Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 7 : Air mata di Sekolah.


__ADS_3

Selepas kejadian tersebut, Zenaya berubah menjadi sosok yang lebih pendiam. Dia yang memang tidak begitu pandai bergaul, kini semakin menenggelamkan dirinya dari khalayak ramai.


Kabar berita tentang putusnya hubungan mereka mulai menyebar luas ke seantero sekolah. Bahkan, para penyebar gosip membumbuinya dengan berbagai berita miring perihal penyebab keretakan hubungan tersebut. Salah satunya, bahwa Reagen telah mencampakkan Zenaya setelah mendapatinya menggoda pria lain.


Jujur, Zenaya sama sekali enggan menanggapi berita miring yang hadir mengusik hidupnya. Akan tetapi, rasa nyaman tentu saja tak bisa dirasakan olehnya jika masih harus berada di kelas yang sama dengan Reagen. Maka dari itu, Zenaya berupaya meminta pada wali kelas untuk dipindahkan ke kelas lain. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada gadis itu. Permintaan Zenaya langsung ditolak, karena kurang dari empat bulan lagi hari kelulusan mereka tiba.


Alhasil, Zenaya harus selalu menguatkan diri agar tidak semakin terluka setiap kali melihat wajah Reagen. Dia pun berusaha tidak goyah, saat beberapa pasang mata kini lebih banyak menatap dirinya dengan pandangan mencemooh, sembari tertawa mengejek.


Zenaya tak memiliki kemampuan untuk membungkam mulut-mulut mereka. Jadi, lebih baik diabaikan saja.


Walau harus tersiksa, Zenaya tetap merasa beruntung, sebab di antara sekian banyak mata yang memandangnya rendah, masih ada tiga orang sahabat yang selalu setia berdiri di untuknya. Mereka lah yang membuat Zenaya memiliki sedikit harapan, agar dapat menghabiskan sisa waktunya di sekolah dengan aman dan damai.


Namun, harapan tinggallah harapan. Nyatanya, beberapa oknum siswi yang dikenal sebagai pendukung Natalie mulai membully dirinya.


Hampir setiap saat ada saja yang dilakukan gadis-gadis itu untuk mencelakai Zenaya. Ketiga sahabatnya bahkan sampai ikut menjadi korban, hingga dipanggil ke ruang konseling, saat mereka berusaha menolong Zenaya.


Pengaruh Natalie yang begitu besar membuat para pembully terbebas dari hukuman. Sebagai gantinya, Emily dan Grace yang kedapatan menampar salah satu pembully saat berada di ruang konseling, malah mendapatkan sanksi skorsing selama satu minggu.


"Tidak perlu menangis, kami baik-baik saja. Kau yang harus berhati-hati di sekolah."


Itulah sebaris pesan yang dikatakan Emily saat mereka terpaksa pulang ke rumah.


Tak ingin kejadian yang sama terulang pada Alice, Zenaya pun meminta gadis itu untuk menjauhi dirinya.


Reagen bukannya tak tahu masalah yang menimpa Zenaya. Dia bahkan pernah melihat sendiri, bagaimana Zenaya dibully habis-habisan hanya karena gadis itu tak lagi menjadi kekasihnya.


"Kau sungguh tak berhati, Rey!" seru Bryan. "Zenaya dibully karena dirimu. Mereka selama ini menahan diri untuk tidak menyakiti gadis itu, karena ada kau di sampingnya. Begitu kau lepas ... lihat, apa yang mereka lakukan!" sambung lelaki itu dingin.


Reagen terdiam. "Itu bukan urusanku," jawabnya datar.


"Kau lah yang tega menjerumuskan Zenaya ke dalam permainan Leon dan membuangnya. Kini, dia dibully karena dirimu, dan kau masih bisa mengatakan bahwa itu bukan urusanmu?" Bryan meninggikan suaranya.


"Tak kusangka, sahabatku ternyata tak lebih dari seorang pria brengsek!" Bryan meninggalkan Reagen begitu saja menuju ke kelas.


"BUBAR!" hardik Bryan pada para siswi yang tengah menertawakan Zenaya.


"Kau baik-baik saja, Zen?" tanya Bryan khawatir.


Zenaya yang tengah sibuk membersihkan roknya dari permen karet, tersenyum lembut pada Bryan. "Aku baik-baik saja," ucapnya.

__ADS_1


Hati Bryan mencelos. Walau sudah diperlakukan sedemikian rupa, Zenaya masih tetap mampu memasang senyum terbaiknya.


Alice yang baru datang menubruk tubuh tinggi Reagen dan berlari menghampiri Zenaya.


"Zen, kau baik-baik saja?" tanya Alice dengan mata basah.


Zenaya mengangguk samar. "Antar aku ke toilet," pintanya.


Alice melempar tasnya ke meja dan langsung membantu Zenaya pergi dari kelas.


Reagen yang berdiri di depan kelas tanpa sadar memperhatikan Zenaya, saat gadis itu berjalan menuju pintu keluar. Dia pikir, Zenaya akan menatapnya dengan pandangan yang sama seperti waktu itu. Namun, nyatanya tidak. Seolah tak ada siapa pun, Zenaya berjalan melewatinya begitu saja.


