Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.


__ADS_3

"Ada apa? Akhir-akhir ini kau tampak murung." Reagen meletakkan dua gelas minuman dingin di atas meja dan duduk di sebelah Zenaya.


Keduanya kini tengah menikmati hari libur mereka. Craig meminta Reagen untuk beristirahat di rumah selama satu minggu demi memulihkan kondisinya. Pria itu mau tak mau harus mondar-mandir ke rumah sakit untuk mengobati kepalanya akibat cedera, pasca perkelahiannya dengan Alex.


Tak ingin terjadi apa-apa, Craig meminta Dokter yang menangani sang putra untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Zenaya menggeleng. Layar televisi yang sedang menampilkan acara komedi sama sekali tidak menarik perhatian wanita itu. Dia hanya diam melamun, seperti tengah memikirkan sesuatu.


Reagen menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta sang istri untuk mendekat.


Zenaya beringsut menghampiri Reagen. Dia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di pelukan sang suami.


"Aku mengkhawatirkan Mama, Kak Krystal, dan juga dirimu," jawab Zenaya jujur.


"Apa yang kau khawatirkan? Mama dan Kak Krystal sama sekali tidak menyalahkanmu. Aku pun baik-baik saja," kata Reagen sembari mengelus rambut sang istri, dan sesekali mengecup kepalanya mesra.


Zenaya terdiam. Sewaktu bertemu, kedua wanita yang sangat dicintainya itu memang sama sekali tidak mempermasalahkan alasan Alex. Justru mereka mengkhawatirkan Zenaya, sama seperti yang dipikirkan Craig.


"Anggaplah ini sebagai ujian kita, agar kita bisa terus saling menjaga dan saling mencintai."


Kata-kata itulah yang Jennia lontarkan, ketika Zenaya meminta maaf pada beliau. Krystal pun mengatakan hal yang hampir sama. Wanita itu bahkan memberi peringatan pada Zenaya untuk tak lagi menutupi apa pun dari mereka.


"Kita harus saling melindungi. Maka dari itu, tak ada lagi hal yang harus disembunyikan. Apa lagi, jika kau butuh sesuatu, katakan saja, jangan pernah berusaha menanggungnya sendiri."


Zenaya merasa sangat beruntung memiliki mertua dan ipar yang sangat baik. Namun, hal itu lah yang menyebabkan perasaan bersalah pada diri Zenaya semakin menumpuk.


Andai saja dia tidak memancing kemarahan Alex waktu itu, atau andai saja dia mampu menanganinya sendiri, mungkin keluarga suaminya tidak akan ikut terkena imbasnya.


"Jika saja waktu bisa kuputar kembali, biar aku saja yang kena. Akan kutanggung semua penderitaan orang-orang yang telah menjadi korban akibat kekejaman pria itu," ucap Zenaya sembrono.


Reagen membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan sang istri. "Kau tidak boleh bicara begitu!" tegurnya sembari menegakkan tubuh Zenaya.


Matanya menatap dalam-dalam sorot mata wanita yang sangat dicintainya itu. "Dengar, Sayang! Mau waktu bisa kembali atau pun tidak, jika memang sejak awal orang itu sudah berniat tidak baik, maka tak akan ada yang berubah."


"Tetapi setidaknya–"


"Ssstt!" Reagen kembali menarik tubuh Zenay ke dalam dekapannya, guna memberi isyarat untuk tidak meneruskan pembicaraan.


"Hentikan pembicaraan ini. Kau harus ingat perkataan Dokter Chelsea untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting," tukas Reagen.


"Kalau begitu, aku boleh ikut ke denganmu ke dokter, kan?" tanya Zenaya dengan wajah memelas.


"Nanti, Sayang." Reagen mengecup lembut pipi istrinya.


Zenaya menghindar. "Sejak pertama kali memeriksakan diri, kau tak pernah mengajakku! Kalau begitu, biar adil aku juga tak akan mengajakmu ke Dokter Chelsea!" ancamnya.


