
"Zen!" teriak Alex sekali lagi. Kakinya berusia mengimbangi langkah kaki Zenaya yang lincah berlari ke sana kemari.
Zenaya berhenti dan menoleh ke belakang. "Lama sekali, sih ... Uncle," ucapnya sembari terbahak-bahak. Gadis kecil itu kembali berlari mengitari taman belakang panti.
Mendengar ejekan tersebut, semangat Alex tiba-tiba saja bangkit. Rasa lelah yang tadi sempat mendera hilang seketika. Gadis kecil itu memang senang sekali mengejeknya demikian. Dia bahkan tidak pernah memanggil dirinya 'Kakak', padahal usia mereka terpaut sangat jauh, yaitu 10 tahun. Dirinya bahkan lebih tua dari usia kakak kandung Zenaya, Adryan.
Namun, meski pun sering bertengkar setiap kali bertemu, entah mengapa Alex tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis kecil itu.
Zenaya berhenti saat melihat seekor kelinci putih tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Wow! Alex lihat ini!" teriak Zenaya sembari menunjuk kelinci putih tersebut.
Alex yang baru datang mengatur napasnya terlebih dahulu. Untung saja ini sudah memasuki musim dingin, jadi dia tidak terlalu berkeringat. Kendati begitu, tetap saja napasnya kembang kempis.
"Payah deh, Om!" ejek Zenaya sekali lagi.
"Bocah kecil seusiamu itu memang memiliki energi berlebih, kau baru akan merasakannya nanti saat seusiaku!" seru Alex ketus.
Zenaya mengendikan bahunya dan kembali fokus pada kelinci putih tersebut.
...***...
Alex berlari seperti orang kesetanan menuju bangunan panti. Di punggungnya terdapat tubuh kecil Zenaya yang tampak tidak berdaya. Mata gadis itu juga terpejam.
"Bertahanlah, Zen!" seru lelaki itu. Dia mempercepat langkah kakinya.
Orang tua keduanya beserta seluruh penghuni panti terkejut melihat kedatangan Alex yang menggendong Zenaya dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Kenapa dengan Zenaya, Alex?" tanya Amanda sambil mengambil anak gadisnya itu dari punggung Alex.
"Tidak tahu, Aunty, tiba-tiba saja dia pingsan saat hendak kembali ke sini."
Liam segera memeriksa kondisi tubuh sang anak, sementara Alex menatap cemas dari jauh.
Perasaan bersalah jelas tergambar di wajah lelaki itu. Walau bukan dia penyebabnya, tetap saja Alex merasa bertanggung jawab.
Liam meminta izin pada pemilik panti untuk membaringkan Zenaya sejenak di kamar tamu. Ditemani Amanda, gadis kecil itu beristirahat di sana.
Liam memegang bahu Alex yang tengah bersandar di pintu masuk panti.
Alex menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana keadaan Zenaya, Uncle?" tanyanya.
Liam tersenyum. "Tidak apa-apa, Zenaya ternyata sedang demam. Mungkin baru sekarang tubuhnya merasakan sakit. Kau tahu sendiri bagaimana anak seusia dia, kan? Jadi, kau tak perlu khawatir," jawab pria itu, berusaha menenangkan hati remaja tanggung tersebut.
"Aku mengerti. Maafkan aku, Uncle." Alex tertunduk.
"Tidak perlu meminta maaf. Jika kau ingin menemuinya, silakan saja." Liam kembali mengulas senyum ramah.
__ADS_1
Sedetik setelah mendapatkan izin dari Liam, Alex segera melesat menuju kamar yang ditempati Zenaya.
Robert terlihat menghampiri Liam untuk menanyakan keadaan putrinya.
Alex masih bisa mendengar suara Liam yang mengatakan bahwa Zenaya baik-baik saja.
Alex mengetuk pintu kamar perlahan. Dia membukanya dan melangkah masuk ketika Amanda menjawab ketukannya.
"Ahh, Alex, kau di sini rupanya. Kemari, Nak." Amanda melambai-lambaikan tangannya pada Alex.
"Maafkan aku, Aunty. Aku kurang menjaga Zenaya," ucap Alex dengan raut wajah penuh penyesalan.
Amanda menepuk kepala Alex. "Zenaya hanya mengalami demam biasa, Nak. Uncle dan Aunty bahkan tidak menyadari hal itu, padahal kami berdua merupakan tenaga medis. Terima kasih sudah mau menolong Zenaya ya?"
Alex menganggukkan kepalanya.
"Ahh, Aunty mau mengambil minum dulu. Aunty titip Zenaya sebentar ya?" pinta Amanda.