Reagen mencengkram erat tali tasnya. Melihat ketegaran yang ada pada diri Zenaya membuat batinnya sedikit terusik.


...***...


Suara tawa beberapa siswi menggelegar memenuhi toilet lantai dua, ketika mereka berhasil memancing Zenaya untuk masuk ke dalam toilet, dan menyiram gadis itu dengan seember air kotor. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, dan para siswi itu sengaja menunggu Zenaya yang memang terbiasa pulang belakangan.


Dia adalah Joana, yang merupakan salah seorang teman dekat Natalie. Belum puas dengan apa yang dia lakukan, Joana berjalan menghampiri Zenaya dan menjambak rambutnya keras.


"Sampah memang cocok dengan air sampah!" hardik gadis berpenampilan seksi itu, sembari menghempaskan Zenaya hingga dahinya membentur dinding toilet.


Joana tertawa sinis. "Aku sudah pernah bilang, kan, kalau aku hanya ingin melampiaskan apa yang sudah tertahan sejak lama. Masalah putus atau belum, tidak ada hubungannya dengan kepuasan diriku untuk menyakitimu, gadis j4l4ng!" serunya.


"Kau pun tidak ada hubungannya dengan ini! Kau hanya orang asing yang suka cari muka untuk menarik perhatian Natalie, si anak pemilik yayasan!" Zenaya bangkit dari lantai. Gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan ketakutannya.


Mendapat penghinaan seperti itu, wajah Joana seketika berubah merah padam. Ia tampak sangat malu dan juga marah. Tanpa tedeng aling-aling gadis itu melayangkan tamparannya pada wajah Zenaya, sampai sudut bibirnya terluka.


Zenaya bertekad untuk tak lagi berdiam diri. Menggunakan kuku-kukunya yang tajam dia mencakar Joana dan mendorongnya hingga terjatuh. Ketiga teman Joana bergegas menolong gadis itu sembari menghardik Zenaya.


Melihat ada celah untuk kabur, Zenaya bergegas lari keluar dari toilet. Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan pakaiannya yang basah dan bau. Sebisa mungkin, dia harus segera pergi dari sana.


"Kejar bangsat!" hardik Joana pada ketiga temannya.


Zenaya terus berlari sembari sesekali menoleh ke belakang. Dia berhasil menuruni tangga menuju lantai satu. Namun, jarak ketiga gadis itu semakin dekat.


"Berhenti j4l4ng!"


Tak ingin tertangkap, Zenaya membuka sembarang salah satu pintu ruangan dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Gadis itu menyandarkan dahinya di daun pintu. Dia tengah menunggu.


Kekuatan yang tadi didapatkannya seolah menghilang, ketika langkah kaki ketiga gadis itu terdengar melewati ruangan tersebut.


Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya tumpah ruah membasahi pipinya. Zenaya kontan terduduk di lantai sembari memeluk kedua lututnya.


"Kau tidak bawa mobil lagi?" tanya Bryan pada Reagen. Mereka berdua baru saja selesai berlatih basket. Meski pertandingan telah selesai, bukan berarti mereka bisa mengurangi jam latihan.


"Malas." Jawab Reagen singkat.


Keduanya berjalan menuju pintu keluar lapangan indoor yang sudah sepi, sebab, semua anggota tim sudah pulang sejak beberapa menit lalu.


Bryan memicingkan matanya ketika mendapati sesosok gadis berpakaian kotor tengah terduduk di depan pintu masuk lapangan.


"Masih ada murid lain? Siapa dia?" tanya Bryan.


Reagen yang juga melihat gadis itu menggelengkan kepalanya.


Begitu mendekat, bau menyengat dari tubuh sang gadis menyeruak menusuk hidung mereka. Tanpa merasa jijik, Bryan berjongkok di hadapan gadis itu dan memegang bahunya.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Bryan khawatir.


Keduanya kontan terkejut saat si gadis mengangkat kepalanya.


"Zenaya!" pekik Bryan. "Ada apa denganmu?"


Zenaya tidak menjawab. Gadis itu tampak menggigil kedinginan dengan wajah yang sudah pucat pasi. Luka kecil juga terlihat di dahi dan bibirnya.


"Kau bisa berdiri?" tanya Bryan lagi.


Zenaya menganggukkan kepalanya. Bryan lalu membantu gadis itu untuk berdiri.


"Aku baik-baik saja," kilah Zenaya. Kata-kata tersebut sangat berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Bryan mengangkat Zenaya ke dalam gendongannya.


Baru saja lelaki itu hendak berlari menuju ruang kesehatan, Reagen sudah menahan bahunya terlebih dahulu.


"Zenaya tak butuh aktingmu lagi," ujar Bryan sinis.

__ADS_1


Reagen tidak menjawab. Dia hanya mengambil Zenaya dari gendongan Bryan dan membawanya pergi ke ruang kesehatan. Bersamaan dengan itu, Zenaya telah kehilangan kesadarannya.


__ADS_2