
Seorang pria muda tengah berdiri di antara kerumunan para penunggu, sembari memegang sebuah papan nama berukuran sedang, bertuliskan: 'WELCOME HOME ALEX SIMON COLE'.
Matanya begitu awas memperhatikan setiap penumpang pesawat yang baru saja turun. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sana, hingga tanpa sadar, sesosok pria tampan berdiri tegap di sebelahnya.
Pria berkaca mata hitam itu ikut melongkokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerakan si pria muda. "Yang kau tunggu, sudah datang belum?" tanyanya kemudian.
"Belum." Jawab ia cepat. "Eh!" Mendengar suara yang tidak asing, membuat pria muda itu menoleh pada orang sebelahnya.
"Tuan!" pekik pria muda itu seketika.
"Kau sedang apa di sini?" Alex membuka kacamatanya. Mata pria itu memandangi si asisten dengan tatapan luar biasa jengkel. Untung saja dia bisa melihat kepala sang asisten yang menyembul, kalau tidak, mereka pasti tidak akan bertemu.
"Saya menunggu Tuan di sini," jawab Juan, nama sang asisten.
"Sampai mati pun, kau tak akan pernah bertemu denganku, bodoh! Sudah kukatakan berulang kali kalau aku keluar dari sana!" Alex dengan kesal menunjuk pintu kepulangan yang berada persis di sebelah tempat mereka berdiri saat ini.
Juan meringis malu. Sifat pelupanya tak pernah hilang. Beruntung, Alex tak pernah berniat memecat dirinya.
"Ayo, pulang! Aku lapar," ujar Alex sembari berbalik pergi meninggalkan Juan.
Juan bergegas mengikuti bosnya, sembari mendorong trolly barang bawaan yang ditinggalkan Alex begitu saja.
Alex memakai kembali kacamatanya. Pria itu tersenyum lebar menatap sekeliling bandara yang sudah lama tidak dia jumpai.
"Cepat! Jalanmu jangan seperti seorang gadis!" Pria itu menoleh ke belakang dan menurunkan sedikit kacamatanya, saat Juan tak kunjung menyusul.
"Siap!" Juan mempercepat langkahnya. Tubuh kurus pria muda itu mendorong trolly dengan sekuat tenaga.
"Selamat datang, Tuan Alex," sapa Demian, supir pribadi keluarga Alex, seraya membungkuk hormat.
Alex menepuk pundak Demian. "Kau tampak sehat," ucapnya.
"Terima kasih, Tuan. Anda juga terlihat sangat sehat," jawab Demian. Pria itu lalu membukakan pintu mobil untuk mereka, dan pergi dari sana.
Alex meminta Demian untuk membawanya berkeliling terlebih dahulu sebelum sampai di rumah. Dia ingin menikmati suasana kampung halamannya sejenak.
"Tempat ini sudah banyak berubah. Padahal, sepertinya aku baru saja pergi," gumam Alex seraya memperhatikan dengan saksama suasana kota dari balik kaca mobil.
"Iya, kan?" Pria itu menoleh ke arah Juan yang duduk di sebelahnya.
"Tuan sudah meninggalkan negeri ini 10 tahun lamanya." Juan memperbaiki ingatan Alex. Entah bercanda atau tidak, kini, pria itu yang sama lupanya seperti dia.
"Oh, sudah lama juga aku pergi." Alex tampak menerawang. Selepas menyelesaikan pendidikan S2-nya di sini, dia memang langsung pergi ke Jerman untuk mengabdikan dirinya sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit pemerintah yang ada di sana, atas undangan sang kakek.
__ADS_1
Kini, setelah puas menghabiskan 10 tahun di sana, Alex berniat kembali ke tanah air untuk menghabiskan sisa hidupnya sembari melanjutkan karir.
Itu hanya salah satu alasan kecil saja.
"Oh iya, mana berkas yang aku minta saat di telepon?" Pria itu menengadahkan tangannya pada Juan.
Juan mengingat-ingat sejenak. "Ahh!" Pria muda itu segera mengambil berkas yang dimaksud Alex dari dalam tas kerja, dan menyerahkannya pada pria itu.
Alex menggelengkan-gelengkan kepalanya. Dia sudah terbiasa dengan sifat pelupa Juan. Alex pernah meminta Juan untuk memeriksakan diri ke dokter, dan hasilnya, Juan sehat-sehat saja.
Entah apa yang menjadi penyebab sifat lupanya, tetapi yang jelas itu bukanlah sebuah penyakit.
Alex membaca berkas yang dia minta dengan saksama. Berkas tersebut berisi perjanjian kerjasama antara perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang obat-obatan dengan Winston General Hospital.
Perusahaan sebelumnya yang menjalin kerjasama dengan Winston General Hospital, tidak dapat memenuhi kuota karena membludaknya pesanan. Maklum, mereka juga menjalin kerja sama dengan beberapa rumah sakit lain. Oleh sebab itu, Liam memutuskan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain.
