
Reagen kini memeluk Zenaya sembari menyandarkan dagunya pada bahu sang istri. Mata pria itu terpejam. Dia tengah menyesap dalam-dalam aroma mawar menguar dari tubuh Zenaya. Begitu menyegarkan dan menghangatkan.
"Aku mencintaimu, Zenaya. Aku mencintai kalian," bisik Reagen lirih. Wajahnya kemudian menyusup ke dalam leher Zenaya dan mengecupnya lembut.
Zenaya terdiam. Entah mengapa, ada gaung tak enak yang bergema di dalam hati wanita itu. "Aku tahu," balas Zenaya. Tangannya membalas pelukan sang suami sama erat.
Lidahnya masih kelu mengucapkan kata yang sama untuk Reagen, oleh sebab itu, Zenaya hanya mampu membalasnya dengan seperti ini.
...***...
Natalie dan Vanessa yang sedang berjalan menuju mobil mereka terkejut tiba-tiba, tatkala mendapati Adryan tengah bersandar di sana.
"Tahu dari mana aku ads di sini?" tanya Natalie tanpa berbasa-basi menyapa Adryan.
Tentu saja, siapa yang tidak terkejut bila seorang pria yang baru dikenalnya selama beberapa hari, tiba-tiba datang ke lokasi syuting. Malam hari pula.
Adryan mengendikkan bahu. "Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin mengembalikan milikmu," ujar pria itu sembari menyerahkan lipstik milik Natalie. "Lipstik ini jatuh ke jok mobilku saat kau turun dari sana."
Wajah Natalie yang semula ketus kini berubah sumringah. Dia memang sempat dilanda kepanikan karena harus kehilangan lipstik kesayangannya tersebut. Maklum, lipstik itu merupakan barang pemberian Bryan dan Reagen sebagai hadiah ulang tahun setahun yang lalu.
Natalie mengambil lipstik tersebut dari tangan Adryan. "Terima kasih banyak," ucap wanita itu tulus.
"Sepertinya lipstik itu sangat berharga bagimu." Adryan takjub melihat perubahan raut wajah Natalie yang sangat cepat.
"Sangat!" jawab Natalie singkat.
Adryan mengangkat alisnya. "Pantas saja. Saking berharganya, kau bahkan mampu mengucapkan kata terima kasih dengan baik dan benar." Tawa kecil keluar dari bibir Adryan.
Mendengar tawa pria itu, yang terkesan sedang mengejeknya, Natalie mendelik sinis. "Kutarik kembali ucapanku!"
Tawa Adryan semakin keras.
Natalie menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang menggelitik hati wanita itu ketika melihat tawa Adryan ... dan dia pun akhirnya ikut tertawa.
Sebenarnya, Natalie juga memahami kesalahannya waktu itu, tetapi egonya yang tinggi tiba-tiba muncul timbul menguasai diri. Apa lagi Natalie tengah terburu-buru untuk menemui sang ayah, yang baru saja selesai menjalani fisioterapi.
...***...
Suasana di dalam mobil Adryan tampak hening. Demi membalas budi kebaikan Adryan yang sudah jauh-jauh menghampirinya ke lokasi syuting, hanya untuk mengembalikan lipstik miliknya, Natalie berinisiatif mengajak pria itu makan malam.
Karena Adryan tidak mungkin meninggalkan mobilnya di sana, mereka pun pergi menggunakan mobil pria itu. Sementara mobil Natalie sendiri dibawa oleh Vanessa.
"Kita akan makan malam di mana?" tanya Adryan seraya menoleh ke sana kemari.
"Aku yang mengajakmu makan malam, bukan kau. Jadi aku yang akan bertanya. Kau ingin makan malam di mana?" Natalie balik bertanya.
Adryan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau di restoran yang belum lama ini kufavoritkan saja?" pria itu menoleh pada Natalie ternyata sedang memperhatikannya.
"Deal!" Natalie mengangguk cepat.
...***...
"Ini adalah restoran favorit Ka Adryan," ungkap Zenaya, ketika tiba di salah satu Restoran mewah khas Italia.
Reagen baru saja mendapatkan sponsor atas proyeknya yang akan dia kerjakan bersama Jeff. Jadi, demi merayakan keberhasilannya, pria itu mengajak sang istri untuk makan malam romantis. Lagi pula mereka sama sekali belum pernah melakukannya.
