
"Maksudmu berada di sini itu apa, Lex?" tanya Zenaya. Wajah wanita itu menyiratkan rasa kekhawatiran.
"Iya, dia berada di kota yang sama denganku." Alex melempar senyum ramah.
Zenaya menganggukkan kepalanya. "Ahh, seperti itu rupanya. Bagus, bukan? Berarti kau bisa bertemu dengannya dan menyatakan perasaanmu yang selama ini terpendam?" Zenaya mencoba menanggapi perkataan Alex dengan raut wajah biasa.
"Tadinya, tetapi sayang sekali ternyata aku terlambat. Dia sudah dimiliki pria lain yang mungkin saja jauh lebih baik dari diriku," ungkap Alex kecewa. Sorot mata kesedihan sangat jelas terlihat di wajah pria itu.
"Ahh, sayang sekali." Zenaya tertunduk. Rasa tak nyaman semakin membumbung tinggi.
"Tetapi, aku tak ingin menyerah begitu saja," kata Alex tiba-tiba.
Zenaya sedikit tersentak. Melihat raut wajah Alex yang tiba-tiba berubah marah membuat wanita itu jadi waspada. Walau dia tidak tahu siapa wanita yang dimaksud Alex, tetapi, entah mengapa Zenaya merasa tersentil.
"Maaf, kita jadi membicarakan hal tak penting. Kita berangkat sekarang.
Zenaya mengangguk. Dia berjanji ini akan menjadi tumpangan pertama dan terakhirnya.
...***...
Reagen menatap layar monitor yang menampilkan video ilustrasi tentang bangunan anti gempa yang dibuat Jeff. Beberapa kali pria itu harus merombak kembali rancangannya karena ternyata ada sebagian yang kurang efektif.
Sesekali Reagen tampak memberikan pendapat pada Jeff tentang apa-apa yang harus diperbaiki, seperti sistem sensor pada gedung dan alarm peringatan yang harus terpasang di tempat strategis, dan kapasitas gedung penyelamat yang masing-masing harus bisa menampung lebih setengah dari penghuni gedung.
"Semua harus direncanakan dengan matang, dan aku percayakan padamu, Jeff." Reagen menepuk pundak Jeff beberapa kali.
"Baik, Pak," jawab Jeff.
Pria itu membubarkan rapat dan kembali ke ruangannya.
Frans, sekretaris pribadinya di kantor, memperhatikan dari belakang langkah kaki Reagen yang sedikit goyah. Khawatir akan kondisi atasannya, pria itu berjalan menghampiri Reagen.
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Frans.
"Aku hanya kelelahan saja," jawab Reagen.
"Mau saya antar ke klinik untuk memeriksakan diri dulu, Pak?" Frans kembali bersuara.
Reagen mengangkat tangannya sembari menggeleng. "Tidak perlu. Buatkan aku minuman hangat saja," titah pria itu.
"Baik." Jawab Frans.
...***...
Adryan baru saja tiba di salah satu stasiun televisi swasta untuk syuting. Dia menggantikan ayahnya yang sedang mengadakan seminar, untuk menjadi narasumber acara stasiun televisi tersebut.
"Selamat sore, dok." Produser acara menyambut kedatangan Adryan ramah.
"Selamat sore, Mr. Joe," jawab Adryan ramah.
"Kita akan melakukan siaran langsung sekitar setengah jam lagi, jadi, anda bisa beristirahat dulu guna mempersiapkan diri." Pria itu memanggil salah satu kru yang sedang bersiap dan memintaya untuk masuk ke dalam ruangan tunggu.
Setengah jam kemudian, Adryan dipanggil untuk memulai syuting.
Pria itu terkejut karena Natalie, wanita yang menabraknya waktu itu ternyata menjadi host tamu untuk acara tersebut.
"Kenalkan Nat, ini Dokter Adryan Oliver Winston, Dokter Neuro-onkologi yang akan menjadi narasumber hari ini. Kau akan mendampinginya bersama Gerrald sebagai host tamu." Sang produser mengenalkan Afryan pada Natalie. "Dan, dokter Adryan, ini adalah Natalie Atkinson, artis kita yang sedang naik daun."
Kini Adryan tahu mengapa wajah Natalie waktu itu terasa familiar. Sebab dia adalah salah satu artis sukses yang sering muncul di layar televisi.
Sementara Natalie tak kalah terkejutnya dengan Adryan, tetapi bukan pada pertemuan mereka saat ini, melainkan pada nama keluarga yang tersemat di belakang nama pria itu.
