
Suasana di dalam ruangan kerja Adryan begitu pekat dan berat. Sang pemilik ruangan hanya bisa memijit-mijit keningnya, begitu melihat hasil pemeriksaan lanjutan adik iparnya.
"Sekarang atau tidak sama sekali, Rey! Kau harus segera dioperasi!" seru Adryan tegas. Mata pria itu menatap nyalang Reagen yang duduk persis di hadapannya.
"Tidak! Aku ingin menemani Zenaya sampai melahirkan, setelah itu—"
"Setelah itu kau akan langsung m4ti, brengsek! Bahkan sebelum Zenaya melahirkan, kau bisa mati! Kondisimu sudah semakin melemah, kalau kau hanya memikirkan hal itu, bukan tidak mungkin hari-hari selanjutnya istri dan anakmu akan melewatinya tanpa kau, b3d3b4h!" Tanpa sadar, Adryan menarik kerah kemeja Reagen kasar.
Melihat dari dekat, bagaimana raut wajah Reagen yang juga dipenuhi sejuta kesedihan dan kekalutan, membuat Adryan melunakkan emosinya.
Dia pun melepaskan sang adik.
"Sel tumormu sudah mulai menyebar. Memori ingatan dan keseimbanganmu juga sudah terganggu. Kalau dibiarkan begini terus, kau hanya akan m4ti sia-sia, Rey!" Adryan berbicara dengan nada putus asa.
Reagen terdiam. Benar juga apa yang dikatakan sang kakak ipar. Dia memang harus segera mendapatkan pertolongan medis, demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan keluarga kecilnya. Namun, itu berarti Zenaya harus melewati masa-masa kehamilan sendirian. Terlebih, bagaimana dia harus meminta izin pada Zenaya? Alasan apa yang harus dia katakan pada sang istri agar bisa pergi? Padahal dia saja baru mengajukan cuti.
Adryan menatap ponselnya selama beberapa saat, kemudian membuka suaranya lagi. "Aku akan menghubungi Dokter Steven untuk membicarakan rencana operasimu ... jangan membantah Rey!" tegas Adryan ketika Reagen hendak bersuara.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adryan bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, saat pria itu membuka pintu ruangannya, sosok Natalie sudah berdiri di sana.
"Na–nat!" seru Adryan tergagap.
"Kau tidak mengangkat ponselmu? Aku sudah berkali-kali menelepon." Natalie hendak masuk ke dalam ruangan, tetapi Adryan buru-buru mencegahnya.
"Ada ap ... Rey?" Natalie menatap Reagen yang ternyata sudah berdiri di belakang Adryan. Pria itu sangat terkejut mendapati sosok sahabatnya berdiri di sana.
"Hei, Nat," sapa Reagen sembari berusaha menyembunyikan raut gugupnya.
Natalie menatap keduanya dengan pandangan mencurigakan. Pasalnya, wanita itu tahu benar hubungan mereka tidak begitu baik, tetapi mengapa tiba-tiba keduanya bisa berada di ruangan Adryan? Apa mereka sudah seakrab itu?
"Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih nasihatnya, Kak." Reagen membungkuk dan keluar dari ruangan.
Tanpa disadari Reagen, secarik kertas hasil diagnosanya jatuh ke lantai. Natalie yang melihat langsung mengambilnya sembari memanggil pria itu.
"Rey, kau menjatuhkan i—" Mata wanita itu terbelalak ketika mendapati nama Reagen tercantum pada kertas tersebut.
Dia memang tidak mengerti beberapa istilah medis yang tertulis di sana, tetapi bukan berarti dia tidak tahu apa itu Astrocytoma grade 3.
Seolah tersambar petir, Natalie sontak berteriak menanyakan kebenaran tersebut.
Dia berjalan menghampiri Reagen dan mengacungkan kertas yang dipegangnya ke arah wajah pria itu. Adryan berusaha menenangkan Natalie yang mulai meledak-ledak.
...***...
Ketiganya kini sudah berada di ruangan Adryan lagi. Natalie menangis histeris begitu Adryan menceritakan semuanya pada Reagen, sementara Reagen hanya bisa tertunduk.
Dia memohon dengan sangat untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang hal ini. Tidak pada keluarganya, dan tidak juga pada sang istri yang mudah terguncang.
Natalie tadinya menolak keras permintaan Reagen, tetapi setelah Adryan membantu meyakinkan wanita itu, dia pun akhirnya mau menuruti dengan satu syarat, bahwa Bryan harus mengetahui hal ini.
Reagen tidak bisa menghadapi semua sendirian. Apa lagi dia harus segera berangkat ke Paris dalam waktu beberapa hari. Seharusnya, dia sudah berangkat dari minggu lalu, tetapi perdebatannya dengan Adryan membuat Natalie lagi-lagi harus menunda keberangkatan.
