Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 28 : Upacara Pernikahan.


__ADS_3

Zenaya menatap pantulan dirinya di cermin. Berbalut gaun pengantin mewah berwarna putih, wanita itu tampil cantik dan menawan.


Sang ibu menatap Zenaya dengan mata basah. Gadis mungil yang dulu sering digendong-gendongnya itu sebentar lagi akan menjadi istri orang. Terlebih, dia juga akan menjadi seorang ibu. Walau perjalanan menuju momen ini bukanlah perjalanan yang baik, Amanda berharap anaknya bisa hidup berbahagia dengan Reagen.


Seorang wanita hendak menghampiri Zenaya, sembari membawa sepasang sepatu tanpa hak untuk sang anak. Amanda meminta izin untuk mengambil alih tugas wanita itu.


"Silakan, Nyonya." Ia memberikan sepasang sepatu itu pada Amanda.


"Terima kasih," ucap Amanda ramah. Dia menghampiri Zenaya dan memintanya duduk di sofa yang tersedia. Wanita itu kemudian mengambil kaki mulus sang anak dan memakaikan sepatu tersebut.


"Terima kasih, Ma," ucap Zenaya penuh haru.


Amanda mengangguk pelan. Dia pun ikut duduk di sebelah Zenaya dan memeluknya erat. "Rasanya baru kemarin kau lahir dari perut Mama, kini kau akan menjadi milik orang lain."


Zenaya membalas pelukan Amanda sama eratnya. "Aku tetap milik Mama," ujar wanita itu.


"Tentu saja. Selamanya kau putri kecil Mama." Amanda tertawa lirih seraya menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Zenaya.


Tak lama, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Liam dan Adryan berdiri di ambang pintu dengan tatapan terperangah. Keharuan menyusupi hati kedua pria kesayangan Zenaya itu.


Zenaya yang melihat kedatangan ayah dan kakaknya segera berdiri dari sofa dan berlari kecil menghampiri mereka.


"Kau tak boleh berlari," ujar Adryan di pelukan sang adik. Dia dan ayahnya kini berada di kanan kiri Zenaya.


Zenaya mengangguk di pelukan mereka. Hatinya mendadak pilu membayangkan dia tak bisa lagi hidup satu atap bersama keluarga tercintanya. Selepas menikah Reagen memang berencana mengajak Zenaya tinggal di apartemen lamanya.


Semula Zenaya menentang keras. Tempat itu jelas menorehkan cerita pahit di hidupnya. Namun, setelah mendengar penjelasan Reagen kalau mereka hanya akan tinggal sementara, Zenaya akhirnya menyetujui. Reagen memang sedang membangun sebuah hunian nyaman yang letaknya berada di tengah-tengah kediaman keluarga mereka.


Liam mengelus pipi putrinya penuh cinta. Pria yang Zenaya kenal tegas itu, kini tengah meneteskan air mata.


Melihat interaksi keduanya, Amanda dan Adryan memutuskan meninggalkan ruangan tersebut, guna memberikan mereka waktu.


Pria paruh baya itu menatap putri bungsunya sendu. Rasa bersalah hinggap dalam hatinya karena telah bersedia menerima pinangan keluarga Walker. Zenaya pasti berat menjalaninya kelak, tetapi mengingat dia tengah berbadan dua, Liam tak bisa menepis nasib sang cucu jika kelak dia tahu bahwa kehadirannya ternyata berawal dari sebuah bencana.

__ADS_1


Meski pernikahan ini bukan atas dasar cinta, Liam berharap Zenaya dapat hidup bahagia.


"Bagaimana pun cara Tuhan menyatukan kalian, kau tetap harus menghormati pernikahan ini," ucap Liam bijaksana.


Zenaya menganggukan kepalanya. Setetes air mata jatuh membasahi pipi wanita itu.


"Jadilah seorang istri dan ibu yang baik." Liam mengulas senyum teduh. "Hargai sumpah sehidup semati yang kalian ikrarkan nanti," sambung pria paruh baya itu.


Zenaya kembali mengangguk. Walau hatinya belum bisa menerima kehadiran Reagen, dia akan berusaha memenuhi pesan sang ayah.


"Maafkan, Papa," Liam kembali memeluk Zenaya erat. Pria itu juga tengah mencoba mengikis sedikit demi sedikit perasaan bencinya pada Reagen, karena biar bagaimana pun juga, dia akan menjadi menantunya. Terlebih, Liam sesungguhnya dapat melihat kesungguhan hati Reagen terhadap Zenaya.


...***...


