
Musim salju berakhir, es-es sudah mulai mencair hingga membuat beberapa ruas jalan menjadi sedikit licin. Itulah sebabnya Zenaya sengaja tidak membawa mobil. Gadis itu memilih berangkat dan pulang naik bus selama beberapa hari terakhir ini.
"Cuacanya dingin ya, Bu," ujar Jane tiba-tiba. Perawat muda itu baru saja keluar melalui pintu UGD.
Zenaya berjengit kaget. "Kamu ini kebiasaan sekali muncul tiba-tiba," ujarnya jengkel.
Jane tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Habis, Ibu melamun terus setiap aku lihat," kilah gadis muda itu.
"Ibu tidak pulang? Mobilnya ke mana?" tanya Jane saat melihat Zenaya hanya berdiri di depan lobby rumah sakit.
"Aku tidak bawa mobil." Jawab Zenaya singkat, sembari meniup-niup tangannya yang kedinginan. Gadis itu memang tak terbiasa memakai sarung tangan meski di tengah musim dingin seperti sekarang ini.
"Kalau begitu, rumah kita, kan, searah. Kita pulang bersama saja ya, Bu? Pacarku sebentar lagi datang," tawar Jane ramah.
Zenaya menggeleng pelan. "Aku tidak mau jadi obat nyamuk, Jane."
"Tidaklah, Bu. Dari pada harus pulang naik bus."
"Terima kasih, Jane, tapi aku akan pulang sendiri saja." Tolak gadis itu halus.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba merangkul bahu Zenaya. "Dia akan pulang bersamaku, Jane."
"David!"
"Mr. David!" pekik keduanya nyaris bersamaan.
Jane menghela napas pasrah. "Yah, kalau sudah Mr. David yang turun tangan, sih, aku menyerah saja." Tawa gadis itu terdengar kemudian.
David dan Zenaya pun pergi meninggalkan Jane yang masih menunggu kekasihnya datang. Pria itu memang sejak dulu ingin sekali bisa mengantar pulang Zenaya, tetapi dia tak pernah memiliki kesempatan karena jadwalnya sangat padat. Syukurlah ada pasien yang membatalkan janji hari ini, jadi dia bisa leluasa berduaan dengan gadis yang diam-diam disukainya itu.
"Aku ingin mengajakmu makan malam dulu. Bagaimana?" tanya David setelah selesai memakai seatbelt-nya.
"Hmm ... kalau kau mau mentraktirku, boleh saja," jawab Zenaya jenaka. Gadis itu memang terlihat sedikit lebih nyaman berdekatan dengan David dibanding pria mana pun.
David tertawa. Mereka pun meninggalkan rumah sakit untuk makan malam di taman kota.
"Ini adalah tempatku mengasingkan diri dari lelahnya pekerjaan," ujar pria itu begitu mereka sampai di taman kota. Mereka tengah duduk persis di hadapan danau yang tenang. Lampu warna-warni kota yang berada di seberang danau terlihat sangat memanjakan mata.
Meski suara-suara dari para pengunjung terdengar riuh, tapi sama sekali tidak mengganggu ketenangan Zenaya. Dia benar-benar menikmati suasana malam ini.
"Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Walau lahir dan hidup di sini, rasanya aku seperti orang asing karena tidak pernah bisa pergi ke mana pun." Zenaya menatap takjub sebuah kapal kecil yang bergerak di hadapan mereka. Itu adalah moda transportasi umum yang paling diminati para wisatawan.
"Sesekali, luangkanlah waktumu untuk diri sendiri. Itu akan sedikit membantu menghilangkan beban pikiran." David menghabiskan gigitan terakhir burger-nya dan membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tempat sampah yang tersedia.
"Lain kali kita keliling danau dengan kapal itu." David menunjuk kapal yang baru saja melewati mereka.
"Aku menunggu." Zenaya tersenyum.
Suasana mendadak hening karena Zenaya fokus memperhatikan sekumpulan angsa putih yang turun ke danau. Angsa-angsa tersebut mengepakkan sayap indahnya sembari menyusuri danau.