"Baik Aunty."
Amanda pun meninggalkan kamar tersebut.
Sepeninggal ibu dari Zenaya, Alex beringsut mendekati gadis kecil yang sedang terpejam itu.
Di dahinya terdapat kompres. Dengan cekatan Alex membantu mengompres Zenaya sembari sesekali menenangkan gadis kecil itu yang tampak meringis.
"Alex," ucap Zenaya dengan mata terpejam.
...***...
Alex terbangun dari tidurnya. Mata pria itu terlihat kosong.
Akhir-akhir ini dia selalu memimpikan Zenaya. Mimpi tersebut sontak mengingatkan Alex pada kenangan-kenangan masa lalu yang sempat dia lalui bersama Zenaya.
"Apa dia benar-benar tidak mengenaliku?" gumam Alex. Meski sudah dua puluh empat tahun berlalu, dia merasa wajahnya tidak banyak berubah.
"Aku merindukanmu, Zen,"gumamnya sekali lagi. Tangan pria itu mencengkeram erat kaos di dadanya. Mengetahui fakta tentang Zenaya membuat panas pada tubuhnya kembali menguat ke permukaan.
"Zen,"
...***...
Senyum kebahagiaan terbit di wajah Alex ketika bertemu dengan Zenaya di lobby apartemen. Wanita itu berjalan seorang diri menuju ke luar gedung.
"Zen," panggil Alex.
Zenaya menoleh ke belakang. "Alex!"
__ADS_1
Alex berlari kecil menghampiri Zenaya. "Mau berangkat kerja?" tanya pria itu
"Iya." Jawab Zenaya.
"Tidak diantar suamimu?" tanya Alex memastikan.
Zenaya menggelengkan kepalanya. "Ada rapat penting hari ini dan dia tidak boleh terlambat."
"Kalau begitu, kita bisa berangkat bersama dari pada kau harus naik taksi." Alex berinisiatif mengajaknya.
"Tidak perlu, Lex, aku akan menggunakan gKsi saja." Tolak Zenaya halus.
"Oh, ayolah! Aku hanya ingin menebus kebaikanmu waktu itu." Alex memasang waut wajah menelas.
"Kau sudah menebusnya dengan membayarkan ongkos taksi penuh." Zenaya melempar senyum simpul.
"Come on! Hanya sekali ini saja," desak Alex. Pria itu terus-menerus memaksa Zenaya untuk ikut dengannya.
Zenaya tampak menimbang-nimbang terlebih dahulu sebelum akhirnya menyetujui tawaran dari Alex. Tak ada salahnya diantar seorang teman, lagi pula mereka bekerja di tempat yang sama.
Namun, sepertinya Zenaya tidak perlu mengatakan ini pada sang suami demi menghindari pertengkaran.
Entah mengapa, Zenaya merasa sedikit risih saat Alex memasang lagu-lagu romantis di mobilnya.
"Sepertinya kau orang yang romantis," puji Zenaya tanpa sedikit pun merasa curiga.
"Ya, aku memang tipe pria romantis. Saking romantisnya, aku sampai rela menautkan hati pada gadis di masa lalu." Jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Wow, sudah berapa lama kau menyukainya?" tanya Zenaya.
"Jika dihitung dari usiaku sekarang, itu berarti sudah 24 tahun yang lalu. Artinya saat aku berusia 15 tahun, aku sudah menyukai seorang gadis."
Zenaya terperangah mendengar jawaban Alex tersebut. Sangat jarang seorang pria bisa menyukai wanita selama itu.
"Kau masih remaja tetapi sudah memiliki seseorang untuk di kenang dalam hatimu," kata Zenaya.
Alex tersenyum. "Kau tahu Zen, cinta pertamaku masih berusia 5 tahun saat itu," ujarnya.
Mata Zenaya kontan terbelalak. "Kau menyukai gadis yang baru bisa berjalan!" pekiknya.
"Hei, aku terlihat seperti remaja p*d*fil."
Zenaya tertawa. "Maaf, bukan begitu. Hanya saja, lucu mengetahui seorang remaja bisa melihat seorang gadis kecil dengan perasaan cinta."
Alex ikut tertawa.
"Lalu, ke mana gadis kecil itu?" tanya Zenaya penasaran.
__ADS_1
Alex bergeming sesaat, sebelum akhirnya menoleh ke arah Zenaya. "Dia ada di sini." Jawabnya lugas.
Zenya mengernyitkan dahinya. Entah mengapa mendengar jawaban Alex tersebut, membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika.