
Dua minggu sudah Zenaya berada di rumah sakit. Kini dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah Dokter Chelsea memastikan bahwa keadaan mereka telah baik-baik saja.
Selama dua minggu berada di rumah sakit, Reagen dengan telaten merawat sang istri yang hanya bisa berbaring di ranjang. Dari mulai mandi, berganti pakaian, hingga menyuapinya makan. Pria itu sama sekali tidak memperbolehkan seorang perawat punemegang istrinya selama dia ada di sana.
Semula Zenaya merasa risih, tetapi wanita itu tak bisa berbuat apa-apa karena dia memang harus melakukan hampir segala kegiatannya di atas ranjang. Beristirahat total dapat membuat plasenta dapat melindungi rahim dan mengurangi risiko keguguran.
Zenaya hanya akan turun dari ranjang ketika pergi ke kamar mandi. Itu pun harus berjalan perlahan-lahan.
"Untuk saat ini, kurangi aktifitas yang berlebih dan jangan terlalu lama berdiri. Banyak konsumsi buah yang mengandung asam folat seperti alpukat dan berry. Apel juga sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, karena di dalam nutrisinya dapat mengurangi risiko pendarahan." Dokter Chelsea memberikan sedikit wejangan pada pasangan suami istri itu.
Reagen dan Zenaya mendengarkan dengan saksama, begitu pula dengan Amanda yang ikut menjemput sang putri. Sementara Jennia tengah berada di luar kota bersama Craig, demi memenuhi undangan salah seorang koleganya yang mengadakan pesta pernikahan emas.
"Namun, satu hal yang paling penting adalah, jaga hati dan pikiran. Jangan biarkan hal-hal yang mengganggu, tertanam dalam kepala terlalu lama," pesan sang dokter kemudian.
Zenaya menganggukkan kepalanya.
Reagen menatap sang istri dengan raut wajah sendu. Dalam hati dia berjanji tak akan lagi ada kesalahpahaman di antara mereka seperti kemarin.
"Syukurlah, berarti cucu dan anak saya benar-benar dalam kondisi sehat, kan, Dok?" tanya sang ibu kemudian.
Dokter Chelsea mengulas senyum ramah. "Nyonya tidak perlu khawatir. Dydrogesterone yang saya berikan untuk Mrs. Zenaya pun tidak perlu dikonsumsi lagi."
Amanda tersenyum senang.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," pamit wanita itu pada mereka bertiga.
Setelah Reagen mengurus administrasi, mereka pun pulang ke apartemen Reagen.
Tadinya Liam bersikeras untuk menyuruh mereka tinggal sementara waktu di sana. Namun, Craig ternyata tidak mau kalah. Tak ingin melihat kedua calon kakek itu berdebat sengit, Reagen pun memutuskan untuk pulang saja ke apartemen mereka.
...***...
Sesampainya di apartemen, Reagen membantu Zenaya duduk di sofa. Sementara Amanda membereskan pakaian putrinya tersebut.
"Biar aku saja yang bereskan, Ma," ujar Reagen tak enak.
"Tidak apa-apa, Sayang." Tolak Amanda halus. Wanita itu malah menyuruh sang menantu untuk mengeluarkan bahan-bahan makanan yang ada, agar dapat dia olah nanti.
Saat di jalan, Zenaya memang sempat meminta dibuatkan makan siang dari tangan sang ibu.
Selesai merapikan seluruh pakaian Zenaya, wanita paruh baya itu langsung melesat ke dapur.
Dibantu menantunya, Amanda dengan cekatan menyiapkan makan siang spesial untuk mereka.
...***...
David baru saja keluar dari lift ketika dia bertemu dengan Alex. Pria berusia 39 tahun itu tampaknya sedang menunggu seseorang di lobby.
"Dokter Alex?" sapa David ramah.
Alex menoleh. "Ahh, Mr. David. Anda baru mau pulang?" tanya pria itu.
David mengangguk. "Ya. Bagaimana dengan Anda? Sepertinya Anda tengah menunggu seseorang."
__ADS_1
"Ya, saya menunggu jemputan. Melelahkan membawa mobil sendiri." Jawab Alex.
"Kalau begitu saya duluan, Dok," kata David bersiap untuk pergi meninggalkan Alex.
"Ahh, saya tadi sempat melihat Anda mengintip ruang perawatan Zenaya. Kebetulan dia sudah pulang tadi siang." David menelisik reaksi Alex.
Alex bergeming sejenak, sebelum kemudian mengeluarkan tawa kecilnya. "Ya, saya memang berniat ingin menemuinya, tetapi ternyata dia sudah pergi."
