Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 2 : Rencana Konyol.


__ADS_3

Zenaya menajamkan indera pendengarannya ketika mendengar suara-suara aneh yang muncul dari dalam lapangan indoor. Pasalnya, hari masih sangat pagi dan sepanjang matanya memandang, baru ada segelintir siswa-siswi saja yang datang ke sekolah. Itu pun tak ada dari mereka yang langsung menuju lapangan basket.


Bunyi pantulan bola terdengar lagi. Kali ini, disertai decitan sepatu yang berlari mengiringinya. Demi memenuhi rasa penasaran, gadis itu memutuskan untuk membuka pintu lapangan basket tersebut dan masuk ke dalam.


Kejadian berlangsung begitu cepat saat sebuah bola tiba-tiba melesat mengenai dahi Zenaya, begitu dia masuk ke dalam. Zenaya meringis kesakitan. Pandangan matanya memburam seketika.


"Kau tidak apa-apa?"


Zenaya mengangkat kepalanya begitu mendengar suara lelaki yang sangat familiar. Dia tak dapat menutupi rasa terkejutnya ketika mendapati wajah Reagen hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya saja.


"Kau pasti sensitif sekali. Dahimu yang terkena bola, tetapi seluruh wajahmu ikut memerah." Di luar dugaan, tangan Reagen tiba-tiba memegang dahi Zenaya lembut.


Zenaya refleks meringis dan menepis tangan lelaki itu. Dia pun memalingkan wajahnya. "Ma–maaf," ucap Zenaya terbata-bata.


Reagen menaikkan sebelah alisnya. "Dasar aneh!"


Zenaya menatap Reagen heran. Dia tak mengerti, mengapa Reagen selalu saja menyebut dirinya aneh.


" ... padahal aku yang melukaimu, tetapi kau yang selalu meminta maaf," sahut Reagen, seolah tahu akan arti dari tatapan mata Zenaya.


Gadis itu tersentak. Reagen ternyata masih mengingat dirinya. Dia pikir, lelaki itu sudah lupa akan kejadian kemarin. Jantung Zenaya sontak berdegup sangat keras.


"Kau benar tidak apa-apa?" tanya Reagen sekali lagi.


Zenaya mengangguk kaku. "Maaf jika kegiatan pagimu terganggu olehku. Aku permisi dulu." Gadis itu tersenyum canggung lalu pergi meninggalkan lapangan basket tersebut.


Reagen hanya bisa menatap kepergian Zenaya tanpa berniat menahannya, padahal dia belum meminta maaf pada gadis itu.


"Eh, kau kenapa?" Alice hampir saja kehilangan keseimbangan, ketika Zenaya berlari masuk ke kelas dan langsung memeluk erat dirinya.


"Loh, keningmu kenapa merah begitu?" tanya Alice terkejut, begitu Zenaya melepas pelukannya.


Zenaya tersenyum sembari mengelus dahinya yang masih terlihat memar. "Entahlah, aku harus bersyukur atau tidak, mendapatkan ini."


Mendengar perkataan Zenaya, Alice mengerutkan keningnya. "Hah? Maksudmu?" tanya gadis itu tak mengerti.


Zenaya terkikik sembari memeluk Alice kembali. " Dia ingat padaku," bisiknya di telinga sang sahabat.


"Ingat apa? Siapa?" tanya Alice masih tak mengerti.


Zenaya lagi-lagi melepas pelukannya. "Nanti saja." Dia meletakkan jari telunjuknya ke bibir Alice, sebelum kemudian duduk di kursinya sendiri.


Alice menatap Zenaya aneh. "Kurangi membaca buku-buku yang rumit, otakmu sudah mulai geser."

__ADS_1


...***...


"Wah, datang juga kau, sobat!" seru Leon, siswa tampan berpenampilan urakan yang langsung menghampiri Reagen.


Reagen hanya bergumam kecil menanggapi tingkah sok akrab Leon. Di ruangan itu bukan hanya ada Leon saja, tetapi juga Zack yang sedang asyik bermain PlayStation, dan Xander.


Meski tengah fokus bermain game, Zack langsung menggeser tempat duduknya di sofa, agar Reagen mendapatkan tempat.


"Sudah dua hari kau tidak berkumpul di sini. Kenapa, bro?" tanya Zack tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Lelah." Jawab Reagen singkat. Ia hanya menonton aksi Zack bermain game sendirian, sementara Xander tengah asyik menelepon di pojok ruangan. Lelaki itu pasti sedang menelepon Sherly, kekasihnya yang baru duduk di kelas satu.


Tak lama berselang, Bryan datang bersama Natalie sembari membawa dua buah kantong plastik besar.


"Kau datang? Untung aku membawa makan siang lebih." Bryan menendang tangan Zack agar tidak berpangku pada meja, lalu meletakkan plastik tersebut di atasnya.


Tanpa menghiraukan kata-kata kasar dari Zack, Bryan mengeluarkan seluruh makanan dan minuman yang baru saja dibelinya dari dalam kantong plastik.


Natalie mengambil kesempatan untuk duduk di sebelah Reagen, begitu Zack mematikan game-nya dan beralih pada makanan yang dibawa Bryan.


