
Selama beberapa hari belakangan ini, Zenaya dibuat heran dengan perubahan sikap keluarganya. Terlebih keluarga sang suami. Mereka kini terlihat lebih memperhatikan keadaan wanita itu, apa lagi ketika dia menginap di rumah keluarga Walker.
Sudah empat hari Zenaya menginap di sana. Itu pun atas desakan ibu mertuanya yang tiba-tiba menyuruh Sean untuk datang menjemput dirinya malam itu juga, tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Maaf ya, Sayang, kamu jadi Mama culik malam-malam begini. Mama hanya terlalu rindu pada kalian," kata Jennia saat menyambut kedatangan sang menantu waktu itu. Beliau tersenyum sumringah, sembari mengelus perut Zenaya lembut.
"Sehat-sehat di sana ya, cucu Grandma," ujar Jennia lirih. Dia berusaha menahan getaran pada suaranya agar tidak terdengar Zenaya.
"Tidak apa-apa, Ma," balas Zenaya tersenyum.
Selama menginap di sana, Zenaya sama sekali tidak dibiarkan melakukan apa pun, dan hanya dimanjakan.
Meski heran, dia tidak pernah menanyakan alasannya pada Jennia. Wanita itu hanya menganggap semua yang dilakukan keluarga sang suami merupakan bentuk kasih sayang yang diberikan mereka. Apa lagi, usia kehamilan Zenaya sudah memasuki trimester tiga.
Namun, ada satu kebiasaan baru yang disadari oleh Zenaya, yaitu kepergian sang ibu mertua setiap hari, persis jam sarapan tiba. Malah, tak jarang dia pergi sembari membawa bekal makanan untuk seseorang.
Saat Zenaya menanyakan alasannya, wanita itu menjawab jika ada salah satu kerabat keluarga yang tengah sakit. Jarak rumah mereka yang dekat membuat Jennia dimintai tolong untuk datang menjenguk setiap hari.
"Bekal ini untuk kakaknya yang menjaga di sana."
Itulah jawaban sang ibu mertua, ketika Zenaya menanyakan perihal kotak bekal yang dia bawa.
Zenaya mengangguk paham. Dia pun menawarkan diri untuk ikut, tetapi Jennia menolaknya.
"Kau harus istirahat yang cukup, Sayang. Mama hanya pergi sebentar." Seulas senyum terpatri di wajah Jennia.
"Istirahat yang bagaimana? Setiap hari juga aku selalu di rumah dan hanya makan, tidur saja." Zenaya membatin.
...***...
"Ma, Mama mau menemui kerabat yang sakit lagi?" tanya Zenaya begitu turun dari lantai dua. Waktu masih menunjukan pukul 6 pagi, tetapi Jennia sudah rapi dan sedang sibuk memasukkan beberapa lauk sederhana ke dalam kotak makanan yang ada di meja.
"Iya, Sayang," jawab Jennia tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak makanan tersebut.
"Ini masih sangat pagi, biasanya Mama akan pergi di atas jam tujuh." Zenaya memandang heran ibu mertuanya.
"Supaya bisa pulang lebih cepat. Jadi Mama bisa mengobrol denganmu, Sayang." Jennia mengangkat kepalanya dan menatap Zenaya lembut.
__ADS_1
Selesai dengan kotak bekalnya, wanita itu buru-buru pamit pergi. "Jangan lupa sarapan, ya? Mama akan segera pulang. Kakakmu, Krystal, juga akan datang sebentar lagi untuk menemanimu." Jennia mencium kening dan perut Zenaya, sebelum berlalu dari hadapannya.
Zenaya mengangguk patuh. Dia mengantar Jennia sampai ke depan dan memperhatikan wanita itu hingga menghilang dari pandangannya. Begitu memastikan Jennia benar-benar pergi, Zenaya bergegas naik ke lantai dua untuk mengambil jaketnya.
Sejak semalam, sebenarnya Zenaya sudah berniat ingin membuntuti ibu mertuanya. Dia benar-benar penasaran pada kerabat keluarga yang tengah sakit tersebut, sebab beberapa kali Jennia terlihat begitu sangat khawatir. Memang tidak ada yang aneh dengan mengkhawatirkan keluarga sendiri, tetapi tentu sangat ganjil jika beliau sampai menangis terisak-isak setiap kali pulang ke rumah.
Zenaya hanya ingin tahu, seberapa dekat hubungan mereka hingga membuatnya begitu bersedih.
Salah satu maid sempat memergoki Zenaya saat akan keluar dari rumah.
"Mau ke mana Nyonya? Saya diperintahkan Nyonya Jennia untuk menemani Anda." Maid tersebut membungkuk hormat.
"Aku ingin pulang sebentar, tadi aku juga sudah meminta izin," jawab Zenaya berbohong.
