
Mendung menghiasi langit pagi ini saat Zenaya terbangun dari tidurnya. Wanita itu beranjak dari ranjang untuk mandi dan bersiap-siap. Mengakhiri masa trimester pertama, morning sickness yang dialami Zenaya sudah mulai berkurang. Dia pun terlihat lebih segar sekarang.
Selesai mandi, Zenaya bergegas menyiapkan pakaian kerja sang suami, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Walau kondisi rumah tangga mereka dingin, Zenaya masih tetap berusaha menjalani perannya sebagai seorang istri.
Dia dengan telaten menyiapkan segala kebutuhan Reagen mulai dari menyiapkan makanan, vitamin, pakaian, hingga hal-hal kecil seperti mengisi ulang baterai alat cukurnya.
Setelah selesai menyiapkan pakaian dan sarapan untuk Reagen, wanita itu membuat susu khusus untuk dirinya sendiri. Selama hamil, Zenaya memang tidak terbiasa sarapan pagi. Dia akan mulai makan di atas jam 9.
"Kau mau ke mana sepagi ini?" tanya Reagen ketika baru bangun dari tidurnya. Pria itu masih tampak mengantuk.
Zenaya menandaskan susu hamil yang dia buat. "Aku akan mulai masuk kerja," jawabnya datar sebelum pergi hendak meninggalkan apartemen.
Reagen menahan pergelangan tangan Zenaya cepat. Dia memang tidak melarang Zenaya untuk kembali bekerja, tetapi masa cuti sang istri baru akan habis minggu depan.
"Bukankah kau baru akan mulai bekerja minggu depan?" tanya pria itu penasaran.
Zenaya melepas tangan Reagen. "Aku tak bisa menunggu terlalu lama, dan bukankah sudah kubilang untuk tidak mencampuri masing-masing." Wanita itu mendelik sinis pada Reagen.
Melihat tatapan mata Zenaya, Reagen menghela napasnya. "Aku mengerti, tetapi kau masih bisa beristirahat. Kalau bosan, kau bisa mampir ke rumah orang tua kita." Reagen berusaha tak terpancing kemarahan Zenaya. Wanita yang sedang hamil memang memiliki tingkat kesensitifan tinggi.
Zenaya tidak menjawab. Dia melangkah pergi menuju pintu apartemen.
"Ok, baik ... tapi biarkan aku mengantarmu. Mulai sekarang aku akan mengantar jemputmu kerja!" Reagen menegaskan perkataannya. Pria itu meminta Zenaya untuk menunggu di sana, sementara dia bersiap-siap.
...***...
Mobil Reagen berhenti tepat di depan lobby rumah sakit.
"Aku akan menjemputmu di sini. Jangan pulang sebelum aku datang," ujar Reagen.
Zenaya membuka mobilnya, tetapi Reagen menahan tangan wanita itu. "Kau dengar aku?", tanya Reagen memastikan.
Zenaya menoleh sinis. "Ya!" jawabnya ketus sembari keluar dari mobil sang suami. Dia pun masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi ke belakang.
Reagen hanya bisa memperhatikan Zenaya dari balik kaca mobil sampai wanita itu menghilang dari penglihatannya.
"Aku mencintaimu,"
...***...
Grace berlari memeluk Zenaya begitu melihat kedatangan sahabatnya.
"Kenapa sudah masuk sekarang? Kau, kan, baru mulai bekerja minggu depan ... Hello baby, ini aunty-mu yang paling cantik." Grace mengusap lembut perut Zenaya.
"Bosan." Jawab Zenaya singkat.
"Cih! Berhenti mengatakan alasan itu pada manusia robot sepertiku!" ketus Grace tersinggung. Dokter muda itu memang tidak bisa bekerja sebebas Zenaya. Cuti kerja berbulan-bulan untuk saat ini hanyalah angan-angan belaka.
__ADS_1
Zenaya tertawa kecil.
"Kau tidak membawa mobil?" tanya Grace kemudian.
"Manusia itu tidak memberikan izin, lagi pula, mobilku masih berada di rumah." Membahas Reagen membuat mood Zenaya yang semula membaik, kembali berantakan.
"Jangan begitu. Dia hanya mengkhawatirkan kalian." Grace melirik perut Zenaya.
...***...
"Pusat perbelanjaan yang akan kita bangun kali ini memiliki keunggulan lebih dari pada sebelum-sebelumnya. Segala macam fasilitas dan hiburan juga akan jauh lebih banyak di tempat yang baru ini."
Sebuah ilustrasi bangunan mewah dan modern terpampang di layar monitor besar, yang ada di hadapan mereka.
Reagen memperhatikan dengan saksama presentasi yang dilakukan Jeff, salah seorang perancang bangunan pusat perbelanjaan yang baru saja memenangkan sayembara.
