
Cuaca sore ini tidak begitu cerah ketika Zenaya dan Natalie tiba di taman lantai lima. Wanita bersurai emas kecoklatan itu mengajak Zenaya untuk berbincang-bincang sejenak di sana. Natalie juga zudah menitipkan sang ayah kepada para perawat yang bertanggung jawab memegang beliau.
"Maaf, aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian waktu itu." Natalie berinisiatif membuka suaranya.
Zenaya menoleh ke arah Natalie yang duduk di sebelahnya. "Tidak apa-apa, Nat. Aku tahu kau sangat sibuk." Seberkas senyum cerita terbit di wajah cantik istri dari pria yang dia cintai itu.
Natalie membalas senyuman Zenaya. "Omong-omong, bagaimana kehidupan rumah tangga kalian? Apakah semua berjalan dengan baik?" tanyanya kemudian.
Zenaya menatap langit sekeliling taman. Ada banyak para pasien yang sedang menghirup udara segar di sana bersama keluarga. Wanita itu terlihat menghela napasnya. "Setiap rumah tangga akan terasa sulit pada awalnya, tetapi kini tidak lagi." Jawab Zenaya jujur.
"Kau sendiri, bagaimana kehidupan karirmu, Nat? Aku sudah melihat berita soal film internasional pertamamu yang akan segera tayang, dan berniat akan menontonnya nanti." Zenaya terlihat santai mengobrol dengan Natalie. Berbeda sekali dengan Natalie yang merasa kaku dan canggung. Biar bagaimana pun juga keduanya memang memiliki masa lalu yang kurang baik.
"Terima kasih. Aku memang berniat menetap di Paris dan melanjutkan karirku di sana nanti." Jawab Natalie.
"Hebat sekali! Aku yakin karirmu akan semakin cemerlang di sana," puji Zenaya tulus.
Natalie tertunduk lesu. Wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu. " ... karirku memang selalu mulus, Zen, tetapi tidak dengan kisah asmaraku," ucapnya kemudian.
Mendengar perkataan tersebut membuat hati Zenaya tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Nat–"
"Kau tahu, Zen, selain sedang sibuk, aku juga memiliki alasan lain hingga tidak bisa menghadiri pesta pernikahan kalian?"
Zenaya bergeming. Sepertinya dia mulai menyadari ke mana arah perbincangan mereka.
"Aku tidak tahu, tetapi sepertinya aku telah mengetahui jawabannya." Jawab Zenaya hati-hati.
Natalie tertawa kecil sembari mengangguk. "Tebakanmu pasti benar," ungkapnya. Wanita itu kemudian menatap Zenaya serius. "Aku tak sudi melihat pria yang sudah belasan tahun aku cintai, tiba-tiba bersanding dengan wanita lain. Hatiku sakit, Zen!" serunya.
Zenaya kontan tertunduk. Dia tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi kemarahan Natalie.
"Sejak duduk di kelas dua menengah atas aku sudah menyukai Rey, ... dan hingga detik ini, perasaan itu belum berubah sama sekali, Zen." Natalie kembali membuka suaranya.
Wanita itu memang berencana ingin menghilang dari kehidupan Reagen, oleh sebab dari itu dia ingin mengungkapkan segalanya pada Zenaya.
"Biarkan aku mengosongkan bebanku padamu, Zen," ucap Natalie dalam hati.
"Kami bahkan sempat tinggal bersama di luar negeri untuk kuliah. Saat itu aku pikir Rey akan membuka hatinya jika kami terbiasa bersama. Namun ternyata tidak demikian. Hatinya hanya terpaut padamu, Zen." Suara Natalie terdengar bergetar.
"Maafkan aku, Nat. Seharusnya kau lah yang berada di sisi Rey, bukan aku yang jelas-jelas tidak setulus dirimu. Kesalahan yang sudah dia perbuat telah menumbuhkan rasa kebencian dalam di hati ini." Zenaya menatap Natalie sendu.
__ADS_1
"Kalau pun akhirnya dia berbalik mencintaiku, itu semua tak lebih dari sebuah bentuk tanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan di masa lalu dan masa kini," ungkap Zenaya. "Kau lah gadis pertama dan satu-satunya yang dekat dengan Rey, Nat," sambung wanita itu.
Natalie tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
Zenaya sontak mengernyitkan dahi, mendapati reaksi Natalie yang demikian. "Apa yang kau tertawakan?" tanyanya keheranan.
"Jadi, selama ini kau pikir perasaan Rey se-simpel itu?" Natalie malah bertanya balik.
Tanpa menunggu respon Zenaya, dia kembali membuka suaranya. "Akan aku beritahu satu rahasia Zen, dan kuharap itu bisa menjadi bahan pertimbangnmu."