Tanpa curiga, maid tersebut mengizinkan Zenaya pergi. "Apa perlu saya temani, Nyonya?" tanyanya.
"Tidak perlu, di sana ada ibuku." Zenaya mengulas senyum ramah sebelum pergi melangkah keluar rumah.
Menggunakan taksi Zenaya mulai menebak-nebak ke mana perginya sang ibu. Beruntung, mobil yang dikendarai Sean ternyata masih berada di kawasan perumahan mereka.
"Ikuti diam-diam SUV hitam itu ya, Pak," pinta Zenaya pada sang supir taksi.
Entah mengapa jantung Zenaya semakin berdebar begitu mobil yang dikendarai Sean memasuki area parkir St. Maria Hospital.
Pasalnya, jarak rumah sakit tersebut cukup jauh dari kediaman keluarga Walker.
"Memangnya sejauh apa rumah kerabat mereka, sampai rumah Papa dan Mama saja terbilang paling dekat?" Batin Zenaya.
Zenaya sontak menyembunyikan diri saat melihat Jennia turun dari mobil. Dia benar-benar memastikan Jennia masuk ke dalam gedung rumah sakit, dan Sean pergi memarkirkan mobil terlebih dahulu, sebelum akhirnya turun dari taksi.
...***...
"Aunty." Bryan berdiri dari kursinya saat melihat kedatangan Jennia.
Wanita itu memeluk Bryan dan menyerahkan sekotak bekal untuk pria itu. Setiap hari, Jennia sebenarnya selalu membuatkan bekal untuk Bryan yang hampir tidak pernah beranjak dari sisi Reagen. Sejak Craig menegurnya, Bryan bersedia pulang ke rumah untuk tidur. Namun, keesokan paginya pria itu pasti sudah berada di sana mendahului yang lain.
"Tidak perlu repot-repot lagi, Aunty," ujar Bryan merasa tak enak.
__ADS_1
"Harusnya Aunty yang bilang begitu." Jennia menepuk pundak Bryan.
Jennia menoleh ke dalam ruang ICU, dan mendapati Adryan tengah berada di sana. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca.
"Bryan, tolo– ada apa, Nak?" tanya Jennia saat menyadari bahwa Bryan sedang mematung. Wajah pria itu terlihat sangat syok sembari menatap ke arah lain.
Jennia mengikuti arah pandang Bryan.
"Ze–zen ...," ucap Jennia terbata-bata, saat mendapati sosok Zenaya berdiri di ujung koridor, memperhatikan mereka.
Perlahan, wanita hamil itu melangkah menghampiri keduanya hingga berhenti tepat di sebelah mereka.
Kepalanya menoleh ke kiri, tepat di mana sosok Reagen dan Adryan tertangkap indera penglihatannya.
Wajah Zenaya sama sekali tidak berekspresi, kendati air mata sudah mengalir deras membasahi wajah pucatnya.
"Apa yang selama ini kalian coba sembunyikan dariku?"
Hanya itu sebaris kalimat yang mampu Zenaya keluarkan. Dadanya luar biasa sesak tatkala menatap sosok sang suami tengah terbaring tak berdaya di dalam sana.
Zenaya menguatkan diri. Dia berusaha tetap berteguh pada pijakannya yang mulai goyah.
Adryan yang terkejut mendapati sosok Zenaya berada di sana, bergegas keluar dari ruang ICU.
"Zen," panggil Adryan lirih.
Zenaya menoleh ke arah Adryan. Sorot mata wanita itu terlihat sangat rapih dan hancur. Dengan langkah tertatih, dia berjalan menuju Adryan dan menampar wajah kakaknya.
"Apa yang sudah kau sembunyikan dariku!" teriak Zenaya tertahan.
Adryan tertunduk. Pria itu membiarkan Zenaya kembali menamparnya sekuat tenaga. Dia bahkan menghardik sang kakak dengan kata-kata kasar.
Bryan memegang kedua bahu Zenaya dari belakang, untuk membantu menenangkan wanita itu. Namun, Zenaya langsung menepis keras tangan Bryan. Dia juga mencaci maki pria itu.
Segenggam perasaan kecewa dan marah benar-benar melingkupi dirinya. Terlebih, saat mendapati sosok sang kakak juga berada di sana. Itu berarti, hanya dirinya lah yang tidak mengetahui apa-apa soal Reagen.
Pijakan Zenaya tiba-tiba goyah. Dia bersandar pada kaca dan jatuh terduduk. Adryan dan Bryan dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dengan keras.
__ADS_1
Sambil memeluk perutnya, Zenaya menangis terisak-isak di sana. Jennia yang juga telah banjir oleh air mata sontak mendekap menantu keduanya itu seerat mungkin.
Wanita paruh baya itu tak bisa mengatakan apapun, selain hanya permohonan maaf yang berkali-kali keluar dari mulutnya.