Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 57: Fransisco Arthur William.


__ADS_3

Amanda dan Jennia berlari tergopoh-gopoh memasuki ruang perawatan Zenaya. Keduanya mendapati keadaan anak perempuan mereka yang tengah terbaring tak sadarkan diri.


Reagen yang duduk di sebelah Zenaya tersentak ketika Jennia memegang bahunya lembut.


"Ma," ucap Reagen lirih.


"Bagaimana keadaan Zenaya, Sayang?" tanya Jennia. Wanita itu menatap sendu keadaan sang putra yang terlihat kacau.


Reagen menoleh ke arah ibu mertuanya yang kini memeluk Zenaya penuh sayang. Wanita itu kemudian ikut menanyakan hal yang sama pada menantunya.


"Zenaya harus bedrest di rumah sakit selama kurang lebih dua minggu. Dia kelelahan dan stres. Terlambat sedikit saja, kami bisa kehilangan ...." Reagen tak sanggup menyelesaikan perkataannya. Pria itu tertunduk lesu di hadapan sang ibu.


Melihat kerapuhan yang terpancar dari sorot mata Reagen, Amanda segera menghampirinya dan memeluk pria itu erat.


"Maafkan aku, Ma. Aku tak bisa menjaga Zenaya dengan baik." Reagen kontan meminta maaf. Suaranya terdengar parau.


"Tidak, Sayang. Kau sudah menjaganya dengan baik. Buktinya mereka tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan ya?" Amanda mengelus kepala Reagen layaknya mengelus anak sendiri.


Jennia tersenyum haru. Reagen jarang memperlihatkan sisi kemanusiaannya seperti menangis, dan kini dia memiliki itu.


Adryan masuk sesaat kemudian. Pria itu hampir saja menghajar Reagen jika sang ibu tidak segera menahannya.


Reagen sama sekali tidak menghindar. Dia membiarkan sang kakak ipar menarik kerah kemeja dan mencekik lehernya.


"Ryan, lepaskan adikmu!" teriak Amanda. "Dia juga sama khawatirnya denganmu, Sayang," ujar wanita itu lirih.


Jennia meneteskan air matanya. Dia tak bisa melakukan apa pun saat ini untuk melindungi putranya tersebut.


"Kak, hentikan." Suara lemah Zenaya mengalihkan perhatian mereka.


Adryan mengendurkan cengkeraman tangannya pada kerah kemeja Reagen. Dia mendorong tubuh pria yang lebih tinggi lima centimeter darinya itu, dan berjalan menghampiri sang adik.


"Kau baik-baik saja, Zen?" tanya Adryan seraya mengelus lembut rambut Zenaya.


Zenaya menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja," jawab wanita itu lemah.


Adryan mencium kening Zenaya. "Beristirahatlah. Hubungi Kakak jika kau butuh sesuatu. Kakak tak ingin kejadian ini terulang kembali."


Zenaya tersenyum simpul dan mengiyakan perkataan Adryan. "Jangan marah padanya ya, Kak?" pinta Zenaya.


Adryan menatap Reagen sekilas. "Ini adalah kali terakhir dia menyakitimu. Tak ada kesempatan lagi."


"Terima kasih, Kak," ucap Zenaya tersenyum.


Pria itu menemani sang adik selama beberapa saat, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan karena ada panggilan darurat di UGD. Sementara Amanda dan Jennia menunggu di sana sampai Liam dan Craig datang.


...***...


"Tuan, ini laporan yang Anda minta tadi pagi." Juan menyerahkan selembar kertas berisi biodata seseorang pada Alex.


Alex menerima kertas tersebut dan membacanya dengan teliti. Kertas tersebut berisi biodata Fransisco Arthur William, sekretaris pribadi Reagen yang berusaha mengulik catatan kriminalnya.

__ADS_1


Kening Alex berkerut. Tak ada yang istimewa dari biodata tersebut. Pria itu merupakan orang biasa yang hanya bersekolah sampai tingkah menengah atas. Catatan kriminalnya bersih. Prestasinya di sekolah bahkan tidak ada. Sementara untuk keluarga, dia tidak memilikinya sama sekali.


"Hanya ini? Pria itu memiliki teman seorang penyidik di Perancis, dan biodatanya hanya ini saja?" tanya Alex memastikan.


"Iya, Tuan. Saya sudah berkali-kali memeriksanya dan memang hanya itu yang bisa saya dapatkan. Dia sempat mengambil kuliah jurusan sastra, tetapi di DO karena tidak memiliki biaya." Juan menjelaskan apa yang dia ketahui selanjutnya.


Alex melipat kertas tersebut dan menaruhnya di laci. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seorang sekretaris pribadi berhasil mengetahui seluk-beluk hidupnya?


"Mustahil! Aku harus mencari tahu siapa orang itu sebenarnya," gumam Alex dingin.


...***...


Hari sudah semakin larut, tetapi Reagen sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Dia terus menatap Zenaya yang tertidur di ranjang, seraya menggenggam lembut tangan wanita itu.