Reagen tertawa lembut. "Itu beda cerita, Sayang. Aku tak ingin kau terbebani pikiran-pikiran negatif. Lagi pula aku selalu melaporkannya padamu, kan? Jadi tak akan ada bedanya," ujar pria itu.

__ADS_1


Sejak awal pemeriksaan, Reagen memang melarang Zenaya untuk ikut dengannya, sebab akhir-akhir ini, wanita itu selalu saja diliputi kecemasan berlebih. Zenaya bahkan sampai harus diinfus selama dua hari di rumah, karena daya tahan tubuhnya melemah dan nafsu makannya berkurang.


Zenaya memicing sinis. "Awas kalau sampai bohong! Aku tak ingin seperti drama-drama yang kutonton di televisi. Tahu-tahu kau sakit parah dan menyembunyikannya dariku. Lalu–"


Reagen memotong pembicaraan Zenaya dengan mencium bibirnya lembut. Tanpa melepaskan ciumannya, pria itu merubah posisi Zenaya agar duduk di pangkuannya.


"Sepertinya, aku harus melarangmu menonton drama-drama itu. Lebih baik menonton drama komedi saja," kelakar Reagen setelah melepaskan pagutannya.


"Cih!" Zenaya merengut. Keduanya kemudian tersenyum dan saling bertatapan tanpa suara.


Seolah terhipnotis, tangan halus Zenaya menyentuh lembut dahi Reagen yang terluka. Tak ada lagi perban di sana, membuat bekas luka Reagen tampak cukup jelas di matanya.


Reagen terpejam, menikmati sentuhan lembut sang istri yang mulai merambat ke pipi dan belakang lehernya.


Tanpa diduga, Zenaya juga mendaratkan sebuah kecupan lembut pada luka Reagen, lalu merambat ke kedua matanya, pipi tirusnya, hidung mancungnya, dan terakhir bibir tipis pria itu.


Zenaya memainkan bibir suaminya mesra, sebelum melepaskan diri dan berbisik lembut. "Aku mencintaimu,"


Tiba-tiba, jutaan kupu-kupu tak kasat mata seolah hinggap di perut Reagen. Ini lah kata-kata yang selama ini dia tunggu. Butuh waktu lama baginya untuk mendengar kalimat sederhana penuh makna itu dari mulut Zenaya.


Reagen menatap Zenaya penuh keharuan. Dia lalu tertawa nyaris terbahak. "Kau tahu, aku sudah lama menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu!" pekiknya senang.


Zenaya tersenyum simpul. "Maafkan aku," ujarnya dengan raut wajah menyesal.


"No! No! Jangan meminta maaf," sergah Reagen. Pria itu memeluk sang istri dan mengecup seluruh wajah Zenaya, sembari menyatakan cintanya berkali-kali.


Zenaya refleks mengalungkan tangannya pada leher Reagen, begitu sang suami berdiri dan menggendong tubuhnya menuju ranjang tidur mereka.


"Aku mencintaimu," ucap Reagen setelah merebahkan tubuh Zenaya.


Zenaya tertawa. "Kurasa, memori otakku akan penuh dengan kata-katamu itu."


"Tidak masalah, kan?" tanya Reagen. Dia juga mengelus perut Zenaya sembari membisikkan kata-kata yang sama untuk bayi mereka.


Zenaya menganggukkan kepalanya. "Aku juga mencintaimu."


Keharuan menyelimuti diri Zenaya. Dia berjanji akan berusaha menghilangkan perasaan bersalah ini, sekaligus berjanji untuk hidup bahagia bersama suami dan keluarganya tercinta.


...***...


Malam selanjutnya, keluarga Walker mengadakan pesta barberque bersama dengan mengundang kedua keluarga besannya, Winston dan Johnson, orang tua Krystal.


Suasana di dalam rumah megah tersebut dipenuhi suka cita dan kebahagiaan.


Keseruan semakin bertambah ketika Adryan datang membawa Natalie. Butuh waktu lama bagi pria itu sampai berhasil membujuk Natalie untuk ikut bersamanya.


