Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.


__ADS_3

"Zen," Bisikan lembut seorang pria terdengar samar di telinga Zenaya. Ranjang tempatnya beristirahat juga tiba-tiba berderit, seperti ada seseorang yang naik ke sebelahnya.


Zenaya bergerak dalam tidurnya guna mencari posisi ternyaman. Walau merasa terganggu, dia sama sekali tidak membuka matanya.


Reagen tersenyum sembari menatap dalam-dalam wanita yang dicintainya itu. Dia baru saja sampai beberapa saat yang lalu.


Semula, pria itu ingin langsung membawa Zenaya pulang meski dalam keadaan tidur, tetapi Vian dan Grace melarang dirinya melakukan hal tersebut. Mereka malah menyuruh Reagen untuk ikut bermalam di sana saja dan baru pulang keesokan harinya.


Reagen yang merasa tidak enak sempat menolak, tapi setelah mendapati kondisi sang istri yang terlihat sangat kelelahan, dia akhirnya menerima tawaran Vian dan Grace.


Reagen berbaring tepat di sebelah Zenaya. Tak ada kedua guling besar yang menghalangi mereka seperti di apartemen. Terlebih, posisi keduanya saling berhadap-hadapan, jadi Reagen bisa leluasa menatap pahatan sempurna di wajah cantik istrinya tersebut.


Tangan pria itu terulur mengelus lembut rambut sang istri sembari merapikannya. Bayangan tentang pertengkaran mereka kembali menguap diingatan Reagen.


"Maafkan aku," bisik Reagen. Perasaan cemburu membuatnya tega membentak sang istri. Wajar saja, dilihat dari segi mana pun David memang memiliki perasaan terhadap Zenaya. Semua itu jelas terlihat sejak dia memergoki pria itu mencium Zenaya dulu.


"Tolong, lihat saja diriku," ucap Reagen lirih. Pria itu tengah menahan diri untuk mendekap Zenaya seerat mungkin. Dia hanya mengangkat kepalanya dan mengecup ringan bahu kiri Zenaya beberapa kali.


Zenaya bergerak sedikit sembari bergumam kesal. Namun, wanita itu tak juga kunjung terbangun.


Melihat itu, Reagen tersenyum simpul. Sejuta perasaan cinta membumbung tinggi setiap kali dia menatap wajah cantik Zenaya.


"Aku mencintaimu, Zenaya." Semua yang ada pada diri Zenaya adalah candu bagi Reagen. Dia kembali mengecup lembut bahu sang istri, sedangkan tangannya yang semula merapikan rambut Zenayaa, kini mengelus perutnya.


"Aku mencintai kalian," ucapnya lirih.


...***...


Pagi datang lebih cepat dari yang Reagen harapkan. Pria itu sebenarnya sudah terbangun sejak tadi. Namun, posisi mereka sekarang membuat Reagen belum rela beranjak dari sana.


Tak ada kedua guling besar yang biasa menghalangi keduanya, membuat Reagen tanpa sadar memeluk erat tubuh Zenaya dari belakang. Tangannya mengelus perut sang istri sembari sesekali menyusupkan wajahnya di leher belakang Zenaya.


Pria itu berniat untuk meliburkan diri hari ini dan menikmati momen langka tersebut lebih lama.


Suara ketukan pintu terdengar tak lama kemudian. Reagen yang tampak sedikit jengkel melepas pelukannya pada Zenaya. Dia lupa, mereka masih berada di rumah orang lain.


Pria itu bangkit dari ranjang dan membuka pintu.


"Maaf mengganggu tidur kalian," ucap Grace sembari memasang senyum simpul. Wanita itu sedang mencoba untuk tidak membenci Reagen seperti sebelumnya.


"Kami yang meminta maaf karena telah bermalam di sini," ujar Reagen.

__ADS_1


"Tidak masalah." Grace menoleh ke dalam kamar. Reagen menggeser tubuhnya sedikit. "Sepertinya dia belum bangun," kata wanita itu kemudian.


"Ya." Reagen turut memperhatikan Zenaya.


"Kalau begitu, turunlah duluan untuk sarapan. Vian menunggu ... ahh, kalian bisa memakai pakaianku dan Vian." Grace mengulurkan dua setel pakaian ke tangan Reagen.


"Tidak perlu, kami akan langsung pulang ke rumah." Tolak pria itu sopan.


"Aku sedang tidak ingin menerima penolakan, Rey. Lagi pula, ini sudah jam 7 pagi, aku tak yakin kau berniat ke kantor." Grace menatap Reagen tajam.


Pria itu meringis, lalu dengan tak enak hati menerima pakaian tersebut.


"Kami tunggu di bawah." Grace pun meninggalkan Reagen.


...***...


Reagen turun ke meja makan setelah mandi dan berganti pakaian.


Melihat penampilan Reagen membuat Grace dan Vian kontan tertawa. Pasalnya, celana panjang Vian tampak menggantung di kaki Reagen, begitu pula dengan kemeja yang dipakainya. Lengan kemeja itu tak sampai pergelangan tangan Reagen.


