Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 5 : Perubahan Sikap.


__ADS_3

Reagen baru saja turun dari mobilnya ketika melihat Zenaya masuk ke dalam gedung sekolah. Dia sama sekali enggan menghampiri Zenaya, dan memilih berjalan jauh dibelakang gadis itu.


Melihat raut wajah Zenaya yang tampak sangat bersemangat malah membuat Reagen merasa muak. Hatinya sama sekali tak tersentuh akan sikap baik Zenaya.


Lelaki itu sebenarnya tidak ingin terlibat dalam sebuah kisah percintaan seperti remaja lainnya. Tuntutan orang tua mengharuskan Reagen untuk lebih memilih fokus terhadap pendidikannya. Namun, berkat ide konyol yang Xander utarakan beberapa waktu lalu, membuat Reagen harus ikut terjerumus ke dalam permainan mereka.


Entah bagaimana ceritanya, Reagen tiba-tiba dinyatakan kalah taruhan dan harus mau melakukan perintah ketiga orang temannya. Dia diminta untuk memacari salah seorang siswi yang tidak dikenal selama satu semester, dan harus selalu berada di sampingnya apa pun yang terjadi.


Semula Reagen menolak. Siapa juga yang mau berpacaran dengan seseorang yang tidak dikenal? Namun, ketiganya tidak kehabisan akal. Demi memuluskan rencana mereka, Leon sampai tega menyita salah satu mobil mewah Reagen sebagai jaminan, agar dia mau melakukan permainan tersebut.


Reagen tak dapat berkutik. Hidup dengan bergelimang harta bukan berarti dia bebas membuang-buang fasilitas yang diberikan kedua orang tuanya.


Alhasil, lelaki itu pun mau menyetujui dengan satu syarat, bahwa dia hanya akan melakukan hal tersebut selama satu bulan saja. Kedua orang tuanya yang tinggal di luar kota karena harus mengurus cabang perusahaan di sana, mungkin saja tidak akan mengetahui soal ke mana hilangnya mobil pemberian mereka. Namun, dia masih memiliki Noah, sang kakak, yang tinggal bersamanya. Pria itu merupakan orang kedua yang sangat Reagen takuti selain sang ayah.


Tidak ada kriteria khusus saat Reagen dibebaskan memilih satu di antara ribuan gadis yang ada di sekolah. Dia hanya ingin seorang gadis yang sedikit tenang dan juga pendiam, agar kelak tidak akan merepotkan dirinya.


Itulah mengapa Reagen memutuskan memilih Zenaya. Seorang gadis yang telah menjadi teman sekelasnya selama tiga tahun berturut-turut. Sifat Zenaya yang malu-malu dan tak pandai bergaul membuat Reagen berpikir, bahwa dia mungkin bukanlah salah satu gadis yang menyukai dirinya. Namun, ternyata dugaan itu salah. Dari apa yang dia dengar, Zenaya ternyata sudah memendam perasaan padanya selama tiga tahun terakhir ini.


Bukannya senang dengan hal itu, Reagen justru merasa risih. Gadis yang tengah jatuh cinta adalah hal yang paling menyebalkan baginya. Mereka akan terus mendekat bak parasit dan tidak akan menyerah meski sudah ditolak berkali-kali.


Hal yang sama juga terlihat pada Zenaya. Oleh sebab itu, Reagen bertekad untuk menjauh darinya perlahan-lahan. Persetan dengan aturan konyol ketiga temannya, yang terpenting syarat utama sudah dia laksanakan kemarin, saat mengantar gadis itu pulang.


Reagen berhenti tak jauh dari Zenaya, tatkala gadis itu berpapasan dengan siswi-siswi yang waktu itu merisaknya.


"Loh, sendirian saja nih? Biasanya kau ditemani pangeran tampanmu itu," ujar salah satu siswi pada Zenaya.


"Rey sudah mulai bosan kali." Tawa sinis terdengar dari salah seorang siswi lain. Ia mengelus rambut panjang Zenaya dan menghempaskannya hingga mencuat ke mana-mana.


"Menjijikan!" umpatnya sebelum pergi meninggalkan Zenaya.


Zenaya menghembuskan napas lega. Tampaknya, dia sudah terlihat lebih tegar dari pada sebelumnya.


...***...


Entah hanya perasaan Zenaya saja atau bukan, tetapi semenjak mereka tak lagi berangkat dan pulang bersama, Reagen tiba-tiba berubah. Lelaki itu tak lagi menyempatkan waktunya untuk sekadar menemani Zenaya istirahat. Dia juga tak pernah lagi mengajak Zenaya berlatih basket. Satu-satunya komunikasi yang mereka lakukan adalah melalui pesan singkat.


Tak tahan dengan sikap Reagen, Zenaya pernah mencoba menanyakan hal tersebut. Namun, Reagen hanya akan menjawab, bahwa dia tengah sibuk menyiapkan pertandingan basket yang akan diadakan esok hari.

__ADS_1


Meski telah mendapat jawaban langsung dari Reagen, Zenaya tetap merasa tidak puas. Dia merasa alasan Reagen hanya mengada-ada. Lagi pula, jika dia memang sibuk hingga tak dapat menemaninya, mengapa Natalie malah semakin dekat dengan lelaki itu? Zenaya sudah dua kali memergoki mereka tengah bersama di koridor kelas mau pun di lapangan basket.


