Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.


__ADS_3

Tubuh Zenaya seketika kaku saat Reagen berhasil keluar gedung. Kendati ingin sekali berlari, tetapi kakinya tak kunjung bergerak meninggalkan tempat tersebut.


Reagen memandang Zenaya dengan tatapan penuh kerinduan. Tak ada lagi sorot mata dingin yang pernah ditunjukkan pria itu padanya. Raut wajahnya kini tampak sangat berbeda dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu.


Tahu bahwa Zenaya sama sekali enggan bergerak dari sana, membuat Reagen memberanikan diri mendekati gadis itu.


Sekuat tenaga Zenaya berusaha mundur menjauhi Reagen. Meski perlahan, gadis itu akhirnya dapat menggerakkan tubuhnya kembali.


"Stop!" batin Zenaya meraung. Ingin rasanya dia meneriaki Reagen secara langsung untuk berhenti mendekat. Namun, suara gadis itu tak kunjung keluar.


"Zenaya," panggil pria itu lirih.


Suaranya yang dalam membuat hati Zenaya kontan berdesir. Rasa sakit yang sempat terpendam kini kembali hadir, bersamaan dengan sekelumit perasaan yang Zenaya sendiri tak tahu apa artinya.


Sebisa mungkin dia berusaha tetap terlihat tegar di hadapan pria itu, meski kini matanya telah basah. Dalam hati, Zenaya sibuk mengumpat dan menghardik dirinya sendiri, yang akhir-akhir ini selalu saja mudah menangis jika berhubungan dengan Reagen.


Samar-samar Zenaya menghembuskan napasnya yang mulai terasa sesak, saat Reagen akhirnya berhasil mencapai tempatnya. Jarak mereka kini tak sampai tiga meter. Pria yang sekarang harus duduk di kursi roda itu mendongakkan kepalanya guna melihat wajah cantik Zenaya lebih jelas.


Ditatap sedemikian rupa oleh Reagen membuat Zenaya spontan menghindari kontak mata dengannya. "Maaf, Anda salah orang," ucap gadis itu sembari berlalu pergi. Dia tak boleh terlalu lama berada di sana. Bisa-bisa pertahanannya runtuh bila terus-menerus berada di dekat pria itu.


Reagen dapat melihat ketegaran yang ada di wajah Zenaya. Sikap dinginnya pun membuat setitik luka hadir menggores hati pria itu.


Reagen mendengkus pelan. Luka ini tak sebanding dengan luka yang dia berikan pada Zenaya.


Zenaya berdiri angkuh. Secepat mungkin dia berjalan melewati Reagen. Namun, langkah kakinya ternyata tak secepat gerakan tangan pria itu. Tangan Reagen kini malah menggenggam erat pergelangan tangan Zenaya.

__ADS_1


"Tolong, jangan kurang ajar! Sudah kukatakan kau salah orang!" Zenaya berusaha melepas genggaman tangan Reagen, tetapi pria itu malah mengeratkan cengkramannya.


"Aku tahu kau adalah Zenaya yang kukenal," ujar Reagen percaya diri.


Zenaya menoleh ke arah Reagen dan menatapnya dingin. "Zenaya yang kau kenal hanyalah seorang gadis sampah yang sudah kau injak-injak harga dirinya, sedangkan aku ... bukanlah orang seperti itu."


Sekuat tenaga Zenaya menghentakkan tangannya hingga berhasil terlepas dari cengkraman Reagen. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera melangkahkan kaki menuju pintu masuk.


Tak ingin kehilangan gadis itu, Reagen segera memutar kursi rodanya. "Aku tak pernah menganggapmu seperti itu!" teriak pria itu agar Zenaya dapat mendengarnya dengan jelas.


Tanpa menoleh ke belakang, Zenaya tertawa sumbang. Meski bibirnya tengah tertawa, tetapi air mata kini sudah mengalir membasahi pipi gadis itu. "Jangan bercanda. Sampai detik ini, aku masih mendengar dengan jelas semua perkataanmu itu!"


Reagen terdiam sejenak. "Maafkan aku," ucapnya menyesal.


