Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"


__ADS_3

"Jangan mengada-ada, orang lain bisa salah paham dengan perkataanmu soal hubungan kalian. Apa lagi jika sampai terdengar oleh telinga para wartawan," ucap Bryan seraya bersedekap di hadapan Natalie.


"Aku tak masalah jika mereka menggosipkan kami berdua." Natalie mengangkat kedua bahunya cuek.


"Itu bagi dirimu, tetapi tidak bagi Reagen," kata Bryan tanpa memperdulikan perasaan Natalie.


Natalie merasa sakit hati. Dia menolehkan kepalanya pada Reagen seolah meminta persetujuan.


Reagen tersenyum simpul. "Aku akan menjelaskan pada Grace nanti."


Berharap dibela, Reagen justru tak membiarkan gosip itu tersebar. Dia menatap bengis Bryan dan bergegas pergi dari sana. "Aku akan kembali jika sahabatmu itu tak ada di sini!" ketusnya sembari berlalu.


Bryan menggelengkan-gelengkan kepalanya.


"Jangan terlalu keras padanya, bro." Reagen menatap sang sahabat.


"Kau yang terlalu lembek. Jangan hanya lisanmu yang menolak, sikapmu juga harus demikian. Aku yakin Grace pasti akan langsung memberitahu Zenaya soal ini," kata Bryan.


Reagen terdiam. Dia memang menyadari sikapnya pada Natalie yang mungkin banyak membuat orang salah paham. Namun, biar bagaimanapun Reagen tak bisa terang-terangan menjauhi wanita itu, sebab hanya mereka berdualah yang selalu ada pada masa-masa tersulit ketika berada di New York. Mereka bersama memang sempat kuliah bersama di sana.


Meski Reagen dan Bryan tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing hingga jarang bertemu, tetapi mereka akan selalu menyempatkan diri berkomunikasi. Maka dari itu, Bryan mengetahui perihal pertemuan Reagen dan Zenaya di rumah sakit tersebut.


...***...


"Di sini kau rupanya. Aku sempat mencarimu di ruangan dan kantin rumah sakit." Grace duduk di hadapan Zenaya yang tampak fokus menyantap makanannya.


Melihat raut wajah sahabatnya yang tampak kusut, Grace tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"


Zenaya menghentikan suapannya, lalu menatap Grace datar. "Tadinya aku berniat menghampirimu duluan, tetapi ternyata kau tengah mengunjungi para pasien," katanya mengawali pembicaraan.


"Lalu?" Entah mengapa, Grace merasa tak enak hati menunggu jawaban Zenaya selanjutnya.


"Kamar VVIP 503. Aku mendengar semua percakapan kalian termasuk apa yang dikatakan Natalie." Zenaya tersenyum simpul. Meski wajahnya tidak menunjukkan raut apa pun, tetapi Grace yakin hatinya tengah terluka.


Grace memandang Zenaya khawatir. "Maafkan aku yang sempat ingin mendamaikan kalian berdua. Aku berjanji tak akan membiarkan pria itu mendekatimu lagi."


Zenaya menganggukkan kepalanya. " Tapi Grace ...," sorot mata gadis itu berubah sendu. Suaranya pun terdengar bergetar. "mengapa hatiku begitu sakit, padahal aku sangat membencinya?"


Grace dengan sigap berpindah tempat duduk ke sebelah Zenaya dan memeluknya erat.

__ADS_1


Dia sangat mengerti perasaan Zenaya. Bagaimanapun juga, tak mudah melupakan cinta yang sudah lama terpendam hanya dengan satu kesalahan saja. Jauh di dalam lubuk hati sahabatnya, Grace dapat mengetahui bahwa Zenaya masih memiliki rasa itu.


"Jangan menangis lagi."


...***...


Pagi ini adalah jadwal kepulangan Reagen. Jennia yang dari semalam menemani di rumah


sakit, sekarang tengah sibuk merapikan semua barang-barang putra bungsunya itu. Dia sama sekali enggan menerima bantuan salah satu maid-nya yang ikut datang menjemput mereka. Sejak Noah dan Reagen bayi, Jennia memang tidak pernah membiarkan kedua anaknya diasuh orang lain. Sesibuk apa pun, dia akan selalu berusaha mengurus keluarganya sendiri.


"Maaf merepotkan, Ma," ucap Reagen ketika melihat sang ibu begitu apik menata semua barang-barang pribadinya ke dalam koper.


"Tak ada yang direpotkan, Sayang." Jennia tersenyum. Wajahnya menatap puas kedua koper Reagen yang sudah rapi.


Dibantu Frans, supir pribadinya, Reagen duduk di kursi roda. Mereka pun pergi meninggalkan ruangan.


"Ayahmu bilang akan pulang cepat. Kakakmu juga akan berkunjung ke rumah bersama Krystal dan Bella. Kau harus melihat bagaimana cantiknya Bella sekarang," kata sang ibu memberitahu, sembari mendorong kursi roda Reagen.