"Iya. Syukurlah Zenaya tak membutuhkan waktu lama di sini. Suaminya dengan telaten merawat wanita itu hingga bisa pulih kembali. Dia bahkan mengorbankan waktu istirahatnya untuk menunggui Zenaya. Sungguh suami yang siap siaga. Mereka pasti begitu saling mencintai. Semoga tak ada pengganggu dalam kehidupan rumah tangga mereka." David sengaja menekan beberapa kata terakhirnya saat berbicara.
Alex terlihat kikuk. Tawanya yang semula mengembang kini terhapus dari wajah pria itu.
"Ya, semoga tak ada yang mengganggu kebahagiaan mereka," ucapnya tak seantusias tadi.
"Saya permisi, Dok. Hati-hati di jalan." David membungkukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Alex.
Mimik mukanya yang semula ramah berubah datar. Pasalnya, David memergoki Alex berdiri di depan ruang perawatan Zenaya bukan hanya sekali dua kali saja.
Dia mungkin tidak akan mencurigai Alex, jika pria itu benar-benar masuk ke dalam sana, bukan hanya berdiri mematung di depan ruangan Zenaya selama beberapa saat, lalu pergi meninggalkan tempat.
Dia yakin benar jika tangisan Zenaya beberapa waktu lalu, adalah bentuk dari rasa ketakutan yang mendalam pada pria tersebut.
Di lain sisi, Alex menatap kepergian David dengan tatapan tak terbaca.
Tangan pria bertubuh tinggi besar itu terlihat mengepal erat.
...***...
"Iya, Ma. Aku akan memikirkannya." Zenaya mengulas senyum.
Suara bel apartemen berbunyi. Reagen dengan sigap membukakan pintu apartemen.
Pria itu mengangguk hormat pada Adryan yang datang untuk menjemput sang ibu, sekaligus melihat kondisi adiknya. Selama empat hari ke belakang, dia tak bisa menyempatkan waktu untuk menemui Zenaya karena jadwal operasinya sangat padat.
Adryan melirik sekilas lalu masuk ke dalam ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di tangannya terdapat sekeranjang buah segar yang dia bawa untuk adik satu-satunya.
Reagen menghela napas pasrah. Menaklukkan hati seorang Adryan tampaknya jauh lebih sulit dari pada istrinya sendiri.
Adryan mencium pipi Amanda dan Zenaya. "Mulai sekarang, kau harus mengganti semua camilanmu dengan ini." Pria itu meletakkan sekeranjang buah di atas ranjang.
"Pasti dari Dokter Chelsea lagi?" Zenaya memicing kesal. Selama mereka tak bertemu, dia memang selalu meneror Dokter Chelsea demi menanyakan kondisi sang adik.
Adryan tertawa.
Mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya pamit pulang, sebab Adryan harus melakukan operasi pagi-pagi sekali.
Reagen mengantar keduanya sampai di lobby apartemen.
"Titip Zenaya ya, Sayang," pesan Amanda.
"Baik, Ma," jawab Reagen patuh. Dia membukakan pintu mobil untuk mertuanya.
Pria itu menunggu di sana hingga mobil kakak iparnya benar-benar menghilang dari pandangan.
__ADS_1
BRUGH!
"Sorry, aku ... Rey!" pekik Alex yang baru tiba di apartemen.
"Ahh, Alex. Baru pulang,?" tanyanya ramah.
"Ya. Kudengar, Zenaya sudah pulang. Baru aku akan menjenguknya. Maklum, kesibukan menghalangiku untuk datang menemui Zenaya lebih cepat." Alex tertawa kecil.
"Ya, kami baru tiba tadi siang."
"Baiklah, sampaikan salamku untuk Zenaya. Semoga dia lekas pulih dan bisa kembali beraktifitas seperti biasanya," ucap Alex.
"Terima kasih." Reagen melempar senyum. Keduanya pun berpisah di depan lift, karena Reagen langsung menaiki lift pribadinya.
Di dalam lift, Reagen mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Bayang-bayang saat Zenaya diperlakukan buruk oleh pria itu membuat Reagen ingin sekali menghajar Alex. Namun, Bryan memintanya untuk menahan diri dulu. Apa lagi hilangnya Frans menimbulkan sedikit kecurigaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
Dydrogesterone merupakan jenis hormon progestasional sintetis yang bermanfaat untuk mengatasi kurangnya hormon progesteron.
Tidak hanya itu saja, obat penguat kehamilan ini juga mempunyai manfaat lainnya seperti merawat lapisan rahim.
__ADS_1