
"Seharusnya kau tak perlu repot-repot mencari penggantinya," ujar David setelah menerima mantel baru dari Zenaya.
Sehari setelah Reagen membuang mantel pria itu, Zenaya langsung memberitahu David yang sejujurnya. Dia sama sekali tidak menyembunyikan kebenarannya. Sangat tidak masuk akal jika dia berbohong dengan mengatakan, bahwa mantel besar tersebut hilang atau terbuang tanpa sengaja.
Demi menebus kesalahan tersebut, Zenaya pun meminta tolong pada Grace untuk dicarikan mantel yang sama sebagai pengganti mantel David yang hilang.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tak ingin perasaan bersalah ini mengganjal pikiranku terus-menerus," balas Zenaya.
David menatap goodie bag berisi mantel pengganti miliknya yang hilang. Jujur saja ada segenggam perasaan sakit hati yang tersemat di benak David begitu mengetahui kenyataan, bahwa salah satu mantel kesayangannya dibuang oleh Reagen. Bukan lebih kepada mantel tersebut rasa sakit hatinya muncul, melainkan sikap pria itu. Namun, David juga memahami perasaan Reagen sebagai seorang suami.
Suami mana yang tidak terbakar api cemburu melihat istrinya memakai pakaian pria lain, meski itu hanya sebuah mantel?
"Baiklah, aku terima. Aku harap Rey tidak lagi salah paham pada diriku di kemudin hari," ucap David seraya melempar senyum simpul.
Zenaya membalas senyuman David dan menganggukan kepalanya. Mereka pun kemudian berpisah di lorong, karena David harus kembali memegang pasiennya.
...***...
"Aku tidak bisa menghubungi Rey." Natalie tertunduk lesu sembari mengaduk ice cream-nya yang mulai mencair. Wanita itu baru pulang dari Paris setelah menjalani syuting film di sana. Beberapa kali Natalie memang mendapat tawaran untuk berkarir di kota fashion tersebut.
"Dia sedang ada di luar kota bersama Uncle Craig untuk urusan bisnis. Kau bisa menghubunginya nanti," kata Bryan.
"Kalian masih sering berkomunikasi?" tanya Natalie.
"Begitulah." Jawab Bryan. "Kami tak mungkin memutuskan komunikasi," sambungnya.
"Dia tak ingin kehilangan dirimu, tetapi dia tidak melakukan hal yang sama padaku!"
Bryan mendengkus. "Aku tidak perlu menjawabnya, kan?"
Natalie mendelik sinis.
Pria itu mengangkat bahu lalu melipat kedua tangannya sembari bersandar. "Omong-omong, aku dengar kau akan pindah ke Paris dan memutuskan berkarir di sana?" tanya Bryan.
"Ya. Dapat berkarir di sana adalah impianku sejak dulu, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka dari itu aku berniat menemui Rey. Setidaknya bisa mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya. Selain mengejar karir, mungkin saja Paris bisa mengobati luka hati ini," jawab Natalie panjang lebar.
"Sakit rasanya jika aku terus berada di sini, apa lagi mereka akan segera memiliki anak." Wanita itu terlihat merenung.
"Aku harap kau bisa melupakan dan mencari kebahagiaanmu sendiri di sana, Nat," ucap Bryan tulus.
"Terima kasih. Walau aku yakin tak bisa melakukannya dalam waktu singkat. Kau tahu sendiri sedalam apa perasaanku padanya, dan ini sudah menetap selama belasan tahun."
Bryan menatap Natalie perihatin. Dia tentu saja mengetahui benar hal tersebut.
Bryan menegakkan tubuhnya. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, ponsel Natalie tiba-tiba berbunyi.
Wanita itu langsung mengangkat teleponnya.
__ADS_1
Bryan memperhatikan raut wajah Natalie yang tiba-tiba berubah horor. Wanita itu mengatakan kepada si penelepon bahwa dia akan segera ke sana.
"Bryan, aku harus pergi!" seru Natalie panik, setelah dia menutup teleponnya. Air mata sudah mengalir membasahi pipinya.
"Ada apa, Nat?" tanya Bryan sembari menahan tangannya.
"Ayahku masuk rumah sakit!" teriak Natalie sembari menangis terisak-isak. Beberapa orang pengunjung cafe sempat menatap mereka.
Bryan terkejut. "Di mana?" tanyanya lagi.
"Winston. Aku harus pergi!"
"Aku antar!" Tanpa menunggu jawaban dari Natalie, Bryan menarik tangannya menuju keluar cafe. Menggunakan mobil pribadinya, mereka pergi menuju Winston General Hospital.
...***...
