
Kedua penjaga rumah keluarga Winston tertunduk. Mengetahui keadaan nona muda mereka, akhirnya Danny dan Jack memberanikan diri bicara pada Liam. Kebetulan orang suruhan Liam pun berada di sana.
Liam yang mengetahui hal tersebut tak bisa menahan kemarahannya. Dia membanting salah satu vas bunga hingga pecah berserakan di lantai. Matanya kemudian menatap Zenaya melalui pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Gadis itu sedang duduk di atas ranjang tanpa bergerak sama sekali.
Amanda menangis sesenggukan seraya memeluk anak gadisnya. Setelah sadar dari tidur panjangnya, Zenaya hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun pada keluarganya. Kendati begitu, sorot mata gadis itu terlihat kosong dan bibirnya yang pucat sesekali bergetar.
Liam berusaha mengontrol dirinya agar tidak tumbang, sementara tubuh Adryan sudah gemetaran hebat. Air mata mengalir di membasahi wajahnya seketika.
Perasaan bersalah menyelimuti Danny dan Jack. Melihat Reagen sering bertandang ke rumah membuat keduanya tidak begitu mengkhawatirkan Zenaya ketika dia dibawa keluar oleh pria itu.
"Maafkan kami, Tuan. Silakan hukum kami. Kami siap menanggung segalanya." Jack dan Danny hendak bersimpuh, tetapi Liam segera menahannya. Mereka tidak bersalah, jadi untuk apa melampiaskan kemarahannya pada orang lain.
"Bukan kalian yang harus di hukum!" seru Liam dingin.
Suara isak tangis Zenaya kemudian terdengar. Adryan dengan sigap masuk ke kamar, begitu pula dengan Liam setelah menyuruh penjaga dan orang suruhannya pergi.
Perasaan bersalah hadir menghantam batin Adryan. Pria itu merasa gagal melindungi sang adik. Andai saja dia membiarkan Zenaya menunggu di ruangannya dan tidak memaksa gadis itu untuk pulang sendirian, mungkin saja malapetaka tersebut tak akan terjadi.
Adryan mengambil alih posisi Amanda dan memeluk erat tubuh adiknya yang terasa ringkih itu.
Sesaat kemudian, salah seorang maid datang tergopoh-gopoh ke kamar Zenaya dalam keadaan panik.
"Ada apa?" tanya Liam padanya.
"Ada tamu yang datang, Tuan, Nyonya. Mereka ternyata menerobos masuk saat Danny dan Jack pergi." Jawabnya antara takut dan bingung.
"Siapa?" Kini, Adryan yang bertanya.
"Mereka bilang dari keluarga Walker."
__ADS_1
Mendengar nama tersebut tangis Zenaya kontan terhenti. Dia melirik maid itu dingin dan menyuruhnya untuk tak menerima tamu tersebut. Mata gadis itu kemudian beralih pada ayahnya dan memohon untuk mengusir mereka dari sana.
Liam menggertakkan gigi-giginya. Walker merupakan nama belakang Reagen, pasti pria itu yang datang kemari.
Maid tersebut memilin ujung seragam yang dipakainya. "Anu, Tuan ... pasalnya mereka sudah menunggu di depan pintu masuk."
Adryan melepas pelukannya pada Zenaya. "Baguslah, jadi aku tak perlu repot-repot mencarinya."
Liam menoleh pada sang istri untuk menjaga putri mereka agar tetap berada di kamar. Adryan lebih dahulu turun ke lantai bawah, sementara dia mengikuti putranya dari belakang.
Di ambang pintu masuk rumah mereka, berdiri sepasang suami istri berpenampilan rapi dan seorang pria yang tampak kusut, sedangkan di belakang mereka ada juga dua orang lain yang sepertinya merupakan pasangan muda.
"Selamat malam, Tuan Liam Chester Winston." Craig menundukkan kepalanya.
Liam memandang Craig dingin. Baru saja dia hendak bicara, Adryan ternyata sudah menarik kerah kemeja Reagen dan menghempaskannya ke dalam rumah. Pria itu kemudian meninju keras-keras pipi Reagen hingga terjatuh. Tubuh Reagen bahkan membentur pajangan guci bernilai fantastis sampai pecah. Liam dan Adryan tak peduli, masa depan Zenaya jauh di atas segalanya.
"Bedebah sialan, masih berani kau muncul setelah melukai adikku!" pekik Adryan seraya terus memukuli Reagen.
Liam berdiri angkuh sembari memandang Reagen dingin. Semula dia ingin menghajar pria itu, tetapi sang anak ternyata lebih dahulu melakukannya.