__ADS_1
"Angsa yang sangat cantik," puji Zenaya tulus.
"Tapi tak secantik dirimu."
Zenaya kontan menoleh. Dia bisa menatap sorot mata lain yang terpancar dari wajah David. Pria itu tak lagi menatapnya jenaka seperti biasa.
"Zen," panggil David.
Suaranya yang dalam membuat Zenaya sontak terdiam.
"Setiap mahluk membutuhkan pasangan untuk hidup, tak terkecuali dengan dirimu," ujarnya serius. "jadi, bisakah kau mulai buka hatimu dan melihatku bukan seperti teman kerja?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
Zenaya terkesiap. Dia tak menyangka ajakan David pertama kali malah membuat pria itu memberanikan diri menyatakan cintanya. Zenaya memang pernah mengatakan tentang tak ingin memiliki pasangan hidup karena sebuah peristiwa yang membuat dirinya trauma.
"Aku ...," Zenaya tak mampu melanjutkan perkataannya. David merupakan pria yang sangat baik. Jujur, dia lah yang senantiasa membantu Zenaya dan Grace saat baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumah sakit. Dia jugalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya saat Zenaya terlibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Meski kini mereka sempat menjauh karena kesibukan masing-masing, gadis itu tetap tak akan pernah melupakan kebaikan-kebaikan yang diberikan David.
Namun, untuk hal yang lebih dari itu, dia tentu tak bisa melakukannya. Bagi Zenaya, David hanya pengganti Adryan saat pria itu sedang mengabdi di tempat jauh. Walau terkesan jahat, tetapi memang itulah yang dirasakan Zenaya.
"Tak perlu kau jawab sekarang karena aku sudah tahu apa jawabanmu. Berpikirlah terlebih dahulu, kumohon ... aku akan menunggu." David menatapku dalam-dalam.
Aku mengangguk samar dan tersenyum simpul.
David membalas senyumku. " Baiklah, malam sudah semakin dingin. Bagaimana kalau kita pulang saja?"
Zenaya kembali mengangguk. Saat berdiri David membuka mantelnya dan memakaikan mantel tersebut pada Zenaya. Tak lupa, dia juga melepaskan sarung tangannya untuk gadis itu.
"Jangan membantah, tanganmu sudah sangat pucat!" tegas David pura-pura marah.
Zenaya tak lagi berkata apa-apa. Dia membiarkan saja pria itu melakukannya sesuka hati.
Mereka pun kemudian pergi meninggalkan taman tersebut.
...***...
Donny, salah seorang penjaga rumah Zenaya, membungkukkan badannya dalam-dalam kala mobil Reagen bergerak keluar dari gerbang rumah gadis itu. Reagen lagi-lagi harus menelan kekecewaannya ketika bertemu kembali dengan Zenaya. Kali ini memang bukan penolakan yang didapat oleh pria itu, melainkan karena Zenaya belum pulang.
Entahlah ke mana gadis itu pergi. Zenaya biasanya tak pernah keluyuran sehabis pulang kerja.
Saat mobil Reagen sudah benar-benar keluar dari gerbang dan maju beberapa meter, tiba-tiba sebuah sedan mewah datang dan berhenti tepat di hadapannya.
Reagen sontak menghentikan mobilnya. Mata pria itu terbelalak saat mendapati David keluar dari dalam mobil tersebut bersama Zenaya.
David yang menyadari mobil tersebut menoleh ke arahnya. "Siapa itu?" tanyanya pada Zenaya. Sorot lampu mobil yang menyilaukan mata membuat David tak bisa melihat siapa sosok sang pengemudi.
Zenaya terdiam sejenak. "Entah." Jawabnya kaku, padahal jelas-jelas dia tahu bahwa itu adalah mobil Reagen.
Reagen yang berada di dalam mobil tak ingin repot-repot mematikan lampu. Dia bahkan enggan bergerak mengambil jalan lain dan memilih untuk diam di tempat.
