Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.


__ADS_3

Alex meremas selembar foto yang baru saja diberikan Juan. Foto tersebut merupakan foto pernikahan Reagen dan Zenaya beberapa minggu lalu. Menurut informasi yang Juan dapatkan, Zenaya kini tengah hamil 15 minggu.


Alex benar-benar terkejut. Zenaya sama sekali tidak terlihat sedang mengandung. Mungkin karena kehamilannya masih tergolong muda dan dia juga selalu memakai mantel tebal saat bertemu dengannya.


Hati Alex jelas tersayat. Selama kurang lebih 24 tahun ini, dia menyimpan perasaan cintanya pada Zenaya. Minimnya informasi yang dia dapatkan membuat Alex tak bisa mencari keberadaan wanita itu.


Hingga seiring waktu berjalan, rutinitasnya yang semakin padat membuat pria itu mampu mengalihkan pikirannya dari Zenaya.


Disaat bayang-bayang gadis kecil itu mulai terlupakan, disaat itulah Robert tiba-tiba menghubunginya dan memberitahu soal kontrak kerja sama dengan Winston General Hospital.


Alex pikir, pertemuannya dengan Zenaya merupakan sebuah takdir baik, tetapi nyatanya tidak demikian. Hati yang telah dia susun selama puluhan tahun hancur begitu saja begitu mengetahui segalanya tentang wanita itu.


"Tuan," panggil Juan takut-takut. Pria kurus itu dapat melihat kilat bahaya yang terlintas di sorot mata Alex.


Alex tiba-tiba tersenyum sinis. "Tak kan kubiarkan dia dimiliki orang lain!" gumamnya dingin.


Juan yang mendengarnya mendadak ketakutan. Alex bukanlah pria jahat, tetapi jika dia menginginkan sesuatu, maka dia harus bisa mendapatkannya.


...***...


"Selamat siang, Nyonya dan Tuan Walker," sapa Dokter Chelsea, dokter kandungan Zenaya. Khusus hari ini, dia berangkat ke rumah sakit bukan untuk bekerja. Sang ayah memintanya untuk sekalian meliburkan diri.


Zenaya diminta berbaring oleh Dokter Chelsea. Perut wanita itu pun diberikan ultrasound gel terlebih dahulu oleh salah seorang perawat yang mendampingi Dokter Chelsea, sebelum beliau memulai USG.


Menggunakan USG Doppler, dia memeriksa perkembangan bayi Reagen dan Zenaya.


"Lihat, bayinya sedang menguap!" seru Dokter Chelsea sembari menunjukan wajah sang bayi.


Zenaya dan Reagen menatap layar monitor dengan sangat saksama. Bayi mereka tampak lucu di dalam sana. Raut wajahnya juga sudah mulai terlihat jelas.


"Usianya sekarang sudah 16 minggu 1 hari. Panjang badannya sekitar 13,4 centimeter, dan beratnya 110 gram." Dokter Chelsea sibuk mengutak-atik alat monitor sembari menggerakan doppler-nya.


Ada sesuatu yang menggelitik hati Reagen ketika suara detak jantung bayi mereka terdengar. Pria itu bahkan enggan mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar monitor, saking takjubnya melihat mahluk mungil ciptaan Tuhan itu.


Baginya, suara detak jantung bayi mereka merupakan suara paling indah yang pernah dia dengar.


"Syukurlah, dia bayi yang sehat," kata wanita itu pada keduanya.


Dokter Chelsea mengangkat alat doppler-nya dari perut Zenaya. Dibantu seorang perawat, Zenaya bangkit dari ranjang setelah perutnya dibersihkan dahulu menggunakan tissue.


"Dibanding saat trimester pertama, keadaan Nyonya juga sudah jauh lebih baik. Seperti yang saya bilang sebelumnya, nikmati masa-masa kehamilan ini dengan hati bahagia." Dokter Chelsea tersenyum kemudian beralih pada Reagen. "Untuk Tuan, saya harap Anda bisa memperhatikan suasana hati istri Anda. Wanita hamil memiliki perasaan yang sangat sensitif. Biarkan dia melakukan apa pun asal tidak membahayakan keduanya."


Reagen mendengarkan nasihat sang dokter dengan saksama. "Baik, dok," ucapnya patuh.

__ADS_1


"Untuk makanan tidak ada pantangan, hanya hindari makanan yang terlalu manis agar berat badan bayi tetap terjaga dan tidak berlebih." Sambung wanita berusia 47 tahun itu.


"Baik. Terima kasih banyak, dokter," ucap Zenaya penuh rasa terima kasih. Keduanya pun keluar dari ruangan dokter Chelsea.


Reagen merangkul pinggang Zenaya sembari sesekali menciumi rambutnya.


Zenaya berusaha menghindar.


