Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 10 : Berdamai dengan Masa Lalu.


__ADS_3

Zenaya sekarang berada di kantin rumah sakit seorang diri. Kejadian tadi membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk makan siang di luar. Apa lagi Grace bersama timnya, saat ini tengah menangani Reagen di ruang operasi, karena pria itu mengalami pendarahan dalam di otaknya.


Zenaya tampak melamun. Dia hanya terlihat mengutak-atik makanannya tanpa berniat memasukan makanan tersebut ke mulut. Sampai sekarang Zenaya masih enggan mempercayai pertemuan tak sengaja yang baru saja terjadi.


Selama sepuluh tahun terakhir ini, Zenaya sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengan Reagen. Menurut kabar yang beredar, selepas lulus dari sekolah pria itu langsung terbang ke New York dan menempuh pendidikannya di sana.


Zenaya mengeratkan genggaman tangannya pada sendok yang tengah dia pegang. Selain kemarahan yang kembali meradang ke permukaan, entah mengapa, ada sesuatu hal juga kini yang mengusik batinnya, hingga membuat gemuruh hadir dalam dadanya.


"****, kau tak perlu mengasihani nasibnya, Zen!" hardiknya pada diri sendiri. Sebisa mungkin Zenaya berusaha mengenyahkan wajah pria itu dari ingatannya. Napsu makan gadis itu kini benar-benar menguap hilang.


Zenaya membanting alat makannya ke meja, lalu pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke ruangannya. Dia butuh kesibukan lain agar isi kepalanya tak lagi dipenuhi wajah pria brengsek itu.


...***...


Grace keluar dari ruang operasi bersama dokter John untuk menemui keluarga Reagen yang sedang menunggu di sana.


"Keluarga Walker?" panggil sang dokter.


Jennia, ibu Reagen, segera berdiri dari kursinya, diikuti oleh sang suami, Craig, dan anak sulungnya, Noah.


"Putra saya, bagaimana keadaan putra saya, dok?" tanya Jennia khawatir. Jejak-jejak air mata masih sangat jelas terlihat membasahi wajah cantik wanita itu.


"Operasi berjalan dengan sukses. Pendarahan di otaknya berhasil dihentikan. Namun, akibat benturan hebat yang dia alami, membuat sebagian syaraf yang menghubungkan tubuh bagian kanannya mengalami penurunan fungsi," ujar sang dokter menerangkan.


Jennia hampir saja terjerembab jika Noah tak segera menahannya.


"Kalian tak perlu khawatir, dengan fisioterapi dia akan bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Sekarang kami akan segera memindahkannya ke ruang ICU untuk diobservasi." Dokter John dan Grace tersenyum ramah demi menenangkan hati keluarga Reagen. Keduanya pun undur diri meninggalkan mereka bertiga.

__ADS_1


Noah memapah Jennia kembali ke kursi. "Rey, akan baik-baik saja, Ma," ucapnya menenangkan.


Jennia memeluk sang putra sulung, sementara Craig bersandar pada dinding seraya memejamkan matanya. Pria paruh baya itu tak pernah menyangka, kejadian nahas menimpa anak sulungnya yang baru saja pulang ke rumah, setelah sekian lama hidup di luar seorang diri, sembari menempuh pendidikan dan mengurus perusahaan cabang keluarganya di sana.


Dia berharap sang anak dapat segera pulih kembali. Mereka bahkan belum sempat memeluk putra bungsunya tersebut.


...***...


Zenaya sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah saat Grace masuk ke ruangannya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Zen," panggil Grace. Matanya menelisik raut wajah Zenaya yang terlihat biasa-biasa saja.


Zenaya menjawab panggilan sang sahabat dengan gumaman, sembari memakai mantel hangatnya. Udara pada malam hari sudah mulai dingin. Niscaya, tak sampai satu minggu lagi salju pertama akan turun menghiasi kota mereka.


Grace menutup pintu ruangan Zenaya dan bersandar di sana. Dia mengambil napasnya terlebih dahulu sebelum memulai bicara.


"Hm ...." Lagi-lagi Zenaya hanya bergumam dalam menanggapi perkataan Grace.


