
Zenaya mengintip dari balik dinding bangunan. Mata wanita itu menoleh ke sana kemari guna memastikan bahwa Alex tak lagi mengikutinya dari belakang.
Zenaya tak melihat sosok Alex di mana pun. Hanya ada segelintir pejalan kaki yang berlalu-lalang di sana. Beberapa bahkan menyadari kehadiran Zenaya dan menatapnya heran.
Bagaimana tidak, keadaan Zenaya terlihat sedikit kacau. Wajah wanita itu telah basah oleh keringat dan air mata. Belum lagi rambutnya yang berantakan karena berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex.
Zenaya menarik napas dan membuangnya berulang kali guna menenangkan diri. Setelah merapikan rambut dan mengelap wajahnya menggunakan sapu tangan, dia pun keluar dari persembunyian untuk mencari taksi.
Meski kepalanya mulai terasa pening, Zenaya berusaha untuk tetap berjalan perlahan. Dia enggan menunggu taksi di tempat itu dan memilih untuk berjalan sedikit demi sedikit.
"Sebentar lagi taksi datang ya, Sayang," ucap Zenaya lirih seraya mengusap lembut perutnya.
Pikirannya tiba-tiba melayang ke-24 tahun silam. Dia masih mengingat betul sosok Alex. Alex merupakan salah satu teman masa kecilnya di panti asuhan dulu. Kedua orang tua mereka yang bekerja sama melakukan pengobatan gratis di beberapa panti akhirnya mempertemukannya dengan Alex.
Dia yang masih berusia 5-6 tahun hanya menganggap bahwa pertemuan mereka bukan lah sesuatu yang spesial. Namun ternyata tidak begitu dengan Alex. Pria itu rupanya menganggap pertemuan tersebut memiliki arti tersendiri. Padahal kalau dipikir-pikir usia mereka sangat lah jauh. Jadi, bagaimana mungkin seorang remaja tanggung bisa menyukai gadis kecil yang baru saja masuk sekolah taman kanak-kanak?
Air mata Zenaya kembali menetes. Perlakuan Alex padanya benar-benar membawa ketakutan baru pada diri Zenaya.
"Rey," gumam Zenaya lirih. Kerinduan pada sosok sang suami menguar tiba-tiba. Dia ingin sekali menelepon dan meminta pria itu untuk pulang secepatnya.
"Aku merindukanmu," ucap Zenaya terisak-isak. Wanita itu bersandar pada sebuah tiang listrik yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tiba-tiba, sebuah mobil asing dari arah berlawanan bergerak pelan ketika melewati Zenaya. Mobil hitam tersebut memutar balik dan berhenti tepat di dekatnya.
"Zenaya?" Reagen keluar dari mobil dan menghampiri istrinya yang tengah berdiri sendirian di sana.
Zenaya mengangkat kepalanya. Wanita itu tersentak saat melihat sang suami tiba-tiba sudah berada di depannya.
Reagen terkejut. Dia benar-benar tak salah lihat. Itu adalah istrinya.
"Kenapa berja–"
Belum sempat Reagen menyelesaikan perkataannya, Zenaya sudah berlari menubruk tubuh pria itu. Dia mencengkeram kuat belakang jas suaminya dan menangis keras-keras dalam dekapan Reagen.
"Kau kenapa?" tanya Reagen keheranan.
"Aku ingin pulang," pinta Zenaya dengan suara teredam. "Aku ingin pulang! Aku ingin pulang!"
"Ssstt! Iya, kita pulang, kita pulang." Reagen memapah Zenaya ke dala. mobil. Dia menyingkirkan terlebih dahulu berbagai macam pertanyaan yang mulai berseliweran di dalam kepalanya.
Beberapa saat setelah mobil bergerak Zenaya langsung tertidur lelap. Reagen sesekali menoleh ke arah sang istri sembari membenahi rambutnya yang tampak berantakan.
"Ada apa denganmu?" gumam pria itu.
...***...
__ADS_1
Alex memukul-mukul setir mobilnya sembari berteriak-teriak seperti orang gila. "Apa bagusnya pria brengsek itu, Zen? APA BAGUSNYA?" teriak pria itu.
"TIDAK ADA, ZEN! TIDAK ADA!" Matanya menatap bengis sosok Zenaya kecil yang berada di dalam foto.
"Kau telah menghancurkan hatiku! Maka dari itu, akan kuhancurkan hubungan kalian! Dengan begitu kau akan lebih mudah kuraih!" Tawa sinis keluar dari wajah Alex.
...***...
Reagen memarkirkan mobilnya di basement. Dia menoleh ke arah sang istri yang masih tertidur pulas.
"Zen, kita sudah sampai," bisik Reagen seraya membelai halus wajah cantik Zenaya. Tak kunjung mendapat jawaban, Reagen memberanikan diri mencium bibir wanita itu agar terbangun. Namun, Zenaya rupanya sama sekali tidak terganggu dengan keisengan suaminya.
Reagen tersenyum. Pria itu memutuskan untuk menggendongnya sampai ke dalam unit apartemen mereka.
Sesampainya di dalam apartemen, Reagen langsung membaringkan Zenaya dan membantunya melepaskan sepatu. Tak lupa, dia juga melepas mantel yang melekat di tubuh Zenaya.
Mata Zenaya terbuka saat Reagen hendak meninggalkannya untuk berganti pakaian.
