Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.


__ADS_3

Hampir setiap tiga bulan sekali Cole Inc. bekerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk menyediakan pengobatan gratis di beberapa Panti Jompo dan Panti Asuhan yang ada di pinggiran kota.


Kali ini, perusahaan keluarga Alex tersebut bekerja sama dengan Winston General Hospital mengadakan pengobatan gratis di salah satu Panti Asuhan yang nyaris tidak tersentuh sama sekali. Bahkan, panti asuhan itu terancam akan ditutup karena kekurangan dana. Bangunan panti juga didirikan di atas tanah sengketa.


Oleh sebab itu, demi menyelamatkan panti asuhan tersebut, Cole Inc. mencari para dermawan yang sudi menyalurkan dananya ke sana, dan juga mau membantu pemilik panti untuk menyelesaikan konflik sengketa tanah yang mereka alami.


"Terima kasih banyak saya ucapkan dari hati yang paling dalam sekali lagi, untuk Tuan Robert dan Tuan Liam. Kami di sini merasa terbantu dengan adanya pengobatan gratis yang Anda berdua lakukan." Mrs. Anna, sang pemilik panti menjabat tangan kedua pria tersebut.


"Sama-sama, Mrs. Anna. Kami juga akan berusaha mencari cara agar panti ini tetap beroperasi," ujar Robert yang diiyakan oleh Liam. Mata pria itu menatap para anak-anak panti yang tengah diperiksa.


Ada sekitar tiga puluh anak-anak yatim piatu yang dirawat di sini, dan enak orang pengurus, termasuk Mrs. Anna.


Kondisi mereka cukup memprihatinkan. Beberapa anak memiliki berat badan di bawah normal karena mereka hanya makan dua kali sehari dengan lauk seadanya. Sementara beberapa lagi mengalami infeksi pada saluran pencernaannya.


Mrs. Anna sebenarnya merupakan orang yang sangat berkecukupan, tetapi setelah sang suami meninggal setahun lalu, kehidupan wanita itu mulai berubah.


Rumah tangga mereka yang tidak dikaruniai anak selama hampir 15 tahun menikah, membuat Dave, mendiang sang Mrs. Anna berinisiatif membangun panti asuhan ini.


Awalnya semua berjalan lancar, banyak donatur yang turut membantu perkembangan panti asuhan tersebut, hingga dalam waktu kurang dari tujuh tahun sejak di bangun saja, anak-anak panti bertambah jumlahnya mencapai seratusan. Namun, masalah mulai bermunculan ketika ternyata tanah yang dibeli Dave diakui oleh orang lain. Bahkan orang itu memiliki surat tanah asli, sama seperti dirinya.


Lelah dengan segala proses hukum yang seolah tidak memihak mereka, sang suami pun akhirnya sakit-sakitan dan meninggal dunia.


Mrs. Anna menitikkan air matanya. "Terima kasih." Dalam hati dia berharap peninggalan sang suami tidak hilang begitu saja oleh orang-orang yang memiliki niat jahat.


...***...


"Zen, kau mau ke mana, Sayang?" tanya Amanda saat melihat putri kecilnya yang masih berusia lima tahun, berlari ke taman belakang panti bersama seorang gadis kecil lain. Wanita itu memang terkadang ikut dengan sang suami bersama kedua anaknya. Namun, hari ini dia hanya mengajak Zenaya.


"Aku ingin ke taman belakang bersama Giselle, Ma!" teriak Zenaya dari jauh. Dia menggandeng tangan seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya.


Amanda tersenyum. "Jangan jauh-jauh ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan makan siang bersama," pesan sang ibu.


Zenaya menganggukkan kepalanya dan berlari menuju taman dengan Giselle.

__ADS_1


"Zen, kamu tahu tidak kalau bunga itu bisa dirangkai menjadi sebuah mahkota yang sangat cantik?" Giselle menunjuk kumpulan bunga Baby's Breath yang ada di hadapan mereka.


"Benarkah? Hebat sekali!" pekik Zenaya.


"Ayo, aku ajari." Keduanya mengumpulkan banyak sekali bunga baby breath dan membawanya ke sebuah bangku taman yang tidak jauh dari sana.


