Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 62: Pesta Perpisahan.


__ADS_3

"Tuan, ini kopi Anda." Lea masuk ke dalam ruangan Reagen setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali. Wanita itu meletakkan kopi buatannya di meja kerja sang atasan.


"Aku tidak meminta dibuatkan kopi, lagi pula, aku tidak menyukai kopi hitam." Reagen menatap kopi tersebut sekilas sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.


Lea menatap Reagen diam-diam dengan pandangan sinis.


"Ahh, kalau begitu maafkan saya, Tuan. Saya masih harus beradaptasi dengan kebiasaan Anda," ucap Lea.


"Kau tidak perlu beradaptasi dengan kebiasaanku, beradaptasi lah dengan pekerjaan barumu," kata Reagen sembari menatap Lea datar.


Lea mengangguk canggung. Wajahnya tengah menahan malu dan marah. Tak ingin berlama-lama di sana, Lea bergegas pergi.


"Pria sialan!" umpat wanita itu setelah berada di luar ruangan.


Reagen menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum ada satu minggu bekerja, ada saja yang diperbuat sekretaris barunya itu.


Belum lagi pakaian Lea yang masih terbilang seksi. Walau dia memakai pakaian tertutup, tetapi ukurannya sangat pas hingga membentuk lekukan tubuh.


Reagen tahu benar jika Lea tengah berusaha menggodanya. Ada saja hal yang dia lakukan demi menarik perhatian pria itu. Dari mulai membuatkan minuman dan makanan yang tidak dia perintahkan, mondar-mandir ke ruangannya untuk menanyakan hal-hal sepele dengan dalih tidak mengerti, atau yang paling ternekat, adalah berpura-pura jatuh di hadapannya.


Reagen tentu saja tidak pernah menghiraukan wanita itu. Justru, sebisa mungkin dia menjauh dan menghindarinya.


...***...


"Ada apa, Rey?" Noah yang sedang sibuk menatap layar laptopnya sontak mengalihkan perhatian pada sang adik, yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Tak ada siapa pun yang berani masuk seperti itu kecuali adiknya sendiri.


"Aku ingin mencari sekretaris baru lagi," pinta Reagen.


"Ada apa dengan Eleanor?" tanya Noah.


"Wanita itu membuatku risih. Dia wanita yang cerdas, tetapi selalu berlagak bodoh bila didekatku. Aku tahu dia sedang berusaha menarik perhatian." Reagen melipat kedua tangannya dan menatap sang kakak dingin.


Noah menghela napas. Dia tak pernah berpikir ke arah sana sebelumnya. Sebab yang dilihat Noah adalah pendidikan dan prestasi wanita itu.


"Baiklah, nanti akan aku carikan yang baru, sedangkan dia akan kupindahkan ke kantor cabang lain. Selama menunggu yang baru, bertahanlah untuk sementara." Noah mematikan laptop dan berdiri menghampiri Reagen. "Lebih baik kita cari makan saja. Aku tak sempat makan siang tadi."


Reagen memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk. Keduanya pun pergi menuju kantin kantor. Mereka memang biasa makan siang di sana jika sedang tidak ada janji makan siang dengan kolega mereka.


...***...


Zenaya baru saja selesai mengerjakan berkas terakhirnya, sebab hari ini merupakan hari terakhir wanita itu bekerja.


Sebenarnya, masih ada waktu sampai dua hari ke depan, tetapi sang ayah ternyata kesal sendiri melihat anaknya begitu sibuk bekerja. Dia berdalih tak ingin meninggalkan banyak pekerjaan untuk penggantinya.


Zenaya terkejut saat mendapati beberapa tenaga medis dan staf rumah sakit yang dikenalnya berdiri di ambang pintu, begitu dia membuka pintu ruangannya tersebut.


"Ada apa ini? Ramai sekali," Zenaya mengernyitkan dahinya.


"Pesta perpisahan." Jane mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


"Untuk apa pakai pesta perpisahan? Aku tidak akan cuti lama," sahut Zenaya.

__ADS_1


"Yang benar saja, Bu. Satu tahun itu lama!" balas perawat muda lain. Mereka kemudian saling mengeluarkan suara agar Zenaya berkenan mengadakan pesat kecil-kecilan untuk mereka.


Zenaya tertawa kecil. Dia lalu melipat kedua tangannya dan menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana.


Selama setahun dia tak akan bertemu dengan mereka. Dia memang akan berjanji menyempatkan waktu main ke sini, tetapi tentu saja akan berbeda dengan saat bekerja.


Zenaya berusaha menahan air mata yang siap mengalir. Belum dia mengeluarkan menjawab permintaan mereka, Liam tiba-tiba muncul dari salah satu ruang perawatan President Suite.


Sontak, seluruh orang yang berada di sana membungkuk hormat pada Liam, tak terkecuali Zenaya.


"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Liam.


Mereka yang tadinya riuh, kontan bungkam seribu bahasa, sungkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Aku ingin mentraktir mereka makan malam sebagai kado perpisahan sebelum cuti." Jawaban Zenaya sukses membuat raut wajah mereka seketika bercahaya.


Liam mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah." Pria paruh baya itu kemudian merogoh dompetnya dan mengambil salah satu black card sebelum kemudian diberikan pada sang anak. "Kalian bisa memakai ini."


