Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 67: Keluarga Walker.


__ADS_3

Frans membungkukkan badannya dalam-dalam pada keempat orang di hadapannya. Pria itu berterima kasih pada mereka karena telah sudi menampung dan merawatnya selama tiga hari ini.


Joe bahkan berbaik hati memberikan mobil kesayangannya untuk dia pakai. Tak hanya itu saja, pria paruh baya itu juga juga memberikan ransel berisi pakaian, makanan instan, dan uang sebagai bekal mengisi bahan bakar. Frans memang berniat pulang ke apartemennya terlebih dulu untuk mengambil pasport dan kartu identitas lainnya. Untuk sampai ke sana, dia membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh empat jam berkendara.


"Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian," ujar Frans.


Sam berlari dan memeluk pria itu lagi, padahal mereka sudah berpelukan saat Frans berpamitan tadi.


"Apakah kau akan kembali ke sini, Frans? Aku bisa menunggu selama apa pun." Bocah lelaki itu menatap Frans dengan mata berkaca-kaca.


Waktu pertemuan mereka yang singkat, tidak menyurutkan kedekatan keduanya. Frans banyak mengajari berbagai macam ilmu bela diri yang dia kuasai, pada Sam dan Ace.


Ace hanya berdiri di sebelah ayahnya, terlalu malu untuk memeluk Frans kembali.


"Aku tidak bisa berjanji," jawab Frans.


Sam melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. Frans mengacak rambut Sam sebelum akhirnya naik ke dalam mobil Jeep tersebut.


Baru saja dia hendak menjalankan mobilnya, tiba-tiba Emma bersuara. Gadis itu berlari menuju Frans dan membuka kalung berbandul bintang laut kesayangannya.


Dengan masih berada di kursi kemudi, pria itu menundukkan kepalanya ke arah Emma. Permintaan dari gadis itu.


"Ini adalah kalung buatan mendiang ibuku," ujar Emma sembari memakaikan kalung tersebut ke leher Frans, "jagalah kalung ini dan kembalikan padaku jika urusanmu sudah selesai," bisik gadis itu. Jarak wajah mereka yang terbilang dekat membuat Frans bisa melihat dengan jelas, manik biru milik Emma yang begitu memukau.


Tanpa diduga, Emma mendaratkan sebuah ciuman perpisahan di pipi Frans, sebelum menyingkir dari sana.


Frans bergeming sesaat. Dia memegang bandul pemberian Emma erat-erat. Ada segelintir perasaan asing hadir menggelitik relungnya.


Emma, Joe, Sam, dan Ace sontak melambaikan tangan mereka, begitu Frans mengemudikan mobilnya menjauh dari sana.


"Kumohon, kembalilah." Batin Emma.


...***...


Zenaya baru saja berhasil menenangkan Krystal. Wanita itu kini tengah tertidur pulas setelah menangis lama dipelukannya.


Ditatapnya sang kakak ipar dalam-dalam dengan raut wajah sendu.


Semalam, dia mendapat kabar dari Adryan bahwa ibu mertua dan kakak iparnya dilarikan ke rumah sakit mereka, karena terlibat dalam sebuah kecelakaan beruntun.


Truk tronton bermuatan penuh tiba-tiba menyeruduk dari belakang lima unit mobil yang sedang berjalan. Tiga unit mobil paling depan hanya mengalami rusak sedang, sementara dua mobil di belakangnya rusak parah, termasuk mobil yang ditumpangi Jennia dan Krystal.

__ADS_1


Supir mereka mengalami cedera kepala yang sangat berat dan hingga kini masih tidak sadarkan diri di ruang ICU. Operasi belum dapat dilakukan karena terlalu beresiko. Belum lagi kadar tekanan darahnya yang sangat rendah. Mereka harus menunggu sampai tekanan darah pria itu berada di ambang batas normal.


Sementara Jennia, sang ibu mertua, mengalami cedera parah akibat benturan keras di dada. Benturan tersebut menyebabkan patah pada dua tulang rusuknya hingga menvsuk paru-paru. Hal ini menyebabkan terjadinya hemothorax pada rongga paru-paru beliau.


Krystal sendiri tidak mengalami cedera serius, tetapi akibat benturan keras pada perutnya, dia harus kehilangan calon bayi yang tengah dikandungnya.


Kondisi wanita itu memang terbilang paling ringan dibanding supir dan ibu mertuanya, sebab dia duduk di sebelah kanan.


