Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 58: Frans Menghilang.


__ADS_3

Reagen terlihat menjauh dari Zenaya ketika mendapat telepon dari Frans. Sekretarisnya itu baru saja memberitahu Reagen bahwa dirinya diserang dua orang pria misterius tadi malam.


Dia sempat datang ke pos security untuk melapor kejadian yang menimpanya, tetapi saat kembali ke atas, dua orang pria misterius itu telah menghilang tanpa jejak.


Semula, Frans sempat mencurigai beberapa orang yang mungkin dikenalny dulu, tetapi dia tak yakin. Sebab, tak ada satu orang pun yang mengetahui identitas lamanya, selain beberapa teman dan keluarga inti Walker.


Sementara itu, teman Frans yang berada di Perancis kini juga tak dapat dihubungi. Tepat setelah pria itu membantu Frans mencari tahu tentang Alex, dia menghilang begitu saja


Frans sedang mencoba menyuruh seseorang untuk pergi ke sana untuk memastikan keberadaan pria itu.


"Berhati-hatilah, Frans. Segera beri kabar aku jika kau sudah menemukan temanmu, dan mengetahui identitas kedua pria misterius itu," kata Reagen mengingatkan.


"Baik, Pak. Anda juga harus berhati-hati, dan semoga Nyonya segera pulih." Frans berpamitan dan menutup sambungan teleponnya.


"Ada apa? Sepertinya serius sekali." Zenaya menatap cemas sang suami yang tampak sedikit gusar.


"Hanya kendala di pekerjaan saja." Jawab Reagen sembari menghampiri istrinya. Pria itu menggenggam tangan Zenaya dan mengelusnya lembut.


"Bosan sekali rasanya berbaring di tempat tidur sepanjang hari," keluh Zenaya sejurus kemudian. Kendati begitu, raut wajahnya terlihat biasa-biasa saja, berbanding terbalik dengan perkataannya.


"Ini bahkan baru sehari. Kau harus tetap begini selama dua minggu." Reagen tertawa kecil.


Zenaya tersenyum simpul. "Apa pun akan kulakukan agar dia tetap sehat." Wanita itu mengelus perutnya lembut.


Reagen ikut mengelua peetu Zenaya dan menciumnya beberapa kali.


Dugh!


Mata pria itu membola ketika tangannya tiba-tiba merasakan sebuah gerakan kecil di dalam sana.


"Ini ... apa?" tanya Reagen pada Zenaya.


"Dia sedang menyapamu," jawab Zenaya.


"Memangnya bisa?" tanya Reagen lagi.


Zenaya tertawa kecil. "Tentu saja bisa." Wanita itu menuntun tangan sang suami menuju sisi perutnya yang lain.


Dugh!


"God! Dia menendang?" Reagen tertawa. Wajahnya tampak takjub.


Namun, wajah sang suami tiba-tiba berubah khawatir.


"Kenapa?" tanya Zenaya saat menyadarinya.


"Dia menendang dari dalam sana. Apa kau merasa kesakitan?" tanya Reagen khawatir.


Zenaya menggelengkkan kepalanya. "Tidak sama sekali." Seulas senyum manis terpatri di wajah cantik istrinya. "Justru aku merasa senang, karena itu berarti, dia baik-baik saja di sana." Sambungnya.


"Kau benar." Reagen kini menempelkan telingan di perut Zenaya. Dia berbincang-bincang sedikit sembari memberi peringatan, agar tidak terlalu bersemangat supaya sang ibu tetap merasa nyaman.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kemudian.


David mengintip ke dalam ruangan dari balik pintu yang dia buka setengah. Pria itu mengangkat sekantong penuh buah-buahan di hadapan Zenaya dan Reagen.


Reagen yang tadinya terlihat begitu bahagia, kini memasang wajahnya sedatar mungkin. Pria itu bahkan menatap sinis David yang pura-pura tidak menyadari hawa menyeramkan dari suami temannya tersebut.


"Bolehkah aku masuk?" pinta David.


"Tidak!"


"Boleh."


Jawab Zenaya dan Reagen nyaris bersamaan.


David meringis. "Jadi, aku maju atau mundur?"


Zenaya tertawa kecil. "Masuklah." Wanita itu mempersilakan David untuk masuk ke dalam, setelah memberi tatapan peringatan pada sang suami terlebih dahulu.


"Terima kasih," ucap David seraya melangkah masuk.


Dia menyapa Reagen terlebih dahulu sebelum menanyakan kondisi Zenaya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," jawab Zenaya ramah.


"Syukurlah. Kejadian seperti ini bisa terulang kembali, jadi, sebaiknya kau memikirkan untuk mengambil cuti panjang sampai melahirkan nanti," usul David kemudian.