Grace mendengkus samar. "Dia baru saja kembali dari New York, dan mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju ke rumah."


Zenaya terdiam. Tak ada sedikit pun niat untuk menanggapi ocehan sahabatnya, meski tanpa sadar gadis itu memasang kedua telinganya baik-baik demi mendengar semua penjelasan Grace.


"Mobil yang dikendarainya hancur tertimpa Dump Truck dari samping saat mencoba mendahuluinya. Atap mobil ringsek hingga menyebabkan tubuhnya terhimpit selama beberapa saat." Grace menghentikan perkataannya sejenak untuk melihat reaksi Zenaya.


"Itulah yang menyebabkan dirinya mengalami pendarahan di otak, hingga membuat syaraf pada tubuh bagian kanannya mengalami penurunan fungsi. Kami pikir operasi ini tidak akan berhasil, atau jika berhasil dia akan mengalami koma yang panjang. Namun, semangat hidup ternyata mampu membuat pria itu berhasil melewati masa kritisnya dengan baik." Grace terdiam, menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Zenaya.


Namun, Zenaya sama sekali enggan bersuara. Wanita itu memang sedikit tersentak, tetapi dia mencoba menahan menahan raut wajahnya agar tetap terlihat biasa.

__ADS_1


"Aku tak peduli!" Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Zenaya.


Suasana mendadak hening. Grace memandang sahabatnya baiknya itu dalam-dalam, guna mencari sebongkah kebohongan di wajah cantiknya. Memang tak mudah menghilangkan rasa sakit yang sudah tertanam sekian lama. Apa lagi jika rasa sakit itu diberikan oleh orang tercinta, seperti yang telah dialami Zenaya. Namun, seharusnya Zenaya tak perlu lagi melakukan hal tersebut. Terlebih, karena hal itulah Zenaya sampai menutup rapat-rapat hatinya dari jangkauan pria mana pun.


"Zen." Grace kembali bersuara.


"Aku ingin pulang, Grace." Zenaya melangkah dan berhenti di hadapan Grace yang masih setia menyandarkan diri di pintu ruangannya.


"Kau ... tak ingin menem–"


"Tidak!" jawab Zenaya cepat. Gadis itu tahu benar apa yang akan dikatakan Grace barusan.


"Dia sedang diobservasi di ruang ICU dan belum sadarkan diri." Entah mengapa Grace ingin sekali Zenaya mengetahui kondisi pria itu.


"Lalu?" Zenaya tersenyum sinis. "Semua tak ada hubungannya denganku, Grace!" sambung gadis itu marah.


"Zen, demi Tuhan, kisah kalian sudah berlalu sejak kau lulus dari sekolah. Sudah saatnya kau berdamai dengan masa lalu. Kesakitanmu membawa kerugian tersendiri, Zen. Lihat bagaimana hidupmu sekarang." Grace tak lagi repot-repot menahan kekesalannya.


Zenaya melebarkan senyumnya. "Tahu apa kau soal hidupku? Bicara memang hal yang paling mudah. Kau tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjalani hidup di bawah bayang-bayang pria brengsek yang sudah menyakiti hatimu sedemikian dalam!" teriak Zenaya seketika.


Grace tersentak saat melihat setetes air mata lolos membasahi pipi sahabatnya itu. Pertahanannya goyah. Dia membiarkan Zenaya menerobos pergi meninggalkan ruangan.


"Bukan itu maksud perkataanku," gumam Grace lirih.


Zenaya melangkah terburu-buru sembari sibuk menghapus kasar air matanya yang tak mau berhenti mengalir. Ada setitik kekecewaan yang hadir memenuhi batin gadis itu. Sebagai sahabat, Grace seharusnya mendukung apa pun yang menjadi pilihan hidup Zenaya, bukan malah menyuruhnya untuk berdamai dengan masa lalu.


Zenaya tertawa sinis. "Persetan berdamai dengan masa lalu!" umpatnya kasar. Kebencian yang sudah tertanam lama untuk pria itu akan terus bersemayam di dalam hati Zenaya, sampai kapan pun.

__ADS_1


Linangan air mata masih senantiasa membasahi pipi gadis cantik itu.


__ADS_2