Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.


__ADS_3

Reagen dan Craig sampai di bandara pada sore hari. Reagen memutuskan akan langsung menjemput Zenaya ke rumah sakit, setelah mengambil mobilnya di apartemen terlebih dahulu.


"Sampaikan salam Papa untuk Zen," pesan Craig. "Weekend nanti, menginaplah di rumah, Mama rindu sekali pada kalian," Sambung pria paruh baya itu.


"Baik, Pa. Sampaikan salamku juga untuk Mama."


Craig mengangguk dan menepuk pundak sang anak. Beliau pun masuk ke dalam mobil jemputannya.


Reagen tetap menunggu di sana hingga sang ayah pergi meninggalkan dirinya, setelah itu baru dia pulang menggunakan taksi.


...***...


"Kami akan menjadwalkan operasi pertama pada Cecilia. Operasi ini bertujuan untuk memotong usus besar yang bermasalah, dan bagian usus besar atas yang sehat akan disambungkan pada lubang sementara yang dibuat oleh saya pada perut Cecilia. Jadi sembari menunggu ususnya bertumbuh, Cecilia akan buang air besar melalui perutnya. Baru setelah kira-kira setengah tahun atau lebih, usus yang sudah tumbuh sehat dapat ditarik dan dihubungkan kembali ke an*s." Alex menjelaskan panjang lebar bagaimana proses operasi pembuatan kolostomi pada orang tua pasiennya, seorang bayi berusia 7 hari yang mengidap Hirschsprung Disease.


Mendengar penjelasan David, kedua orang tua berusia muda itu menganggukkan kepalanya. Mereka sudah terlihat jauh lebih tegar dari pada saat pertama kali datang ke sana. Sang istri bahkan sudah tidak lagi menangis histeris.


"Cecilia akan baik-baik saja." David sekali lagi berusaha menenangkan mereka. Meski penyakit tersebut tergolong penyakit sangat serius, tetapi jika ditangani dengan cepat, presentasi kesembuhannya tinggi.


Beruntung, sang istri walau masih berusia 21 tahun, tetapi mampu menyadari keanehan yang terjadi pada sang anak setelah lahir, seperti tidak buang air besar selama 48 jam setelah lahir, muntah hijau, perut membesar, dan lain sebagainya.


"Terima kasih sekali lagi, dok," ucap sang suami. Mereka pun pamit keluar dari ruangan Alex.


Sepeninggal sepasang suami istri itu, Alex menatap jam tangannya, lalu tersenyum.


Jam prakteknya selesai bersamaan dengan jam pulang seseorang yang ingin dia temui.


Pria itu pun bergegas keluar dari ruangannya.


...***...


"Zen!" teriak Grace dari ujung koridor. Zenaya yang sedang berjalan menuju lift, akhirnya melewati lift tersebut untuk menghampiri sahabatnya dulu.


"Kau mau pulang? Dengan siapa?" tanya wanita itu.


"Rey akan sampai sebentar lagi." Jawab Zenaya.


"Eh, sudah pulang dinas?" Grace terdengar lesu.


"Iya. Kenapa memangnya?" Zenaya balik bertanya.


"Aku baru ingin mengajakmu shopping sebentar. Jam 6 nanti aku pulang. Sayang sekali pria itu sudah kembali dan akan memonopoli dirimu!" Grace mendengkus keras-keras.


Zenaya tersenyum simpul. "Nanti aku akan meminta izin padanya agar kita bisa pergi berkencan seperti dulu."


Grace tampak sumringah. "Deal! Ya sudah, sampaikan salamku padanya, dan hati-hati," pesan wanita itu.


Zenaya menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan pada Grace, sebelum memutar tubuhnya untuk berjalan kembali ke lift.


...*...


"Zen!" Suara seorang pria tertangkap indera pendengaran Zenaya ketika dia baru saja melangkahkan kaki keluar dari lift.


"Alex!" Zenaya tersenyum. Wanita itu menelisik penampilan Alex yang tidak memakai jasnya.


"Jam praktekmu pasti sudah selesai?" Tebak Zenaya.


Alex mengacungkan jempolnya. "Syukurlah, hari ini pasienku tidak begitu banyak, itu artinya anak-anak penerus masa depan dalam keadaan sehat."


"Kau benar." Zenaya menyetujui perkataan pria itu.

