
Jennia menangis bahagia ketika melihat mata kedua anaknya terbuka setelah tak sadarkan diri selama hampir lima hari. Krystal, istri dari Noah, yang menemani sang ibu mertua bergegas keluar dari ruangan perawatan Reagen menuju nurse station untuk memanggil dokter.
"Ya Tuhan, Rey!" Jennia memeluk Reagen dengan sangat hati-hati, dan mengelus lengannya lembut. Wanita itu juga menciumi pipi anak bungsunya sembari merapalkan kalimat syukur berulang-ulang kali.
Reagen tersenyum lemah. "Ma," sapa pria itu pada ibunya.
Beberapa lama kemudian, Dokter John bersama dua orang perawatnya datang untuk memeriksa keadaan Reagen pasca sadarkan diri.
"Coba angkat tangan kananmu secara perlahan, Rey," pinta sang dokter ketika selesai memeriksa dada Reagen menggunakan stetoskop. Dia juga memeriksa pupil matanya.
Reagen mengangguk pelan. Perlahan dia mengangkat tangan kanannya sesuai instruksi sang dokter. Namun, tak sampai 10 centimeter terangkat, tangan kanannya tersebut jatuh terkulai kembali.
"Kali ini, coba angkat kaki kananmu." Dokter John menelisik kondisi Reagen dengan seksama sembari meminta perawat untuk mencatat apa-apa yang harus mereka lakukan.
Tak seperti lengan kanannya yang mampu terangkat meski hanya sedikit, kaki pria itu malah sama sekali enggan bergerak. Kekhawatiran seketika terlihat jelas di wajah Reagen dan keluarganya.
"Sekarang lakukan hal yang sama pada tubuh bagian kirimu."
Reagen menuruti perintah sang dokter. Kaki kiri dan tangan kirinya terangkat sempurna.
Melihat itu, dokter John mengalihkan pandangannya pada Jennia. "Seperti yang sudah saya katakan waktu itu, tangan dan kaki Reagen mengalami penurunan fungsi sementara. Setelah melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh, saya akan segera menjadwalkannya untuk mengikuti terapi fisik agar bisa kembali normal."
Jennia menatap sang dokter sendu. "Anak saya benar-benar bisa pulih sepenuhnya, kan, dok?" tanyanya meyakinkan.
Dokter John tersenyum menenangkan. "Tenang saja, meski butuh waktu, tetapi Reagen akan kembali pulih."
Raut kelegaan terpancar dari wajah Jennia dan Krystal. Dokter John dan dua orang perawatnya pun undur diri dari sana.
"Kau dengar, kan, Sayang? Tak ada yang perlu dikhawatirkan, kau akan segera pulih kembali." Jennia menatap anak bungsunya tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Aku yang seharusnya mengatakan hal itu, Ma," kata Reagen dengan suara lemah. Senyum kecil terbit dari wajah tampan pria itu.
__ADS_1
...***...
"Rey, baru saja sadar, Zen." Grace membuka suaranya saat mereka tengah makan siang bersama di kantin rumah sakit. Pekerjaan Zenaya yang lumayan padat membuat gadis itu tak bisa leluasa makan siang di tempat langganannya.
Mendengar perkataan Grace, Zenaya mendengkus kesal. Semenjak Reagen dirawat, tak pernah sekali pun Grace melewatkan kesempatan untuk mengabari Zenaya tentang segala kondisinya. Padahal, dia sudah memperingati Grace untuk berhenti mengoceh soal Reagen, tetapi wanita itu sama sekali tidak mau mendengarkannya.
"Besok rencananya dia akan menjalani pemeriksaan menyeluruh. Jika tak ada hal serius, dalam beberapa hari Rey akan diperbolehkan pulang, dan hanya fokus menjalani fisioterapi selama enam bulan ke depan."
Zenaya meletakkan alat makannya di meja. "Kau tidak kembali ke ruanganmu?" tanya Zenaya dengan raut wajah malas. Gadis itu tak mau repot-repot menyembunyikan raut kekesalannya pada sang sahabat.
Grace membalas tatapan Zenaya tak kalah mengesalkan. "Zen–"
"Grace, bisakah berhenti merecokiku dengan semua cerita tentangnya?" tanya Zenaya jengah.
"Aku ... hanya ingin–"
"Grace!" tanpa sadar Zenaya membentak Grace, dan membuat wanita itu berjengit kaget. Mungkin dia tak menyangka bahwa Zenaya akan menjadi semarah ini.
