
Juan mengenal betul siapa Alex. Dia merupakan pria berpendidikan yang berasal dari keluarga baik-baik. Meski hidup pria itu penuh dengan ambisi dan gampang terobsesi, tetapi Alex masih dapat mengontrol diri.
Tidak ada batu sandungan sedikit pun dalam hidup pria berusia 39 tahun itu. Semua berjalan lancar dan selalu sesuai keinginannya ... sampai tiba, sebuah peristiwa kelam mengusik jiwa Alex.
Dulu, Alex memiliki seorang adik angkat perempuan yang usianya terpaut 12 tahun di bawah pria itu, tetapi sang adik meninggal dunia setelah terlibat dalam sebuah kecelakaan ketika akan berangkat ke rumah sakit untuk menjemputnya.
Alex yang begitu menyayangi sang adik angkat kontan terpuruk. Perangainya berubah dari pria berhati lembut menjadi pria bertempramental. Ambisi dan obsesinya yang semula bisa dikontrol menjadi lepas kendali. Terlebih ketika mengetahui, bahwa kecelakaan yang terjadi pada adiknya merupakan sebuah kesengajaan.
Hal itu lah yang menyebabkan Alex nekat melakukan hal keji.
Demi membalaskan dendam, dia mencari tahu siapa yang telah menabrak adiknya, dan m*mb*nvh si pelaku. Tak hanya itu saja, Alex juga sempat nyaris menghilangkan ny*w4 seorang wanita yang menjadi teman t1dvrnya.
Demi menjaga nama baik keluarga, Hendy Cole, sang kakek, akhirnya membantu menutupi kasus-kasus tersebut, entah bagaimana caranya.
Hendy juga sempat menyuruh sang cucu untuk mengambil cuti selama beberapa bulan, sebelum akhirnya aktif kembali di rumah sakit.
Juan sempat berpikir jika Alex akan terus menetap di sana, tetapi setelah sang ayah memberitahu pria itu untuk menangani perjanjian kerja sama dengan Winston General Hospital, –kebetulan, dia lah yang menghandle perusahaan dari jauh–, Alex memutuskan untuk kembali ke tanah air.
Juan tidak pernah menyalahkan wanita bernama Zenaya yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Sebab di sini Alex lah yang jelas-jelas salah. Obsesinya untuk memiliki wanita itu membuat Alex hilang kendali. Apa lagi, setelah mengetahui bahwa Zenaya telah bersuami.
...***...
Keesokan harinya, Reagen mau tidak mau menceritakan pada Noah semua hal tentang Lea, dari mulai identitas palsu yang dia gunakan sampai kejadian malam itu. Tak lupa, soal sosok Frans yang terlihat di Piana.
"Kenapa kau berubah menjadi pria sembrono, Rey!" Noah membelalakkan matanya. Pria itu sontak memijit-mijit keningnya yang mendadak terasa sakit.
Reagen terdiam. Dia enggan membantah hinaan yang dilontarkan sang kakak.
"Tidak! Kita berdua bodoh. Aku pun tidak memeriksa dengan benar soal identitas asli Eleanor. Kalau saja aku mau mendengarkan dirimu, tentu kau tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Maafkan aku, Rey." Noah menatap sang adik dengan raut wajah sendu. Sebongkah perasaan bersalah hinggap dalam benak pria itu.
"Tak perlu menyesali apa yang telah terjadi, aku pun selama ini hanya bisa berdiam diri." Reagen tertunduk sejenak, sebelum kemudian menatap Noah serius.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari Frans di Piana. Sementara itu, aku dan Bryan akan menyelidiki siapa sebenarnya Lea. Entah mengapa, aku memiliki firasat bahwa semua hal yang telah terjadi ada keterkaitannya satu sama lain," terka Reagen.
"Berhati-hatilah," pesan Noah pada sang adik.
...***...
"Malam, Mr. Walker," sapa salah seorang security begitu melihat sosok Reagen yang baru masuk ke dalam gedung apartemen.
"Malam," balas Reagen ramah. Pria itu mengobrol sebentar dengan sebelum melanjutkan tujuannya.
__ADS_1
"Rey!" Panggilan seseorang membuat Reagen, yang sedang berdiri di depan lift, menoleh.
Dadanya tiba-tiba bergemuruh melihat sosok Alex tengah berjalan menuju ke arahnya dengan raut wajah gembira.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Rey," sapa Alex seraya menepuk-nepuk pundak Reagen.
Reagen terdiam sejenak. Dia menelisik tubuh Alex dari kepala hingga kaki, lalu berhenti pada telapak tangan kanan Alex yang terbalut perban.
"Ada apa dengan tanganmu, Lex?" tanya Reagen tanpa basa-basi.
"Ahh, ini?" Alex mengangkat tangannya, " tanganku tergores pisau saat sedang memasak. Gara-gara ini aku terpaksa membatalkan sebagian operasi dan menyerahkannya sebagian lagi kepada dokter lain." Tawanya.
Reagen tersenyum tipis. "Begitu rupanya," kata pria itu seraya menatap lift di depan mereka. "kau tahu, Lex, jika sesuatu yang sudah aku rencanakan gagal total, biasanya aku suka melampiaskan kekesalan dengan menghancurkan barang-barang hingga tanganku terluka."
Alex mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?" tanya pria itu.
