
Di dalam hidup ini, tak ada yang lebih disyukuri Reagen dari pada apa yang dia rasakan sekarang.
Reagen tahu, dia bukan seorang Hamba yang tunduk akan perintah Tuhan. Ada begitu banyak perbuatan dosa yang telah dia lakukan hingga detik ini. Namun, Tuhan ternyata masih sudi memberikan sedikit kebahagiaan pada dirinya. Salah satunya adalah balasan dari perasaan cinta yang selama puluhan tahun sudah terpendam jauh di dalam lubuk hati pria itu.
Hubungan keduanya mungkin memang harus diawali dengan sebuah kesalahan. Belum lagi, Reagen juga harus melewati segala macam kebencian dari wanita yang sangat dicintainya itu. Tetapi berkat kesabaran dan pembuktian tulus yang ditunjukkan olehnya, dia pun mampu mengembalikan perasaan Zenaya seperti dulu.
Akan tetapi, hubungan mereka ternyata tidak begitu saja berjalan mulus. Reagen dan Zenaya harus melewati beberapa kali cobaan, yang bahkan sampai mengancam keselamatan keluarga mereka.
Reagen pikir semua telah usai ketika masalah terbesar yang terjadi pada keluarga mereka, akhirnya bisa terpecahkan. Dia bahkan dengan percaya diri mengucapkan seuntai janji pada Zenaya untuk selalu membahagiakannya.
Namun, apa yang harus dia lakukan kini. Sebuah fakta lain menghantam telak jiwanya. Fakta yang seolah-olah enggan membiarkan Reagen menepati sebaris kalimat janji, yang pernah dia ucapkan pada sang istri.
Reagen tak dapat memberikan reaksi apa pun, ketika kakak iparnya, Adryan, membaca hasil diagnosa dari serangkaian pemeriksaan yang sudah dia lakukan selama beberapa waktu terakhir ini.
Dokter yang sebelumnya menangani Reagen, merujuk pria itu untuk datang pada sang kakak ipar, yang memang menangani penyakit seperti ini.
Reagen mengepalkan kedua tangannya yang mulai terasa dingin. Mencoba mengontrol segala perasaan yang berkecamuk di benak pria itu.
Sementara Adryan sendiri, tengah berusaha untuk tidak meremas hasil diagnosa sang adik ipar. Batinnya meringis, memikirkan bagaimana Reagen akan melewati semua ini, dan seperti apa reaksi Zenaya, jika dia mengetahuinya nanti.
Meski hubungannya dengan Reagen tidak terlalu baik, bukan berarti Adryan tidak peduli pada kondisi adik iparnya tersebut.
Reagen menatap Adryan serius. "Apa ini efek dari kecelakaan yang pernah kualami? Ditambah perkelahian terakhir waktu itu." Dia mengeluarkan suaranya perlahan, berusaha agar tidak terdengar terguncang.
"Tidak. Penyebab kanker ini tidak bisa diketahui secara pasti." Jawab Adryan.
Reagen bergeming sejenak. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan raut wajah tegar.
"Stadium tiga memiliki pertumbuhannya yang lebih cepat dan dapat menyebar ke area otak lainnya. Kita akan melakukan pembedahan untuk mengangkat sebagian tumor tersebut. Setelah itu, kita akan melakukan terapi radiasi untuk menghancurkan sel kanker yang tidak dapat terangkat, sekaligus kemoterapi." Adryan menjelaskan dengan bahasa yang mudah pada adik iparnya.
Mendengar penjelasan Adryan, helaan napas keluar dari mulut Reagen. Itu berarti, dia harus merelakan sebagian besar waktunya untuk bisa sembuh.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ditunda dulu? Minimal sampai Zenaya melahirkan nanti?" tanya Reagen.
"Kau tahu jawabannya Rey, aku sudah menjelaskannya di awal." Adryan menatap tajam Reagen.
Reagen termenung. Jika dia melakukan pengobatan sekarang, bisa jadi dia tak akan bisa menemani Zenaya melewati masa-masa bersalinnya nanti.
"Zenaya harus menjaga kondisinya agar tetap stabil, dan aku juga ingin menemani istriku melewati masa-masa kehamilannya, sampai waktu kelahiran anak kami tiba," ujar pria itu lirih.
Adryan menghembuskan napasnya. Di satu sisi dia sangat memahami apa yang dirasakan Reagen, tetapi di sisi lain, dia mengkhawatirkan kondisinya. "Kau tahu itu tak mungkin Rey. Kau masih bisa menemani Zenaya setelah sehat kembali."
