Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 26 : Takdir Hidup.


__ADS_3

Bagi Zenaya, kini langit tak lagi sama seperti sebelumnya. Mendung senantiasa singgah di pelabuhan hati wanita berusia 29 tahun itu.


Jika ditelisik lebih jauh, Zenaya merupakan seorang wanita kuat tetapi berhati ringkih, yang hingga kini masih berusaha menguatkan mentalnya agar kembali tangguh. Namun, kenyataan pahit sekali lagi menghantam batinnya yang belum pulih total.


Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir membasahi pipi Zenaya, sebagai gambaran rasa sakit yang hadir menerpa hidupnya.


Tepat di usianya yang kedua puluh sembilan, dalam tubuhnya tumbuh sesosok janin mungil berusia 10 minggu. Dokter mengatakan, bahwa keadaan janinnya begitu sehat dan kuat, berbanding terbalik dengan kondisi dirinya saat ini.


Zenaya tak ingin menyalahkan takdir yang telah digariskan. Apa lagi jika harus menyalahkan kehadiran bayinya. Sebab, biar bagaimana pun juga, mahluk mungil itu jelas tidak bersalah. Perbuatan merekalah yang salah dalam melangkah, terutama sang ayah dari bayinya ini.


Satu hal yang paling menyesakkan jiwa adalah kilas balik dari hal-hal yang tidak ingin diingat Zenaya lagi. Namun, entah mengapa, sejak mengetahui dirinya tengah berbadan dua, kebencian pada Reagen tak lagi sebesar sebelumnya. Padahal dulu, setiap Zenaya mengingat hal pahit itu, perasaan bencinya semakin tumbuh besar dan meluap.


Zenaya menghela napasnya yang terasa berat. Dia bukan sedang melunakkan hatinya untuk Reagen, melainkan untuk buah hati yang sangat dicintainya. Walau kehadiran sang anak berawal dari sebuah kesalahan, tetapi Zenaya tak dapat memungkiri rasa cintanya. Perasaan asing itu hadir tepat ketika potret sang bayi terpampang jelas di layar monitor ultrasonografi.


Rasa itu semakin jelas terurai ketika suara detak jantung sang bayi tertangkap indera pendengarannya. Setetes air mata penuh keharuan tak dapat Zenaya bendung.


"Ma, salahkah aku mencintai anakku yang hadir karena sebuah kesalahan?"


Itulah kalimat pertama yang Zenaya ucapkan pada sang ibu, yang juga menemaninya saat itu.


Amanda menggelengkan kepalanya. "Bagaimana pun caranya dia hadir, seorang ibu akan tetap mencintai anaknya."


Zenaya menangis kembali saat mengingat jawaban sang ibu. Perlahan, dia memegang perutnya yang masih terlihat rata.


"Tumbuhlah dengan baik. Mommy berjanji, kau tak akan pernah kekurangan cinta dari keluargamu," ucapnya lirih.


Pintu kamar Zenaya kemudian terbuka. Reagen rupanya datang sambil membawa sebuah nampan berisi susu hangat dan kue kering yang Zenaya sukai. Meski mereka belum dapat tinggal bersama, Reagen selalu menyempatkan diri mampir ke rumah keluarga Winston untuk melihat keadaan wanita itu.


Dia juga sudah kembali diizinkan bekerja di kantor. Craig tak lagi membatasi hidup Reagen. Dia mengembalikan semua aset dan fasilitas yang memang Reagen dapatkan dengan jerih payahnya sendiri selama ini.


Zenaya memalingkan wajahnya dan buru-buru menghapus jejak-jejak air mata.


Bicara soal pernikahan, kedua keluarga telah bersepakat mengadakannya bulan depan, dalam sebuah upacara sederhana yang hanya dihadiri beberapa orang kerabat terdekat saja. Baru pada malam harinya, mereka akan mengadakan makan malam bersama para kolega di sebuah hotel berbintang milik suami Grace, Vian.


Demi nama baik keluarga dan juga bayinya, Zenaya tak dapat menolak pinangan pria itu.

__ADS_1


Reagen meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang Zenaya.


"Minum dulu susunya," titah pria itu sembari menyodorkan segelas susu hangat pada Zenaya. Kata Amanda, Zenaya hanya bisa mengonsumsi susu dan makanan ringan saja. Selebihnya, dia selalu memuntahkan kembali semua makanan yang dimakannya.


