
Suasana di dalam apartemen Reagen masih terlihat gelap dan hening, meski pagi telah datang menjelang. Zenaya masih asyik bergelung dalam tidurnya, sementara Reagen yang sudah terbangun sejak tadi masih enggan beranjak dari sana.
Matanya memandangi wajah sang istri dengan penuh cinta. Senyum simpul pria itu mengembang kala Zenaya bergerak dan merapatkan diri ke dalam pelukannya.
Reagen dengan senang hati mendekap tubuh polos sang istri di bawah selimut tebal, sembari sesekali menciumi lembut pundaknya.
Semula, Reagen pikir kehidupan rumah tangganya akan terasa sangat sulit. Terlebih karena mereka memulai ikatan suci itu dengan sesuatu yang salah.
Reagen memaklumi kebencian Zenaya. Namun, terkadang dia iri melihat kehidupan rumah tangga orang lain mau pun keluarganya yang begitu harmonis. Berkhayal apakah dia juga bisa merasakan hal yang sama dengan Zenaya.
Harapan yang tadinya terasa mustahil, perlahan mulai berubah ke arah lebih baik saat Zenaya sedikit demi sedikit mau menerima kehadirannya. Beban mental yang selama ini ditanggung wanita itu pun terkikis seiring berjalannya waktu.
Meski begitu, Reagen masih harus menahan diri. Dia tak ingin kembali membangkitkan rasa takut yang ada pada diri Zenaya jika terlalu terburu-buru.
Tak disangka kesabarannya membuahkan hasil baik. Semua kini terasa sempurna bagi pria itu. Zenaya tak lagi takut pada dirinya. Hubungan mereka tak lagi sekadar terikat tali pernikahan semata.
Lebih dari itu, mereka telah saling memiliki, jauh lebih dalam.
Ingatan Reagen tiba-tiba bergulir pada masa-masa sekolah. Masa-masa ketika Zenaya masih menjadi pengagum rahasianya.
Samar-samar Reagen sebenarnya menyadari tingkah gadis asing itu. Bagaimana reaksinya ketika mereka berhadapan, bagaimana kikuknya ketika mereka bertabrakan tanpa sengaja, atau saat Reagen tiba-tiba memergoki tatapan gadis itu.
Namun, Reagen yang memang tidak memiliki perasaan apa pun padanya tentu saja mengabaikan Zenaya. Sampai akhirnya taruhan itu pun terjadi.
Entah mengapa hal pertama yang Reagen pikirkan saat diminta u tuk memilih seorang gadis adalah sosok Zenaya. Sebab hanya gadis itu lah yang sama sekali tak pernah mencoba mencari-cari perhatian dengan cara norak, seperti gadis-gadis yang lain.
Awalnya Reagen pun tidak memperdulikan kekecewaan dan kemarahan Zenaya, ketika gadis itu mengetahui tipuan atas hubungan palsu yang dia dan teman-temannya buat. Namun, seiring berjalannya waktu Reagen baru menyadari bahwa dia memiliki perasaan pada gadis itu.
Perasaannya bahkan semakin besar ketika Reagen mengetahui, bahwa Zenaya merupakan teman masa kecilnya yang ditemuinya di panti asuhan berpuluh-puluh tahun silam.
Gadis kecil tak bernama yang hanya ditemuinya satu kali. Gadis kecil yang menangis karena ulahnya dulu.
Reagen tertawa miris. Jika diingat-ingat lagi, Pria itu selalu saja menyakiti Zenaya disetiap pertemuan pertama mereka.
Mahkota bunga yang hancur karena tak sengaja diinjaknya, taruhan konyol, dan peristiwa kelam beberapa bulan lalu.
Sejak kecil, Zenaya selalu menangis karena dirinya.
Reagen mengeratkan pelukannya pada sang istri. "Maafkan aku," bisik pria itu lembut, sembari mengelus perut Zenaya dengan penuh sayang.
"Aku mencintaimu. Aku mencintai kalian," ucapnya lirih.
"Aku tahu," jawab Zenaya dalam tidurnya.
Reagen tersentak lalu tertawa kecil. " Aku kira kau masih terlelap."
"Aku memang masih terlelap, tetapi suaramu terlalu dekat dengan telingaku," sahut Zenaya tanpa membuka matanya.
Reagen tersenyum. "Ayo, bangun. Nanti kau bisa terlambat." Reagen kembali bersuara. Sesekali dia menciumi wajah, telinga dan pundak sang istri.