Reagen berdiri gagah dengan balutan tuxedo berwarna putih, senada dengan gaun yang dikenakan Zenaya. Meski wajahnya sedikit gugup, dia berusaha terlihat setenang mungkin.


Musik pengiring tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan kehadiran Zenaya bersama Liam yang masuk ke dalam ruangan.


Mata Reagen tak dapat berkedip, kala menatap sesosok wanita anggun yang akan menjadi istrinya itu. Zenaya tampak sangat cantik dan menawan di mata Reagen.


Sebelum meminta Zenaya pada Liam, Reagen membungkukkan badannya terlebih dahulu pada sang ayah mertua. Cukup lama Reagen membungkuk hingga Liam menepuk pundaknya.


Reagen hampir saja menangis ketika Liam tiba-tiba memeluk tubuhnya erat. Dengan suara nyaris bergetar, pria itu berpesan pada Reagen untuk tak lagi menyakiti Zenaya dan menjaga keluarga kecilnya, meski harus dengan taruhan nyawa.


Reagen mengangguk mantap. Sepenggal janji lain terucap dari mulutnya di tempat sakral itu.


Liam melepaskan pelukannya pada Reagen lalu beralih pada Zenaya.


Pria itu menarik sang putri ke dalam dekapannya lagi. Sebelum benar-benar melepaskan Zenaya, Liam mendaratkan ciuman penuh kasih sayang di kening sang putri.


Reagen menerima tangan Zenaya dan menggenggamnya erat. Bersama wanita yang dicintainya itu, mereka berjalan menuju altar.


Zenaya menatap sekeliling ruangan. Ketiga sahabatnya yang datang lantas melemparkan senyum manis kala tatapan mata mereka bersirobok. David juga ada di tengah-tengah para tamu undangan. Kendati hatinya remuk redam, dia ikut berbahagia melihat Zenaya bisa bersama dengan pria yang tepat.

__ADS_1


Izin cuti yang diambil Zenaya berubah menjadi cerita lain. Wanita itu ternyata tengah menyiapkan pernikahan hingga terpaksa mengambil cuti.


Entah siapa yang menyebarkan rumor itu pertama kali, Zenaya tetap berterima kasih. Setidaknya, yang mereka tahu pernikahan ini terjadi bukan karena sebuah insiden semata.


Janji suci sehidup semati pun telah terucap. Kini Reagen dan Zenaya resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata Tuhan.


Reagen menyampirkan veil yang menutupi wajah Zenaya. Dengan satu sentuhan kecil, pria itu mendaratkan ciumannya pada bibir Zenaya.


Suara tepuk tangan para hadirin bergemuruh. Amanda dan Jennia tak bisa menahan keharuannya. Kedua ibu itu sangat berharap pernikahan anak mereka bisa bertahan hingga maut memisahkan.


...***...


Pihak kedua keluarga memang tidak mengadakan pesta besar dengan waktu yang lama karena mengkhawatirkan kondisi Zenaya. Wanita itu bahkan sudah izin undur diri sebelum acara makan malam dimulai.


Amanda dan Jennia mengantar Zenaya ke kamar hotel dan membantunya berganti pakaian. Sementara Reagen masih sibuk menerima tamu yang merupakan kolega kedua keluarga.


Setelah selesai membantu Zenaya berganti pakaian, Amanda menyuapi putrinya makan.


"Ada lagi yang kau butuhkan, Sayang?" tanya Jennia yang turut duduk di sebelah Amanda.


Zenaya menggeleng. "Cukup, Ma," jawabnya lembut.


Setelah makan malam habis, keduanya pun mencium kening Zenaya dan meninggalkannya di dalam kamar seorang diri untuk beristirahat.


...***...


Reagen tiba di kamar hampir tengah malam. Mata pria itu terlihat memerah karena menahan kantuk. Maklum, beberapa kolega terdekat keluarga Walker baru datang setelah jam makan malam selesai.


Reagen menghampiri ranjang tidur di mana Zenaya terlelap. Dia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang tersebut.


Seulas senyum terbit di wajah tampan Reagen saat mendengar dengkuran halus sang istri. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar bagi seseorang yang sedang kelelahan, apa lagi Zenaya dalam keadaan hamil.


"Selamat tidur. Aku mencintaimu," ucap Reagen seraya mendaratkan sebuah kecupan di pipi kiri Zenaya lumayan lama, sebelum akhirnya beranjak dari sana untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Tepat ketika suara pintu kamar mandi tertutup, Zenaya membuka matanya.


Setetes air mata jatuh membasahi pipi wanita itu.


__ADS_2