Zenaya mengambil gelas tersebut dari tangan Reagen tanpa berkata apa-apa.


Walau hatinya sedikit pilu akan sikap Zenaya yang enggan melakukan kontak mata dengannya, Reagen tetap mengulas sebuah senyuman.


Melihat Zenaya masih bersedia meminum susu buatannya saja, itu sudah merupakan suatu kebahagiaan.


"Besok aku harus dinas selama tiga hari di luar kota." Pria itu mencoba mengajak Zenaya berbincang, tetapi Zenaya sama sekali tidak menanggapinya. Dia bersikap acuh sembari menandaskan susu hangat buatan Reagen.


Reagen kemudian membantu Zenaya meletakkan gelas kosong di atas nampan.


"Aku harus kembali ke kantor. Tolong, angkat teleponku, meski kau tak ingin bicara," pesan Reagen seraya menatap Zenaya sendu.


Zenaya masih enggan membalas tatapan mata Reagen.


Reagen menghela napasnya. Tanpa diduga, dia memajukan tubuhnya dan mengecup kening Zenaya singkat, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Begitu Reagen menutup pintu kamarnya, air mata Zenaya kontan mengalir deras. Menggunakan segenap kekuatannya, dia menghapus jejak Reagen yang masih terasa hangat di keningnya.


Tanpa sepengetahuan Zenaya, Reagen ternyata masih berada di balik pintu kamarnya. Pria itu mendengar dengan jelas kata-kata Zenaya di sela-sela isak tangisnya.


Tubuhnya bersandar lemah. Walau rasa perih dan luka tertanam dalam benak pria itu, Reagen mencoba memahami, bahwa ini merupakan bentuk konsekuensi dari apa yang dia lakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, hingga detik ini.


...***...


Sekembalinya Reagen ke kantor, ternyata sudah ada Natalie yang menunggu di dalam ruangannya sejak tadi.


Wanita itu segera berlari menerjang Reagen setelah mengetahui kedatangannya.


Kali ini, Reagen hanya bergeming. Dia tak berniat membalas pelukan Natalie. Pria itu telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak dari wanita mana pun, termasuk temannya sendiri.


Natalie melepaskan pelukannya dan menampar pipi Reagen sekuat tenaga.

__ADS_1


"Kau adalah pria brengsek! Aku mencintaimu bertahun-tahun lamanya, tetapi selalu saja Zenaya yang ada di hati dan kepalamu!" jerit Natalie. Wajahnya sudah bersimbah air mata.


Kesibukan wanita itu di luar kota, membuat dia tidak mengetahui kabar berita soal Reagen. Apa lagi, pria itu tak pernah sekali pun menanggapi telepon darinya.


Kabar pernikahan Reagan dan Zenaya pun dia dengar bukan dari mulutnya sendiri, melainkan dari Bryan.


Natalie memukul-mukul dada Reagen sekeras yang dia bisa. Dia memaki dan menghardik Reagen sembari terus menangis.


Reagen menangkap pergelangan tangannya. "Cukup, Nat."


"Sedikit saja Rey! Balaslah perasaanku sedikit saja!" Natalie menangis sesenggukan. Reagen membiarkan wanita itu bersandar pada dadanya.


Sesak menghampiri relung hati Natalie. Bertahun-tahun dia menyimpan perasaannya untuk seorang Reagen. Dia bahkan sampai rela mengikuti Reagen kuliah di luar negeri. Namun, tak sekali pun Reagen menatapnya lebih dari seorang teman biasa.


Natalie duduk bersimpuh sembari menutup wajahnya yang telah kacau.


Reagen ikut bersimpuh di hadapan Natalie dan memegang kedua bahunya lembut.


Matanya menatap wanita itu sendu. Posisi Natalie saat ini persis sama seperti dirinya terhadap Zenaya. Oleh sebab itu, Reagen sedikit memahami perasaan Natalie.


"Maafkan aku, Nat. Ketahuilah, sampai kapan pun kau adalah teman teristimewa bagiku. Aku menyayangimu seperti adikku sendiri," ucapan Reagen membuat Natalie mengeraskan tangisannya.


Sejak awal, dia memang sudah kalah telak.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2