"Ya, aku memang sedang memikirkannya," sahut Zenaya.


David menganggukkan kepalanya.


Mereka pun berbincang sejenak (tepatnya hanya Zenaya dan David, sementara Reagen memilih duduk di sofa seraya memperhatikan mereka dari sana), sebelum akhirnya David berpamitan karena jam istirahatnya sudah selesai.


"Kau kenapa?" tanya Zenaya begitu melihat Reagen masih terduduk diam di sofa. Pria itu sama sekali tidak beranjak dari sana meski David telah pergi.


"Aku tetap tidak menyukai pria itu."


"Iya, aku tahu." Zenaya mengulum senyum.


Namun, kendati demikian, Reagen dapat merasakan bahwa David merupakan pria yang jauh lebih baik dari Alex.


...***...


Natalie berjalan perlahan di sebelah Adryan. Semalam, Adryan memberi kabar padanya soal kejadian yang menimpa Zenaya. Dulu, Natalie mungkin akan tertawa senang jika mendapat kabar seperti itu, tetapi tidak saat ini. Wanita cantik itu malah berinsiatif mengajak Adryan ke sana. Oleh sebab itu, mereka kini tengah berjalan menuju ruang perawatan Zenaya.


Namun, semakin dekat jarak ruangan tersebut, Natalie merasa semakin tak siap. Entah mengapa dia mengingkan pulang ke rumah saat ini juga.


Adryan yang menyadari kegelisahan Natalie, lantas memegang tangannya erat.


"Jangan begini, tak enak bila dilihat adikmu." Natalie berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan pria itu.


"Dia sudah tahu duluan." Adryan tersenyum.


"Hah?" Mata Natalie membola. "Apa maksudmu?" tanyanya tak mengerti.


"Mereka sudah mengetahuinya."


Natalie pikir, apa yang baru saja Adryan katakan merupakan sebuah kebohongan. Namun nyatanya, ketika mereka masuk ke dalam ruang perawatan Zenaya, kedua adik pria itu langsung menatapnya dengan raut wajah menggoda.


Reagen bahkan memberikan selamat pada Natalie karena telah memiliki pria yang jauh lebih baik dari dirinya.


Natalie yang semula canggung dan terbebani, kini merasa lebih rileks. Wanita itu bahkan sudah bisa menimpali beberapa lelucon yang Adryan lontarkan.


...***...


Sudah satu minggu Zenaya menjalani perawatan di rumah sakit. Selama itu pun, Reagen memilih tidak datang ke kantor dan menyerahkan semua tugasnya pada Frans dan sang kakak, Noah, demi merawat sang istri.


Namun, sejak semalam Reagen sama sekali tidak bisa menghubungi Frans. Pria itu bahkan tidak datang ke kantor ketika Reagen mencoba menanyakannya pada sang kakak melalui telepon.


"Ke mana dia?" gumam Reagen sembari menatap layar ponselnya cemas.


Menilik dari latar belakang Frans, Reagen sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan pria itu. Namun tetap saja dia tidak bisa menghilangkan rasa gelisahnya. Terlebih, aksi penyerangan yang dilakukan oleh orang tak dikenal pada Frans, terjadi hingga dua kali.


Pertama saat Frans berada di apartemennya, dan yang kedua ketika pria itu baru kembali dari kantor.


" Frans masih tidak bisa dihubungi?" tanya Zenaya.


"Iya." Jawab Reagen dengan tampang gusar.


"Mungkin dia sedang ada urusan mendadak." Zenaya mencoba menenangkan hati Reagen.


"Semoga saja." Reagen menghampiri Zenaya dan mengecup lembut bibir wanita itu. "Kau benar akan baik-baik saja jika aku tinggal?"


Zenaya mengulas senyum. "Pergilah."


"Hubungi aku jika butuh sesuatu, oke?" Reagen menatap Zenaya dalam-dalam.


Zenaya menganggukkan kepalanya.


...***...


Sebelum sampai ke kantor, Reagen sengaja mampir ke apartemen Frans terlebih dahulu untuk memeriksa keadaannya. Namun, apartemen Frans terlihat benar-benar tidak berpenghuni. Dari keterangan beberapa orang security, Frans masih berada di unitnya sampai tadi pagi.


Tak ada hal yang mencurigakan dari diri pria itu. Bahkan Frans masih sempat menyapa mereka saat berangkat ke kantor tadi pagi.


Setelah dari apartemen, Reagen baru pergi menuju kantornya untuk menemui Noah.

__ADS_1


"Security apartemennya bilang, bahwa mereka masih sempat bertukar sapa dengan Frans yang akan pergi ke kantor," ujar Reagen.