"Apa kau yakin aku bisa kembali sehat?"
Pertanyaan Reagen selanjutnya membuat Adryan bungkam sesaat. "Kanker otak memang tidak dapat disembuhkan total, tetapi tahu kah kau, bahwa ada penderita kanker otak stadium empat yang masih bisa hidup hingga bertahun-tahun lamanya. Jadi, bukan tidak mungkin kau pun bisa seperti itu, asalkan ditangani dari sekarang."
"Beri aku waktu ... yang jelas, aku tak ingin siapa pun mengetahui hal ini dulu, terutama Zenaya." Reagen menatap kakak iparnya itu dengan pandangan memohon.
Adryan mengambil napas panjang. Untuk saat ini, dia menyetujui permintaan Reagen agar merahasiakan semuanya. "Kalau begitu, aku akan meresepkan obat pereda nyeri untuk sementara. Jika sakit kepalamu kembali kambuh, jangan menunda-nunda untuk menghubungiku. Mengerti?"
"Ingat, Rey, obat itu hanya bersifat sementara. Kau harus segera ditindak!" Adryan memperingatinya sekali lagi.
Reagen menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri dari ruangan Adryan.
Sepeninggal adik iparnya, Adryan memijit keningnya yang terasa sakit.
...***...
Reagen memilih meninggalkan mobilnya di rumah sakit, dan berjalan kaki entah ke mana.
Pria itu hanya membiarkan kakinya melangkah tak tentu arah.
Selagi berjalan, ingatan akan kilas balik pertemuannya dengan Zenaya dulu, kembali hadir memenuhi isi kepala Reagen. Ingatan tersebut sekaligus mengusik batinnya yang kini tengah terluka.
__ADS_1
Reagen kontan meringis, kala menyadari, bahwa dia tak pernah cukup baik dalam melakukan apa pun untuk Zenaya. Bertahun-tahun dia bahkan hanya bisa menanamkan luka menganga pada diri wanita itu. Sampai pada akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali, yang dia berikan sekali lagi hanya lah luka dan rasa trauma mendalam.
Reagen sendiri sebenarnya tak pernah benar-benar memahami, mengapa dia bisa bersikap sedemikian keji. Perasaan cinta yang sudah terpendam selama puluhan tahun, tak pernah bisa dia buktikan dengan cara yang benar.
Sebagian besar air mata yang Zenaya keluarkan merupakan air mata kesedihan, dan yang lebih menyakitkan lagi, air mata itu adalah hasil dari perbuatannya.
"Berjanjilah kita akan bahagia,"
"Aku berjanji, kita akan bahagia."
Reagen refleks menghentikan langkahnya, dan mencengkeram kuat-kuat dadanya yang mulai terasa sesak.
Hanya sebaris kalimat yang Zenaya inginkan. Sebaris kalimat yang seharusnya bisa dia tepati dengan mudah, sebelum kenyataan pahit menghancurkan seluruh impian yang telah dia susun satu demi satu.
Reagen menggeram tertahan. Pria itu menutup wajahnya dan menangis terisak-isak. Dia bahkan membiarkan dirinya terduduk di aspal, tatkala kakinya tak kuat lagi berpijak.
...***...
Liam dan Amanda kontan mengerutkan dahinya saat mendapati anak sulung mereka pulang dengan wajah kusut.
Pria itu bahkan tidak menyapa kedua orang tuanya yang sedang menikmati makan malam, dan pergi melewati mereka begitu saja, jika Liam tidak menegurnya.
"Apa apa, Sayang? Kau sakit?" tanya Amanda khawatir.
Adryan menggeleng. "Aku hanya kelelahan dan butuh istirahat," jawabnya singkat.
"Tidak mau makan dulu? Atau, mau Mama antar makanannya ke kamar?" tanya Amanda sekali lagi.
Adryan lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Aku ingin langsung tidur," tolak si sulung sembari menaiki undakan tangga menuju lantai dua.
"Ada apa dengan anak itu?" gumam Amanda seraya menatap kepergian putranya dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Mungkin hanya masalah pekerjaan saja. Akhir-akhir ini dia memang memiliki lebih banyak pasien." Liam berusaha meredam kekhawatiran istrinya. Dia pun menyuruh wanita itu untuk melanjutkan makannya lagi.