mengenal dirinya."


Adryan bergeming. Pria itu sama sekali tidak menyangka bahwa ikatan batin yang dimiliki Zenaya untuk sang suami sudah terjalin begitu dalam.


Kegalauan Zenaya sedikit memancing satu sisi Adryan untuk mengatakan semuanya pada sang adik, tetapi di sisi lain pria itu tengah berusaha menahannya sekuat tenaga.


Pasti bukan hal yang mudah mendengar kabar demikian dari orang tercinta, terlebih dalam kondisi hamil besar.


"Dia hanya tak ingin membebani pikiranmu. Kau tak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Pikiran kondisimu sendiri." Adryan mengusap lembut kepala Zenaya dan mengecupnya. "Hari sudah semakin malam, sebaiknya kita masuk dan istirahat," ajaknya kemudian.


Wanita itu menurut dan mengekori sang kakak dari belakang.


...***...


Bryan terduduk lesu seorang diri di lantai koridor dekat dengan ruangan ICU.


Mata pria berusia 30 tahun itu tampak basah. Belum lagi, dadanya yang terasa sangat sesak.


Di kedua tangan Bryan terdapat sebuah ponsel, dan dompet hitam milik sang sahabat yang tadi sempat dia titipkan. Bryan mematung, tatkala memandangi wallpaper yang terpasang di ponsel Reagen.


Sahabat baiknya itu ternyata memakai foto pernikahannya sebagai wallpaper ponsel, dan tak hanya itu saja, saat Bryan membuka dompetnya, yang pertama kali tertangkap indera penglihatan Bryan adalah, secarik foto usg bayi yang terpampang jelas di sana.


Ting! Ting!


Ponsel Reagen tiba-tiba berbunyi.


Bryan buru-buru membukanya dan membaca pesan singkat yang baru saja masuk.


❤️ Forever ❤️


[Images]


[Selamat tidur, Sayang. Jangan tidur larut malam, supaya tubuhmu bisa kembali fit dan dapat bekerja dalam keadaan prima keesokan harinya. Kami akan selalu menunggumu di rumah. ❤️]

__ADS_1


Bryan kontan terisak kala melihat foto baby bump yang dikirimkan Zenaya.


__ADS_2