"Aku tak sabar melihatnya." Reagen tersenyum lembut, membayangkan pertemuannya dengan sang keponakan. Maklum, sejak Bella lahir empat tahun yang lalu, Reagen sama sekali tak pernah menemuinya secara langsung. Mereka hanya berkomunikasi via telepon atau video call saja.


Mereka sampai di depan lift. Tak perlu menunggu lama, pintu lift pun terbuka lebar. Di antara banyaknya orang yang keluar dari sana, Reagen mendapati Zenaya yang tengah sibuk memainkan ponselnya.


Tak ingin kehilangan kesempatan, Reagen memutuskan untuk menemui gadis itu.


"Siapa, Sayang? Mama temani saja ya?" Jennia menatap cemas putranya.


Reagen menggeleng. "Aku hanya ingin berpamitan sebentar."


Melihat raut wajah Reagen yang tak bisa dibantah, Jennia akhirnya mengalah. Wanita itu pun menunggu di lobby bersama sang supir dan maid-nya.


Reagen segera menggerakkan kursi rodanya menyusul Zenaya, begitu sang ibu masuk ke dalam lift.


"Zenaya."


Suara yang sangat familiar membuat Zenaya berhenti tepat ketika akan masuk ke dalam ruangannya.


Zenaya memasang wajah dingin seketika. Gadis itu bersiap meninggalkan Reagen di sana, tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.


"Kau menghindariku," ucap Reagen tiba-tiba.

__ADS_1


Tangan kiri Zenaya berhenti pada kenop pintu. Dia terdiam, seolah tak mendengar apa yang baru saja dikatakan Reagen.


"Maafkan aku." Reagen terdengar sangat menyesal. Dia bergerak menghampiri Zenaya, kemudian berdiri dari kursi rodanya dengan berpegangan pada dinding menggunakan tangan kanannya yang masih lemah. Sementara tangan kiri pria itu menggenggam erat pergelangan kanan Zenaya.


Matanya menatap gadis itu nanar. Tangannya yang hangat kemudian turun ke telapak tangan Zenaya.


Dada Zenaya sontak bergemuruh, bersamaan dengan rasa panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak bereaksi.


"Aku–"


"Pergi dari hadapanku," ucap Zenaya lirih.


"Zen, beri aku kesempatan untuk meminta maaf atas apa yang terjadi beberapa tahun silam," ungkap pria itu. Dia mengeratkan genggaman tangannya.


"Selama sepuluh tahun ini aku selalu dihantui rasa bersalah. Namun, rasa takut akan penolakan maaf darimu jauh lebih besar. Oleh sebab itu, aku tak pernah berusaha datang menemuimu dan memilih melarikan diri jauh dari sini." Entah mau didengar atau tidak, yang jelas Reagen harus mengatakan semua yang dia rasakan saat ini juga.


Reagen bisa merasakan sedikit getaran pada tangan Zenaya.


"Meminta maaf tak akan mampu menutup lukaku yang sudah tersemat lama." Gadis itu akhirnya bersuara. Nadanya terdengar sangat dingin. Berbanding terbalik dengan sorot matanya yang mulai meredup.


"Aku tahu. Maka dari itu ... kumohon, ijinkan aku untuk memulai segalanya dari awal lagi."


Zenaya mengerutkan keningnya dan menatap Reagen penuh tanya. Dia sungguh tak mengerti apa maksud dari perkataan pria itu sebenarnya.


"Aku mencintaimu, Zenaya!" ungkap Reagen penuh penegasan.


Zenaya tersentak hebat. Dia bahkan refleks melepaskan diri dari Reagen hingga membuat pijakan pria itu sedikit goyah.


Detak jantung Zenaya seketika berdetak hebat. Perutnya pun tiba-tiba terasa mual. Ingatan akan perkataan Natalie kemarin langsung terngiang di kepala gadis itu.


Zenaya tertawa bengis. "Selain meminta maaf, kau rupanya juga masih mencoba mempermainkan diriku dengan mengatakan hal menjijikan disaat telah memiliki tunangan," tuturnya sinis.


Reagen terkejut. Dia pikir Grace telah mengatakan segalanya pada Zenaya. Pria itu sama sekali tidak mengetahui, bahwa Zenaya juga ada di sana saat Natalie berkata demikian.


"Kau salah paham. Aku tak pernah–"


"Stop! Aku tak ingin mendengar apa pun lagi!" hardik Zenaya. Dia bergegas masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu.


Air mata keluar dari pelupuk gadis itu begitu pintu tertutup.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Zenaya!"


Pernyataan Reagen barusan benar-benar memporak-porandakan hati Zenaya. Sembari terisak-isak tanpa suara, gadis itu memukul-mukul dadanya sendiri.


__ADS_2