"Tuan Robbin mengalami Stroke Iskemik. Penyuntikan rtPA melalui infus dilakukan untuk mengembalikan kondisi aliran darah. Kami juga akan memberikan obat guna mencegah pembekuan darah. Jadi Anda tidak perlu khawatir." Dokter Bram, dokter spesialis neurologi, memberi penjelasan sekaligus menenangkan Belinda, ibu dari Natalie. Sang dokter juga menjelaskan bahwa suaminya akan menjalani fisioterapi guna mengembalikan fungsi anggota tubuhnya.
"Terima kasih, dok," ucap Belinda.
Dokter Bram mengangguk dan pamit undur diri. Wanita paruh baya itu pun menghampiri sang suami yang terbaring lemah di ranjang. Robbin baru saja dipindahkan ke lantai lima, kelas President Suite.
Beberapa saat kemudian, Natalie dan Bryan tiba di ruang perawatan orang tuanya.
"Daddy!" teriak Natalie sembari menghambur ke arah sang ayah.
"Apa Uncle baik-baik saja, Aunt?" tanya Bryan pada Belinda.
Belinda mengangguk. "Rencananya, Uncle akan melakukan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi tubuhnya yang terkena stroke."
Natalie menatap sang ibu dengan pandangan khawatir. Satu kebimbangan tiba-tiba hadir melingkupi dirinya.
Dalam waktu kurang dari dua bulan wanita itu akan pergi meninggalkan tanah air. Jika dia pergi, maka kedua orang tuanya akan hidup berdua saja di sini. Sebagai anak satu-satunya Natalie tidak mungkin tega meninggalkan sang ayah dalam kondisi sakit, dan membiarkan ibunya mengurus beliau seorang diri.
"Keputusan apa yang harus aku ambil?" Natalie membatin.
...***...
Natalie dan Belinda keluar dari dalam ruang perawatan sang ayah. Bryan sudah pulang sejak tadi, dan kini dia menyuruh ibunya untuk beristirahat di rumah juga. Mereka berjalan menuju lift yang tak jauh dari sana.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa, Sayang? Jangan terlalu memaksakan diri. Kau, kan, baru pulang," ujar Belinda.
"Tidak, Mom. Selama beberapa hari ke depan jadwalku kosong." Jawab Natalie. Dia sudah menghubungi Vanessa, manajernya, untuk memundurkan jadwal.
"Baiklah kalau begitu. Besok Mommy akan kembali." Belinda mengelus pipi putri semata wayangnya.
Natalie mengangguk dan mencium pipi sang ibu. Dia lalu berpesan pada supir pribadi mereka yang sedari tadi menunggu, untuk berhati-hati.
__ADS_1
Wanita itu menunggu sang ibu dan supirnya sampai masuk ke dalam lift. Selepas keduanya pergi, dia pun berbalik menuju ruang perawatan Robbin.
Disaat itulah, wanita berusia 29 tahun tersebut berpapasan dengan Zenaya yang hendak pulang ke rumah.
"Natalie," sapa Zenaya ramah.
Natalie bergeming sesaat. Wanita itu menatap Zenaya dari atas ke bawah. Pilu mendera batinnya ketika melihat baby bump Zenaya yang sudah mulai terlihat.
"Apa kabar, Zen?" tanya Natalie sembari berusaha menekan kerisauan hatinya.
"Aku baik. Kau bagaimana? Siapa yang sedang sakit, Nat?" Zenaya balik bertanya.
"Ayahku," jawab Natalie seraya memaksakan sebuah senyuman. Entah mengapa wajah Zenaya terlihat semakin cantik semenjak menikah dengan Reagen.
...***...
"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Craig pada Reagen. Keduanya kini sedang berada dalam perjalanan menuju hotel, setelah menghadiri seminar salah satu koleganya. Pekerjaan mereka sudah selesai, jadi Reagen bisa bertemu kembali dengan Zenaya.
"Sangat baik, Pa. Zenaya tak lagi seperti dulu," jawab Reagen.
"Benarkah?" tanya Craig sekali lagi.
Reagen mengangguk yakin. "Memang, terkadang kami masih seperti orang asing, tetapi Zenaya masih mau memberiku kesempatan untuk menebus segalanya," ujar sang anak panjang lebar.
Craig menepuk-nepuk punggung tangan Zenaya. "Jangan sia-siakan kesempatan itu, Rey," katanya.
"Baik, Pa!" sahut Reagen bersungguh-sungguh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
__ADS_1
-Penyuntikan rtPA (recombinant tissue plasminogen activator) melalui infus dilakukan untuk mengembalikan kondisi aliran darah. Namun, tidak semua pasien dapat menerima pengobatan ini. Suntikan rtPA hanya diberikan untuk pasien yang segera dibawa ke rumah sakit dalam waktu 3–4,5 jam setelah gejala pertama muncul.