Tidak salah lagi, dia adalah kakak kandung dari Zenaya.
__ADS_1
Keduanya berjabatan tangan sembari melempar senyum formal masing-masing.
Mereka pun memulai syutingnya. Sebagai host tamu, Natalie dengan lihai membawakan acara bersama Gerrald. Sesekali mereka akan menanyakan Adryan perihal penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya.
"Jenis-jenis tumor jinak sendiri apa, dok?" tanya Gerrald kemudian.
"Tumor jinak bisa diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Di antaranya ada Limpoma, yaitu tumor yang tumbuh pada jaringan lemak tubuh. Nevi, tumor yang tumbuh pada jaringan kulit, atau biasa sering kita sebut dengan tahi lalat. Fibroid atau fibroma yang tumbuh di jaringan fibrosa atau jaringan ikat pada organ atau bagian tubuh tertentu. Tumor jinak jenis ini paling umum muncul di rahim ... dan yang lebih sering masyarakat umum dengar adalah Papiloma, tumor jinak yang tumbuh di jaringan epitel pada kulit, leher rahim, saluran payudara, atau selaput lendir yang menutupi bagian dalam kelopak mata (konjungtiva). Tumor ini sering kali disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV)." Adryan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
"Banyak juga ya, dan dokter sendiri khusus menangani tumor yang pada sistem syaraf pusat?" tanya Gerrald lagi.
Adryan menganggukkan kepalanya.
"Untuk ciri-cirinya tersebut, bagaimana kita bisa mengetahuinya, dok, agar kita tidak abai dan peka untuk pergi memeriksakan diri segera ke rumah sakit." Kali ini Natalie kembali membuka suaranya.
"Gejala tumor otak berupa sakit kepala baru yang semakin bertambah, penglihatan kabur, hilang keseimbangan, kebingungan, dan kejang. Namun ada beberapa kasus juga yang tidak memiliki gejala-gejala tersebut. Oleh sebab itu, enam bulan sekali atau sehatun sekali kita harus rutin memeriksakan kesehatan ke dokter." Adryan menjelaskan dengan sangat baik.
Acara televisi tersebut berlangsung selama satu jam tanpa hambatan.
Adryan dan Natalie keluar dari sana nyaris bersamaan.
"Kenapa, Van?" tanya Natalie pada Vannesa, begitu sang manajer berjongkok untuk melihat keadaan mobilnya. Dia mengelilingi mobil tersebut karena merasa sedikit miring.
Benar saja, Vannesa menemukan ban belakang mereka pecah.
"Siapa yang melakukan ini!" pekik Vannesa marah. Natalie memang memiliki beberapa orang haters sejak memutuskan akan berkarir di Paris, tetapi wanita itu tak mungkin menuduh mereka. Terlebih, mereka tak mungkin tahu bahwa itu adalah mobilnya.
Natalie bergeming. Bukan masalah mobil yang dia pikirkan, melainkan bagaimana caranya dia harus sampai di lokasi syuting selanjutnya.
"Aku akan naik taksi saja, Van. Kau bisa menyusul nanti," usul Natalie.
"Iya, benar. Kau harus segera pergi. Aku akan mengurus ini dan menyusulmu nanti," jawab Vannes sembari menelepon seseorang.
Adryan yang memarkirkan mobilnya tepat di seberang mereka mengerutkan dahinya begitu melihat Natalie berbalik pergi meninggalkan manajernya sendirian.
Adryan pun masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobil tersebut perlahan-lahan di belakang Natalie.
Natalie yang terkejut, berhenti melangkah.
"Aku lihat mobilmu bermasalah?" tanya Adryan.
"Ya, dan aku tak bisa ikut menunggu karena harus ke lokasi syuting berikutnya," jawab Natalie lesu. Wanita itu sedikit kesal karena harus berjalan sampai pintu ke luar gedung untuk menemukan taksi, dan itu lumayan jauh.
"Di mana tempatnya?" tanya Adryan lagi.
"Star Heaven Cafe." Jawab Natalie. Dia memang akan syuting iklan di sana.
"Itu tak jauh dari rumah sakit. Biar kuantar," tawar Adryan kemudian.
"Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri." Natalie menolak halus tawaran Adryan. Wanita itu masih sanksi akan sikap Adryan. Pasalnya, dia adalah pria tidak berhati yang sempat mengerjainya saat menawarkan bantuan untuk bangun dari jatuhnya waktu itu.
