Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 19 : Malapetaka (1)


__ADS_3

Zenaya menyibukkan diri seharian di rumah sakit. Dia sama sekali tidak membatasi pekerjaannya, dan belum beranjak juga dari kantor meski telah usai sejak tadi sore. Adryan yang mengetahui hal tersebut langsung mendatangi ruangan Zenaya dan menegurnya. Amanda memang memberitahu soal keadaan Zenaya yang sedang dirundung sedikit masalah dengan teman prianya.


"Sampai kapan kau akan mengurung diri di ruangan kumuh ini?" sindir Adryan. Netranya menatap sekeliling meja kerja dan meja tamu Zenaya yang ditumpuki banyak sekali berkas.


"Aku tak ingin pulang ke rumah," jawab gadis itu kalem. Tangannya mengambil tumpukan lain berkas yang belum tersentuh.


"Konsep pengembangan fasilitas Winston Care Hospital"


Zenaya membuka salah satu berkas berisi pengembangan fasilitas salah satu rumah sakit kecil yang didirikan sang ayah tiga tahun lalu. Lokasi rumah sakit tersebut berada di sebuah kota terpencil dan khusus diperuntukkan kalangan kurang mampu.


Melihat sikap sang adik, Adryan segera menghampiri mejanya. "Pulanglah, Mama pasti sudah menunggumu," titah pria itu seraya mengambil berkas tersebut dari tangan Zenaya lalu meletakkannya di ujung meja.


"Kak!" tegur Zenaya. "Mama sedang di rumah Uncle Fred dan menginap di sana. Tadi Mama sudah mengabariku. Beliau juga pasti memberimu kabar," sambung gadis itu.


Adryan mengangkat alisnya. Pria itu langsung mengambil ponselnya dari dalam saku jas.


Benar saja, ada lima panggilan tak terjawab dari nomor Amanda. Adryan menghela napas. Dia memang baru keluar dari ruang operasi, jadi belum sempat mengecek ponselnya.


"Kau harus tetap pulang dan beristirahat. Memangnya aku tidak tahu sudah beberapa hari ini kau bekerja seperti robot!" Adryan bertolak pinggang.


Zenaya menatap sang kakak dengan wajah memelas. "Bagaimana kalau aku menunggu Kakak di ruanganmu saja?" pintanya memohon.


Adryan menggeleng tegas. "Kakak masih ada operasi jam setengah satu nanti. Jika berjalan lancar, mungkin Kakak baru akan pulang saat fajar."


Zenaya menatap jam dinding yang berada di belakang tubuh Adryan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


"Baiklah, aku akan pulang." Zenaya terlihat sedikit merajuk. Dia lalu merapikan tasnya dan memakai jaket. Adryan tersenyum senang, tak peduli pada wajah adiknya yang mendadak suram.


"Mau aku antar sampai ke lobby?" tawar pria itu.


"Tidak perlu, Kakak kembali saja bekerja." Tolak Zenaya.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan." Adryan memeluk dan mencium kening Zenaya. Meski mereka sudah dewasa, Zenaya masih senang bermanja dengan kakak satu-satunya itu. Keduanya memang sangat dekat. Sewaktu kecil, Zenaya bahkan bisa menangis keras bila Adryan terluka, walau hanya tergores kecil.


Begitu pun sebaliknya, Adryan yang lembut akan berubah menyeramkan jika ada yang berani mengganggu adik kesayangannya itu. Beruntung, sewaktu Zenaya mengalami pembullyan di sekolah dulu, Adryan tidak tinggal di rumah.


Mereka keluar dari ruangan Zenaya bersama. Adryan langsung masuk ke lift menuju ruangannya di lantai empat. Setelah memastikan sang kakak benar-benar pergi, gadis itu malah berbelok ke menuju koridor yang jauh dari sana.


Ruangan Grace terlihat gelap dan sunyi saat Zenaya membuka pintu. Wanita itu pasti sedang berkeliaran ke kamar pasien atau nongkrong di nurse station. Dia memang berkata pada Zenaya bahwa akan lembur malam ini.


Meski tak ada sang pemilik ruangan, Zenaya tetap masuk ke dalam. Dia memutuskan untuk menunggu sahabatnya di sana sembari beristirahat.


...***...


"Rey, kau benar baik-baik saja? Biar aku antar saja," ujar Bryan khawatir pada sahabatnya yang tengah mabuk itu. Reagen sebenarnya cukup toleran dengan minuman beralkohol. Bryan belum pernah melihatnya sempoyongan walau sudah menghabiskan beberapa botol minuman tersebut. Namun, hari ini tidak demikian. Baru habis dua botol saja, Reagen sudah terlihat kepayahan, belum lagi mulutnya yang tidak berhenti meracaukan nama Zenaya.


"Aku baik-baik saja, kau tahu itu!" Reagen menatap Bryan tajam. Dia pun masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menolak keras tawaran Bryan yang ingin mengantarnya pulang ke apartemen.

__ADS_1


"Baiklah, kabari aku kalau sudah di rumah," pesan Bryan. Reagen hanya menjawab dengan gumaman kesal.


...***...


Grace terperanjat begitu masuk ke dalam ruangannya dan mendapati seseorang tertidur di atas sofa. Dia baru saja kembali setelah menangani pasien darurat di lantai empat.