Demi menghilangkan rasa penasarannya, Zenaya memutuskan untuk menemui Reagen sesuai pertandingan besok.


...***...


Suara riuh para penonton menggema memenuhi lapangan basket. Para gadis berteriak menyemangati masing-masing pemain kesayangan mereka yang akan berlaga kali ini. Nama Reagan lah yang paling banyak dielu-elukan.


Suasana tersebut berbanding terbalik dengan Zenaya. Gadis itu terlihat sangat murung dan tidak bersemangat.


"Ada apa, Zen? Biasanya kau semangat sekali menonton Rey bertanding." Grace menyenggol bahu Zenaya agak keras.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit gugup," kilah Zenaya. Dia enggan membuat ketiga sahabatnya khawatir.


"Tenang saja, tim kita pasti akan menang lagi. Kan, ada Rey," timpal Alice dengan raut menggoda.


Zenaya tersenyum kaku.


Sepanjang pertandingan, gadis itu berusaha menikmati permainan basket Reagen. Namun, pikiran-pikiran buruk tak mampu pergi dari benaknya. Terlebih, Reagen sama sekali enggan membalas tatapan mata Zenaya, padahal dia yakin sekali, lelaki itu melihat dirinya di tribun penonton.


Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan sekolah mereka, selama empat kali berturut-turut.


Zenaya membalas lambaian tangan mereka, sebelum pergi menyusuri koridor menuju ruang ganti para pemain.


"Selamat ya, Rey." Langkah Zenaya sontak terhenti ketika mendengar suara seorang gadis tengah menyebut nama Reagen.


"Terima kasih."


Di ujung koridor, tepatnya di depan ruang ganti, Reagen terlihat sedang berdiri bersama Natalie. Lelaki itu sepertinya telah selesai berganti pakaian, dan hendak pergi dengan gadis itu.


Hati Zenaya terasa kebas, saat Natalie dengan penuh perhatian merapikan helaian rambut Reagen, dan juga membantunya menggulung lengan kemeja lelaki itu sampai siku.


Dilihat dari sisi mana pun, keduanya memang tampak sangat serasi. Reagen yang tampan, bersanding dengan Natalie yang cantik dan anggun.


Sebisa mungkin Zenaya menahan air matanya. Niatnya untuk menemui Reagen menguap seketika. Dia tak lagi membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Pemandangan barusan sudah cukup memberi gadis itu jawaban.


"Zen," panggil Natalie.

__ADS_1


Zenaya yang sudah berbalik pergi kontan menghentikan langkahnya.


"Benar, Zen, ternyata!" sahut Natalie yang berhasil menyusul Zenaya.


"Ah, Natalie," sapa Zenaya pura-pura terkejut. Dia tak ingin Natalie memergoki wajah sedihnya.


"Mau menemui Rey, ya?" tanya Natalie tanpa basa-basi.


"A–aku sedang mencari-cari toilet." Jawab Zenaya berbohong.


"Oh, begitu." Natalie menoleh ke arah Reagen yang berdiri tak jauh dari mereka. "Lain kali saja ya, Rey? Sebaiknya kau antar Zenaya pulang dulu," pinta gadis itu.


"Jangan. Kalian sudah ada janji bukan? Jadi teruskan saja. Aku akan pulang sendiri." Zenaya yang merasa tak enak, menolak usulan Natalie.


Natalie terdiam sejenak. "Kalau begitu, kita makan malam bersama saja. Reagen mengajakku makan di salah satu restoran langganan kami. Kau ikut ya, Zen?" Gadis itu menatap Zenaya dengan pandangan memohon, begitu pun saat menatap Reagen.


"Terserah saja." Jawab Reagen sembari berjalan meninggalkan kedua gadis itu.


Natalie tersenyum senang. Tanpa menunggu persetujuan Zenaya, dia pun menarik tangannya dan menyusul Reagen.


Zenaya hanya bisa terdiam saat Natalie memilih duduk di sebelah Reagen. Lelaki itu sama sekali tidak meminta dirinya, yang notabene sang kekasih, untuk duduk bersama di kursi depan. Alhasil, dia pun duduk di kursi belakang bersama setumpuk peralatan dan tas Reagen.


Zenaya benar-benar menyesal ikut makan malam dengan mereka. Pasalnya, gadis itu merasa seperti pengganggu yang hadir di tengah-tengah kencan sepasang kekasih. Jika Natalie tidak menyuruhnya bicara, Reagen pasti tak akan melibatkannya dalam pembicaraan ringan mereka.


Hati Zenaya terkoyak. Tak ingin tersiksa lebih lama, dia memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu.


Semula, Natalie menyuruh Reagen untuk mengantar Zenaya pulang, tetapi gadis itu menolaknya keras.


"Rumahku dekat dari sini, jadi aku akan naik taksi saja." Zenaya tersenyum ramah.


"Baiklah, sampai jumpa besok, Zen," sahut Natalie.


Zenaya mengangguk dan pergi meninggalkan keduanya.


Diam-diam Natalie menarik sudut bibirnya sedikit. "Rasakan itu!" gumamnya dalam hati.


Di dalam taksi Zenaya menangis tersedu-sedu. Sikap Reagen benar-benar meninggalkan luka menganga pada hatinya. Lelaki itu sama sekali enggan melakukan kontak mata dengan dirinya, dan akan langsung menghindar bila Zenaya melempar senyum ramah.

__ADS_1


"Aku salah apa?" gumam Zenaya terisak.


__ADS_2