Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.


__ADS_3

Reagen berlari masuk ke dalam kantor polisi bersama Noah dan Bryan. Sahabat baiknya itu diminta untuk menjadi pengacara keluarga Walker oleh Craig. Reagen memang meminta sang ayah untuk mengganti pengacara yang lama agar mereka bisa saling bekerja sama.


"Ponsel tersangka ditemukan 425 meter dari lokasi kejadian, tersangkut bebatuan. Tim Digital Forensik tidak bisa memulihkan ponsel tersebut sepenuhnya, tetapi mereka berhasil menemukan sebuah nomor yang tersimpan di dalamnya." Hayden, kepala penyidik kepolisian, memberitahu ketiganya sembari menyerahkan secarik kertas pada Noah.


"Itu merupakan satu-satunya nomor yang tersimpan di sana. Sebenarnya ada beberapa foto dan rekaman suara juga, tetapi sudah tidak dapat dipulihkan." Sambung pria berusia 40 tahunan itu.


"Siapa pemilik nomor telepon ini?" tanya Bryan hati-hati.


Hayden memberikan secarik kertas lain pada Bryan. Baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, Reagen tiba-tiba sudah menutup sambungan teleponnya, begitu mendengar suara seorang pria yang sangat familiar di telinganya. Pria itu bahkan dengan lugas menyebut namanya sendiri.


"Halo, dengan Dokter Alex Simon Cole di sini, ada yang bisa saya bantu?"


"Rey!" teriak Noah saat Reagen berlari keluar menuju mobilnya. Dengan kecepatan penuh, Reagen mengemudikan mobilnya menuju Winston General Hospital.


Hayden memerintahkan para anak buahnya untuk mengikuti Reagen. Mereka memang berencana menangkap pria itu setelah mengorek informasi dari si supir tronton tersebut.


...***...


Grace meletakkan segelas jus dingin pesanan Zenaya di atas meja. Keduanya kini tengah berada di ruangan Grace untuk berbincang-bincang.


"Terima kasih," ucap Zenaya.


"Sama-sama," jawab Grace.


"Sejak dirumahkan, aku jadi sulit sekali menemuimu," keluh wanita hamil itu setelah menyeruput sedikit jusnya.


"Jadwalku padat sampai akhir pekan. Aku bahkan harus ikut seminar di luar kota bersama Dokter John. Entah kapan aku bisa berleha-leha sembari menikmati cokelat panas di depan televisi." Grace menatap Zenaya dengan raut wajah memelas. Matanya kemudian bergulir pada perut buncit sahabatnya itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Grace.


Zenaya refleks mengelus perutnya. "Sangat baik. Tadi Dokter Chelsea tidak banyak memberiku petuah!" kelakarnya.


"Baguslah, itu artinya kalian dalam keadaan prima. Coba kalau Rey ikut, dia pasti akan senang mendengar langsung perkembangan bayi kalian." Grace ikut mengelus perut Zenaya.


Zenaya terdiam sejenak. Dia memang sengaja berbohong dengan mengatakan, bahwa Reagen tengah sibuk di kantor. Walau keduanya tak pernah saling menyimpan rahasia, tetapi untuk masalah yang satu ini, Zenaya memilih menutupinya demi kebaikan mereka sendiri.


"Datang atau tidak datang, kesenangannya pasti akan sama." Senyum lebar menghiasi wajah Zenaya.


"Aih, membuatku iri saja." Grace memajukan bibirnya beberapa milimeter.

__ADS_1


Mendengar peekataan sahabatnya itu, Zenaya sontak memeluk Grace dan tertawa bersama.


"Sudah jam makan siang. Aku masih memiliki waktu satu jam sebelum praktek, bagaimana kalau kau menraktirku makan dulu di kantin bawah?" Grace mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


Zenaya kembali tertawa. "Baiklah, Aunty. Ayo!"


...***...


Suara teriakan para pengunjung rumah sakit menggelegar seketika, kala Zenaya dan Grace tiba di lobby. Sebagian dari para pengunjung berlari ketakutan, dan sebagiannya lagi menghampiri kerumunan yang tampaknya berada di kantin rumah sakit.


Dua orang security berlari melewati mereka.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Grace pada seorang perawat yang ditemuinya.


Si perawat menatap Zenaya dengan raut wajah terkejut. "Dokter Alex dihajar seorang pria, Dok! Pria itu ad—"


"Buuu!" teriakan Jane memenuhi telinga kedua wanita itu.