"Zen," panggil Grace seraya menepuk-nepuk halus kaki Zenaya.


Tak butuh waktu lama, Zenaya terbangun dari tidurnya. Gadis itu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat tidur meringkuk di sofa.


"Kupikir, kau sudah pulang. Tadi aku berpapasan dengan Kak Adryan," ujar Grace heran.


"Aku terlalu malas untuk pulang. Tidak ada orang di rumah," kilah Zenaya.


"Rumahmu ramai oleh beberapa maid." Grace bertolak pinggang.


"Kau tahu, bukan itu maksudku!" tukas Zenaya ketus.


Grace tertawa kecil. "Ya ... ya ... ya ...."


"Kau lembur sampai pagi, kan?" tanya Zenaya kemudian.


"Tidak jadi. Operasi diundur. Salah satu pasienku tadi mengalami cardiac arrest." Jawab Grace. Wanita itu melepas jas putihnya dan mengambil tas.


"Sudah jam berapa sekarang?" Zenaya menguap lebar. Gadis itu masih merasa mengantuk.


"Jam satu pagi." Jawabnya sang sahabat.


"Vian, sudah di lobby. Kau tidak bawa mobil, kan? Biar kami antar." Grace menawarkan Zenaya untuk pulang bersama.


"Tidak perlu. Aku bisa memanggil taksi online."


Keduanya pun berjalan keluar bersama. Sesampainya di lobby, sudah ada Vian yang menunggu di sana.


Mereka bertiga mengobrol sejenak. Vian juga turut menawarkan diri untuk mengantar Zenaya pulang, tetapi Zenaya menolak. Rumah mereka tidak searah, Vian juga baru kembali dari luar kota, pasti akan sangat melelahkan jika harus menempuh perjalanan dua kali lipat hanya untuk mengantarnya pulang.


"Baiklah. Hati-hati, Zen," pesan Vian dan Grace.


"Kalian juga." Zenaya melambaikan tangannya saat Vian dan Grace keluar. Sekitar sepuluh menit kemudian, taksi online yang sebelumnya sudah dipesan akhirnya tiba.


...***...


Zenaya memicingkan mata saat mendapati sebuah mobil hitam terparkir di depan gerbang rumahnya. Ketika jarak taksi semakin dekat, gadis itu dapat melihat dengan sangat jelas seorang pria bertubuh tinggi menjulang tengah diseret paksa keluar.


"Berhenti di sini saja, Pak," pinta Zenaya. Supir taksi pun berhenti tak jauh dari mobil hitam itu.


"Rey!" batin Zenaya. Pria itu sedang meracau tak jelas sembari meronta-ronta agar terlepas dari kepungan kedua penjaga rumahnya.

__ADS_1


"Nona Zenaya," sapa salah seorang penjaga saat melihat kedatangan majikannya itu.


"Ada apa ini?" tanya Zenaya.


"Tuan ini berteriak-teriak memanggil Nona. Beliau bahkan sempat ingin menabrakkan mobilnya ke gerbang." Jawab penjaga tersebut.


Reagen menoleh ke arah Zenaya. "Zenaya?"


"Lepaskan dia," pinta Zenaya. Kedua orang penjaga itu pun melepaskan Reagen.


Tanpa diduga, Reagen langsung berjalan dan menubruk tubuhnya. Zenaya berusaha menahan pijakan kakinya agar tidak terjatuh ke aspal. Bau alkohol menguar pekat dari mulut pria itu.


"Kau mabuk!" pekik Zenaya.


"Zenaya," gumam pria itu seraya mengeratkan pelukannya pada Zenaya. "aku minta maaf," racaunya seraya terpejam.


Zenaya terdiam. Dia tak tahu harus bereaksi apa. Gadis itu kemudian memberi isyarat pada kedua penjaganya untuk meninggalkan mereka.


Kedua penjaga tersebut mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Reagen mencoba berdiri dan menatap Zenaya dalam-dalam. "Kau ...," Kedua tangannya tiba-tiba mencengkram erat bahu Zenaya hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kenapa?" tanya Reagen seraya mendekatkan wajahnya.


"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini padaku, sialan!" teriak Reagen. "Bukan hanya kau saja yang tersiksa selama sepuluh tahun ini. Aku pun juga demikian!" sambungnya.


"Kau mabuk, sebaiknya kau segera angkat kaki dari sini," pinta Zenaya sembari melepaskan diri. Matanya lagi-lagi menatap Reagen dingin.


Reagen tertawa sinis. "Lihat, sorot mata itu yang selalu kau tunjukan padaku."


"Kau pantas menerimanya!" seru gadis itu dingin.


Segores luka terselip di hati Reagen begitu mendengar perkataan Zenaya. Amarahnya meluap seketika. Tanpa meminta persetujuan Zenaya, Reagen segera menarik paksa tangan gadis itu dan memasukkannya ke dalam mobil.


Zenaya meronta sekuat tenaga. Dia berusaha membuka pintu mobil, tetapi Reagen terlanjur menguncinya. Pria itu dengan sigap membawa mobil menjauh dari kediaman keluarga Winston.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Note:


Cardiac arrest : Henti Jantung. Hilangnya fungsi jantung, napas, dan kesadaran secara tiba-tiba dan tak terduga.


__ADS_2