"Rahasia apa?" tanya Zenaya penasaran.
Natalie menghembuskan napasnya. Biarlah satu petunjuk kecil dia bocorkan pada Zenaya, agar wanita itu tahu bahwa pemikirannya selama ini salah besar.
"Sebelum kau mencintainya, Rey telah mencintai dirimu terlebih dahulu, jauh sebelum sebelum kau menyadari kehadiran pria itu di sekolah."
Zenaya tersentak. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian. Dia sama sekali tidak memahami kata-kata yang Natalie lontarkan barusan.
"Carilah jawabannya sendiri Zen ... yang jelas, perasaan Rey tidak sedangkal yang kau pikir. Dia tulus mencintaimu, maka dari itu aku memilih menyerah dan mundur. Aku tidak pernah berniat merebutnya darimu, karena aku sangat memahami bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang kita cintai."
Zenaya benar-benar tidak mengerti apa yang Natalie katakan.
Wanita itu sedang mengingat-ingat masa lalu. Dari yang Natalie katakan barusan, tampaknya Reagen sudah mengetahui tentang dirinya.
Mengetahui kegundahan hati Zenaya, Natalie menepuk pundak wanita itu. "Tidak perlu dipikirkan sekarang Zen, itu bukanlah sesuatu yang perlu kau khawatirkan," ucapnya menenangkan. "Berbahagia lah dengan Rey, berilah dia kesempatan dan juga jawaban atas perasaan cintanya selama bertahun-tahun ini padamu. Kalau tidak, aku akan datang untuk merebutnya." Senyum tulus terbit di bibir Natalie.
...***...
Zenaya baru saja sampai di apartemen seorang diri. Di tangannya terdapat tiga buah kantong plastik berisi berbagai macam bahan makanan. Besok sang suami baru akan pulang, jadi Zenaya berniat untuk berbenah dan mengisi persediaan makanan.
Selesai merapikan semua bahan makanan dan berbenah, wanita itu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...***...
"Selamat malam Tuan," Juan membungkukkan badannya pada Alex. Pria muda itu baru saja datang menjemput Alex di rumah sakit.
"Malam. Mula-mula sekali kau datang tanpa harus kuberitahu berkali-kali," ujar Alex. Kebiasaan Juan yang pelupa membuat Alex harus berulang kali bicara jika ingin memberikan perintah.
Juan meringis. "Tadi aku sudah memasang alarm setelah mendapat telepon dari Tuan," jawab Juan.
Alex pun masuk ke dalam mobil. Hari ini dia tidak pulang ke apartemen karena sang ayah memerintahkannya untuk datamg ke rumah utama. Oleh sebab itu, dia meminta Juan menjemputnya.
__ADS_1
"Ahh, Juan, bisakah aku meminta tolong padamu," ujarnya pria itu tiba-tiba.
"Apa pun Tuan."
Alex memberikan selembar foto pada Juan. Foto tersebut berisi gambar Zenaya yang dia ambil secara diam-diam beberapa waktu lalu.
Alex sudah memastikan betul bahwa Zenaya adalah gadis yang dia pikirkan selama ini, dan dia ingin mengetahui seluk-beluk Zenaya selengkap-lengkapnya.
"Siapa yang ada di dalam foto ini, Tuan?" tanya Juan ingin tahu.
"Tidak perlu tahu. Carikan saja informasi lengkap soal dirinya."
"Baik!"
...***...
Ponsel Zenaya berdering ketika wanita itu hendak menyiapkan makan malam.
"Halo,"
"Halo. Kau sudah ada di rumah?" tanya Reagen dari seberang telepon tanpa basa-basi.
"Iya. Aku baru saja ingin makan," jawab Zenaya. Seutas kerinduan hadir kala mendengar suara sang suami.
"Ahh, kalau begitu aku sudah menganggumu ya?"
"Tidak juga."
"Omong-omong, aku akan pulang besok. Kau ingin kubawakan apa?" tanya pria itu kemudian.
Zenaya merapatkan bibirnya. Dia tidak ingin sesuatu yang lain selain kehadiran pria itu.
"Tidak ada." jawab Zenaya ragu.
"Kenapa? Tidak ada hal yang ingin kau makan?" desak Reagen.
"Aku hanya ingin kau pulang." Zenaya hanya dapat mengatakannya dalam hati. "Bawakan aku coklat saja," jawab wanita itu pada akhirnya. Dia sengaja mengatakan demikian agar sang suami tidak terus-terusan mendesaknya.
Reagen tertawa kecil. "Baiklah. Lanjutkan makanmu, aku akan menelepon lagi nanti,"
"Hmm,"
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Reagen lembut.
" ... aku tahu,"