"Aa. Selera Ka Adryan bagus juga," sahut Reagen. Pria itu menggandeng tangan sang istri lembut dan masuk ke dalam restoran.
Zenaya mengajak Reagen untuk duduk di dekat jendela.
"Kau suka sekali duduk di dekat jendela ya?" tanya Reagen. Kilas balik tentang kejadian beberapa bulan yang lalu kembali teringat, ketika wanita itu tengah makan siang bersama sahabatnya, Grace.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu?" Zenaya bertanya balik.
"Insting." Jawab Reagen dengan raut wajah jenaka.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
Reagen sibuk memesan beberapa menu makanan spesial, sementara Zenaya menatap sekeliling restoran mewah tersebut. Ada berbagai macam ornamen-ornamen masa lampau hingga masa kini khas Italia yang memanjakan mata. Beberapa lukisan dari seniman-seniman terkenal juga ada di sana, seperti Dante, Leonardo da Vinci, dan Sandro Botticelli.
Zenaya sendiri memang belum pernah pergi ke tempat itu bersama Adryan. Sang kakak hanya pernah menceritakannya ketika dia diundang acara makan malam oleh teman sejawat, tak lama setelah sampai di tanah air.
Pria itu bahkan pernah berjanji, bahwa dia lah wanita pertama yang akan diajaknya kembali ke tempat ini.
Lagu-lagu klasik mulai terdengar. Belum lagi lampu-lampu restoran yang memang sengaja dibuat temaram, agar suasana di dalam sana semakin romantis.
Namun, tiba-tiba Zenaya memicingkan matanya begitu melihat dua sosok yang sangat dikenal baru saja masuk ke dalam restoran.
Saat dua sosok itu mendekat, Zenaya sontak menundukkan kepalanya.
Reagen yang menyadari tingkah sang istri, refleks mengikuti arah pandang istrinya tersebut.
"Jangan menoleh!" seru Zenaya buru-buru sembari mencengkeram erat tangan suaminya.
"Ada apa?" tanya Reagen keheranan. Pria itu menahan ringisannya akibat cengkeraman Zenaya yang kelewat keras.
"Ada Ka Adryan!" jawab Zenaya.
"Mana? Bagus, kan, kalau Ka Adryan ada? Kita bisa mengajaknya bergabung." Reagen hendak menoleh ke belakang kembali.
"Dia sedang bersama seorang wanita." Genggaman tangannya pada Reagen terlepas.
Wanita itu mengerutkan keningnya dalam-dalam guna memastikan, bahwa wanita yang sedang bersama Adryan memang wanita yang dikenalnya.
"Sejak kapan Ka Adryan mengenal Natalie?" tanya wanita itu pada sang suami tanpa melepas pandangannya pada dua sosok yang kini duduk tak jauh dari tempat mereka. Beruntung, lampu di restoran ini sedikit temaram, dan posisi duduk keduanya sedikit membelakangi meja mereka.
Benar saja! Wanita yang sedang bersama dengan kakak iparnya itu, tak lain adalah Natalie. Keduanya terlihat sangat akrab satu sama lain. Beberapa kali Adryan seperti tengah melemparkan lelucon, dan Natalie akan menanggapinya sinis (ciri khas wanita itu), tetapi kemudian dia akan ikut tertawa.
Reagen menatap sahabat baiknya itu lembut. Jelas sekali bahwa Natalie sangat menikmati kebersamaannya dengan Adryan, begitu pula sebaliknya.
"Biarkan saja mereka. Kita juga harus menikmati makan malam ini." Reagen menggenggam lembut tangan Zenaya.
Zenaya membalas senyum Reagen.
Yah, biarlah jika memang mereka bisa bersama. Lagi pula Natalie sebenarnya adalah seorang wanita yang baik. Hanya egonya saja yang sulit diredam.
Adryan sendiri merupakan pria penyabar. Mungkin saja kesabaran hati Adryan dapat menaklukan ego wanita itu.
...***...
Di sepanjang perjalanan pulang, Zenaya tak berhenti tersenyum-senyum sendiri.
Melihat hal itu, Reagen membuka suaranya. "Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Reagen sembari menggenggam tangan Zenaya menggunakan tangannya yang bebas.