__ADS_1


"Oh iya, kau juga mau pulang, kan?" tanya Alex kemudian.


"Iya." Jawab Zenaya.


"Ahh, kita, kan, bertetangga. Jadi, bagaimana kalau kita pulang bersama saja," ajak Alex. "Aku sudah membawa mobil, jadi tak perlu lagi merebut taksi seseorang," kelakarnya.


Zenaya tertawa kecil. "Lain kali saja, Lex. Hari ini aku dijemput." Wanita itu menolak halus tawaran Alex.


Ada sorot kekecewaan yang hadir di mata Alex. "Ahh, kupikir kau pulang sendirian."


"Maafkan aku," ucap Zenaya menyesal. "Kalau begitu, aku permisi dulu ya. Kau berhati-hati lah di jalan," sambungnya.


"Kau pun," jawab Alex tersenyum.


Zenaya merapatkan mantel besarnya dan berjalan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di sofa sendirian.


Pria berwajah tampan itu tampak senang melihat kedatangan Zenaya. Mereka terlihat sangat akrab. Tangan si pria bahkan mengelus lembut kepala Zenaya.


"Siapa pria itu?" tanya Alex dalam hati.


Dia terus memperhatikan keduanya hingga mereka berjalan keluar menuju tempat parkir.


Alex terkejut saat pria yang menjemput Zenaya itu, menggenggam mesra tangannya.


Namun, hal itu ternyata tidak seberapa. Pria itu ternyata juga mendaratkan sebuah ciuman di kening Zenaya lumayan lama, sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Tangan Alex kontan terkepal.


"Siapa dia? Ada hubungan apa dengan Zenaya? Kekasihnya kah? tunangannya kah?" Berbagai macam pertanyaan menguap ke permukaan seiring kecemburuan yang hadir di hati pria itu.


Alex segera mengambil teleponnya untuk menghubungi seseorang.


...***...


Setelah mandi dan berganti pakaian, Zenaya memilih duduk di sofa sembari menonton televisi. Sementara Reagen bergantian memasuki kamar mandi.


Satu jam kemudian pria itu ikut menyusul Zenaya menonton televisi sembari membawa laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan.


Melihat sang suami masih saja berkutat dengan laptop, wajah Zenaya berubah masam. Wanita yang sedang bersandar itu melirik laptop yang berada di atas pangkuan Reagen. Pria itu benar-benar sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Tiga hari pergi keluar kota untuk bekerja, dan pulang masih saja mengutamakan pekerjaan dibanding aku!"


Zenaya tiba-tiba tersentak saat sebuah pemikiran konyol terlintas dalam benaknya barusan. Wanita itu menggelengkan-gelengkan kepalanya lalu bangkit dari sofa.


"Mau ke mana?" tanya Reagen begitu melihat sang istri pergi.


"Akan kubuatkan teh hangat supaya kau bisa semakin konsentrasi bekerja!" sahut Zenaya ketus.


Mendengar jawaban istrinya, entah mengapa, Reagen merasa tengah disindir.


Pria itu tersenyum. "Baiklah, aku minta yang manis agar bisa fokus mengerjakan ini," ucap Reagen sembari menunjuk laptopnya.


Reagen sebenarnya bukan ingin mengabaikan Zenaya. Namun, ada beberapa berkas yang memang harus dia kirimkan pada koleganya secepat mungkin. Dengan begitu bebannya bisa benar-benar terlepas dan dapat menikmati waktu bersama sang istri.


Lima menit kemudian Zenaya kembali dari dapur sembari membawa dua cangkir teh hangat. Dia meletakkan cangkir satunya tepat di hadapan Reagen, sementara cangkir lainnya tetap dipegang.


"Terima kasih," ucap Reagen tanpa mengalihkan pandangannya pada Zenaya.


Zenaya tidak menjawab. Dia sibuk menyesap teh hangat miliknya.

__ADS_1


Suasana di antara mereka hening seketika. Hanya ada suara televisi yang sama sekali tidak bisa didengar Zenaya karena sibuk melirik pria di sebelahnya.


Entah mengapa, sejak mereka memutuskan untuk menjalani biduk rumah tangga secara normal, Zenaya menjadi lebih sering merindukan Reagen. Namun untuk mengatakan hal tersebut, wanita itu tentu saja tidak mau.


