Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 18 : Luka Terdalam.


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah Zenaya langsung pergi menuju kamarnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan sang ibu yang pulang agak terlambat.


Zenaya bergegas mengunci pintu rapat-rapat dan terduduk di lantai. Gadis itu menangis terisak-isak sembari menghapus kasar jejak Reagen yang masih terasa di bibirnya.


"Zen," panggil Amanda khawatir. Dia mengetuk pelan pintu kamar sang anak guna mengetahui keadaannya.


Mendengar suara sang ibu, Zenaya kontan menggigit tangannya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk meredam isak tangisnya agar tidak terdengar oleh beliau.


"Aku ingin sendiri, Ma!" teriak gadis itu parau.


Amanda semakin khawatir setelah mendengar suara Zenaya yang sepertinya sedang menangis. Mungkin, gadis itu baru saja berpapasan dengan Reagen lalu bertengkar, karena jarak kepergian Reagen dan kedatangan Zenaya tidaklah jauh.


Amanda terdiam. Zenaya dan Reagen telah sama-sama dewasa, dan sebagai orang tua, dia harus mulai membatasi diri untuk tidak ikut campur urusan mereka.


"Baiklah. Mama akan selalu ada untukmu, Sayang," kata Amanda lirih. Dia pun terpaksa pergi meninggalkan kamar Zenaya, dan membiarkan sang anak menenangkan diri.


Zenaya kembali menangis. Dia ingin sekali menceritakan semuanya pada sang ibu. Namun, hatinya menolak keras untuk melakukan itu.


Zenaya tak mungkin membuat orang tuanya khawatir dengan mengatakan, bahwa dia baru saja dilecehkan oleh seorang pria. Apa lagi, pria tersebut merupakan orang yang mereka kenal baik.


Gadis itu hanya bisa memanggil-manggil sang ibu sembari mencengkram kuat dadanya yang terasa sakit.


...***...


Reagen keluar dari dalam mobil dan naik ke apartemennya menggunakan lift khusus. Lift itu merupakan akses khusus yang dibuat langsung terhubung ke unitnya. Setelah pulih total dia memang memutuskan untuk tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah. Letaknya berada di tengah-tengah antara kantor dan rumah sakit keluarga Zenaya.


Pria itu membuka jas kerjanya dan melempar jas tersebut ke atas sofa kecil, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Dia berdiri di depan wastafel, memandang tajam dirinya sendiri melalui pantulan cermin yang ada di sana. Bayang-bayang kejadian tadi masih terekam jelas diingatan Reagen.


Di satu sisi Reagen menyesali perbuatannya pada Zenaya, tetapi kala mengingat sorot mata gadis itu pada David, membuat kemarahannya kontan menguar kembali. Hatinya mendadak pilu, Zenaya tak pernah menatapnya selembut itu. Kebencian selalu dapat terlihat jelas dalam manik indah gadis itu, ketika berhadapan dengan dirinya.


Tak lama kemudian, suara pecahan kaca terdengar memekakkan telinga. Tangan kanan Reagen terluka. Darah segar dari tangannya bercucuran di lantai.


"Sial! Sial! Sial!"


...***...

__ADS_1


Grace terkesiap ketika mendapati bibir Zenaya terluka dan sedikit membengkak. Wanita itu semula sumringah karena berpikir, luka yang didapatkan Zenaya adalah hasil perbuatan David. Berita soal kepulangan mereka bersama rupanya sudah menyebar ke seluruh unit lantai lima.


Grace bersyukur, Zenaya telah membuka hatinya pada pria lain. Namun, ketika dia menanyakan kebenaran tersebut, sahabatnya itu malah terdiam. Zenaya kemudian bercerita secara gamblang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Grace.


Grace mendadak emosi. Kilat kemarahan terpancar jelas di matanya.


"Brengsek!" umpat wanita itu. "Kau tahu, suamiku baru saja menandatangani kerjasama dengan Walker Group. Aku akan memintanya untuk membatalkan kerjasama itu!" ancam Grace marah.


"Tak perlu sampai begitu, Grace. Jangan sangkut pautkan pekerjaan mereka dengan hal kecil ini." Sergah Zenaya tak enak. Vian, suami Grace, tak ada hubungannya dengan hal ini.


Grace memandang Zenaya tajam. "Hal kecil kau bilang? Dia sudah melecehkanmu, Zen. Pria itu harus diberi pelajaran. Masih banyak perusahaan yang mau menggunakan hotel suamiku. Kau tak perlu khawatir."


Zenaya memijat pelipisnya. "Grace, please ...," pintanya lirih.