"Aku hanya membayangkan Ka Adryan dan Natalie. Ka Adryan selama ini tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita, karena sibuk meniti karir," ujar Zenaya. "Aku benar-benar tak pernah menyangka mereka saling mengenal. Kira-kira di mana ya mereka berkenalan?" Wanita itu menoleh ke arah suaminya.
Reagen mengendikkan bahunya.
Suasana hening mendadak sampai akhirmya Zenaya memekik. "Syuting!" serunya keras.
"Syuting apa?" tanya Reagen sama kerasnya. Pria itu juga ikut terkejut.
"Mereka syuting sebuah acara bersama. Aku menontonnya. Seharusnya Papa yang menjadi narasumber, tetapi sepertinya Beliau sibuk dan meminta Kakak untuk menganggantikannya!" tebak Zenaya. Wajahnya terlihat sumringah.
__ADS_1
"Aah, pantas saja." Reagen tersenyum. Pertanyaan yang juga timbul di benak pria itu akhirnya terjawab.
"Sepertinya kau tak keberatan jika Ka Adryan bersama Natalie?" tanya Reagen penasaran.
Zenaya mengangguk. "Ya. Aku bisa melihat bahwa Natalie adalah wanita yang baik. Kami pernah mengobrol bersama saat ayahnya masuk rumah sakit karena stroke ringan."
Reagen tahu akan hal itu. Dia sempat menghubungi Belinda dan meminta maaf pada Beliau karena tidak dapat pergi menjenguk.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reagen lagi. Dia melepas genggaman tangannya pada sang istri untuk memutar setirnya.
"Yang pasti soal perasaannya padamu. Namun, ada satu hal yang selama ini mengganjal pikiranku," ujar Zenaya kemudian.
"Apa itu?" kata Reagen tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.
"Sebelum kau mencintainya, Rey telah mencintai dirimu terlebih dahulu, jauh sebelum sebelum kau menyadari kehadiran pria itu di sekolah."
Refleks Reagen menginjak remnya secara tiba-tiba hingga membuat Zenaya terkejut.
Wajah wanita itu tampak syok dengan tindakan berbahaya sang suami. Dia sontak mengusap-usap perutnya.
"Kau baik-baik saja? Adakah yang terluka?" Reagen melepas seatbelt-nya dan mendekati Zenaya. Dia menelisik tubuh sang istri sembari ikut mengusap-usap perutnya.
"Kau ... kenapa?" Hanya itu yang mampu Zenaya katakan.
"Maafkan aku, maaf. Aku pikir ada kucing yang tengah menyebrang jalan," kilahnya. "Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Zenaya mengangguk kaku.
"Maaf." Reagen mengecup kening Zenaya dan perut wanita itu. "Maafkan Daddy," bisiknya.
"Aku akan lebih berhati-hati." Reagen kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.
Zenaya memperhatikan waut wajah Reagen yang tampak berbeda. Ada sedikit kegugupan tercetak di sana.
...***...
"Terima kasih atas makan malamnya," ucap Adryan setelah menghentikan mobilnya di depan rumah Natalie.
"Sama-sama. Terima kasih juga atas tumpangannya," balas Natalie tersenyum.
Adryan menganggukkan kepalanya.
Natalie membuka pintu mobil Adryan dan hendak turun dari sana.
"Nat," panggil Adryan tiba-tiba.
Natalie menghentikan kakinya yang hendak turun. Dia menoleh pada Adryan.
Adryan berdeham sejenak. "Bolehkah kita mengulang makan malam yang sama? Tentu saja dengan tempat dan menu yang berbeda."
Natalie menahan tawanya. "Untuk apa?"
Adryan bergeming sesaat. "Aku ingin lebih mengenalmu. Itu jika kau berkenan mengizinkannya," ucap pria itu tulus.
Semilir angin menerpa hati Natalie. Jantungnya yang semula berdetak normal tiba-tiba berpacu sedikit lebih cepat. Tanpa sadar dia menaikkan kembali kakinya yang menggantung di ambang pintu mobil Adryan.
"Untuk apa? Aku bukan wanita yang memiliki etika, seperti katamu!" sahut Natalie ketus.
"Memang ...," kata Adryan jujur.
Natalie sontak terbelalak. Dia hendak membalas hinaan Adryan, tetapi tiba-tiba kakak dari Zenaya itu melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Tetapi aku ingin mengenal wanita unik tak beretika ini."
Natalie bergeming. Wanita itu menggenggam erat handle pintu mobil Adryan.