"Jadi begini rasanya diabaikan?" ucap Zenaya dalam hati. Baru sekali diabaikan saja Zenaya sudah merasa galau, bagaimana dengan Reagen yang selama ini selalu dia abaikan?


Perasaan bersalah menghantui hati Zenaya seketika. Tak ingin berlarut-larut, wanita itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan sang suami dan tidur.


Namun, baru saja dia berdiri dari sofa, Reagen tiba-tiba berkata, "Tehnya kurang manis!" Sembari menyesap minuman buatan Zenaya.


Zenaya mengenyit heran. Pasalnya dia sudah memasukkan dua setengah sendok teh gula ke dalam teh itu.


"Kalau tidak percaya, coba saja." Pria itu mempersilakan sang istri untuk ikut mencicipi teh miliknya.


Zenaya yang penasaran kembali duduk di sofa. Dia mengambil teh milik Reagen dan meminumnya sedikit. "Manis," ungkap wanita itu kemudian.


"Tidak manis. Coba lagi," titah Reagen.


Meski heran akan sikap sang suami, Zenaya tetap menuruti perintah pria itu.


"Jangan mengada-ada, teh ini sangat manis!" seru Zenaya kesal.


Reagen mengerutkan keningnya. "Baiklah, coba kucicipi sekali lagi." Pria itu menutup laptop dan meletakkannya di meja, lalu beringsut mendekati Zenaya.


Zenaya memberikan cangkir tersebut.


Reagen menerima cangkir dari tangan Zenaya. Namun, bukannya diminum, pria itu malah meletakkannya tepat di sebelah laptop.


Pria itu ternyata tak berniat menyicipi teh itu dari cangkir, melainkan dari b*bir istrinya.


Reagen memagut mesra bibir Zenaya. Tangan kanannya merambat menuju leher sang istri, sementara tangan kirinya mengelus lembut perut wanita itu.


Zenaya terkesiap.


"Kau benar, tehnya manis," ucap Reagen sembari memasang wajah sumringah setelah melepas pagutannya.


Wajah Zenaya merah padam. Dia sontak tertunduk, untuk menyembunyikan ekspresinya.


Reagen tersenyum simpul. Matanya kemudian menatap lurus-lurus Zenaya tanpa suara. Dengan gerakan perlahan Reagen mengangkat dagu Zenaya, hingga membuat wanita itu membalas tatapannya.


"Terima kasih untuk teh manisnya, dan terima kasih untuk usahamu membuka hati padaku."


Mendengar perkataan itu, Zenaya hampir menangis. Padahal dia masih suka bersikap kaku padanya. Dia bahkan tak pernah membalas ciuman Reagen. Namun, pria itu sama sekali tidak keberatan.


Perlahan, wajah Reagen kembali mendekat. Jika biasanya dia melakukan gerakan cepat ketika mencium Zenaya, agar wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Kini Reagen mencoba untuk memulainya dengan cara normal.


Jantung Zenaya berdetak tak karuan ketika hangatnya bibir Reagen kembali menyentuhnya. Kali ini, tangan kanan pria itu berada di punggung Zenaya, dan tangan kiri pria itu menyusup di bawah lutut sang istri.


Reagen mengangkat tubuh Zenaya dan meletakkannya di pangkuan.


"Tidak! Aku–" Zenaya melepaskan diri.


"Biarkan seperti ini, kumohon." Raut wajah Reagen yang berubah sendu membuat Zenaya mengalah.


Bagai candu, Reagen memeluk Zenaya dan menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuhnya, sebelum kembali memagut mesra bibir sang istri. Dia menyesapnya, membelitnya, dan bahkan menggigit-gigit gemas bibir Zenaya hingga memerah.


Reagen menuntun tangan Zenaya menuju dadanya, seolah memberitahu wanita itu bahwa detak jantungnya kini berada di atas normal. Sementara kedua tangan pria itu mencengkeram lembut pinggang sang istri. Reagen tengah berusaha sekuat tenaga untuk tidak bertindak lebih jauh. Dia takut hal itu dapat membuat ingatan kelam beberapa bulan lalu kembali menguasai diri Zenaya.


Namun, detik berikutnya Reagen dikejutkan dengan perlakuan Zenaya yang tidak terduga. Saat dia hendak melepaskan diri, wanita itu malah mencengkeram kaos di dada Reagen dan membalas ciumannya mesra.

__ADS_1


__ADS_2