David tak menghiraukan mobil yang dirasa kurang sopan itu. Sebentar lagi dia juga akan langsung pergi. Jadi biarkan saja orang itu menunggu sedikit lebih lama.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pulang dulu," pamitnya pada Zenaya.
"Mantel dan sarung tanganmu?" Zenaya hendak membuka sarung tangan David, tetapi pria itu langsung menahannya.
"Pakai saja dulu. Kau bisa mengembalikannya nanti." David membetulkan posisi mantel Zenaya.
Reagen yang melihat adegan tersebut, mencengkram erat setir mobilnya.
Entah keberanian datang dari mana, David tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipi Zenaya.
Bukan hanya Zenaya yang terkejut, Reagen yang melihatnya secara langsung juga kontan berapi-api. Dia hendak keluar dari mobil, tetapi sesuatu menahannya untuk tetap diam di dalam.
Zenaya hanya bisa berdiri mematung, saat David mengatakan maaf karena telah lancang menciumnya tanpa izin. Tak lama, dia pun pergi meninggalkan Zenaya.
Entah mengapa, ada perasaan tak nyaman yang hadir setelah David menciumnya di hadapan Reagen. Zenaya mencoba mengabaikan perasaan itu dan berjalan menuju gerbang rumahnya.
Saat melewati mobil Reagen, pria itu tiba-tiba keluar dan menangkap pergelangan tangan Zenaya.
Zenaya sontak melepaskan tangannya.
"Kau selalu saja menolak genggaman tanganku, tetapi tidak saat dia menciummu!" seru Reagen dingin. Matanya menatap Zenaya tajam.
"Bukan urusanmu!" jawab Zenaya tak kalah dingin. Zenaya hendak pergi meninggalkan pria itu, tetapi tangannya berhasil ditangkap.
Tak ingin Zenaya pergi begitu saja. Reagen malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!" teriak Zenaya. Dia meronta sekuat tenaga agar bisa melepaskan diri dari kungkungan tubuh Reagen yang jauh lebih tinggi darinya.
Kemarahan benar-benar menguasai diri Reagen. Gadis itu sama sekali tidak menolak perlakuan David. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
Entah apa yang merasuki pikiran Reagen, tiba-tiba pria itu dengan kurang ajar mencium bibir tipis Zenaya dan memagutnya kasar. Tangan Reagen juga sibuk mengelap pipi Zenaya yang tadi dikecup oleh David. Dia tak peduli jika ada orang yang memergoki mereka, yang ada dipikiran Reagen saat ini adalah menghapus jejak pria itu dari wajah cantik Zenaya.
Zenaya kontan saja terkejut. Sekuat tenaga dia meronta-ronta sembari memukul-mukul dada Reagen agar bisa melepaskan diri. Namun, hal tersebut malah membuat Reagen semakin agresif. Bibir pria itu membelit Zenaya demi memperdalam ciumannya.
Air mata sudah mengalir membasahi pipi Zenaya. Sepuluh tahun yang lalu, ditempat inilah Reagen mencuri ciuman pertamanya. Dulu, tentu saja situasinya sangat berbeda dengan saat ini.
Tak ada cara lain lagi, Zenaya akhirnya menggigit kuat bibir Reagen agar ciuman panas mereka terhenti.
Usaha Zenaya tak sia-sia. Reagen kontan menghentikan ciumannya. Mata pria itu terkesiap saat mendapati luka lecet yang ada di bibir Zenaya akibat perlakuan kasarnya barusan.
Seolah tersadar dari kesalahannya, Reagen mencoba meminta maaf. "Zen–"
Tangan Reagen terangkat hendak menyentuh bibirnya, tetapi sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi Reagen duluan.
Zenaya menangis terisak-isak dan pergi meninggalkan Reagen begitu saja.
Reagen hanya bisa terdiam tatkala melihat Zenaya berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu kemudian meninju kaca mobil sekuat tenaga hingga membuat tangannya memar.
"Maafkan aku," batin Reagen.
__ADS_1