"Kita makan berdua, ya? Aku tidak akan bisa menghabiskan satu porsi sendirian," ujar Natalie dengan suara selembut mungkin. Gadis itu mengambil seporsi makanan instan dan membukanya. Kepulan asap dari makanan tersebut sukses menghipnotis indera penciuman orang-orang yang ada di sana.


"Aku bisa makan sendiri." Reagen berusaha mengambil sendok dari tangan Natalie, tetapi gadis itu menolak. Dia malah mengambil sesendok makanan tadi dan mengarahkannya pada mulut Reagen setelah meniupnya beberapa kali.


"Kalian ini selalu saja bermesraan, tapi tak pernah mengikrarkan janji untuk menjadi sepasang kekasih. Cih!" sahut Zack dengan mulut penuh makanan. Lelaki itu duduk di lantai, sementara makanannya diletakkan di atas meja.


Natalie menatap sinis Zack, lalu dengan beringas menendang meja tersebut.


"Brengsek!" umpat Zack. Hampir saja kakinya tersiram kuah panas, jika dia tidak sigap menahannya.


"Ada saatnya. Kami sedang menikmati masa-masa seperti ini dulu!" seru Natalie sinis.


Zack tertawa. "Itu sih, menurutmu, tidak menurut Rey." Lelaki itu melirik Reagen yang tampak tidak ingin ikut dalam obrolan mereka berdua.


"Sok tahu sekali kau!" Natalie menoleh pada Reagen. "Coba katakan pada manusia-manusia gila yang ada di ruangan ini, bahwa kita memang sedang pendekatan. Iya, kan?" Natalie meminta persetujuan Reagen.


Reagen hanya terdiam. Lelaki itu malah mengambil sendok dari tangan Natalie.


Natalie mengerutkan keningnya saat tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut lelaki pujaannya tersebut. Dia tampak sangat marah begitu mendengar suara tawa Zack yang tengah mengejeknya.


"Zack, hentikan tawamu," tegur Bryan yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah ketiganya.


Baru saja Natalie hendak menghampiri Zack, teriakan Xander mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Gila ... gila ... gila! Kalian tahu Mona, anak kelas dua berpenampilan culun, tetapi memiliki bokong yang seksi itu?" tanya Xander tiba-tiba.


"Kenapa?" Bryan balik bertanya.


"Gadis itu dijadikan taruhan oleh Dave dan kawan-kawannya, bro! Parahnya lagi, si brengsek itu menang dan berhasil meniduri Mona!" Xander tertawa keras setelah mengatakan hal tersebut.


"Gadis tolol!" umpat Natalie sebelum kemudian ikut tertawa. Zack dan Leon tak kalah terpingkalnya dengan Xander. Hanya Reagen dan Bryan saja yang tidak tertawa dan menatap mereka datar.


Jika saja keduanya bukan berada di tim basket yang sama, mustahil mereka sudi bergabung dengan orang-orang brengsek itu.


Xander menghentikan tawanya. "Eh, bagaimana kalau kita juga membuat permainan yang sama?" usul lelaki itu kemudian.


"Gila, kau!" umpat Zack.


"Hei, tak perlu sampai sejahat itu. Kita hanya akan memainkan peran sebagai kekasih palsu saja selama satu semester," kilah Xander. "tapi, kalau mau seperti Mona sih, tidak apa-apa juga." Tawa keras kembali keluar dari mulut Xander.


Reagen mengeratkan genggaman tangannya pada sendok yang dia pegang. Seorang gadis baru saja dihancurkan masa depannya, dan mereka semua malah menertawakan hal tersebut. Belum lagi, salah satu dari mereka berniat melakukan permainan yang hampir sama.


"Gadisnya?" tanya Leon.


"Jangan orang terdekat atau yang kita kenal. Tidak akan seru. Bagaimana kalau diacak saja? Setuju semua?" Xander menatap semua orang yang ada di sana.


"Jadi, kalau Reagen yang kena, dia harus berpacaran dengan gadis random pilihan kalian?" tanya Natalie.


Xander menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Natalie tidak terima. Dia pun berdiri dari tempat duduknya. "Enak saja! Aku tidak akan pernah rela!" Mata gadis itu memicing sinis pada Xander, sebelum kemudian beralih pada Reagen. "Kau mau ikut permainan sialan mereka?" tanya Natalie geram.


Reagen menghembuskan napasnya, lalu ikut berdiri. "Aku akan kembali ke kelas. Hentikan rencana konyol kalian." Lelaki itu pun berjalan meninggalkan ruangan.


Natalie tersenyum sinis pada Xander dan menyusul Reagen keluar.


Mengetahui kepergian sahabatnya, Bryan pun ikut keluar dari ruangan itu. "Bereskan semua ini, bro," perintahnya sebelum menutup pintu.


"Sialan!" umpat Xander. Zack dan Leon tak kalah kesalnya dengan Xander.


"Kalau bukan karena cantik dan anak dari pemilik yayasan ini, sudah kutendang dia dari sisi Reagen." Mata Xander menatap nyalang pintu ruangan, tempat di mana Natalie keluar tadi.


"Eh, bagaimana kalau kita buat Reagen yang menjalani permainan ini." Zack merangkul Xander.


"Caranya?" tanya Xander.


"Lihat saja nanti." Jawab Zack tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2