
Sejak pertemuan terakhir itu, Reagen tak pernah lagi bisa menemui Zenaya. Bertanya pada Grace pun percuma. Wanita itu seakan menghalangi dirinya untuk pergi menemui sang sahabat. Padahal dia juga sudah mengatakan yang sebenarnya pada Grace, tentang pertunangan yang diakui Natalie tersebut.
Zenaya pun memilih mengurung dirinya selama bekerja. Dia tak pernah keluar dari ruangan walau hanya untuk sekadar makan siang. Grace lah yang selalu rajin membawakan makanan untuk gadis itu.
Tak terasa dua bulan pun telah berlalu. Reagen tak lagi menampakkan dirinya di rumah sakit. Kata Grace, pria itu sudah sembuh dan dapat berjalan tanpa alat bantu lagi.
Zenaya pikir, semuanya telah usai dan dia bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Perkataan Reagen terakhir kali pun tak lagi dianggap olehnya. Namun, ternyata tidak demikian. Pasca sembuh dari sakitnya, hampir setiap hari pria Itu akan selalu saja datang ke rumah sakit untuk menemuinya.
Beruntung, berkat bantuan Grace, Reagen tak pernah berhasil bertatap muka dengan Zenaya. Namun, Reagen tidak kehilangan akal. Tanpa tahu malu pria itu malah mendatangi rumah Zenaya dan menemui kedua orang tuanya. Dia bahkan menghapal semua kegiatan gadis itu, mulai dari jadwal kerja sampai jadwal berbelanja mingguannya.
Zenaya tentu merasa sangat risih. Berkali-kali dia membentak dan mengusir Reagen agar pergi dari rumahnya, tetapi pria itu tak menghiraukannya sama sekali.
"Temui dia, Zen. Sebentar saja, ya?" Amanda mengelus lembut rambut Zenaya. Beliau saat ini sedang berada di kamar anak bungsunya yang mengurung diri sejak pulang dari kantor.
Wanita paruh baya itu masih mengenal baik siapa Reagen, pria muda yang sempat dekat dengan Zenaya semasa sekolah. Dulu, dia pernah beberapa kali mengundang Reagen makan malam di rumah. Hanya Reagen lah satu-satunya pria yang pernah dikenalkan Zenaya pada keluarganya.
Amanda masih berusaha membujuk Zenaya untuk mau menemui Reagen. Pria itu kini sedang berada di ruang keluarga bersama sang suami, Liam.
Berbanding terbalik dengan sikap Zenaya, kedua orang tuanya malah menyambut baik kedatangan Reagen. Itulah yang membuat Zenaya semakin membenci pria itu karena telah berhasil mengambil hati keluarganya.
Zenaya hanya terdiam. Dia sama sekali tidak menanggapi bujukan sang ibu.
"Papa dan Mama memang tidak tahu apa yang telah terjadi di antara kalian berdua, tetapi, Mama harap kalian bisa menyelesaikannya secara baik-baik, Sayang." Amanda tersenyum lembut. Matanya yang teduh sontak menenangkan hati Zenaya yang tengah dilanda kemarahan.
"Aku tak akan pernah mau menemuinya, Ma," jawab Zenaya keras kepala.
Amanda menghela napas pasrah. Anak gadisnya itu memang memiliki sifat keras kepala seperti sang suami. "Mama akan bilang padanya, ya?" Beliau mencium pucuk kepala Zenaya dan berlalu pergi dari kamarnya.
"Bagaimana, Ma?" tanya Liam ketika Amanda datang menghampiri keduanya di ruang tamu.
Amanda menggelengkan kepalanya. Wanita itu duduk di samping sang suami. "Maaf Rey, Aunty tidak bisa membujuk Zen," katanya dengan nada menyesal.
Liam memandang Reagen perihatin. Sepengetahuan Liam, pria itu sepertinya bukan sosok lelaki kurang ajar. Entah apa yang membuat Zenaya begitu enggan menemuinya, padahal dulu mereka terlihat sangat dekat.
Reagen tersenyum simpul. Namun, Amanda dapat melihat dengan sangat jelas sorot matanya yang mulai meredup. "Aunty akan coba mengajak Zenaya bicara lagi nanti," janjinya.
"Tidak apa-apa, Aunt. Aku akan memberinya waktu," jawab pria itu tabah, meski nada suaranya terdengar kecewa.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Zenaya memang gadis keras kepala, tetapi hatinya sangat lembut." Liam mencoba menenangkan hati Reagen.
__ADS_1
Reagen mengangguk. Dia pun segera pamit pada kedua orang tua gadis itu.
Tanpa diketahui ketiganya, Zenaya ternyata mengintip dari balik tangga. Gadis itu menatap Reagen dengan mata berkaca-kaca.