Para wanita menyambut antusias kedatangan Natalie. Bahkan Megan, ibu Krystal, sontak memekik histeris begitu melihat sosok tersebut. Maklum, beliau ternyata merupakan fans berat model papan atas itu.

__ADS_1


"Aih, tak kusangka idolaku akan menjadi salah satu menantu keluarga besar ini," kelakarnya disambut gelak tawa mereka.


Natalie yang tampak malu-malu hanya bisa meringis kaku. Wanita itu pun diajak bergabung bersama kumpulan wanita di sana, sementara Adryan membantu Noah menyiapkan tempat barberque lainnya.


...***...


"Sepertinya, kau sudah menemukan seseorang yang dapat membuatmu melupakan masa lalu, Nat," ujar Zenaya.


Selepas makan malam, masing-masing dari mereka memisahkan diri dan membentuk kelompok masing-masing. Para ibu-ibu sibuk bergosip ria di dekat kolam renang, sementara para bapak-bapak membicarakan pekerjaan mereka di sudut lain.


"Kakakmu memang pria menyebalkan! Dia selalu saja hinggap, padahal aku sudah mengusirnya!" seru Natalie ketus. Wanita itu hanya berusaha terlihat seperti biasa, padahal dia tengah menahan senyum malu.


Zenaya tertawa kecil. "Dia memang seperti itu. Kuharap, kau bisa memaklumi sifatnya yang lain."


"Aku terpaksa melakukannya."


Jawaban Natalie membuat Zenaya mengeraskan tawanya.


Melihat Zenaya tiba-tiba tertawa selepas itu, Natalie mau tak mau ikut tertawa. Jelas sekali terlihat bahwa Zenaya kini sedang berbahagia.


Keduanya pun saling membicarakan seputar kehidupan mereka, sampai akhirnya Natalie memberanikan diri meminta izin pada Zenaya untuk menyentuh perutnya.


"Silakan saja." Zenaya dengan senang hati mempersilakannya.


Natalie menatap perut Zenaya yang sudah membesar. Perlahan, dia pun menyentuhnya. "Berapa usianya saat ini?" tanya wanita itu.


"22 minggu." Jawab Zenaya.


Natalie mengangguk, dielusnya perut Zenaya selembut mungkin. Berusaha agar tidak menyakitinya.


Semula, Natalie pikir dia akan merasa marah dan cemburu, tetapi ternyata tidak demikian. Entah mengapa, wanita itu justru merasa sangat senang. Terlebih, ketika sebuah gerakan tiba-tiba dirasakan olehnya.


"Hei! Ini dari dalam?" tanya Natalie dengan mata terbelalak. Persis seperti Reagen saat pertama kali merasakannya.


Zenaya mengangguk seraya tersenyum.


"Amazing! Hei, baby boy, try it again," pintanya antusias


Tak lama, sebuah gerakan kembali dirasakan Natalie.


Melihat raut wajah calon iparnya yang begitu sumringah, Zenaya tertawa kecil.


Dalam hati, Zenaya merasa sangat bersyukur bila akhirnya Natalie dapat menemukan kebahagiaannya sendiri, apa lagi jika kebahagiaan tersebut datang dari Adryan, sang kakak. Dia berharap, keduanya bisa terus bersama dan tak akan terpisahkan.


Namun, tiba-tiba Zenaya mengerutkan keningnya. "Kau tahu dari mana ini kalau bayi ini laki-laki?" tanyanya penasaran. Pasalnya dia sendiri memang meminta Dokter Chelsea untuk tidak menunjukkan jenis kelaminnya, sebagai kejutan nanti.


"Kakakmu itu tak pernah berhenti membicarakan calon keponakannya, dan dia yakin sekali bahwa bayimu itu berjenis kelamin laki-laki."

__ADS_1


Jawaban Natalie membuat Zenaya tertawa. Sang kakak dan suaminya ternyata kompak menebak hal yang sama.


__ADS_2