Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 8 : Kebencian.


__ADS_3

"Syukurlah, akhirnya kau sudah sadar juga Zenaya," kata Mrs. Griliana, guru sekaligus perawat medis sekolah mereka.


Zenaya bangkit dari ranjang. Mata gadis itu menatap sekeliling tubuhnya yang sudah bersih dari air bekas pel. Seragamnya pun sudah diganti semua dengan pakaian biasa.


"Aku sudah mengelap dan mengganti seragammu. Untung saja di sini ada beberapa pakaian ganti cadangan yang tersedia," ungkap Mrs. Griliana ketika menyadari raut kebingungan Zenaya.


"Ah, terima kasih, Mrs," ucap gadis itu. "Teman sekelasku, Bryan, ke mana dia, Mrs?" tanyanya kemudian.


"Yang mengantarmu ke sini?" Mrs. Griliana bertanya balik.


Zenaya mengangguk.


"Bukan Bryan yang mengantarmu ke sini, tetapi Reagen. Dia menitipkanmu padaku dan memberikan jaketnya ... itu dia." Mrs. Griliana menunjuk sebuah jaket yang tersampir di punggung kursi dekat ranjang.


Zenaya terdiam. Seingatnya, Bryan lah yang menggendongnya tadi, tetapi mengapa tiba-tiba Reagen yang mengantarnya ke sini?


"Beristirahatlah dulu, Zen, tapi maaf aku tak bisa menemanimu lebih lama. Baby-ku sudah menunggu. Aku akan meminta penjaga sekolah untuk tidak mengunci gerbang karena masih ada kau di sini." Mrs. Griliana menyampirkan tas di bahunya.


"Ahh, aku juga ingin pulang, Mrs." Zenaya bergerak perlahan, hendak turun dari ranjang.


"Kau yakin?" tanya wanita itu khawatir. Melihat wajah pucat Zenaya, sudah pasti kondisi gadis itu masih belum membaik.


Zenaya tersenyum ramah dan mengangguk. Mrs. Griliana pun membantunya turun dari ranjang.


"Jangan lupa, ini jaket Reagen. Kau bisa mengembalikannya nanti." Mrs. Griliana memberikan jaket milik lelaki itu ke tangan Zenaya.


Zenaya menerimanya canggung. "Terima kasih, Mrs,"


"Sama-sama. Yuk," ajak Mrs. Griliana.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya sekolah mendadak gempar dengan kedatangan Liam Chester Winston, ayah dari Zenaya. Siapa pun di kota itu pasti mengenal pria tersebut, dan siapa sangka, keluarga Winston merupakan donatur terbesar yayasan yang dibangun oleh keluarga Atkinson.


Liam dengan berani menghardik kepala yayasan agar segera mengeluarkan para pembully Zenaya dari sekolah, atau dia akan memindahkan sang anak ke sekolah lain, yang berarti, seluruh donasi dan fasilitas yang sudah diberikan kepada sekolah akan dicabut saat itu juga.


Tak ingin kehilangan donatur terbesar yayasannya, Robbin, ayah dari Natalie, berjanji akan mengurus segalanya. Dia juga berjanji, bahwa Zenaya tidak akan lagi mengalami peristiwa seperti itu. Robbin bahkan memecat guru konseling sekolah, karena dinilai tidak adil dan memihak para pembully, bahkan sampai menskorsing kedua sahabat Zenaya.


Pria itu memang tidak mengetahui kasus pembullyan yang terjadi di sana, sebab dia sudah menyerahkan semua urusan sekolah kepada wakilnya.


Zenaya semula tak ingin sang ayah sampai ikut turun tangan. Selama ini, gadis itu memang tidak pernah menggembar-gemborkan fakta soal donatur mau pun keluarganya. Sebab, dia ingin menikmati suasana sekolah dengan menjadi siswi biasa di sana. Namun, Liam tak dapat menahan emosi saat mendapati luka di wajah anak gadisnya itu.


Natalie sendiri baru tahu bahwa keluarga Winston lah donatur terbesar yayasan keluarganya. Selama ini, dia pikir orang tua Reagen adalah donatur terbesar mereka.


Natalie tak dapat berkutik. Menolong teman-temannya pun tak bisa dia lakukan.


Benar saja, dalam waktu sehari para siswi yang membully Zenaya secara fisik, langsung dikeluarkan dari sekolah, sedangkan mereka yang ikut-ikutan menghinanya diberi peringatan keras. Tak ada lagi yang berani menyentuh Zenaya. Bahkan, mereka hanya mampu tertunduk saat Zenaya berjalan melewati koridor.


