
Berita soal panti asuhan yang hampir tutup tersebar di telinga para kolega-kolega penting Robert dan Liam, dan dari para kolega-kolega itulah, Walker Group mendengarnya.
Perusahaan milik keluarga Walker memang sering menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan. Oleh sebab itu, ketika Craig mendengarnya, tanpa pikir panjang dia langsung membantu Mrs. Anna menyelesaikan kasus sengketa tanah dan mengurus semua anak-anak panti, seperti masalah kesehatan, sandang pangan dan juga sekolah mereka. Tak hanya itu, Walker Group pun merenovasi bangunan panti dan memperbesarnya sedikit agar lebih nyaman ditempati mereka.
Perhatian yang Craig tunjukan tak hanya itu saja. Pria itu secara pribadi sering datang ke sana untuk menjenguk anak-anak panti dan melihat perkembangan mereka. Dia bahkan sampai membawa serta istri dan kedua putranya untuk berbaur bersama saudara-saudara yang ada di sana.
...***...
Berhubung panti asuhan telah mendapat donatur tetap, maka Cole Inc. dan Winston General Hospital tidak perlu lagi mengadakan pengobatan gratis di sana. Meski mereka tidak keberatan, Craig tetap menolak.
"Akan lebih baik jika jatah pengobatan di sini diberikan pada panti asuhan atau panti jompo lain yang lebih membutuhkan."
Begitulah alasan Craig waktu itu ketika mereka menanyakan alasan penolakannya.
Namun, untuk menghargai kebaikan mereka, Craig pun mengadakan pesta kecil-kecilan dengan mengundang kedua perusahaan tersebut.
"Maaf, kami datang sedikit terlambat," ucap Liam pada Mrs. Anna yang datang menyambutnya.
"Tidak apa-apa, Mr. Liam." Mrs. Anna mengulas senyum ramah. Wanita baik hati itu pun menyapa Zenaya yang berada di sebelah sang ayah.
"Halo cantik, kau hanya datang bersama ayahmu?" tanya Mrs. Anna.
Zenaya mengangguk. " Ibu sedang bekerja, jadi aku dan ayah saja yang datang ke sini, Aunty," ucapnya rersenyum.
Mrs. Anna mengelus rambut Zenaya. Wanita itu pun mengajak mereka bergabung bersama yang lain, sekaligus memperkenalkan Liam pada Craig, selaku pemilik acara. Kedua pria itu memang belum pernah bertatap muka sama sekali.
"Terima kasih atas kehadirannya." Craig mengulurkan tangannya pada Liam.
Liam menerima uluran tangan Craig. "Kami yang berterima kasih karena Anda telah sudi mengundang."
Pria itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada Zenaya.
"Halo anak manis," sapa Craig sembari mengusap lembut kepala Zenaya. "
Zenaya tersenyum malu-malu. Gadis kecil itu pun mengucapkan terima kasih ketika Craig memuji parasnya yang lucu.
Tak lama, Giselle, teman baik Zenaya, datang menghampiri gadis itu dan mengajaknya bermain di taman belakang. Sementara para orang dewasa mengobrol di halaman depan panti.
...***...
Zenaya dan ketiga teman kecilnya berlarian di taman belakang panti sembari tertawa-tawa. Setelah puas bermain-main, keempatnya memutuskan berlomba merangkai bunga baby's breath dijadikan mahkota yang indah.
Zenaya tampak percaya diri, sebab dia sudah mahir merangkai bunga-bunga tersebut. Ilmu yang diberikan Giselle kini dapat diaplikasikan dengan baik oleh gadis kecil itu.
...***...
"Anak-anak, saatnya makan siang!" teriak para pengurus panti dari ujung taman.
Mendengar seruan para pengurus panti, anak-anak yang tengah bermain di taman pun segera membubarkan diri, tak terkecuali dengan Giselle, Clara, dan Lidya.
"Zen, ayo kita makan dulu!" seru Giselle, diikuti oleh Clara dan Lidya.
"Tanggung. Kalian duluan saja, nanti aku menyusul," jawab Zenaya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari bunga-bunga baby's breath.
"Nanti kita bisa lanjutkan lagi." Kali ini Lidya yang membuka suara.
"Aku tak bisa meninggalkan ini. Kalian pergilah duluan, sebentar lagi aku selesai."
Ketiga gadis itu saling melempar pandangan.
"Baiklah. Jangan lama-lama, Zen!" pesan Giselle pada Zenaya sembari berlari meninggalkan gadis itu seorang diri.
Zenaya hanya menoleh sejenak sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.
__ADS_1
...***...
"Giselle, ke mana Zenaya?" tanya Mrs. Anna ketika melihat Giselle hanya kembali bersama Clara dan Lidya.
"Dia masih sibuk merangkai bunga baby's breath, Mom," jawab Giselle.
"Loh, tidak kalian suruh makan?" Mrs. Anna mengerutkan dahinya.
"Tanggung katanya." Jawab Lidya sembari menunjuk salah satu makanan yang dia inginkan pada Miss Sharon, salah satu pengurus panti yang mengambilkan dirinya makanan.
Mrs. Anna menoleh ke arah Liam yang tampak asyik makan sambil mengobrol di tempat lain.
"Ya sudah, kalau begitu Mommy panggil dulu." Mrs. Anna bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi mencari Zenaya. Namun tiba-tiba, Reagen yang sedang duduk di dekat mereka bersuara.
