
Zenaya membuka matanya perlahan. Samar-samar dia melihat sosok sang suami dan keluarganya berada di sana.
"Sayang!" seru Reagen begitu melihat Zenaya telah sadar. Pria itu memegang tangan sang istri dan mengecupnya berkali-kali. "Kau membuatku khawatir."
"Ini di mana?" tanya Zenaya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia meminta sang suami untuk membantunya duduk di ranjang.
"Kau di rumah sakit, Sayang. Tadi kau sempat tak sadarkan diri," jawab Amanda yang berdiri di sebelah kiri Zenaya.
Mendengar jawaban sang ibu, ingatan Zenaya kembali pada kejadian saat di kantor polisi. Masih teringat jelas bagaimana raut wajah Alex ketika meneriaki dan menyalahkan dirinya atas apa yang telah dia lakukan pada keluarga sang suami.
Air mata Zenaya kembali mengalir. Tangannya bahkan tak mau berhenti gemetar. Sebongkah perasaan bersalah dan menyesal mencabik hati Zenaya. Andai saja waktu itu dia tidak memancing amarah Alex dengan mendatangi ruangannya dan membakar foto-foto tersebut, mungkin saja Alex tidak akan melakukan hal keji seperti ini.
"Ini semua salahku," ujar Zenaya dengan suara bergetar. Dia menoleh ke arah sang ayah mertua yang berdiri di sebelah ayahnya.
"Ini salahku, Pa. Aku yang memancing kemarahannya waktu itu. Aku yang sudah menyebabkan Mama dan Kak Krystal celaka!" Zenaya mulai menangis terisak-isak.
Craig melangkah menghampiri Zenaya dan memeluknya erat. "Ini bukan salahmu, Sweet heart. Mereka yang memiliki niat jahat lah pelakunya. Kau sama sekali tidak bersalah," ucap pria paruh baya itu. Matanya terpejam, mencoba mengusir rasa sakit yang tengah bersemayam di dalam hatinya.
Craig sama sekali tidak menyalahkan Zenaya. Justru, pria itu merasa perihatin dengan apa yang telah terjadi pada menantunya tersebut. Reagen sudah menceritakan semua yang telah dialami oleh Zenaya.
...***...
Semua masalah yang terjadi di antara mereka menemui titik terang. Polisi menemukan bukti lain soal hubungan Lea dan Alex, termasuk jebakan yang dibuat Lea terhadap Reagen.
Wanita itu ternyata kenalan lama Lea semasa di Perancis. Dia juga merupakan salah seorang yang membantu menggerakan orang-orang Alex untuk menangkap Adam dan menyembunyikannya.
Untuk Reagen sendiri, polisi telah memberikan penangguhan penahanan dengan jaminan ayahnya sendiri. Reagen hanya harus melakukan wajib lapor seminggu dua kali selama beberapa lama, dan dilarang melakukan perjalanan dinas dalam waktu yang telah ditentukan.
Bukan hanya itu saja kabar baik yang mereka dapatkan. Kehadiran Frans bersama James, orang suruhan Reagen, menambah daftar panjang kejahatan Alex.
Kecurigaan Reagen akan pesan singkat yang dikirimkan Frans pun ternyata benar. Bukan dia lah yang mengirimkan pesan ke ponsel Reagen, melainkan para pria yang sudah menyekapnya. Ponsel Frans sempat dirampas, lalu dibuang entah ke mana.
Suara tamparan yang dilayangkan Reagen menggema ke seluruh ruangan. Hayden dan para anggota tim kepolisian yang berada di sana hendak menghentikan aksi pria itu, tetapi Frans memberi isyarat untuk tidak ikut campur.
Frans bergeming. Dia membiarkan Reagen melakukan apa pun terhadap dirinya. "Maafkan saya, Pak," ucapnya.
Reagen menelisik keadaan Frans yang cukup memprihatinkan. Pria itu tampak sedikit lusuh dan berantakan. Belum lagi janggut dan kumisnya yang sudah mulai tumbuh. Beberapa luka-luka di tubuh Frans juga tertangkap penglihatan Reagen.
__ADS_1
Helaan napas keluar dari mulut Reagen. Tanpa diduga, dia memeluk Frans seerat mungkin. "Terima kasih kau sudah mau bertahan," ucap Reagen lirih.
Frans membalas pelukan orang yang paling dia hormati itu dengan gerakan kikuk. Tak tahu harus menjawab apa, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Lepas sudah segala beban pikiran yang dipikul Reagen. Meski mereka harus kehilangan Hugo, tetapi setidaknya korban tak lagi harus bertambah.
Teriakan Lea yang meminta dilepaskan, terdengar sesaat kemudian. Dalam kondisi terborgol, dia diseret dua orang polisi bertubuh tinggi kurus.