"Kenapa?" tanya Reagen dengan raut jenaka.


"Aku malu! Ini, kan, tempat kerjaku juga!" seru Zenaya jengkel.


Reagen tertawa kecil. Pria itu memang sengaja pamer kemesraan agar berita soal mereka dapat terdengar sampai ke telinga David.


"Omong-omong, aku yang akan menyimpan foto ini, bolehkah?" tanya Reagen sembari menunjukkan foto USG anak mereka.


Zenaya mengangguk.


"Aku lapar. Bolehkah kita makan camilan dulu?" ujar Zenaya kemudian.


"Tentu saja. Kau ingin makan apa?" tanya Reagen.


Zenaya menunjuk cafe kecil yang berada tepat di lobby. Ada tiga cafe yang memang dibuka di lobby, dan salah satunya tepat bersebelahan dengan meja pendaftaran.


"Kau ingin makan apa?" tanya pria itu setelah membantu Zenaya duduk.


"Cream cheese cake dan strawberry juice," jawab Zenaya.


"Baik, tunggu di sini." Reagen pergi untuk memesan.


Wanita itu menatap kepergian sang suami seraya memasang senyum simpul. Namun, senyumnya mendadak pudar ketika beberapa pasang mata wanita-wanita dilewati Reagen menatapnya sumringah. Mereka bahkan secara terang-terangan berbisik-bisik genit.


"Jelas-jelas mereka melihat aku datang bersamanya!" Batin Zenaya kesal.


Matanya seketika membelalak saat tiba-tiba seorang wanita dengan berani menghampiri Reagen dan mengajaknya berbincang sembari memegang ponsel.


Reagen terlihat menanggapi wanita itu ramah. Namun, dia menolak uluran ponsel wanita sembari menunjuk ke arahnya.


Zenaya tersenyum manis. Dia melambaikan tangannya pada sang suami. Pria itu membalas lambaian tangan Zenaya.


Wanita itu tampak menahan malu. Dia kembali duduk bersama dua temannya dengan raut wajah kesal.


"Kupikir baru pacar, ternyata itu istrinya."

__ADS_1


Zenaya tertawa senang saat mendengar perkataan si wanita.


"Hei, apa yang kau tertawakan?" sapa Alex tiba-tiba. Tanpa permisi pria itu duduk di hadapan Zenaya.


"Alex!" pekik Zenaya.


"Dari tadi aku memanggil dirimu, tetapi kau sama sekali tidak mendengar." Alex tersenyum ramah. Pria itu mengikuti arah pandang Zenaya dan menemukan seorang pria tengah memesan makanan.


"Itu siapa?" tanya Alex pura-pura tidak tahu. Nada bicaranya terdengar sedikit berubah.


"Suamiku," jawab Zenaya ramah.


Dada Alex seketika bergemuruh, tatkala mendapati raut wajah Zenaya tampak sangat senang saat mengatakannya.


"Ahh, aku tak menyangka kau seorang wanita bersuami. Maafkan ketidaksopananku kemarin-kemarin," ujar Alex tak enak hati.


"Tidak apa-apa, santai saja." Jawab Zenaya seraya menggelengkan kepalanya.


Keduanya berbincang-bincang ringan sejenak sampai akhirnya Reagen datang seraya membawa pesanan mereka.


Alex berdiri dan menyapa Reagen.


"Rey, ini temanku, dokter anak baru di rumah sakit ini, Alex," Zenaya memperkenalkan Alex padanya. "dan Alex, ini suamiku, Reagen."


Keduanya saling berjabat tangan. Entah mengapa Reagen bisa merasakan sesuatu yang janggal saat bertatapan dengan mata pria itu.


"Kebetulan kita bertetangga juga. Alex tinggal tiga lantai di bawah kita," kata Zenaya kemudian.


"Ahh, begitu rupanya. Salam kenal Tuan Alex." Reagen berusaha tersenyum ramah.


"Alex saja, itu terdengar jauh lebih nyaman." Alex menelisik tubuh Reagen dari atas ke bawah. Tinggi tubuh mereka sepertinya sama, hanya saja Reagen terlihat lebih kurus dari pada dirinya.


"Kalau begitu, panggil aku Rey saja." Pria itu kemudian mempersilakan Alex untuk bergabung dengan mereka, tetapi Alex menolak.


"Aku harus kembali ke ruangan. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat Zenaya sendirian," kata pria itu.


"Senang berkenalan denganmu, Rey, dan sampai berjumpa lagi." Alex undur diri dari hadapan mereka berdua.


"Sama-sama, Alex."


Alex berbalik pergi. Wajahnya yang semula memasang senyum ramah seketika berubah dingin.


"Zenaya, kau menghancurkan hatiku!"

__ADS_1


__ADS_2