Mengingat hal itu kekesalan Natalie kembali menguap ke permukaan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu seperti waktu itu." Menyadari raut wajah Natalie yang berubah, Adryan berbicara demikian.
Natalie berjengit. "Sok tahu sekali kau soal apa yang sedang aku pikirkan?"
"Wajahmu terlalu transparan." Adryan melempar senyum simpul. "Ayo pergi, kecuali jika kau ingin terlambat datang."
Natalie menggigit bibirnya seraya diam sesaat, sebelum akhirnya menerima tawaran Adryan.
"Ingat, aku menerima tawaran ini karena terpaksa!" seru Natalie ketus.
Adryan sontak tertawa kecil. "Baiklah, terserah padamu saja."
__ADS_1
...***...
Setengah jam kemudian, keduanya sampai di kafe yang Natalie maksud. Wanita itu menyuruh Adryan untuk tidak memarkirkan mobilnya terlalu dekat karena takut tertangkap mata orang-orang di sana.
"Aku ingin menyelamatkan diri, bukan menyelamatkanmu!" sahut Natalie ketika Adryan menanyakan alasannya. Padahal dalam hati, dia justru tak ingin Adryan merasa terganggu dengan gosip-gosip yang beredar jika mereka tertangkap kamera karyawan.
Adryan mengangkat bahu. "Baiklah, wanita cantik tapi tidak berhati. Kuharap harimu menyenangkan."
Natalie memajukan bibirnya beberapa milimeter. "Aku tetap mengucapkan terima kasih," ujarnya.
"Mudah-mudahan ucapanmu itu tulus," kata Adryan dengan raut wajah jenaka.
"Tentu saja! Kau pikir aku tidak tahu diri!" seru Natalie tidak terima. Dia pun membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Adryan dengan berlari-lari kecil menuju lokasi.
Adryan memperhatikan Natalie dari dalam mobil sembari tersenyum.
Pria itu pun menegakkan kembali sandaran mobil yang Natalie duduki sebelum matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di sana.
"Lipstik?" Adryan mengernyitkan dahinya.
Bagi wanita, benda itu adalah salah satu yang terpenting selain dompet dan ponsel. Namun, menyusul Natalie ke sana terlalu beresiko, sebab kafe dalam keadaan ramai dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi bila orang-orang melihatnya mengembalikan barang Natalie. Apa lagi barang tersebut merupakan sebuah lipstik.
"Ceroboh sekali dia!" Adryan akhirnya menyimpan lipstik wanita itu di dashboard mobilnya.
...***...
Reagen duduk di meja makan sembari memperhatikan sang istri yang tengah memask di dapur. Senyumnya sesekali terbit dari wajah tampan pria itu.
Perubahan tubuh Zenaya, terutama perutnya membawa kesenangan tersendiri bagi Reagen. Berat badan sang istri memang naik beberapa kilogram dan itu sama sekali tidak mengganggunya. Zenaya bahkan terlihat semakin seksi dengan perutnya yang menonjol itu.
"Eh!" pekik seketika saat Reagen tiba-tiba memeluknya dari belakang. Pria itu mencium pipi Zenaya sesekali sembari mengelus perutnya lembut.
Zenaya menghentikan kegiatan memasaknya dan berbalik menghadap Reagen. Wanita itu meletakkan tangannya pada kening sang suami.
"Kau demam?" tanya Zenaya begitu menyadari suhu tubuh suaminya sedikit panas.
"Aku hanya kelelahan. Proyek baru yang akan aku tangani cukup menguras seluruh tenaga dan pikiranku," jawab Reagen.
"Kalau begitu, malam ini tidak ada laptop dan ponsel. Kau harus langsung tidur setelah makan malam dan minum obat. Jika besok masih seperti ini, kau tidak boleh bekerja."
Reagen hendak membantah Zenaya, tetapi saat melihat raut wajahnya yang galak, dia jadi mengurungkan diri.
"Baiklah." Reagen mengeratkan pelukannya dan mencium bibir Zenaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk Kakak-kakak pembaca yang masih setia stay di sini. Semua isi cerita yang saya buat adalah demi kepentingan alur. Jadi saya harap kalian bisa terus memberikan dukungan positif, agar saya bisa terus menulis cerita ini sampai tamat. 😍🤗
Sekali lagi terima kasih,
__ADS_1
Salam cinta,
Kim O ❤️