Jane berlari tergopoh-gopoh menghampiri keduanya dengan napas terengah-engah. "Bu, Suami Ibu berkelahi dengan Dokter Alex!" pekiknya lantang.


Zenaya membelalakkan matanya. "Hah?"


Tak peduli jika Zenaya masih berusaha mencerna kata-kata Jane, gadis tersebut segera menarik wanita hamil itu dan membawanya ke dalam kerumunan.


Sudut bibir Reagen juga terdapat bercak d4r4h, begitu pula dengan dahinya.


Beberapa orang terlihat kewalahan memegangi Reagen, termasuk David.


"Rey!" teriak Zenaya. Dia berusaha menghampiri sang suami, tetapi David buru-buru menghadangnya.


"Menjauh dari sini, berbahaya!"


Zenaya sontak terdiam. Tangannya terasa sangat dingin ketika melihat bagaimana murkanya Reagen pada Alex. Meski tak jelas apa yang dikatakan oleh sang suami pada pria itu, tetapi Zenaya masih dapat menangkap sedikit kata-katanya, seperti, 'mengganggu ketentraman keluargaku', dan 'jauhi istriku.'


Mendengar suara sang istri, Rey menghentikan gerakannya yang hendak memukul Alex kembali.


Bersamaan dengan itu, sekumpulan pria berpakaian biasa tiba-tiba menyeruak masuk dan memborgol kedua pria tersebut.


"Tuan Alex Simon Cole, Anda ditangkap atas tuduhan mendalangi kasus tabrakan beruntun yang terjadi di jalan Wallstreet Center. Anda mempunyai hak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk berbicara dengan seorang pengacara, dan memiliki seorang pengacara yang hadir selama interogasi. Jika Anda tidak mampu membayar pengacara, satu akan disediakan untuk Anda dengan biaya pemerintah." Hak Miranda dibacakan oleh salah seorang anggota kepolisian.

__ADS_1


Sementara itu, Reagen ikut ditangkap karena telah terbukti melakukan penyerangan dan tindakan main hakim sendiri.


Zenaya perlahan menghampiri Reagen.


"Ada apa ini?" tanya Zenaya dengan mata berkaca-kaca. Pasalnya, dia tak pernah melihat Reagen sekalap ini.


"Maafkan aku," ucap Reagen lirih.


"Maaf, Nyonya siapa?" tanya petugas polisi yang berdiri di sebelah Reagen.


"Saya istrinya," jawab Zenaya.


"Kalau begitu, Anda bisa ikut kami," kata polisi tersebut.


Zenaya menganggukkan kepalanya. Didampingi Noah dan Bryan, wanita itu pergi menuju kantor polisi.


...***...


Liam, Amanda, dan Craig datang ke kantor polisi setelah Noah dan Bryan menghubungi mereka.


Ketiganya mendapati Zenaya sedang duduk terdiam di sebelah Grace. Matanya tampak tak fokus.


"Ini semua salahku! Ini semua salahku!" kata Zenaya lirih. Kedua tangan wanita itu bergetar hebat digenggaman sahabatnya. Rasa bersalah kini benar-benar menghantui Zenaya.


Wanita itu sama sekali tidak menyangka bahwa dalang dari kecelakaan yang menimpa keluarga suaminya adalah Alex. Pria itu bahkan dengan perasaan bangga telah mengakui, dan membeberkan satu-satunya alasan yang dia miliki selama ini.


"Ini semua karena kau, Zenaya! Kalau saja kau mau menerimaku, tentu aku tak akan melakukan semua ini!"


Zenaya masih mengingat betul seperti apa Alex meneriaki dirinya tadi. Pria itu juga berusaha mendekati dirinya, jika saja Reagen tidak bergerak maju untuk melindungi sang istri. Kini mereka tengah berada di ruang interogasi terpisah.


"Sayang." Amanda menyentuh pundak putrinya.


Zenaya mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu sendu. "Ini semua salahku, Ma!" Air mata kembali jatuh membasahi pipi wanita itu.


"Ssstt! Sudah, Sayang, kau tidak melakukan kesalahan apa-apa." Amanda berusaha menenangkan hati Zenaya. Dia memeluk dan mengelus-elus lembut punggung putrinya yang kini mulai menangis.


"Aku bersalah," ucap Zenaya.


"Tidak, Sayang." Amanda menggelengkan kepalanya. Dia mencium lembut pucuk kepala Zenaya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Zenaya bergeming tanpa suara.


Kepanikan kecil kemudian terjadi begitu mengetahui, bahwa Zenaya ternyata telah pingsan di pelukan sang ibu.


__ADS_2