"Kau sudah bangun?" Reagen duduk di sebelah Zenaya.
Zenaya mengangguk.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai berjalan kaki? Apa ada masalah?" Reagen mengajukan beberapa pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.
"Kau tahu, aku sedang sangat sensitif. Taksiku mogok dan tidak ada taksi pengganti di jalan itu. Aku takut bila harus berjalan kaki sampai ke rumah." Zenaya menjelaskan alasannya.
"Kau yakin hanya itu saja?" tanya Reagen memastikan. Pasalnya, dia masih mengingat betul bagaimana raut wajah sang istri tadi. Rasanya tidak mungkin jika hanya karena taksi dia sampai ketakutan seperti itu.
Zenaya berusaha meyakinkan Reagen. Berkali-kali dia mengatakan kebenarannya.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kau istirahat saja," ucap Reagen.
Zenaya menggelengkan kepalanya. "Aku ingin mandi." Wanita itu bangkit dari ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi. Bayangan saat Alex memeluk dirinya dan berusaha berbuat lebih menghantui pikiran wanita itu lagi.
Di dalam kamar mandi, Zenaya menangis sesenggukan sembari menggosok seluruh tubuhnya hingga memerah demi menghilangkan aroma parfum Alex yang masih terasa melekat di hidungnya. Padahal aroma itu sama sekali tidak ada.
"Pergi! Pergi!" seru Zenaya marah.
...***...
"Kita pesan makan malam saja," ujar Reagen sembari beranjak dari ranjang dan pergi ke dapur. Pria itu menyuruh Zenaya untuk langsung beristirahat seusai mandi.
Reagen tersentak ketika sepasang tangan halus melingkari pinggangnya. Zenaya rupanya menyusul pria itu dan memeluknya dari belakang.
Tanpa melepas pelukan Zenaya, Reagen berbalik menghadapnya. "Ada apa, sedari tadi kau aneh sekali?" tanya Reagen khawatir.
__ADS_1
"Aku ...," Zenaya tertunduk malu. "hanya rindu padamu," sambungnya.
Reagen tersenyum simpul. "Aku juga merindukanmu." Pria itu mendekap Zenaya hangat.
Zenaya menghirup dalam-dalam aroma segar yang menguar dari tubuh sang suami.
Selama beberapa saat mereka dalam posisi seperti itu, hingga Reagen berinisiatif untuk melepaskan pelukannya duluan. "Tunggulah di kamar, aku akan membuatkanmu susu." Baru saja pria itu hendak berbalik badan, Zenaya sudah mencengkeram kaosnya dan mengecup bibir pria itu mesra.
Reagen kontan saja terkejut mendapat perlakuan demikian dari sang istri. Pasalnya, selama ini Zenaya tak pernah melakukan hal itu duluan. Dia bahkan baru mau membalas ciumannya akhir-akhir ini.
Reagen melepas ciuman mereka. "Zen, ada apa? Ken–"
"Sentuh aku." Zenaya memotong perkataan Reagen tiba-tiba.
Reagen terbelalak. "Maksudmu?"
"Sentuh aku, Rey," pinta Zenaya dengan sorot mata bersungguh-sungguh.
"Zen, seperti yang kau bilang, kau sedang sensitif. Perasaanmu mudah berubah-ubah. Jadi lebih baik kau beristirahat saja." Reagen mencoba menyadarkan apa yang baru saja Zenaya katakan.
"Apakah aku terlihat begitu menjijikan," ucap Zenaya sendu. Matanya berkaca-kaca.
Reagen memandang Zenaya takjub. Cepat sekali suasana hatinya berubah. Jika tadi sang istri terlihat serius, kini dia bagai seekor anak kucing yang telah disakiti.
"Aku tak pernah melihatmu seperti itu. Justru aku lah yang merasa kau ...." Reagen tak mampu melanjutkan perkataannya. Jika dia membalas, bisa jadi mereka akan memulai pertengkaran kembali.
Pria itu akhirnya memilih bungkam.
Zenaya memandang Reagen dalam-dalam. Netra hazel sang istri yang sangat disukai Reagen, mampu menembus hingga ruang terdalam hatinya. Dengan gerakan perlahan, Zenaya mengalungkan tangannya di leher pria itu dan mendaratkan ciuman mesra.
Sebagai seorang pria normal, Reagen tentu saja terpancing. Apa lagi wanita yang menciumnya ini adalah istrinya sendiri.
Reagen membalas sengatan-sengatan kecil yang Zenaya berikan dengan kekuatan yang sama. Pria itu mencengkeram pinggang Zenaya, sembari sesekali mengelus perut buncit sang istri.
Tangannya kemudian perlahan merambat ke punggung wanita itu.
Meski kentara terkejut, Zenaya berusaha tidak menghindari sentuhan tangan Reagen.
"Kuharap, kau tidak menyesali ini," bisik Reagen parau di sela-sela pagutan mereka.
Zenaya mengangguk. Dia menuntun sang suami untuk berbuat lebih dari ini. "Just do it."
Mendapat lampu hijau dari sang istri, dengan satu gerakan cepat Reagen mengangkat tubuh Zenaya, dan melingkarkan kaki wanita itu pada pinggangnya.
Pria itu menggendong Zenaya menuju ranjang mereka, tanpa sedikit pun melepaskan ciumannya.
__ADS_1