Lea memaksa menghentikan langkahnya begitu melihat Reagen.
"À plus tard, tu mourras entre mes mains!" (Sampai jumpa lagi, kau akan m4t1 di tanganku!) serunya sembari menatap tajam Reagen.
Reagen sama sekali tidak menghiraukan ancaman Lea. Dia malah meminta kedua polisi tersebut untuk segera membawa wanita bia4d4b itu pergi dari hadapannya.
...***...
Berita soal kejahatan Alex merebak cepat bak virus penyakit. Seluruh penghuni Winston General Hospital geger akan hal tersebut. Sebagian bahkan masih belum mempercayai semua berita yang beredar. Apa lagi, Alex dengan berani telah mencelakai keluarga Walker, besan keluarga Winston, hanya untuk mendapatkan hati Zenaya.
Siapa yang percaya, seorang Dokter anak dengan segudang prestasi tega melakukan hal keji pada orang lain. Selama ini Alex mainkan perannya dengan sangat baik.
"Saya yang harus berterima kasih, Nyonya. Kalau bukan karena orang suruhan Tuan Reagen, saya pasti tidak akan bisa kembali lagi ke sini." Frans membungkukkan badannya.
Frans memang sempat tertahan di kedutaan. Beruntung, James dapat menemukan jejak Frans dan datang menolongnya.
Ketiga orang itu mengobrol sejenak di ruangan Zenaya, sampai tiba-tiba, pintu terbuka lebar dan empat orang asing masuk ke dalam sana.
Reagen dan Zenaya hanya bisa terpaku saat mendapati seorang gadis cantik bermata biru, berlari dan melompat ke dalam pelukan Frans sembari menangis sesenggukan.
Frans kontan terkejut. Dia menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Matanya kemudian memandangi ketiga orang lainnya yang berdiri di ambang pintu.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Frans.
Joe mengangkat bahunya. Seulas senyum terpatri di wajah pria paruh baya itu.
"Kau selamat," ucap Emma lirih. Dia membenamkan wajahnya di lekukan leher Frans.
Frans menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan Emma. Ace dan Sam ikut memeluk Frans ketika Emma melepaskan diri.
__ADS_1
"Syukurlah kau tidak m4t1!" seru Sam dengan suara parau di pelukan Frans.
Frans tertawa kecil. Pria itu kemudian beralih pada Joe dan memeluk beliau erat.
Dehaman Reagen membuat Frans tersadar, bahwa mereka masih berada di ruangan Zenaya.
"Ahh, mereka adalah keluarga yang telah menolongku saat hampir tenggelam di laut, ketika tengah melarikan diri." Frans menjelaskan secara singkat hubungan mereka.
Reagen dan Zenaya pun berkenalan dengan keempat orang tersebut.
Joe sempat meminta maaf atas kehebohan yang terjadi di ruangan Zenaya. Mereka sempat mencari Frans di ruang perawatannya, tetapi ternyata kosong. Seorang perawat memberitahu dirinya jika Frans tengah berada di sini.
"Ada yang tak sabar bertemu dengan pria itu, dan aku tidak dapat berbuat apa-apa," kelakar Joe.
Reagen tersenyum, tampak memahami maksud dari perkataan Joe.
Zenaya terkikik kecil. Matanya memandangi Frans yang kini asyik mengobrol dengan Emma, Ace, dan Sam. Sesekali, wanita itu dapat melihat sorot mata yang berbeda ketika Frans dan Emma saling bertatapan.
"Sepertinya, kau harus segera merelakan dirinya," bisik Zenaya.
"Baru juga bertemu lagi," keluh Reagen disertai tawa kecil.
"Omong-omong, sepertinya Anda juga terluka, Mr. Walker?" tanya Joe ketika menyadari jika dahi Reagen diperban.
"Ahh, ini." Reagen refleks menyentuh dahinya.
Luka itu merupakan luka kecil yang dia dapat saat berkelahi dengan Alex beberapa waktu lalu.
Reagen sempat kehilangan kewaspadaan, hingga memberi kesempatan Alex untuk memberikan perlawanan. Pria itu dengan cepat mengh4nt*m keras kepala Reagen menggunakan gelas minuman yang dipesannya.
"Tidak masalah. Ini hanya luka kecil saja." Jawab Reagen.
Joe mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau begitu, kami permisi dulu. Semoga Anda berdua cepat sehat kembali." Joe mengulurkan tangannya lebih dulu.
Reagen dan Zenaya menyambut uluran tangan Joe.
Pria paruh baya itu kemudian memanggil ketiga anaknya dan Frans untuk kembali ke ruangannya, agar tidak menganggu istirahat Zenaya.
__ADS_1