"Bolos sehari tidak akan membuat diriku dipecat. Aku ingin tidur seharian saja." Zenaya menguap kecil lalu menyusup semakin dalam ke pelukan Reagen.
"Jangan begini, kau bisa memancingku lagi," keluh Reagen.
Mendengar peringatan sang suami, bukannya menjauh, Zenaya malah melilitkan kaki pria itu dengan kakinya.
"Zen!" seru Reagen.
Tak ada sahutan. Zenaya rupanya tertidur kembali. Pria itu hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah.
__ADS_1
...***...
"Zen, aku ... loh?" Grace yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Zenaya terkejut saat tak mendapati siapa pun di sana. Ruangannya bahkan masih gelap dan tertutup, tanda bahwa sang pemilik ruangan belum datang.
Grace melirik jam tangannya. "Ke mana dia?"
Wanita itu mengendikkan bahu sebelum akhirnya menutup pintu ruangan Zenaya dan pergi dari sana.
"Aku makan sendiri saja," gumam wanita itu kemudian. Di tangannya terdapat kotak bekal mewah yang baru saja dia bawa dari rumah.
...***...
Zenaya yang baru keluar dari kamar mandi, melirik Reagen tajam. Pria itu tampak fokus menyantap makanannya dengan lahap.
Tanpa mengucapkan terima kasih, wanita itu duduk di hadapan sang suami dan meminum susu yang baru saja dibuatkan oleh Reagen.
Senyum jahil terpatri di wajah tampan Reagen tatkala mendapati raut kekesalan Zenaya masih tertera di sana. "Siapa yang menyuruhmu untuk menggodaku," ujarnya jenaka.
Zenaya tertunduk malu. Dia memang hanya iseng merapatkan diri di pelukan sang suami. Dia pikir Reagen hanya akan sekadar mengeluarkan ancaman karena telah memancing pria itu. Namun, sang suami malah benar-benar membuktikan ancamannya.
Mengingat hal tersebut wajah Zenaya berubah merah padam. Sudah dia yang memulai duluan semalam, dia pula yang memancing pria itu tadi.
Demi menghilangkan rasa malunya, Zenaya memakan sandwich buatan sang suami dengan terburu-buru hingga tersedak.
Reagen tertawa kecil. Pria itu mengambil kan segelas air putih untuk Zenaya dan membantunya minum. "Pelan-pelan saja."
"Diam!" sahut Zenaya ketus.
Mendengar itu, Reagen malah mengeraskan tawanya.
...***...
Selama mereka berumah tangga, baru kali ini keduanya berbelanja bulanan bersama, karena Zenaya lah yang selama ini melakukannya seorang diri.
Wanita itu dengan cekatan memilah-milih bahan makanan apa yang sudah habis tanpa perlu membuat catatan. Wanita itu juga bisa mengetahui mana bahan makanan yang masih segar dan tidak.
Reagen tentu saja tercengang. Dia seperti menemukan satu sisi lain lagi dari sang istri.
"Aku baru menyadari, kalau aku sama sekali belum mengenalmu," gumam Reagen.
Zenaya menghentikan kegiatannya yang tengah memilah-milih daging segar. "Kau bicara apa?" tanya wanita itu.
Reagen menggeleng. "Tidak." Pria itu merangkul pinggang sang istri. "Mulai saat ini kau harus berbelanja bulanan denganku. Jangan sendirian lagi."
"Oke."
Selesai berbelanja, keduanya singgah di sebuah kedai sederhana pinggir jalan yang mereka lewati. Salah satu menu yang Zenaya baca menarik perhatiannya.
Tanpa canggung wanita itu memesan dua porsi makanan berat dan seporsi kudapan untuk dirinya sendiri.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kau takut tubuhku berubah jadi gemuk?" tanya Zenaya seraya memicing.
Reagen menggelengkan kepalanya. "Gemuk, kurus, hitam, putih, wanita mana pun tetaplah cantik."
"Aku tak percaya ada pria yang tidak memandang fisik wanita," ujar Zenaya.
"Memang banyak pria yang berlaku demikian, tetapi bukan aku salah satunya." Reagen tersenyum lembut. "Justru aku ingin bertanya. Bagaimana jika nanti tubuhku berubah tua? Mungkin saja kepalaku akan botak, atau mungkin saja aku akan berada di atas kursi roda karena sudah tak kuat lagi berjalan. Apa kau akan pergi meninggalkanku?"