Meski tinggal di Jerman, Robert, sang ayah, sering menyerahkan tugas-tugas perusahaan pada Alex, jadi, mau tidak mau dia ikut turun tangan dalam mengelola perusahaan keluarganya di sini. Itulah mengapa, dia mengandalkan Juan untuk pergi bolak-balik, jika diperlukan.
Saat mengetahui nama keluarga yang tak asing di telinganya, Alex mencoba mencari tahu.
Tanpa pikir panjang, dia langsung menyetujui kerja sama tersebut. Bahkan, Alex menghubungi Liam secara pribadi dan mengajukan diri untuk bekerja di sana.
Liam tentu tidak keberatan. Kebetulan, rumah sakitnya memang membutuhkan dokter anak senior di sana.
"Winston," gumam Alex sembari bertopang dagu.
"Weekend nanti ada acara kantor yang harus aku hadiri. Aku harap, kau bisa datang bersamaku ke sana." Reagen membuka suaranya ketika mereka sedang berada di dapur.
Zenaya bergeming. Dia sibuk menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua.
Reagen menghela napasnya. Meski sudah terbiasa menghadapi sikap Zenaya, tetap saja ada saat-saat pria itu ingin dilihat.
"Oh iya, kapan kau akan memeriksakan diri ke dokter? Biar aku antar." Pria itu masih berusaha mengajak Zenaya berbincang. Namun, sang istri sama sekali tidak menanggapi.
"Zen," panggil Reagen.
Zenaya mematikan kompor dan menuang sphagetti ke dalam piring mereka berdua, lalu menyajikannya di meja.
"Aku tidak tuli!" sahut wanita itu ketus.
Reagen menghela napasnya. "Aku tahu. Aku hanya ingin kau menjawab setiap pertanyaan atau perkataan yang aku ajukan," ujar pria itu kemudian.
Zenaya kembali masuk ke dapur dan mengambil beberapa buah dari dalam kulkas. Wanita itu mengupas satu persatu buah-buah tersebut menggunakan pis4u.
__ADS_1
"Jadi, kapan kau akan ke dokter? Aku juga ingin melihat perkembangannya." Reagen kembali membuka suara.
"Untuk apa kau ingin tahu soal anakku?" tanya Zenaya tanpa menoleh. Dia menekan kata-kata terakhirnya, seolah memberi penegasan pada Reagen, bahwa sang anak hanyalah miliknya seorang.
"Anak kita." Reagen memperbaiki ucapan Zenaya.
Zenaya bergeming sesaat.
"Zen." Lagi-lagi Reagen memanggil wanita itu.
Suara Reagen benar-benar mengganggu Zenaya. Demi melampiaskan kekesalannya terhadap sang suami, dia menghentak-hentakkan pisaunya di talenan saat memotong buah, hingga tanpa sengaja menggores telunjuk wanita itu.
"Aw!" teriak Zenaya seketika.
Mendengar teriakan sang istri, Reagen bergegas menghampirinya.
D4rah terlihat mengalir dari telunjuk tangan Zenaya. "Dasar ceroboh!" seru Reagen kesal.
Zenaya yang hendak membalas perkataan Reagen, tiba-tiba terdiam seribu bahasa ketika pria itu membawa jarinya ke dalam mulut.
Rasa hangat yang menerpa jari Zenaya membuat detak jantung wanita itu berdegup sangat keras.
Bulu kuduk Zenaya meremang seketika.
Zenaya berusaha menarik tangannya, tetapi Reagen dengan sigap menahan tangan sang istri.
Setelah merasa dar4h pada jari Zenaya sudah berhenti mengalir, Reagen langsung membawanya menuju keran air.
Pria itu dengan penuh perhatian membersihkan jari Zenaya menggunakan air mengalir.
"Aku akan mengambil kotak P3K, kau tung–" Reagen tersentak saat melihat air mata sudah mengalir membasahi pipi Zenaya.
Wanita itu rupanya sedang menangis.
"Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Reagen khawatir.
Zenaya menatap jarinya sembari menganggukan kepala.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud menambah rasa sakit ini," ucap Reagen merujuk pada jari Zenaya. Dia pikir, sang istri tengah membicarakan jarinya karena melihat arah pandang wanita itu.
Mendengar perkataan Reagen, Zenaya malah mengeraskan isak tangisnya. Hal itu membuat Reagen sontak memeluk Zenaya.
"Sakitnya hanya sebentar. Aku akan membalutnya dengan plester," ucap Reagen, mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Jariku tidak sakit sama sekali!" Zenaya hanya bisa meneriakkannya dalam hati.
Dia sama sekali lupa akan ketakutannya pada sentuhan fisik yang Reagen lakukan.