Reagen sama sekali tidak bisa berkutik ketika Natalie mulai menelepon Bryan dan menyuruhnya datang ke Winston General Hospital saat itu juga.
"Memang ada apa dengan Rey? Kenapa kau menangis?" tanya Bryan dari sambungan telepon.
"Nanti saja kuberitahu, pokoknya kau harus ke sini sekarang!" pekik Natalie.
Bryan yang tidak mengerti apa-apa memaksa Natalie untuk mengatakan hal sebenarnya. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan kantornya tanpa alasan jelas.
"Aku sedang menemui klien, Nat. Nanti saja kita–"
"Sahabatmu sek4r4t, tolol!" Seruan Natalie membuat Bryan bungkam seketika. "Dia sedang berlagak membuat drama s4mp4h dengan menyembunyikannya dari kita semua! Rey sakit, Bryan! Sakit!" Natalie kontan berteriak. Dia kembali mengeraskan isak tangisnya.
...***...
Bryan masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai. Pria itu baru saja menemui kedua sahabatnya dan mendengar fakta yang selama beberapa waktu ini sengaja disembunyikan Reagen.
Belasan tahun menjalin persahabatan dengan Reagen, membuat Bryan tak lagi menganggapnya hanya sebagai teman belaka. Dia merupakan sosok saudara laki-laki yang tak pernah dimiliki pria itu. Begitu banyak suka duka yang dihabiskan mereka bersama. Meski sekarang mereka tengah disibukkan dengan pekerjaan dan hidup masing-masing, bukan berarti ikatan itu hilang.
__ADS_1
Bryan duduk di meja kerjanya dan mengambil sebuah figura foto berukuran kecil yang tergeletak di sana. Itu adalah foto ketika dia, Natalie, dan Reagen masih kuliah dan tinggal bersama.
Bryan menatap foto tersebut lama, sebelum meletakkannya kembali ke tempat semula.
Pria itu kemudian menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan sembari memejamkan mata.
Setetes liquid bening mengalir dari sana.
"Cih! Lihat Rey, air mataku keluar untuk seorang pria, bukan wanita!" seru Bryan sinis, tetapi dengan suara bergetar.
...***...
Setelah memikirkan beberapa lama, Reagen akhirnya menemukan sebuah alasan paling masuk akal yang bisa dia berikan pada Zenaya. Dibantu oleh Bryan, mereka meminta izin wanita itu untuk mengembangkan bisnis bersama perusahaan besar di luar negeri selama beberapa minggu.
Semula, Zenaya sedikit keberatan. Satu bulan bukanlah waktu yang sebentar, apa lagi dia sedang hamil. Namun, Bryan meyakinkan Zenaya bahwa bisnis ini sangat penting.
Melihat tekad kedua pria itu, mau tak mau Zenaya pun mengizinkan meski harus setengah hati.
Tak hanya pada Zenaya, Reagen pun mengatakan hal yang sama pada kedua keluarganya. Jika tidak, sang ayah pasti akan menemukannya di mana pun dia berada.
Sama dengan Zenaya, kedua ayahnya semula sangat keberatan. Namun, Adryan malah membantu Reagen membujuk orang tuanya.
"Papa pikir, kau akan marah, mengingat adikmu akan ditinggalkan lama dalam kondisi hamil." Liam mengerutkan keningnya heran. Sang putra sulung yang biasanya selalu bertolak belakang dengan Reagen, tiba-tiba malah mendukung keputusan adik iparnya itu.
"Bukan mendukung. Aku hanya malas melihat wajahnya. Jika dia pergi, Zenaya akan tinggal di rumah kita, dan aku bisa bebas memonopoli adikku!" ujar Adryan ketus.
Liam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini seperti anak kecil saja,"
Reagen yang mendengar perkataan Adryan hanya mampu tersenyum maklum. Biar bagaimana pun mereka harus tetap bersikap demikian.
Setelah perdebatan yang sedikit alot, Liam akhirnya mengizinkan kepergian Reagen.
Dengan mempertimbangkan segala hal, Adryan dan Dokter Steven sepakat memindahkan pengobatan Reagen di rumah sakit lain, tempat Dokter Steven praktek. Namun, tetap di bawah pengawasan Adryan.
Mereka tak mungkin melakukannya di Winston, karena ada terlalu banyak mata yang harus dihindari, terutama Liam. Lagi pula, Adryan memang tidak akan diperbolehkan melakukan pembedahan pada anggota keluarganya sendiri
...***...