Grace sontak menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Dia menatap sahabatnya prihatin. Begitu banyak beban tak kasat mata yang dipikul Zenaya semenjak kehadiran Reagen.


...***...


Hari ini suasana ruang meeting terasa sangat panas dan mencekam. Ada saja kesalahan-kesalahan kecil di mata Reagen pada presentasi karyawannya. Semua anggota rapat tak luput dari kemarahan pria itu. Bahkan, office boy yang mengantar minuman saja sampai terkena bentakannya hanya karena tidak meletakkan cangkir kopi dengan benar.


Suasana hatinya sangat buruk. Noah yang merupakan COO Walker Group, langsung menyuruh adiknya itu untuk pulang demi menenangkan diri, setelah mendengar tentang kacaunya rapat tersebut.


Jabatan sang adik memang lebih tinggi darinya. Noah sebenarnya malah tak ingin bekerja di sana. Dia sudah memiliki perusahaan kecil sendiri yang dibangun bersama sang istri dengan susah payah. Namun, bujukan sang ayah membuat pria itu luluh juga. Kini, perusahaan kecilnya dikelola penuh oleh Krystal.


"Pulanglah. Aku tak tahu apa yang membuatmu seperti ini, jadi lebih baik kau tenangkan diri dulu. Kasihan karyawanmu bila kau terus melimpahkan kekesalan mereka," ujar Noah lembut sembari menepuk punggung adiknya.


"Maafkan aku." Reagen memijat pelipisnya yang terasa sakit. Dia pun menuruti saran sang kakak untuk pulang ke apartemennya.


...***...


"Sidang ditunda satu minggu lagi." Ketukan palu hakim menggema memenuhi ruang sidang.


Bryan dan kliennya berdiri dari kursi pesakitan. "Minggu depan adalah sidang terakhir, mudah-mudahan hasilnya tak jauh berbeda dengan apa yang kita harapkan," ujar sang klien pada Bryan seraya menepuk pundaknya.


Bryan mengangguk hormat. Dia pun mempersilakan klien pentingnya itu untuk pergi duluan, begitu pula anggota tim pengacara lain.


Kasus yang dia tangani sekarang sebenarnya cukup rumit. Kliennya merupakan seorang mantan anggota dewan yang terlibat korupsi pada proyek besar pemerintahan. Bryan yang bernaung di bawah firma hukum terkenal diminta untuk menangani kasus tersebut. Semula dia menolak keras, tetapi atasannya memaksa karena tak ada yang mau berurusan dengan anggota dewan itu. Alhasil, bersama ketiga belas pengacara lain dari berbagai firma hukum, Bryan berusaha membuat sang mantan anggota dewan mendapatkan hukuman seringan mungkin.

__ADS_1


Bryan keluar dari ruang sidang dengan wajah kusut. Raut kelelahan terpancar dari wajah tampannya. Maklum, sudah satu minggu dia kurang tidur hanya demi menyelesaikan kasus ini.


Saat sampai di tempat parkir, pria itu terkejut mendapati Reagen sudah bersandar di body mobilnya. Reagen memang sempat menanyakan di mana posisinya melalui pesan singkat.


"Ada apa?" tanya Bryan begitu melihat wajah sahabatnya sedikit murung.


"Kau sendiri? Kantong matamu terlihat menakutkan." Reagen melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum sinis.


Bryan mengangkat bahunya. Tak perlu dijawab, Reagen pasti sudah tahu apa yang ada di dalam kepalanya.


Jika sudah begini, bisa dipastikan mereka akan menghabiskan waktu sepanjang malam di klub.


Meski mereka sering berkunjung ke klub malam, Reagen dan Bryan tak pernah tertarik bermain dengan wanita. Bryan memang pernah sesekali, tetapi tidak sembarangan gadis yang dia sentuh. Sementara Reagen, tidak demikian. Pria itu menjunjung tinggi kesucian dalam sebuah pernikahan. Dia tak ingin sang istri kelak menerima tubuhnya yang sudah ternoda.


"Ini masih sore, bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya Bryan yang duduk di kursi kemudi. Mereka berangkat menggunakan mobil pria itu, sedangkan mobil Reagen tetap terparkir di sana. Dia sudah menyuruh Sean untuk mengambil mobilnya dan membawa pulang ke apartemen.


"Ok." Jawab Reagen singkat. Mereka pun pergi dari sana menuju restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari gedung pengadilan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:


COO adalah singkatan dari Chief Operating Officer. Adalah bagian dari pimpinan yang memiliki tugas membuat kebijakan perusahaan pada bagian operasional, Chief Operating Officer (COO) sering juga disebut tangan kedua dari CEO.

__ADS_1


__ADS_2