"Entah tawaku ini untuk mengejekmu, atau untuk meratapi tinggi badan kita yang jauh berbeda," ujar Vian sambil mempersilakan Reagen duduk. Maklum, tinggi badan Reagen sekitar 185 centimeter, sementara Vian 176 centimeter.


"Apa saja boleh. Aku tidak keberatan." Reagen tersenyum.


Setelah sarapan, Vian dan Reagen berbincang di ruang kerja pria itu. Hari ini Vian ikut meliburkan diri. Rasanya sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu bersantai dengan seorang teman.


Sementara itu, Grace mengetuk pintu kamar yang Zenaya tempati. Wanita itu ternyata sudah bangun sejak tadi dan sudah selesai berganti pakaian.


Tidak perlu diberitahu, pakaian yang diletakkan di atas ranjang pasti untuk dirinya.


"Terima kasih pinjaman bajumu, Grace," ucap Zenaya. "Maaf, aku tamu di sini tetapi malah aku yang bermalas-malasan," sambung wanita itu.


"Siapa yang bilang kau tamu di sini!" Grace bertolak pinggang. "Kau belum sarapan, sebaiknya kita turun ke bawah." Wanita itu memasang senyum termanisnya. Tanpa menunggu persetujuan Zenaya, Grace merangkul.lengan sahabatnya dan turun ke bawah.


Sejak hamil Zenaya tidak terbiasa sarapan di bawah jam 9 pagi, tetapi wanita itu tetap menghabiskan sarapannya demi menghormati sang tuan rumah.


"Jam berapa kau praktek?" tanya Zenaya.


"Jam 3 sore." Jawab Grace. "Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama. Aku tidak mengijinkan dirimu untuk pulang cepat. Vian saja sudah memonopoli suamimu."


"Ahh," gumam Zenaya. Pantas saja dia tidak melihat kedua pria itu di mana pun.

__ADS_1


Setelah sarapan keduanya menghampiri pasangan mereka di ruang kerja Vian.


Zenaya yang semula gugup, kontan tertawa lepas ketika melihat penampilan Reagen. Pria itu terlihat lucu mengenakan pakaian Vian. Apa lagi, Reagen dengan percaya diri menyilangkan kedua kakinya yang otomatis membuat celana tersebut makin terlihat pendek.


Reagen terperangah, begitu pula dengan sepasang suami istri itu.


Selama mengenal Zenaya, Reagen tidak pernah melihat sang istri tertawa selepas itu. Apa lagi jika sedang bersama dirinya. Oleh sebab itu, melihat tawa Zenaya yang sebenarnya tengah mengejek, membuat Reagen merasa sangat bersyukur pada Vian dan pakaiannya.


Tepat jam dua siang, Zenaya dan Reagen pamit dari sana. Keduanya sudah memakai pakaian mereka kembali setelah dicuci dan dikeringkan oleh salah satu asisten rumah tangga Grace.


Sesampainya di rumah, hal pertama yang ditanya Zenaya adalah mantel milik David.


"Aku sudah membuangnya ke tempat sampah. Mungkin, truck sampah sudah datang membersihkannya," jawab Reagen enteng.


Zenaya melotot. "Kau tak harus membuangnya. Aku sudah berjanji untuk mengembalikannya."


Reagen menghela napasnya. "Kita baru pulang ke rumah dan kau sudah ingin mengajakku bertengkar lagi."


Mendengar hal itu, Zenaya terkesiap. Kata-kata Grace soal berusaha membuka hati untuk Reagen terngiang di kepala wanita itu.


Reagen berjalan menghampirinya.


"Beri aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku padamu, Zen," ujar Reagen.


Zenaya tertunduk.


"Bisakah?" tanya pria itu.


"Aku ... tidak tahu," jawab Zenaya jujur.


Reagen memegang dagu sang istri dan mengangkat kepalanya. "Belajarlah. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi."


Perlahan, Reagen memberanikan diri mendekap tubuh Zenaya. Dalam keadaan tidur mungkin Zenaya tidak menolak perlakuannya. Berbeda bila wanita itu sedang dalam kondisi sadar.


Zenaya sedikit memberontak.


"Aku bersumpah tidak akan menyakitimu lagi." Reagen menahan Zenaya sembari mencoba menenangkannya.


Zenaya menitikkan air mata. Pelukan Reagen sebenarnya adalah tempat ternyaman bagi wanita itu. Hangatnya dekapan sang suami membuat Zenaya merasa tenang. Namun, sekelebat bayangan masa lalu selalu berusaha memecahkan ikatan mereka.


Zenaya seharusnya mengalahkan semua itu, seperti yang dikatakan dokter pribadinya.

__ADS_1


"Menerima dan memaafkan adalah obat yang paling mujarab. Apa lagi, saya yakin Anda juga masih memiliki perasaan itu."


Zenaya memejamkan matanya, dan membalas pelukan sang suami.


__ADS_2