"Kau terlalu mengganggu, nanti aku bisa lupa mana-mana saja yang harus kau bawa!" protes Zenaya.
Reagen tersenyum tipis. Bukannya menurut, pria itu malah semakin gencar menciumi wajah Zenaya. Dia bahkan memeluk Zenaya dari belakang dan membawanya duduk di atas ranjang.
Zenaya yang duduk di pangkuan Reagen kembali melayangkan protes.
"Sebentar saja. Kita tak akan bertemu dalam waktu yang lama," ucap Reagen sembari menyembunyikan wajahnya di lipatan leher wanita itu.
Zenaya merubah posisinya dan duduk di sela-sela kaki Reagen.
Matanya memandang sang suami dari pantulan cermin almari yang ada di hadapan mereka.
"Akhir-akhir ini kau sangat aneh," ujar Zenaya.
"Oh, ya? Aneh kenapa?" tanya Reagen tanpa melepaskan pagutan-pagutan kecilnya pada leher sang istri. Rambutnya yang tergelung rapi memudahkan Reagen meninggalkan jejak-jejak manis di berbagai tempat.
"Entahlah, aku seperti merasa kau sedang menghadapi sesuatu yang sedikit rumit. Walau sedang tertawa, aku dapat menangkap sirat kesedihan yang terpancar di matamu."
Perkataan Zenaya refleks membuat Reagen menghentikan aksinya. "Aku hanya memikirkan banyak pekerjaan. Ditambah, aku harus meninggalkanmu dalam waktu yang lama. Maafkan aku." Reagen meletakkan dagunya di bahu Zenaya dan mengeratkan pelukannya.
"Aku mengerti." Zenaya mengelus tangan Reagen yang melingkari perutnya.
"Jagalah kesehatanmu di sana. Makan dan tidur yang teratur agar tidak sakit. Aku juga sudah meletakkan pouch kecil berisi vitamin. Jangan lupa untuk selalu menyempatkan waktu menghubungiku, sesibuk apa pun." Zenaya memberikan sedikit petuah seraya menepuk-nepuk tangan Reagen selembut mungkin.
Reagen mengangkat kepalanya dan menatap wajah Zenaya dari pantulan cermin. "Siap, Nyonya Walker," ucapnya dengan raut wajah jenaka.
"Ahh, satu hal lagi yang harus kau ingat ...," kata Zenaya tiba-tiba.
"Apa itu?" tanya Reagen penasaran.
"Ingatlah bahwa aku akan selalu mencintaimu, Rey."
__ADS_1
Mendengar perkataan Zenaya, Reagen terpaku.
Suasana hening sejenak, sebelum Zenaya kembali mengeluarkan suasana.
"Maafkan sikapku selama ini. Dulu hatiku memang sempat hancur berantakan. Aku bahkan menanamkan segala kebencian padamu selama lebih dari sepuluh tahun. Padahal, tanpa kusadari kau juga telah menyimpan luka atas perlakuanku selama itu. Aku sangat menyesal, Rey," kata Zenaya lirih.
Reagen menggerakan kepalanya dan bersandar pada punggung Zenaya. "Jangan bicara demikian. Kita memiliki penyesalan yang sama," ucap pria itu sembari berusaha menahan getaran pada suaranya.
"Kuharap, kau bisa bertahan dengan sikapku yang sedemikian menyebalkan ini." Setetes ari mata mengalir dari netra Zenaya. "Ya ampun, kenapa tiba-tiba suasana jadi mengharukan begini. Ini karena kau yang akan lama pergi. Itu membuatku sedikit gundah gulana." Sambungnya disertai tawa kecil.
Reagen memaksakan tawa tanpa melepaskan sandarannya dari punggung Zenaya.
"Aku juga mencintaimu, Zenaya. Aku mencintai kalian," ucap pria itu sembari tertunduk semakin dalam.
Zenaya sama sekali tidak menyadari, bahwa Reagen sedang menangis di belakang punggungnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
Astrositoma merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan tumor otak primer yang berasal dari sel astrosit. Ini adalah sel berbentuk bintang yang membentuk jaringan penyokong otak dan membantu menghantarkan informasi antar sel saraf. Tumor primer artinya tumor yang berasal dari jaringan otak sendiri, dan bukan merupakan hasil persebaran dari bagian tubuh lainnya:
Jenis Astrositoma ada empat:
1. Grade 1 Astrositoma (Pilocytic Astrocytoma).
2.Grade 2 Astrositoma (Diffuse Astrocytoma).
3. Grade 3 Astrositoma (Anaplastic Astrocytoma).
4. Grade 4 Astrositoma (Glioblastoma).
Grade 3 dan 4 sudah masuk kategori kanker ganas.
__ADS_1