Meski Zenaya tidak suka diperlakukan seperti itu, tetapi setidaknya dia bisa kembali tenang menjalani sisa-sisa harinya di sekolah.


"Aku mengerti. Nanti akan kukembalikan jaket ini pada Rey." Bryan tersenyum ramah.


"Terima kasih," Zenaya memasang raut wajah tak enak.


"Tidak perlu sungkan begitu. Kita teman sekelas."


Beban Zenaya sedikit terangkat karena telah berhasil mengembalikan jaket milik Reagen melalui sahabatnya, Bryan. Walau dia tidak akan pernah memaafkan Reagen, tetapi gadis itu memilih berdamai dengan hatinya sementara. Zenaya mencoba untuk tak merasa sakit hati setiap kali melihat wajah lelaki itu.


Lambat laun, Zenaya mulai bisa melupakan sosok Reagen. Kini, dia hanya menganggap lelaki itu sebagai orang asing yang tak pernah terlintas di benaknya. Namun, disaat Zenaya masih berusaha menutup luka hatinya, tiba-tiba sikap Reagen mulai berubah.


Entah mengapa, Reagen selalu saja berusaha menarik perhatian Zenaya. Beberapa kali dia bahkan berusaha mendekati gadis itu dalam setiap kesempatan, untuk menunjukkan rasa penyesalannya yang sudah sangat terlambat bagi Zenaya. Beruntung, berkat bantuan ketiga sahabatnya, Zenaya selalu sukses menghindari Reagen.


...***...

__ADS_1


Tak terasa hari kelulusan hampir tiba. Para siswa-siswi tingkat akhir sudah mulai disibukkan dengan berbagai macam tugas sekolah. Sebagian dari mereka bahkan sudah ada yang mengurus pendaftaran ke perguruan tinggi.


Hal yang sama juga dilakukan oleh orang tua Zenaya. Gadis itu semula dituntut untuk mengikuti jejak keluarganya, seperti sang kakak. Namun, Zenaya menolak halus. Dia merasa tidak memiliki bakat di bidang medis sama sekali. Itulah mengapa Zenaya lebih nemilih masuk ke sekolah bisnis.


Beruntung, Liam bukan sosok yang keras. Walau sempat kecewa, dia memperbolehkan sang anak memilih bidang apa pun yang disukainya. Pria itu tidak merasa khawatir jika profesi keluarga mereka terputus, sebab masih ada Adrian, sang kakak, yang sekarang sedang menjalani koas di salah satu rumah sakit milik salah satu kenalannya.


Angan-angan untuk kuliah bersama ketiga sahabatnya pun harus pupus, ketika Alice memilih kuliah di luar negeri, dan Emily terpaksa harus ikut orang tuanya pindah ke Australia. Meski sedih, Grace dan Zenaya harus tetap mendukung apa pun pilihan hidup kedua sahabatnya. Lagi pula, mereka masih tetap bisa saling berkomunikasi dan bertemu saat musim liburan tiba.


...***...


"Zen!" Panggilan Reagen sama sekali tidak diindahkan Zenaya. Gadis itu terus saja melangkah pergi meninggalkan ruangan kelas yang sudah sepi.


Sejak dua hari kemarin, lelaki itu semakin agresif mendekati Zenaya.


"Zen, tunggu!" Reagen berhasil menyusul Zenaya dan menahan tangannya.


Refleks, Zenaya menepis tangan Reagen kasar.


"Kali ini, tolong dengarkan aku bicara," ujar Reagen lirih.


Zenaya tertawa sinis. Dulu, dia sama sekali enggan menanggapi sapaan Zenaya. Setiap kali Zenaya mencoba mengajaknya bicara, Reagen akan selalu menghindarinya dengan berbagai macam alasan. Sekarang, lelaki itu malah bersikap demikian.


Apa mau Reagen sebenarnya? Tidakkah dia tahu, Zenaya butuh kekuatan lebih hanya untuk memulihkan hatinya yang sudah dihancurkan dengan kejam?


"Jangan ganggu aku," desis Zenaya sembari berlalu pergi. Raut penyesalan yang ditunjukkan Reagen sama sekali tidak membuat hatinya tersentuh. Tak ada lagi perasaan yang tersisa dari puing-puing hatinya. Semua rasa cinta yang pernah Zenaya sematkan selama hampir tiga tahun ini, sekarang hanya sebuah bongkahan sampah tak berarti.


Reagen mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Melihat sorot kebencian dari mata Zenaya membuat batinnya tersiksa.


Dia menyadari segala kesalahannya, dan dia juga menyadari, bahwa perasaan ini bukan hanya penyesalan belaka.


"Zen," gumam Reagen nyaris tak terdengar.

__ADS_1


__ADS_2