"Tentu saja tidak. Aku pun akan ikut menua bersamamu. Kecuali jika aku seorang vampire," jawab Zenaya tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Keduanya saling melempar tawa.
...***...
Alex mengetahui ketidakhadiran Zenaya di rumah sakit. Pria itu semula ingin meminta maaf pada atas perbuatannya semalam jika bertemu dengan Zenaya. Sekaligus menanyakan keadaan wanita itu yang harus pulang seorang diri ke apartemen.
Namun, saat Alex sampai di apartemen dan tanpa sengaja mendapati kebersamaan Zenaya dan Reagen yang baru keluar dari mobil, rasa bersalah itu menguap seketika.
Alex pikir Zenaya tidak masuk karena sakit. Dia juga memahami jika wanita itu sedang menghindarinya dengan tidak datang ke rumah sakit. Namun perkiraannya ternyata salah. Wanita itu terlihat sangat baik-baik saja. Dia bahkan tampak sangat bahagia dengan pria asing yang menjadi suaminya itu.
"Kau tak pernah tertawa seperti itu padaku, Zen," gumam Alex dingin.
Tanpa pikir panjang Alex turun dari mobil dan ikut masuk ke dalam apartemen.
"Tak kusangka kita bertemu di sini," ujar Alex tiba-tiba. Pria itu berdiri di belakang Reagen, Zenaya dan seorang security yang membantu membawakan barang-barang belanjaan mereka.
Zenaya tersentak. Tanpa sadar dy merapatkan diri pada tubuh sang suami.
"Rey, apa kabar?" tanya Alex sembari mengulurkan tangannya.
"Sangat baik. Maaf aku tak bisa membalas jabatan tanganmu," ucap Reagen sembari mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan plastik belanjaan.
"Ahh, aku tak menyadarinya." Alex tertawa. "Zen, apa kabar?" Pria itu kemudian mengulurkan tangannya pada Zenaya.
Zenaya bergeming sejenak, sebelum akhirnya membalas jabatan tangan Alex sekilas, agar tidak membuat Reagen curiga.
"Dari yang kudengar, kau tidak masuk bekerja? Kenapa? Apa kau sakit?" tanya Alex.
"Ya, aku sedikit tak enak badan," jawab Zenaya tanpa ekspresi.
Mendengar raut wajah Zenaya dan nada suaranya yang berbeda, memantik kekesalan di hati pria itu.
Lift pun terbuka. Mereka menggunakan lift umum karena ada salah seorang security yang ikut ke atas.
"Ahh, begitu rupanya." Alex mengangguk-anggukan kepalanya.
"Besok mungkin Zenaya akan kembali bekerja." Reagen ikut bersuara. Matanya memandang sang istri seraya melempar senyum.
Pria itu berusaha mengabaikan senyum manis yang Zenaya tujukan pada Reagen. Belum lagi tingkah wanita itu yang merangkul lengan suaminya erat-erat.
"Ada apa denganmu?" Menyadari perubahan tingkah laku yang ditunjukkan Zenaya membuat Reagen tak tahan untuk tidak bertanya. "Kau lelah?"
Zenaya menganggukkan kepalanya.
"Tampaknya kau masih tidak enak badan, Zen?"Alex menoleh ke arah Zenaya. "Sepertinya kau perlu membawa istrimu ke rumah sakit, Rey," usul Alex sembari mengalihkan pandangannya pada pria itu.
"Kau mau ke rumah sakit?" tanya Reagen pada Zenaya.
"Tidak. Aku hanya ingin cepat sampai dan langsung tidur," jawab Zenaya.
Lift berhenti tepat di lantai tempat Alex tinggal. "Kalau begitu aku permisi dulu. slSenang bisa bertemu kalian, Rey, Zen. Kuharap kau bisa segera sembuh dan beraktifitas kembali seperti sediakala." Alex membungkukkan badannya.
"Terima kasih, Lex," ucap Reagen ramah. Sementara Zenaya enggan memandangnya.
Pria itu keluar dari dalam lift.
Senyumnya masih terpampang jelas hingga pintu lift tertutup kembali, dan membawa pasangan suami istri itu pergi.
"Senyum itu hanya untukku, Zen, seperti yang dulu kau lakukan padaku!"
__ADS_1