Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 54: Air mata Zenaya.


__ADS_3

Reagen pergi meninggalkan apartemen menuju kediaman Bryan, setelah sebelumnya membeli beberapa botol minuman terlebih dahulu.


Pria itu terkejut mendapati sahabatnya datang dengan kondisi yang sangat kacau dan berantakan. Belum lagi bau alkohol yang menguar dari mulut pria itu cukup menyengat.


"Bro!" Bryan sontak memegang Reagen yang hampir terjerembab. "Kau mabuk? Bagaimana bisa kau sampai dalam keadaan seperti ini?" Pria itu menoleh ke arah mobil Reagen yang terparkir sembarangan di halaman rumahnya.


Mobil mewah tersebut tampak penyok pada bagian depan. Spion mobilnya bahkan sudah hilang entah ke mana. "Astaga!" pekik Bryan. Pria itu sontak memeriksa kondisi tubuh Reagen.


Raut kelegaan terpancar di wajah Bryan ketika tak menemukan satu pun luka di tubuh sahabatnya itu. Bryan pun mengajaknya masuk ke dalam rumah dan mendudukannya di ranjang.


"Brengsek!" racau Reagen sembari memijit kepalanya yang terasa pening.


"Siapa yang brengsek? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bryan khawatir.


Reagen tidak menghiraukan pertanyaan sahabatnya tersebut. Pria itu terus saja mengumpat dan memaki seseorang menggunakan kata-kata kasar.


Bryan menghembuskan napasnya. Dia kemudian memilih pergi ke dapur untuk membuatkan Reagen minum.


Sekembalinya dari dapur, Bryan mendapati Reagen tengah menatap selembar foto sembari duduk di lantai. Pria itu ikut duduk di sebelah Reagan setelah meletakkan secangkir minuman hangat di atas nakas.


Keningnya berkerut tatakala mendapati gambar seorang wanita cantik yang begitu familiar di matanya. Bryan mendekati wajahnya untuk lebih memastikan sosok wanita tersebut.


"Zenaya?" Bryan menoleh ke arah Reagen.


"Dilihat dari segi mana pun, tak ada yang bisa membantah bahwa foto ini menunjukkan kemesraan mereka berdua." Reagen bersuara. Tak seperti tadi, kini suara pria itu terdengar sangat lirih.


"Siapa pengirimnya? Dan, siapa pria yang ada di foto ini?" tanya Bryan seraya mengambil foto tersebut dari tangan Reagen.


"Aku tidak tahu," jawab Reagen.


"Sepertinya foto ini diambil dari dashcam. Akan aku cari tahu," ujar Bryan kemudian.


"Tak perlu!" Reagen berniat mengambil foto tersebut dari Bryan, tetapi dia menghalaunya.


"Kau tidak mempercayai istrimu sendiri? Hanya karena selembar foto, pria jenius sepertimu langsung percaya trik murahan begini, hah?" Bryan tersenyum sinis.


Reagen bungkam.

__ADS_1


Bryan benar. Dia tak seharusnya mempercayai apa yang ada di dalam foto tersebut. Dia seharusnya mendengarkan penjelasan Zenaya terlebih dahulu. Namun, hawa panas yang menguar dari tubuhnya membuat Reagen hilang arah. Mereka baru saja ingin memulai semua, tetapi foto ini menghancurkan segalanya.


Lagi pula, suami mana yang tidak marah mendapati sang istri tengah berpelukan mesra dengan seorang pria?


"Pulanglah," titah Bryan.


"Aku tak ingin pulang!" tolak Reagen tegas.


"Rey, berhenti bersikap kanak-kanak, istrimu sedang hamil." Bryan mencoba menasihati. Dia memegang pundak Reagen untuk menenangkannya.


Reagen memejamkan matanya. "Biarkan aku di sini dulu. Aku tak sanggup melihat kesedihannya. Padahal seharusnya aku lah yang bersedih di sini."


...***...


Sejak tadi Zenaya sibuk menatap jam dinding dan berjalan mondar-mandir di dalam apartemen. Wanita itu terlihat cemas karena sang suami sama sekali tidak mengangkat puluhan kali teleponnya. Zenaya mengkhawatirkan Reagen. Dia tak ingin membiarkan keributan ini menguasai hubungan keduanya. Oleh sebab itu, Zenaya memutuskan untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut.


Zenaya menyandarkan dirinya di dinding, tepat di sebelah pintu apartemen. Wajah wanita itu sudah terlihat pucat dan lelah. Maklum saja, ini sudah hampir jam lima pagi dan dia sama sekali belum tidur demi menunggu kepulangan sang suami.