Sesekali, Reagen juga terlihat mencium punggung tangan sang istri.


"Kenapa tidak tidur?" Mata Zenaya tiba-tiba terbuka.


"Ah, kau terganggu ya? Maafkan aku," ucap Reagen seraya melepaskan tangan Zenaya.


Zenaya menggeleng. Dia mengambil tangan sang suami dan memegangnya erat. Tadi, setelah seluruh keluarganya pergi, mereka telah saling berbicara dari hati ke hati.


Zenaya meminta maaf pada Reagen karena tidak langsung berkata jujur. Dia tak ingin Reagen terpancing emosi dan malah membahayakan dirinya sendiri.


Demikian pula dengan Reagen. Pria itu meminta maaf pada Zenaya atas perlakuannya yang tidak manusiawi, hingga nyaris membuat mereka kehilangan sang bayi.


"Maafkan aku sekali lagi," ucap Reagen. Matanya menatap Zenaya penuh cinta.


"Aku akan mengatakannya ribuan kali," ujar pria itu sembari menciumi tangan Zenaya, sebelum kemudian beralih pada perut sang istri dan mengelusnya hati-hati.


"Maafkan Daddy. Terima kasih sudah mau bertahan. Daddy sangat mencintaimu." Reagen mengecup perut Zenaya lama.


"Tidurlah, kau bisa sakit jika terlalu memaksakan diri. Aku baik-baik saja," kata Zenaya.


"Kau pun tidak memiliki jam tidur yang baik ketika menungguiku pulang."


Zenaya tak bisa memaksa. Dia membiarkan sang suami menjaganya sampai wanita itu tertidur kembali.


...***...


Frans yang baru saja selesai membasuh tubuhnya kontan terkejut, saat lampu kamar mandi mati secara tiba-tiba. Pria itu keluar dari sana dan mendapati seluruh ruangan apartemennya dalam keadaan gelap gulita.


Dengan santai Frans berjalan dalam gelap menuju sakelar lampu tanpa kesulitan sama sekali. Pria itu mengandalkan indera pendengarannya, demi menghindari barang-barang yang ada di sekitar.


Saat berhenti di depan sakelar, tiba-tiba Frans merasakan embusan angin yang terasa sangat samar.


Suasana hening sejenak. Tangan Frans meraba sakelar lampu dan bersiap menyalakannya.


Pria itu melirik ke kanan dan ke kiri tubuhnya terlebih dahulu, sebelum kemudian menyalakan lampu apartemen, dan melayangkan t3ndangan ke arah dua orang pria bertopeng yang sudah mengepungnya, hingga tersungkur.


Kedua pria itu bertopeng itu bergegas bangun dan kembali memasang kuda-kuda. Masing-masing dari mereka memegang sebil4h pis4u lipat yang siap diarahkan ke tubuh Frans.

__ADS_1


Frans mengeratkan ikatan handuk yang melilit pinggangnya.


Kedua pria bertopeng itu kembali menyerang tubuh polos Frans. Namun, Frans berhasil menghindari semua serangan mereka.


"Siapa kalian?" tanya Frans ketika dia berhasil melayangkan pukul4nnya.


Mereka tidak menjawab. Salah satu pria bertopeng itu malah mengambil vas bunga yang ada di sudut ruangan, dan mel3mparnya ke kepala Frans.


D4rah segar sontak keluar dari dahi pria.


"Ini vas mahal milikku," ujarnya dengan raut wajah kesal. Kali ini, Frans tak lagi menghindari serangan mereka. Dia melepas selembar handuk yang melilit pinggangnya dan mengh4jar kedua pria itu menggunakan handuk tersebut.


Pria itu melilit tangan kedua musuhnya menggunakan handuk, dan memutar tubuh mereka hingga pis4u yang berada di tangan keduanya terlempar jatuh.


Dalam sekejap, Frans menghajar pria satunya hingga pingsan. Sementara yang satu lagi dia telungkupkan di lantai.


"Siapa kalian?" tanya Frans sembari meng1njak kepala pria tersebut menggunakan kaki satunya. Dia bahkan masih sempat memasang kembali handuknya yang tadi digunakan sebagai senj4ta.


Suara rintihan terdengar dari mulut pria misterius itu.


"Jawab!" Suara Frans terdengar dingin.


"Tu vas bientôt mourir! (kau akan segera mat1!)"


Frans mengernyit saat mendengar bahasa yang digunakan pria itu.


"Essaie si tu peux. (Coba kalau bisa.)" Frans men3ndang kepala pria bertopeng itu hingga pingsan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Saya sempat tertukar nama antara supir pribadi dan asisten / sekretaris Reagen, Sean dan Frans. Sampai sekarang masih saya cari bab mana yang masih menggunakan nama Sean sebagai asisten /sekretaris pribadi Reagen (pusing kepala nyarinya ... wkwkwk)


Kakak-kakak kalau engeh, mohon diberitahu ya?


Kalau sudah ketemu, note ini akan saya hapus.

__ADS_1


Terima kasih, 😘😘


__ADS_2