Zenaya tampak serius memperhatikan Giselle yang dengan cekatan merangkai bunga-bunga tersebut hingga membentuk sebuah mahkota.


"Wow!" Mata Zenaya terlihat berbinar-binar.


Giselle memakaikan mahkota buatannya itu di kepala Zenaya.


"Untuk aku?" tanya Zenaya dengan raut wajah terkejut.


Giselle mengangguk. Dia tertawa kecil melihat teman barunya itu tampak bahagia dengan mahkota buatannya.


"Ajarkan aku ya, please?" Zenaya memohon pada Giselle.


Giselle pun dengan hati mengajarkan gadis itu. Dengan sabar dia mengajari Zenaya bagaimana caranya merangkai sekumpulan bunga baby's breath hingga membentuk mahkota.


"Kalian ini berisik sekali sejak tadi!" serunya ketus.


Zenaya menghentikan kegiatannya. "Siapa kau?" tanyanya tak kalah ketus.


"Kalian ini sudah mengganggu tidurku tahu!" jawab si laki-laki tanpa menjawab pertanyaan Zenaya.


Zenaya mengerucutkan bibirnya kesal. "Hei, Uncle! Ini taman bukan tempat tidur tahu!"


Mendengar sebutan Zenaya padanya membuat laki-laki itu terbelalak seketika. "Hei, jangan panggil aku Uncle! Usiaku baru 15 tahun, gadis kecil!"


Zenaya menelisik laki-laki itu dari atas ke bawah. Tubuhnya yang tinggi besar menyulitkan Zenaya untuk menebak berapa usianya.


Tanpa memperdulikan amarah laki-laki itu, Zenaya kembali beralih pada bunga-bunga miliknya.

__ADS_1


Merasa diabaikan oleh Zenaya, si laki-laki bangkit dari tempat duduknya. Baru saja dia hendak merampas bunga-bunga yang ada di tangan gadis itu, seseorang sudah memanggilnya.


"Alex, sini!" panggil Robert dari jauh.


"Ok, Dad!" jawab laki-laki yang ternyata bernama Alex tersebut. Matanya kemudian memicing sinis Zenaya. "Dasar gadis kecil!" serunya sebelum pergi meninggalkan taman.


Zenaya memeletkan lidahnya.


...***...


"Wow, cantik sekali mahkota ini. Siapa yang membuatnya, Zen?" tanya Amanda, saat Zenaya menunjukkan mahkota bunga hasil rangkaian teman barunya, Giselle.


"Giselle, Ma. Dia pintar sekali merangkai bunga. Aku sendiri sudah berlatih sebanyak tiga kali, dan hasilnya gagal semua." Zenaya menghela napas pasrah.


Amanda tertawa kecil. Dia pun mengelus kepala Giselle dan memuji kemampuannya.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Giselle malu-malu.


"Aunty saja, Sayang." Amanda menegur gadis kecil tersebut.


"Iya, A–aunty," kata Giselle malu-malu.


Amanda tersenyum simpul. Hatinya selalu diliputi kehangatan setiap kali sang suami mengajaknya ke panti. Keceriaan anak-anak dengan segala kepolosan mereka membawa kegembiraan tersendiri di hati wanita itu.


Amanda pun mengajak Zenaya dan Giselle berkumpul bersama sang suami dan relawan lainnya untuk menikmati makan siang.


Tepat ketika di tiba di salah satu meja makan, gadis itu kembali bertemu dengan Alex.


Keduanya sempat melempar tatapan sinis, sebelum kemudian kata-kata sambutan dari Liam mengalihkan perhatian semua orang di sana.


"Apa lihat-lihat!" seru Alex ketus. "Ingat, aku bukan om-om!" sambungnya lagi. Ternyata Alex masih merasa sakit hati dengan perkataan Zenaya di taman belakang panti tadi.


"Jangan salahkan aku, salahkan tubuh besarmu itu. Kau jadi terlihat seperti om-om!" sahut Zenaya tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Alex menatap Zenaya sengit. Jujur saja, dia sebenarnya merasa malu harus bertengkar dengan seorang gadis kecil, tetapi sikapnya yang sangat menyebalkankan membuat Alex tak dapat menahan diri.


"Dasar bocah!"


__ADS_2