"Aku hanya tak ingin teringat lagi padanya, Grace. Ingat, aku hanyalah seonggok sampah tak berharga yang sangat menjijikkan baginya," Senyum getir terpancar dari wajah Zenaya. " ... dan, kau harus tahu bahwa luka ini akan selalu ada meski pun dia tak pernah lagi mengingatku."
Grace dapat melihat kesakitan dari wajah sahabatnya tersebut. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Dia ingat padamu, Zen," ujarnya dengan nada sepelan mungkin.
"Hah!" respon Zenaya cepat seraya menatap Grace tajam. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Sebenarnya, sejak dia siuman, dia langsung mengenali diriku, dan ... aku juga mengatakan bahwa kau ada di sini." Grave menatap Zenaya waspada, takut-takut dia akan meledak lagi.
Zenaya terdiam seketika. Otaknya sibuk mencerna kata-kata yang keluar dari bibir sahabat baiknya itu.
"Setiap kali aku datang untuk memeriksa keadaannya, hanya kaulah yang selalu dia bicarakan. Dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian sepuluh tahun yang lalu, Zen. Jika kau melihat wajahnya, kau akan tahu sedalam apa penyesalan itu." Grace masih berusaha mengajak gadis itu bicara baik-baik.
Tanpa mengatakan apa-apa, Zenaya segera berdiri dari tempat duduknya dan hendak berbalik pergi. "Aku tak akan pernah mau berurusan dengannya lagi!" serunya tegas. "Aku membencinya, Grace. Aku membencinya!"
__ADS_1
Grace terdiam. Matanya memandang Zenaya iba. Dia paham sebenarnya akan rasa sakit Zenaya, tetapi dia juga ingin gadis itu bisa hidup normal dan bahagia seperti orang lain.
Di sepanjang perjalanan menuju ruangan kerjanya, Zenaya hanya bisa menangis. Dia sendiri juga tak tahu mengapa air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Berkali-kali gadis itu menghapus kasar air matanya sembari menggerutu. Dia mengutuk keras sikap Grace yang terkesan memihak pria brengsek itu.
"Sialan!" umpat Zenaya kasar.
...***...
Reagen tampak melamun sembari memandangi suasana malam dari balik jendela kamar perawatannya. Sedari tadi pria itu hanya memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Grace.
"Dia bekerja di sini. Rumah sakit ini merupakan milik keluarganya."
Selama 10 tahun terakhir ini, kenangan akan masa lalu dengan Zenaya memang selalu menghantui pikirannya. Namun, sifat pengecut Reagen membuat pria itu takut mencari keberadaan Zenaya hanya untuk sekadar meminta maaf. Itulah mengapa Reagen memilih meneruskan hidupnya di New York selepas menyelesaikan pendidikan kuliahnya, sembari mengurus kantor cabang keluarga.
Namun, setelah tahu bahwa jarak mereka berdua ternyata sangat dekat, membuat Reagen berniat untuk menemui gadis itu nanti.
Dia harus meluruskan segalanya.
...***...
Zenaya membanting pintu mobil dan masuk ke dalam kamar tanpa mengindahkan pertanyaan sang ibu, perihal kepulangannya yang lebih cepat dari hari-hari biasa.
Dia melemparkan diri ke atas kasur dan kembali menangis. Ingatan akan kejadian dulu tiba-tiba berputar bak sebuah adegan film.
Tiga tahun Zenaya menyimpan perasaannya terhadap Reagen dan dengan tulus mencintai pria itu. Namun, perasaan tulusnya ternyata tak pernah berbuah manis. Reagen dengan tega menjadikan Zenaya sebagai pion permainan, lalu menghempaskannya dengan kata-kata kasar nan merendahkan.
Sengaja atau tidak, Reagen telah menjatuhkan Zenaya pada lubang rasa sakit yang teramat dalam. Saking dalamnya, membuat gadis itu tak mampu naik ke permukaan hingga saat ini.
Kebencian Zenay sejak saat itu membuatnya membekukan hati pada pria mana pun hingga sekarang. Meski hati kecilnya ingin, tetapi rasa trauma yang mendalam membuat dia takut untuk memulai sebuah hubungan.
Zenaya telah mati rasa ... dan itu semua karena pria bernama Reagen.
__ADS_1