Mengetahui Reagen akan pulang, Zenaya bergegas lari menuju kamarnya kembali. Dia mematikan lampu kamar agar Reagen tidak menyadari, bahwa kini gadis itu tengah melihatnya dari balik jendela.
Zenaya tersentak kala Reagen menoleh ke arah jendela kamarnya. Sorot mata pria itu lagi-lagi membuat sesuatu dalam dada Zenaya kembali bergemuruh. Tanpa sadar, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
Zenaya menghapus air mata tersebut dan menatap tangannya yang basah.
"Hei, berhentilah menjadi gadis cengeng, bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.
...***...
Lantai lima belas gedung Walker Group mendadak ramai akan kedatangan Natalie. Wanita yang sedang naik daun itu mendadak jadi perbincangan hangat saat mengatakan, bahwa dia ingin mengajak CEO baru mereka, Reagen, makan siang di luar.
Reagen menatap malas Natalie. Pria itu sudah berkali-kali melarang Natalie untuk datang menemuinya di kantor. Namun, Natalie sama tidak mendengarkan. Wanita itu malah dengan terang-terangan menggandeng lengan Reagen saat berjalan di lobby kantor.
Sean, sekretaris pribadi Reagen, langsung memberi peringatan keras saat melihat beberapa karyawan hendak mengambil foto mereka.
"Kita makan siang di mana?" tanya Natalie begitu mereka sudah berada di dalam mobil Reagen.
"Terserah kau saja," jawab Reagen acuh tak acuh.
...***...
Adryan, kakak dari Zenaya, baru saja kembali pulang setelah hampir lima tahun mengabdikan dirinya sebagai dokter kemanusiaan di sebuah negara kecil yang sedang mengalami konflik. Pria itu memang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Semula, Amanda melarang keras keinginan Adryan untuk pergi, tetapi berkat dukungan ayah dan adiknya, sang ibu pun terpaksa merestuinya juga.
Sepulang dari sana, Liam langsung menempatkan Adryan di rumah sakitnya, agar suatu saat dapat menggantikan posisi beliau yang sebentar lagi akan pensiun. Dia akan menjadi satu-satunya dokter neuro-onkologi termuda yang ada di rumah sakit tersebut.
Kini, Zenaya dan Adryan tengah makan siang bersama di salah satu restoran ternama favorit gadis itu. Zenaya sengaja mentraktir sang kakak sebagai jamuan selamat datang.
"Lima tahun sudah terlalu lama. Ini saatnya Kakak memikirkan diri sendiri. Menikah misalnya," ujar gadis itu sembari menikmati makan siangnya.
Adryan tertawa. "Punya pacar saja belum." Jawab pria itu.
"Makanya segera cari. Usia Kakak sudah cukup untuk membina rumah tangga!" kata Zenaya sok bijak.
Tak tahan dengan perkataan sang adik, Adryan mencubit hidung gadis itu. "Seharusnya aku yang bilang begitu. Usiamu sudah hampir kepala tiga, tetapi kau masih terlihat sendiri. Kudengar dari Mama, seorang pria selalu datang ke rumah kita untuk menemuimu. Siapa dia?"
__ADS_1
Zenaya yang tadinya tersenyum mendadak diam setelah mendengar pertanyaan Adryan tanpa basa-basi. "Bukan siapa-siapa." Jawab gadis itu datar.
Adryan mengernyitkan dahinya begitu melihat reaksi Zenaya yang berubah drastis. "Kenapa? Ada apa dengan pria itu? Apa aku mengenalnya?"
Zenaya mengangguk samar. "Sudah lama sekali. Mungkin kau sudah tidak ingat."
"Siapa dia?" desak Adryan penasaran.
"Hanya teman lama semasa sekolah. Dia dulu sering mengantar-jemputku," jawab Zenaya tanpa minat.
Adryan terdiam sejenak. Dia mencoba mengingat-ingat pria yang dimaksud sang adik.
Melihat sang kakak malah sibuk memikirkan orang lain membuat Zenaya merajuk. "Aku mengajakmu makan siang untuk menyambut kedatanganmu sekaligus mendengar ceritamu, Kak, bukan sebaliknya!" seru gadis itu kesal.
Adryan kontan tertawa kecil. "Baiklah ... baiklah. Kalau begitu aku akan bercerita sedikit pengalamanku saat menjadi dokter kemanusiaan di sana," ungkap pria itu.
Raut wajah Zenaya seketika berubah cerah. Mereka pun berbincang seru tanpa menyadari, bahwa Reagen kini melihatnya dari jauh. Dia bersama Natalie baru saja tiba restoran yang sama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang mau lihat ilustrasi novelnya silahkan ke fb aku ya Kakak-kakak.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca sampai sini. Jangan lupa dukungannya terus ya.🤗🤗😘😘