Pintu lift kemudian terbuka. Reagen masuk ke dalamnya. "Kuharap kau tidak pernah melakukan hal itu saat sedang kesal, karena jika iya, maka kau akan terus melakukannya hingga tanganmu h4nc*r." Seulas senyum misterius terpatri di wajah Reagen.
Entah mengapa, mendengar Reagen mengatakan hal demikian, Alex merasa sedikit ketakutan.
Baru saja dia hendak membalas perkataan Reagen, pintu lift sudah menutup.
Jantung Alex berdetak keras. Sekelumit perasaan tak enak hinggap di benak pria itu.
...***...
Reagen tiba di dalam apartemen tak sampai lima menit kemudian. Meski dia sudah menjelaskan kejadian sebenarnya dengan jujur pada Zenaya, hubungan keduanya tetap saja sedikit renggang.
Zenaya tak lagi banyak berbicara seperti biasa, dan dia akan lebih memilih tidur dari pada menunggu sang suami pulang.
Namun, sepertinya kali ini tidak demikian. Senyum Reagen mengembang ketika mendapati Zenaya sedang berdiri di balkon apartemen mereka.
Perlahan, Reagen berjalan menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang.
Zenaya sontak berontak, tetapi Reagen memohon padanya untuk membiarkan posisi mereka seperti ini.
"Izinkan aku untuk meluruskan segalanya," ucap Reagen sembari mengecup leher dan pundak Zenaya.
Zenaya terdiam sejenak. "Benar atau tidak ceritamu itu, seharusnya kau tak membiarkan seorang wanita asing mana pun menciummu."
Zenaya menyentak kasar tangan Reagen. Bayangan akan kejadian lalu sama sekali tak bisa hilang dari ingatannya.
__ADS_1
Reagen menghela napasnya. Dia membiarkan Zenaya pergi menuju ranjang tidur mereka.
...***...
Suasana di dalam kantor tampak sepi. Hayden, kepala penyidik yang menangani kasus tabrakan beruntun keluarga Walker, dan sebagian anggota timnya tengah tertidur pulas di meja kerja masing-masing.
Maklum, sudah beberapa hai ini mereka harus bekerja ekstra untuk menyelesaikan kasus tersebut. Hayden sendiri bahkan sudah tidak pulang berhari-hari.
Tiba-tiba suara dering telepon memecah kesunyian di ruangan itu.
"Angkat teleponnya!" teriak Hayden kesal, karena merasa terganggu dengan suara bising dari telepon.
Beberapa orang bawahan Hayden terbangun dan saling sikut-menyikut, sebelum akhirnya, anggota tim termuda mengalah dan mulai mengangkatnya.
"Kantor Polisi ******** di sini." Pria tersebut menjawab telepon dengan nada mengantuk. Dia bahkan menahan diri untuk tidak menguap.
Sedetik kemudian, wajahnya tiba-tiba berubah. Dia segera menutup teleponnya setelah mengucapkan terima kasih, dan membangunkan anggota timnya, termasuk Hayden.
"Ponsel tersangka sudah ditemukan!"
"Move! Move!" seru Hayden pada seluruh timnya.
.
.
.
.
.
Terima kasih yang telah sudi membaca sampai sini.
Sekali lagi saya berusaha mengingatkan untuk jangan meneruskan bacaan, jika memang cerita ini tidak sesuai dengan keinginan Kakak-kakak. Dari pada menimbulkan kemarahan yang akhirnya memberikan komentar tidak baik, lebih baik tinggalkan cerita ini (yang saya hapus maafkan ya, tapi demi menjaga kualitas hati dan pikiran saya, agar saya bisa tetap menulis cerita ini sampai habis).
Jujur, komenan-komenan bernada kebencian seperti itu membuat konsentrasi saya terganggu dan fokus saya hilang. Bahkan, ada dua scene penting yang tertinggal dan akhirnya menghancurkan seluruh isi cerita yang seharusnya tidak begini. Saya berusaha tetap membawakannya dengan benar meski tanpa dua scene penting tersebut.
Intinya saya mau menegaskan sekali lagi, bahwa Reagen adalah seorang pebisnis, bukan seperti Frans yang memiliki latar belakang seorang mantan anggota intelijen. Maka dari itu scene action saya berikan ke Frans. Kan tidak mungkin ujug-ujug saya buat Reagen bisa berantem seperti Frans, atau tahu-tahu dia bisa mencari tahu dalang permasalahannya sendiri. Tidak semudah itu bestie. 😆😆
Sebisa mungkin saya mau membuat cerita yang tidak berlebihan. CEO bukan seorang super hero, dia hanya pebisnis handal. Kalau permasalahannya hadir dari dalam ruang lingkup bisnisnya, baru dia bisa bertindak, seperti Arion di Novel kedua saya, "Cinta Tulus mantan CEO", tapi karena konflik ini datang dari luar, otomatis Reagen butuh bantuan.
__ADS_1
Semoga bisa dipahami, kalau sampai di sini masih ada yang protes juga, tolong coba contohkan bagaimana saya harus membuat cerita yang benar, dengan membuat cerita sendiri, biar saya bisa lihat dan mempelajarinya. Maklum, saya masih awam. 😭😭😭
Sekali lagi terima kasih banyak. Salam cinta dari saya, seorang author remahan yang levelnya masih rendah. 😇❤️