Zenaya lantas memamer-mamerkan gigi-gigi putihnya pada para perawat dan staf yang ada di sana. Sementara, mereka seakan telah terhipnotis dengan kartu yang dipegang Zenaya.


"Selamat bersenang-senang," ucap Liam pada mereka semua sembari berlalu dari sana, setelah mengelus kepala putri kesayangannya itu.


"Ayo, kita makan sepuasnya!" ajak Zenaya sumringah.


Sorak sorai kecil terdengar menyambut ajakan Zenaya.


...***...


Reagen tersenyum senang. Pria itu baru saja membaca pesan singkat yang dikirimkan sang istri.


Tak butuh waktu lama, pria itu tiba di sana.


Hampir seluruh mata mengalihkan pandangannya ke arah Reagen dengan tatapan kagum. Sebagian dari mereka memang sudah melihat langsung suami dari atasannya tersebut, tetapi hanya sekilas.


"Tampan sekali suaminya Ibu," bisik salah satu staf pada temannya.


"Heh! Jangan lama-lama memandanginya, tidak enak tahu!" seru salah satu staf lain.


"Ya, tidak apa-apa. Tidak bisa dimiliki, setidaknya bisa dipandangi sepuas hati." Kikikan kecil keluar dari mulutnya.


Reagen mengambil tempat duduk di sebelah Zenaya. Dia mengelus perut sang istri dan mengecup lembut keningnya.


Melihat kemesraan mereka, sontak orang-orang yang berada di sana berseru menggoda.


Zenaya memicing sinis sang suami. "Tidak tahu tempat!"


Reagen tertawa kecil.


"Tampannya ...!" seru beberapa gadis tanpa sadar.


Reagen yang mendengar seruan tersebut pura-pura tidak mendengar, agar tidak membuat mereka malu.


Tak berapa lama, David dan Grace menyusul ke sana bersama.

__ADS_1


Mereka cukup bersenang-senang dengan berbagai macam lelucon konyol yang dilontarkan dari mulut Joana, staf kantor yang dikenal sangat humoris.


Namun, suasana berubah sedikit mencekam saat Alex tiba-tiba datang meminta bergabung dengan mereka.


Jane yang tidak mencurigai apa pun mempersilakan Alex untuk bergabung dan duduk di kursi tepat sebelah Reagen, berhadapan dengan Grace dan David yang duduk di seberangnya.


"Terima kasih," ucap Alex.


"Sama-sama, Pak. Kita juga sedang ditraktir Ibu," jawab Jane sembari melirik Zenaya.


Alex pun berterima kasih dan mengulurkan tangannya pada Zenaya. "Apa kabar, Zen?" tanya pria itu ramah.


Zenaya bungkam. Dia sama sekali enggan menanggapi uluran tangan dari pria itu. Matanya bahkan enggan menatap wajah Alex.


Tahu akan gelagat yang tidak beres dari sang istri, Reagen mengambil alih dan menerima uluran tangan Alex.


"Sama-sama." Jawabnya dengan memasang senyum tipis.


Sejak kedatangan Alex, Zenaya tak lagi dapat tertawa bebas. Wanita itu lebih memilih berdiam diri di sebelah sang suami sembari sesekali meminum jusnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Reagen pura-pura tidak tahu.


"Aku hanya kelelahan," jawab Zenaya bohong.


"Apa lebih baik kita pulang saja?" Reagen menatap sang istri khawatir.


Zenaya menggeleng. "Jangan hancurkan perasaan mereka."


Lagi pula, apa yang harus dia khawatirkan? Suasana di sana begitu ramai dan ada sang suami yang senantiasa menjaganya.


Namun, hal tersebut ternyata bukanlah jaminan, sebab Alex beberapa kali berusaha mendekati Zenaya tanpa canggung. Dia benar-benar menghiraukan kehadiran Reagen di sebelahnya.


Sekali, dua kali kesempatan mungkin Reagen masih bisa menahan diri, tetapi begitu ketiga kalinya Alex berusaha mendekati Zenaya saat wanita itu tengah mencuci tangannya di wastafel, dia langsung pasang badan dan memberi peringatan pada Alex untuk tidak berulah.


"Anda sepertinya berusaha mengakrabkan diri dengan istri saya?" tanya Reagen basa-basi.


"Ya, wajar saja karena kami berteman," Jawab Alex.


"Jangan terlalu berharap, dan saya minta dengan sangat hormat pada Anda untuk dapat menjaga etika saat berada di depan mereka," ujar Reagen dingin.


Alex terdiam. "Anda tidak perlu khawatir." Tawa kecil keluar dari mulutnya.


Grace dan David yang melihat ketegangan yang terjadi di sana, berusaha mengalihkan perhatian mereka agar tidak menyadarinya.


Tak ingin ketidaknyamanan ini terus membelenggu, Zenaya terpaksa meminta pulang saat itu juga dengan dalih kelelahan. Wanita itu membiarkan mereka semua tetap menikmati hidangan sepuasnya.


...***...


"Terima kasih," ucap Reagen seraya memeluk Zenaya dari belakang. Mereka baru saja tiba di apartemen, dan bahkan baru keluar dari dalam lift.


"Untuk apa?" tanya Zenaya.


"Segalanya." Reagen memberikan sengatan-sengatan kecil di leher Zenaya, sebelum kemudian memutar tubuh sang istri dan memeluknya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," ucap Reagen mesra.


__ADS_2