Sebuah gerakan kecil yang cukup mengagetkan, dirasakan Zenaya. Refleks wanita itu mengelus perutnya penuh sayang. "Maaf ya, Sayang, Mommy jadi tidak memperdulikan dirimu. Lebih baik, kita istirahat dulu saja, ayahmu pasti akan pulang sebentar lagi."


Baru saja Zenaya ingin merebahkan diri di ranjang, suara pintu apartemen tiba-tiba terbuka.


Reagen masuk ke dalam apartemen mereka bersama Bryan. Pria itu berjalan kepayahan sembari dipapah oleh sahabatnya.


Zenaya refleks mendekap lengan sang suami untuk membantu Bryan. Namun, tanpa diduga Reagen malah melepas kasar tangan Zenaya, dan menatapnya sinis. Pria itu bahkan tak peduli hentakan tangannya menyentuh perut Zenaya. Meski terasa tidak sakit, tetapi tetap saja membuat Zenaya terkejut.


Zenaya mengelus lembut perutnya sembari berdiri memperhatikan Reagen yang sedang dibantu Bryan berbaring di ranjang.


"Terima kasih, Bryan," ucap Zenaya tulus.


Bryan tersenyum. "Wajahmu sangat pucat. Kau pasti tidak tidur semalaman, kan?" tanya pria itu kemudian.


"Ada apa dengannya?" Zenaya terlihat lebih mengkhawatirkan sang suami dari pada dirinya sendiri.


"Dia hanya mabuk. Mobilnya menabrak tiang listrik, dan masih berada di rumahku. Besok aku akan membawanya ke bengkel. Selebihnya, dia baik-baik saja." Bryan mengulas senyum ramah. Pria itu lalu berpamitan pada Zenaya.


"Terima kasih sekali lagi, Bryan," ucap Zenaya.

__ADS_1


Bryan menganggukkan kepalanya. "Beristirahatlah," pesan pria itu sebelum akhirnya keluar dari apartemen mereka.


Zenaya menghampiri Reagen yang sepertinya sudah tertidur pulas. Dengan gerakan selembut mungkin dia membantu melepaskan sepatu dan kaos kaki sang suami, lalu meletakkannya di tempat yang tersedia. Namun, ketika Zenaya duduk di pinggir ranjang untuk membuka kemejanya, Reagen tiba-tiba menepis kasar tangan Zenaya.


"Pergi! Jangan dekati aku!" hardik pria itu tanpa membuka mata.


Zenaya terdiam. Matanya kembali basah saat Reagen dengan kasar mendorong tubuhnya dari ranjang hingga nyaris terjerembab ke lantai. Beruntung dengan sigap Zenaya langsung menjauhkan diri.


"Dekati saja pria brengsek itu!" teriak Reagen sembari berguling membelakangi Zenaya. Dalam sekejap, dia kembali tertidur tanpa menyisakan tempat untuk sang istri.


Zenaya menghapus air matanya yang mengalir. Wanita itu mematikan lampu dan pergi menuju sofa ruang televisi. Mau tak mau, dia harus berpuas diri tidur di sana tanpa selimut dan bantal.


...***...


Reagen baru terbangun dari tidurnya pukul delapan pagi. Pria itu sempat bingung mengapa dirinya bisa kembali ke apartemen.


"Ck!" Raut wajah Reagen berubah kesal saat mengingat kejadian semalam.


Pria itu menoleh ke sebelahnya. Dia baru menyadari bahwa tak ada sosok Zenaya di sana.


Reagen bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti seketika saat mendapati sang istri ternyata tengah tidur meringkuk di sofa ruang televisi.


Perlahan, Reagen mendekati wanita itu. Matanya memandang Zenaya sendu. Dia pasti kedinginan tidur di sana seorang diri. Penolakannya tadi pasti telah menorehkan luka tersendiri di hati Zenaya.


Reagen mendekatkan wajahnya, hendak mencium Zenaya, tetapi bayangan-bayangan foto tersebut membuat pria itu menjauhkan diri seketika dari sang istri.


Matanya memandang Zenaya sejenak, sebelum akhirnya pergi menuju kamar mandi.


...***...


Zenaya terbangun satu jam kemudian. Wanita itu merenggangkan seluruh otot-otot tubuhnya yang kaku karena harus tidur di sofa.


Zenaya kemudian bangkit dari sofa dan berjalan menuju ranjang tidurnya. Reagen tidak ada di sana. Dapur dan kamar mandi pun tampak kosong.


Pria itu tak mungkin berangkat ke kantor, sebab ini adalah hari libur.


Zenaya harus menelan kekecewaannya sekali lagi karena tak bisa memiliki kesempatan untuk bicara.

__ADS_1


__ADS_2