"Ada yang tidak beres." Noah menatap Reagen serius. "Jujur padaku, apa ada orang yang akhir-akhir mengganggu kalian?" tanyanya kemudian.


Mendapat pertanyaan seperti itu, pikiran Reagen langsung tertuju pada Alex.


Pria itu memang tidak pernah lagi menemui Zenaya, seolah-olah menghilang. Namun, itu justru menjadi kecurigaan utama Reagen.


"Aku mencurigai seseorang, tetapi aku tidak memiliki bukti apa pun," jawab Reagen.


"Kita tunggu sampai besok. Jika Frans masih belum bisa dihubungi. Kita lapor polisi."


Reagen menganggukkan kepalanya. Pria itu berusaha menenangkan diri.


Walau keduanya belum lama saling mengenal, tetapi Reagen sudah merasa sangat dekat dengan sekretarisnya itu.


...***...


Zenaya tengah tertidur pulas ketika seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan perawatannya tanpa suara. Pria itu melangkah masuk dan perlahan mendekati ranjang Zenaya.


Ia menatap tubuh wanita hamil yang terbaring dengan selimut tebal membentang ke seluruh tubuhnya.


Belaian lembut yang ia berikan pada rambut Zenaya membuat wanita itu sedikit terusik, tetapi tidak terbangun.


Ia tersenyum. "Zen, aku merindukanmu," bisiknya tepat di telinga Zenaya.


Pria itu tetap berada dalam posisi yang sama selama beberapa saat, sebelum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Zenaya.


Tiba-tiba, pintu ruangan Zenaya terbuka lebar.


"Zen, aku membawakanmu ... Dokter Alex?" David berdiri di ambang pintu sembari mengangkat sekotak kue kesukaan Zenaya.


Sekilas David dapat menangkap sorot mata sinis yang hadir di diri Alex.


"Mr. David. Zenaya sedang tidur." Alex mengangkat jari telunjuknya ke arah mulut. Memberi isyarat pada David agar tidak berbuat gadus di tempat itu.


"Ahh, begitu rupanya." David berjalan mendekati mereka. "Omong-omong ada keperluan apa Dokter?" tanya pria itu sembari meletakkan kuenya di atas nakas.


"Hanya menjenguk saja. Aku baru sempat kemari, dan ternyata dia sedang tidur," jawab Alex dengan raut wajah biasa. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan sikap ganjil.


"Oh, saya tidak tahu jika Anda memiliki kedekatan dengan Zenaya." David mengulas senyumnya.


"Ya, hanya kebetulan saja. Kalau begitu, saya permisi dulu." Alex melempar senyum ramah dan pergi meninggalkan ruangan.


"Dia sudah pergi," beritahu David setelah memastikan bahwa pria itu telah menjauhi ruangan Zenaya.


Mendengar perkataan David, Zenaya membuka matanya dan menangis terisak-isak.


Sebenarnya wanita itu sama sekali belum tertidur pulas. Jadi, dia masih bisa merasakan bagaimana bisikan dan belaian yang Alex berikan padanya.


David sendiri memergoki Alex ketika hendak melewati ruangan Zenaya. Dokter baru tersebut terlihat seperti maling yang menoleh ke sana kemari, sebelum masuk ke dalam ruang perawatan Zenaya.


Penasaran akan gelagat Alex yang menimbulan kecurigaan, membuat David memutuskan masuk ke dalam sana.


"Ssstt, sudah Zen, kau sudah aman sekarang." David menepuk-nepuk pundak Zenaya guna menenangkannya. Pria itu juga membantu Zenaya menaikan ranjang tidurnya sedikit.


Setelah Zenaya sedikit tenang, David pun mau tak mau menanyakan alasan wanita itu menangis.


Zenaya yang tak ingin membuat rumor-rumor jelek hanya mengatakan bahwa Alex pernah menyatakan perasaannya dengan cara yang cukup ekstrim.


"Ekstrim yang bagaimana?" tanya David penasaran.


"Aku tak bisa menjelaskannya. Itu membuatku mengingatnya lagi." Zenaya tertunduk.


David menghela napas. "Baiklah, aku tak akan memaksa. Yang terpenting, kau sudah aman sekarang. Aku akan meminta Grace untuk menemanimu di sini, atau kau bisa menelepon keluargamu."


Zenaya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Dav," ucapnya.


"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Dav," panggil Zenaya. "tolong, jangan katakan apa pun pada suamiku. Aku tak ingin dia kalap," pinta wanita itu.


"Baiklah. Dia berani membuang mantelku. Tentu aku tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan pada pria itu," ujar pria itu jenaka.

__ADS_1


Zenaya mau tak mau tertawa kecil.


__ADS_2