Craig menatap Liam sendu. Meski Liam berusaha kuat, tetapi Craig dapat melihat kehancuran yang ada di mata tuanya. Dia memang tidak memiliki anak gadis, tetapi dia sangat memahami bagaimana hancurnya perasaan seorang ayah jika anaknya terluka.
Reagen sendiri sama sekali tidak melawan. Dia menerima pukulan yang diberikan Adryan bertubi-tubi. M4ti pun rasanya dia rela, jika memang itu dapat menebus semua kesalahan fatalnya pada Zenaya.
"Kau sudah menghancurkan hidup adikku, sialan!" Tangis Adryan pecah. Lelehan air mata mengalir membasahi pipinya. Kepedihan yang sedari tadi dia tahan akhirnya lepas juga.
Mendengar suara ribut-ribut di luar membuat Zenaya bangkit dari ranjang. Gadis itu mengkhawatirkan kedua orang tercintanya. Dia memohon pada Amanda untuk membiarkannya keluar dan melihat mereka dari depan kamar. Zenaya benar-benar takut sesuatu hal terjadi pada ayah dan kakaknya.
Amanda pun akhirnya memapah Zenaya keluar dari kamar. Dari balkon lantai dua, gadis itu dapat melihat kekacauan yang dibuat Adryan. Pria itu tengah duduk di atas tubuh Reagen yang sudah tidak berdaya. Sebuah guci pecah tak jauh dari tempat mereka. Liam berdiri sembari memegang dadanya sesekali.
__ADS_1
Tak memiliki tenaga lagi, Adryan berhenti memukuli Reagen, dia bangkit dari atas tubuh pria itu dan terduduk di sebelahnya. Adryan menekuk kedua lututnya lalu menyembunyikan kepalanya di sana. Tangan pria itu gemetar hebat. Bercak d4rah Reagen juga terlihat jelas di buku-buku jari Adryan.
Melihat keadaan sang kakak, Zenaya kontan menangis. Kakinya yang tak kuat berpijak membuat gadis itu jatuh terduduk. Dia bersandar pada teralis balkon lantai dua sembari bergumam memanggil Adryan dan Liam.
Amanda merangkul sang anak guna menenangkan dirinya. Wanita itu pun juga sudah bersimbah air mata.
Reagen bangkit dari posisinya dan duduk di sebelah Adryan. Wajah tampan pria itu benar-benar babak belur setelah dihajar habis-habisan oleh Adryan.
Liam yang berdiri tepat di hadapan Reagen mengeluarkan suaranya. "Mau apa kau kemari sampai membawa keluargamu?" tanya pria paruh baya itu.
Reagen mengelap d4rah yang ada di bibirnya. Dia kemudian duduk bersimpuh di hadapan Liam.
"Uncle, izinkan aku bertanggung jawab dengan menikahi Zenaya." Tak peduli wajahnya sudah babak belur, Reagen tetap mengutarakan keinginannya dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya, tanpa diseret Craig pun, dia memang berniat menemui keluarga Winston.
Zenaya tersentak, begitu pula dengan seluruh keluarganya. Gadis itu menggelengkan kepalanya keras-keras seraya berteriak, "Tidak!"
Reagen beserta seluruh anggota keluarganya refleks menoleh ke arah sumber suara. Mereka tak menyadari bahwa Zenaya sedari tadi memperhatikan keadaan dari lantai dua.
Melihat keadaan Zenaya yang sangat mengenaskan dengan perban sana-sini membuat Reagen terperanjat. Dia pun menanyakan keadaan gadis itu pada Liam.
"Dia hampir m4ti kecelakaan saat lari dari pria bi4dab sepertimu!" jawab Liam dingin.
Reagen terbelalak. Rasa bersalah semakin membumbung tinggi. Jennia yang semula membela anaknya, kini menatap Zenaya sendu. Dia ikut merasa bersalah karena sempat mengasihani Reagen.
Wanita itu kemudian meminta izin pada Liam untuk menemui Zenaya di lantai dua.
Liam menoleh ke arah sang istri, sebelum akhirnya mengijinkan wanita itu untuk menemui Zenaya.
Ditemani Krystal, Jennia naik ke lantai dua. Dia langsung memeluk Zenaya sembari menangis dan meminta maaf atas perlakuan anak bungsunya yang tidak bermoral. Wanita itu juga memeluk Amanda dan meminta maaf padanya.
__ADS_1
Amanda menerima pelukan Jennia dengan hati terbuka. Biar bagaimana pun, Jennia juga pasti merasa terguncang, sama seperti dirinya.
Melihat para wanita terlihat berdamai. Liam menghembuskan napasnya. Pria paruh baya itu mencoba berbesar hati dengan mempersilakan Craig dan Noah untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Dia juga meminta pada salah satu maid untuk mengambil kotak P3K.