"Biar aku saja yang memanggilnya," tawar lelaki berusia 7 tahun itu. Reagen ternyata sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Tidak perlu, Rey. Biar aunty saja," tolak Mrs. Anna.
"Tidak apa-apa, Aunty." Reagen berdiri dari tempat duduknya dan meletakkan piring makan yang telah kosong di atas meja.
Jennia yang berada di sebelah sang anak lantas tersenyum ramah. "Tolong ya, Sayang?"
Reagen mengangguk dan langsung berlari menuju taman belakang panti.
Sesampainya di sana, Reagen mendapati seorang gadis kecil bersurai gelombang sedang duduk di antara hamparan bunga baby's breath baru saja dikumpulkan. Gadis itu terlihat fokus merangkai bunga-bunga baby's breath hingga membentuk sebuah mahkota cantik. Sudah ada satu buah mahkota yang telah selesai dikerjakan.
Perlahan Reagen melangkah menghampiri Zenaya.
Ketika dirasa jarak mereka cukup dekat, Reagen segera berteriak memanggilnya. "Hei!"
Zenaya tidak menanggapi. Tangannya masih sibuk merangkai satu demi satu potongan bunga baby's breath.
Reagen mengerutkan keningnya. Padahal dia yakin suaranya sudah sangat keras, tetapi gadis itu sama sekali tidak merespon panggilannya.
"Hei, gadis kecil!"
Zenaya yang sedang tertunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Semilir angin lembut yang hadir menerpa rambut panjang Zenaya, membuat Reagen tak dapat mengalihkan pandangannya ke mana pun. Begitu pula ketika netra hazel gadis kecil itu membalas tatapan dirinya.
Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum kemudian, Zenaya menangis seketika.
Reagen kontan terkejut dengan tangisan Zenaya.
"Hei, kenapa menangis?" tanya lelaki kecil itu panik. Dia bersimpuh di hadapan Zenaya dan memegang bahunya.
Bukannya menjawab Zenaya malah semakin mengeraskan tangisannya.
"Hei! Kau kenapa, sih!" pekik Reagen jengkel. Dia menoleh ke sana kemari, takut-takut jika ada seseorang yang memergoki mereka dan mengira kalau dia sudah menyakiti Zenaya.
"Bungaku!" pekik Zenaya sembari menunjuk kaki Reagen.
Reagen mengikuti arah pandang Zenaya.
Ternyata mahkota bunga yang baru selesai dibuat oleh gadis itu tanpa sengaja terinjak kaki Reagen.
Reagen refleks mengangkat kakinya dan mengangkat mahkota bunga yang sudah hancur tidak berbentuk itu.
"Ssstt, jangan menangis! Aku tidak tahu, aku minta maaf," ucap Reagen panik, saat Zenaya melanjutkan isak tangisnya.
"Aku sudah bersusah payah membuatnya dan kau dengan kejam menghancurkan mahkotaku!" seru Zenaya tersedu-sedu.
"Maaf, maaf! Sudah, kecilkan suara isak tangismu. Kalau ada yang dengar nanti aku bisa disalahkan."
__ADS_1
"Kau memang salah!" sahut Zenaya kesal. Matanya memicing sinis Reagen.
"Aku, kan, tidak sengaja!" seru Reagen jengkel. Dia hanya berniat membantu memanggilkan Zenaya, tetapi karena insiden kecil ini, membuat Reagen sedikit menyesal.
"Kau harus bertanggung jawab!" seru Zenaya.
"Dengan apa?" tanya Reagen.
"Buatkan bunga yang baru. Aku tidak mau tahu!"
"Aku tidak bisa!" Reagen mengacak rambutnya frustrasi.
"Aku tidak mau tahu, kau haruβ"
Perkataan Zenaya terhenti seketika saat Reagen tiba-tiba mendaratkan ciumannya di pipi gadis kecil itu.
Reagen tidak memiliki ide lain untuk menghentikan tangis Zenaya, selain nekat menciumnya. Dia pernah mendengar dari sang ayah, bahwa beliau harus selalu mencium ibunya jika ingin menghentikan isak tangis beliau, dan Reagen hanya mencoba menyontoh perkataan ayahnya.
Hal tersebut rupanya berhasil. Gadis kecil itu sekarang hanya bergeming dengan wajah yang sangat memerah.
"Baik, aku berjanji akan membuatkanmu mahkota yang baru, tetapi kau harus ikut aku makan siang terlebih dahulu. Bagaimana?" Reagen menawarkan kesepakatan.
Zenaya mengangguk cepat. Dia sudah tak lagi menangis keras seperti tadi. Dibantu Reagen, gadis itu pun bangkit dari atas rumput.
"Aw!" pekik Zenaya.
"Kenapa?"
"Kakiku sakit," jawab Zenaya dengan mata yang kembali berlinang.
Reagen menghembuskan napasnya. Dia pun berjongkok di hadapan Zenaya. "Ayo, naik ke punggungku!"
Zenaya mengangguk dan perlahan naik ke atas punggung Reagen. Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke panti.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note: Yang tanya kenapa Liam dan Craig tidak saling mengenal saat pertama kali ketemu lagi. Jawabannya karena kejadian diatas sudah lebih dari 20 tahun ya, jadi wajar kalau pada lupa. Apa lagi mereka sudah cukup berumur sekarang. π
Terima kasih atas kesediaannya yang masih mau membaca. Stay trs sampai akhir ya, karena di bab akhir nanti akan ada sedikit hadiah khusus untuk para pembaca setia.
Terima kasih,
Salam cinta,
__ADS_1
Kim O. π€π€π€