Untuk Jennia, operasi sudah dilakukan semalam. Namun, kondisi beliau masih dalam keadaan kritis.


Noah masuk ke dalam ruang perawatan Krystal. Wajahnya terlihat sangat sembab.


"Maaf merepotkanmu, Zen. Aku ambil alih dari sini, sebaiknya kau pulang dan beristirahat," kata Noah. Dia merasa tak enak hati, sebab adik iparnya itu sudah menemani sang istri sejak pagi-pagi buta


"Tidak apa-apa, Kak. Rey sebentar lagi akan sampai, jadi aku bisa sekalian menunggunya." Zenaya mengulum senyum.


"Terima kasih, Zen," ucap Noah.


Zenaya menganggukkan kepalanya. "Bagaimana keadaan Mama, Kak?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang adik, mendung kembali menghiasi wajah Noah. Pria itu menggeleng pelan.


Zenaya terdiam sejenak. "Aku akan menemui Papa. Kakak bisa beristirahat dahulu, selagi Kak Krystal tidur."


Zenaya keluar dari ruang perawatan Krystal dan berjalan menuju ruang ICU di lantai dua. Sudah ada ayah dan ibunya yang menemani Craig di sana


"Krystal bagaimana, Zen?" tanya Craig begitu melihat Zenaya. Selain mengkhawatirkan istrinya, dia juga memikirkan kondisi sang menantu yang baru saja kehilangan calon anaknya.


"Kak Krystal baru saja tidur, Pa," jawab Zenaya.


Craig menghela napasnya gusar. Entah mengapa masalah besar tiba-tiba menghampiri mereka.


Tak lama berselang, Reagen sampai di tempat mereka. Pria itu berlari menuju sang ayah demi menanyakan kabar ibunya. Tak lupa, dia juga menyapa ayah dan ibu mertuanya.


Zenaya menatap Reagen heran. Pasalnya, pria itu sama sekali tidak membalas tatapan matanya. Dia seolah-olah tidak menyadari kehadiran Zenaya di sana, padahal jelas-jelas Zenaya berada di samping Craig.


Saat Reagen terduduk di kursi belakang. Zenaya menyentuh lembut bahunya.


Reagen tersentak.


"Mama akan baik-baik saja." Seulas senyum terpatri di wajah Zenaya. Dia mencoba mengerti akan kekalutan yang dirasakan sang suami, hingga membuat pria itu tidak menyadari kehadirannya.

__ADS_1


Reagen mengangguk dan menggenggam tangan Zenaya erat. Dia menciumi seluruh punggung dan telapak tangan sang istri, tetapi sama sekali enggan membalas tatapan matanya.


"Kau kenapa?" tanya Zenaya tiba-tiba. Meski Reagen berusaha terlihat biasa, tetap saja ada sekelumit perasaan tak nyaman di benak wanita itu.


"Kenapa, bagaimana? Tentu aku sangat mengkhawatirkan Mama," sahut Reagen.


"Aku tahu kau mengkhawatirkan Mama, tetapi sepertinya ada hal lain yang enggan kau ceritakan padaku." Zenaya mengulas senyum ramah.


Mendengar perkataan sang istri, Reagen tampak gelisah. Pria itu melepas tangan Zenaya dan meminta ijin untuk pergi ke toilet sebentar.


...***...


Di dalam toilet, Reagen meninjv kaca wastafel hingga menyebabkan tangannya terluka. Rasa bersalah membumbung tinggi dalam hati pria itu.


"Brengsek!" maki Reagen. Padahal dia sudah berusaha bersikap biasa, tetapi Zenaya dengan mudah menyadarinya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.


Bayang-bayang wajah sang istri membuat Reagen menutup wajahnya kasar. Untuk saat ini, dia benar-benar tak bisa menatap wajah wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:


Hemothorax merupakan kondisi dimana darah terkumpul di antara dinding dada dan paru-paru. Daerah ini merupakan area di mana darah terkumpul, yang dikenal sebagai rongga pleura. Penumpukan volume darah di ruang ini pada akhirnya dapat menyebabkan paru-paru Anda runtuh ketika darah mendorong bagian luar paru-paru.


Penyebab paling umum dari hemothorax adalah cedera trauma pada dada. Contohnya, termasuk jatuh keras di bagian depan tubuh atau mengalami kecelakaan mobil dan bagian dari kendaraan mengenai dada dengan sangat keras.

__ADS_1


(Google)


__ADS_2