Satu bulan lalu, Craig beserta jajaran direksi mengadakan sebuah sayembara tentang proyek pembangunan mall yang akan dibuat Walker Group. Semua boleh menuangkan ide dan pikiran mereka tanpa memandang jabatan di perusahaan tersebut.
Alhasil Tim Jeff lah yang akhirnya memenangkan sayembara. Pria muda berusia 35 tahun itu merupakan ahli IT perusahaan.
"Yang paling fantastis dari gedung ini adalah ..." Jeff menekan tombol lain pada remote yang dia pegang.
Mata orang-orang yang menghadiri rapat seketika terbelalak, ketika sebuah video ilustrasi buatan timnya diputar.
Mall yang rencananya didirikan dengan bentuk bulan sabit itu, memiliki gedung terpisah di kedua ujungnya. Gedung yang nampak sama dengan gedung utama itu ternyata memiliki fungsi lebih yang sangat fantastis.
"Jika terjadi guncangan gempa di atas 7 skala ritcher, alarm di seluruh gedung mall akan berbunyi serempak. Para pengunjung di arahkan untuk masuk ke dalam dua gedung tersebut," ujar Jeff pada para penghuni rapat.
Sekali lagi, dia memutar ulang video ilustrasi buatannya.
"Seperti halnya sebuah lift, begitu para pengunjung masuk ke dalam, kedua gedung tersebut akan langsung tertutupi oleh perisai anti gempa, dan turun hingga ke dalam tertentu."
"Kita akan menyembunyikan gedung tersebut, begitu?" tanya Noah tak percaya.
"Tidak, Pak. Meski kedua gedung ini lebih pendek dari gedung utama, tetapi tetap saja memiliki ketinggian yang cukup signifikan. Maka dari itu, kita hanya akan menurunkan sebanyak dua lantai saja demi mengurangi guncangan." Jawab Jeff panjang lebar.
"Gempa berasal dari dalam tanah. Apa tidak akan terjadi masalah jika kita malah memilih berlindung di bawah?" tanya Reagen kemudian.
Pertanyaan pria itu mendapat gumaman dari para anggota rapat yang datang. Mereka ternyata memiliki pertanyaan yang sama.
"Meski tertimbun, gedung sudah terlapisi perisai berbahan baja anti gempa. Jadi akan tetap aman. Apa lagi, fasilitas listrik cadangan di sana juga sangat memadai. Setiap satu gedung juga dapat menampung lebih dari setengah pengunjung mall."
Noah menggeleng-gelengkan kepalanya, entah harus takjub atau heran mendengar ide gil4 bawahannya tersebut. Hal yang sama dirasakan oleh Reagen. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana bisa sang ayah memenangkan Jeff yang dikenal sedikit melenceng.
Pasti, ada saja hal-hal aneh yang terpikirkan oleh pria itu.
"Negara kita merupakan negara yang jarang mengalami gempa. Jadi, anggap saja ini hanya sebuah bentuk antisipasi di masa depan." Jeff sedikit menambahkan kalimat di akhir presentasinya.
__ADS_1
Noah menoleh pada sang adik. Keduanya pun terlihat berdiskusi dengan serius.
Jeff dan timnya menunggu dengan harap-harap cemas. Rancangan baru mereka ini memang belum di presentasikan di depan Craig, karena Jeff baru mendapatkan idenya beberapa hari lalu.
Pria itu memandang sekeliling ruangan. Menatap satu persatu anggota rapat yang terlihat tidak yakin dengan ide konyolnya. Bahkan ada yang terang-terangan menertawakan ide Jeff tersebut.
Jeff tidak tersinggung. Dia sudah terbiasa mendapatkan cemoohan dari para petinggi. Dua ide sebelumnya bahkan mendapat tentangan keras, tetapi ketika Jeff berhasil membuktikan, mulut mereka mendadak terkunci.
Kali ini, Jeff akan mengunci mulut mereka untuk ketiga kalinya.
Reagen berdiri dari kursinya.
Jeff pikir, pimpinan barunya Walker Group itu akan pergi meninggalkan ruangan. Namun, Reagen ternyata memberikan tepuk tangan sebagai penghargaan atas gagasan gila Jeff. Noah beserta orang-orang yang menghadiri rapat kontan ikut melakukan hal yang sama.
"Gagasanmu gil4, tapi patut dicoba," ujar Noah kemudian.
Jeff bersama kelima orang anggota timnya membungkuk hormat pada semua orang yang berada di sana. Rencananya, dia juga akan menggandeng seorang arsitek ternama untuk bekerja sama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan dibayangkan seperti apa proyeknya ya, karena itu hanya khayalan semata.🤭
Terima kasih untuk kalian semua yang masih setia membaca novel remahan saya ini. Jangan lupa tinggalkan jejak dan gift-fitnya ya, Kakak-kakak.
Terima kasih,
Salam cinta,
__ADS_1
Kim O. ❤️