Suasana hening seketika. Sepenggal kata maaf tak mampu membuat hati Zenaya tergugah.


Mulut Reagen sontak terkunci. Dia tak mampu membantah perkataan Zenaya. Dia memang pria tak tahu malu.


Merasa puas setelah mengatakan hal tersebut, Zenaya kembali melanjutkan langkahnya.


Tepat saat Zenaya hendak membuka pintu, suara hantaman terdengar jelas di telinga gadis itu. Wajah Zenaya yang semula dingin berubah panik saat melihat Reagen ternyata sedang berusaha melangkah dengan susah payah tanpa alas kaki di tanah berumput itu, sementara kursi rodanya telah jatuh.


"Jangan bertingkah bodoh. Kondisimu tak akan membuatku merasa iba!" seru Zenaya.


"Kau selalu salah sangka terhadapku," ujar Reagen. Napasnya terlihat naik turun karena harus berusaha mengimbangi langkah kakinya tanpa bertumpu pada bagian tubuh yang normal.

__ADS_1


Dia hanya ingin mengajak Zenaya berbicara dengan cara yang normal, bukan di atas kursi roda dalam keadaan lemah seperti ini.


Zenaya tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya ketika Reagen mendadak terhuyung. Dia bisa saja terjerembab dengan keras jika Zenaya tak segera berlari menolong. Mereka pun jatuh terduduk bersama. Zenaya berusaha menopang bobot tubuh Reagen yang jauh lebih berat darinya.


Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri keduanya. Dua orang di antara mereka bahkan berinisiatif memanggil tim medis ke dalam.


Tak butuh waktu lama, Grace bersama dua orang perawat sampai di taman tersebut sembari mendorong brankar. Wanita itu duduk bersimpuh di hadapan mereka untuk memeriksa keadaan Reagen. Dia sama sekali enggan memikirkan apa yang dilihatnya sekarang.


"Rey, kau baik-baik saja?" tanya Grace. Dia meminta Zenaya untuk mendudukkan Reagen di atas rumput guna memeriksa keadaannya.


Reagen mengangguk pelan.


"Bantu aku," pinta Grace pada Zenaya dan kedua perawat tersebut. Mereka pun segera membaringkan Reagen di atas brankar. Tak peduli bahwa status pria itu merupakan pasien penting rumah sakit ini, Grace tetap memarahinya karena telah pergi keluar ruangan tanpa izin. Bahkan, Reagen juga secara sembarangan melepas selang infusnya.


"Kau sadar tidak melepas infus sembarangan itu berbahaya? Lihat tanganmu sekarang!" Grace memandang galak tangan kiri Reagen yang ternyata telah mengeluarkan banyak darah. Zenaya spontan menatap tangannya sendiri. Bercak darah juga ada padanya. Perasaan bersalah menghantui gadis itu, mengingat dia sempat menghentakkan tangan Reagen kasar.


" ... dan kau ... aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tetapi pasienku hampir celaka karena kamu, Zen. Jadi, sekarang bantu Lisa dan Jeremy membawa pasienku ini ke kamarnya." Grace menunjuk wajah Zenaya.


Zenaya membelalakan matanya. Tanpa pikir panjang dia menolak keras perintah Grace.


"Aku harus turun ke lantai dua saat ini juga. Kau mau para pasien menunggu terlalu lama?" ujar Grace galak.


Zenaya tak dapat berkutik jika menyangkut soal pasien. Akhirnya, dengan terpaksa gadis itu ikut mengantar Reagen ke kamarnya bersama Lisa dan Jeremy.


Sesampainya di ruang perawatan, Reagen segera berbaring di ranjang. Malam ini dia memang sendirian karena sang ibu harus pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti anaknya. Reagen juga meminta Jennia untuk beristirahat di rumah dan kembali esok hari.

__ADS_1


Lisa kembali memasang infus pada lengan Reagen, sementara dirinya pamit undur diri pada kedua perawat itu. Dia sama sekali enggan mengajak Reagen bicara. Tanpa sepatah kata pun, Zenaya pergi keluar dari ruangan pria itu.


Reagen hanya bisa menatap kepergian Zenaya dengan wajah sendu.


__ADS_2