
Seorang wanita cantik berpakaian anggun terlihat berlari menyusuri lobby rumah sakit. Ia ikut masuk ke dalam lift bersama beberapa orang pengunjung dan perawat yang kebetulan terbuka.
"Tolong, lantai lima," pintanya pada salah seorang pengunjung yang berdiri dekat pintu masuk. Matanya menatap cemas layar monitor lift, berharap segera sampai di lantai yang ia tuju.
Saat lift berhenti di lantai lima, dengan cepat wanita itu segera menerobos keluar dari sana.
"Di mana kamar Reagen Aaron Walker?" tanya wanita itu ketika sampai di nurse station.
Seorang perawat terperangah memandangnya, lalu menunjuk lorong mewah yang berada di sebelah kiri wanita itu.
"Hei, dia Natalie, kan?" tanya si perawat pada teman sejawatnya.
Gadis yang diajak bicara itu menganggukkan kepalanya sembari memandangi kepergian Natalie.
Tanpa berterima kasih Natalie segera berlari menuju lorong yang dimaksud sang perawat tersebut.
Terdapat beberapa kamar perawatan di sana, dan salah satunya adalah ruang perawatan yang ditempati oleh Reagen. Mata Natalie kontan terbelalak saat mendapati Reagen tengah berdiri di sebelah ranjangnya dengan bertopang pada lengan Bryan.
"Rey!" teriak wanita itu.
Reagen menoleh ke arah pintu. "Natalie," sapanya ramah.
Natalie segera berlari dan memeluk pria itu hingga membuatnya nyaris terhuyung.
"Ups!" Reagen dengan sigap menahan pinggang ramping Natalie.
"Kau sudah pulang syuting?" tanya Reagen ramah.
Natalie menelisik keadaan Reagen dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan pria itu.
"Bagaimana keadaan kaki dan tanganmu? Apa kau benar sudah baik-baik saja? Mengapa bisa kau dirawat di ruang VVIP? Setahuku, rumah sakit ini memiliki ruangan President Suite. Pelayanannya sudah pasti jauh lebih baik!" Wanita itu memberondong Reagen dengan macam berbagai pertanyaan.
"Wow, relax girl. Rey baru saja selesai terapi dan harus beristirahat," ujar Bryan.
Reagen tersenyum kecil. "Di kelas mana pun, pelayanannya akan sama," ucapnya lembut. "dan kau bisa lihat bahwa aku hampir seratus persen baik-baik saja."
Natalie menganggukan kepalanya dan kembali memeluk Reagen, sebelum akhirnya membantu pria itu untuk berbaring di ranjang.
Natalie yang kini berprofesi sebagai seorang aktris memang tengah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Wanita itu bahkan baru saja mendarat setelah sepuluh hari syuting di luar kota. Oleh sebab itu, dia baru bisa menemui Reagen.
Bryan sendiri juga sama sibuknya dengan Natalie. Pengacara itu sedang fokus menangani kasus besar yang terjadi di salah satu sektor pemerintahan.
Ketiganya lalu berbincang santai mengenai kondisi Reagen. Syukurlah pria itu rencananya akan diperbolehkan pulang keesokan harinya, dan hanya harus menjalani rawat jalan sekaligus fisioterapi seminggu empat kali.
__ADS_1
Menurut dokter John, masa pemulihan tubuh Reagen memang terbilang cukup cepat. Padahal sang dokter sempat memperkirakan, bahwa dibutuhkan waktu tiga sampai enam bulan untuk dapat sembuh total. Namun, baru dua minggu saja Reagen sudah dapat berjalan beberapa langkah. Jika begini terus, tak sampai dua bulan pria itu mungkin saja sudah bisa beraktifitas kembali.
Mengetahui hal baik tersebut, Reagen pun mendesak sang ayah agar bisa langsung bekerja sepulangnya dari rumah sakit. Meski harus tetap duduk di kursi roda untuk sementara waktu, hal itu sama sekali tidak menghambat niat Reagen.
Bryan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sahabat kentalnya itu memang dikenal sebagai workaholic. Bryan bahkan pernah mengatakan bahwa Reagen mungkin baru mau berhenti bekerja bila koma atau meninggal dunia.
"Benar-benar ... hanya koma dan mati saja yang dapat membuatmu berhenti memikirkan pekerjaan," ujar pria itu sadis.
Reagen tertawa, sementara Natalie menghardiknya keras seraya melempar sebuah kotak tisu ke arah Bryan.
Bryan mengangkat bahunya, tampak tak peduli pada sikap Natalie.
Saat sedang asyik berbincang, Grace kemudian datang ke ruangan Reagen. Hampir setiap hari sebelum makan siang, wanita itu memang selalu berkeliling menemui para pasiennya, meski pun itu di luar jam visite. Itulah mengapa dia menjadi salah satu dokter idola di rumah sakit ini.
"Bagaimana kabar Anda, Tuan Reagen?" tanya Grace formal. Walau keduanya merupakan teman semasa SMA, tetap saja Grace harus bersikap profesional. Apa lagi saat ada orang lain.
"Rey saja, Grace," pinta Reagen.
Grace mengerling pada Bryan dan Natalie.
Seakan memahami arti tatapan Grace, Reagen pun tersenyum. "Kau kenal mereka," ujar pria itu sembari mengalihkan pandangannya pada Bryan dan Natalie. "Bryan, Natalie, Grace adalah salah satu dokter yang menanganiku. Kalian pasti sudah mengenalnya," kata Reagen.
Bryan mengernyitkan dahinya, menelisik penampilan Grace dengan saksama dari atas ke bawah, sedangkan Natalie memandang wanita itu dingin.
"Bryan?" Grace tak kalah terkejut. Matanya kemudian bergulir pada Natalie. "Natalie?"
Natalie tersenyum dingin. "Rupanya kau masih mengenal diriku." Wanita itu melipat kedua tangannya di dada.
Grace bersumpah ingin sekali menghajar wanita itu menggunakan stetoskop di lehernya.
Siapa yang tidak mengenali aktris terkenal itu, dan dia menyesali dirinya sendiri yang telah menyapa wanita sombong itu duluan.
Bryan mencoba mengalihkan perhatian Grace dan meminta wanita itu untuk tak mengambil pusing atas sikap Natalie.
Suasana yang sempat tegang sesaat mencair karena Bryan mengajak mereka berbincang santai. Tepatnya hanya Bryan, Grace dan Reagen saja yang saling berbincang, sementara Natalie lebih senang memperhatikan Reagen sembari sesekali menatap Grace sinis.
Dalam hati, Natalie tak menyangka akan bertemu dengan sahabat dari Zenaya, Grace. Dia tahu betul rumah sakit ini merupakan milik keluarga Zenaya, tetapi bisa bertemu dengan teman lama, terlebih itu adalah sahabat Zenaya membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.
...***...
"Pagi menjelang siang, Bu," sapa Adel ketika Zenaya tiba di nurse station lorong VVIP.
Zenaya tersenyum seraya menjawab sapaan tersebut. "Ke mana dokter Grace? Aku mencari ke ruangannya, tetapi dia tidak ada," tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Oh, seperti biasa, Bu, dokter Grace sedang menemui para pasiennya. Sekarang Beliau tengah berada di kelas VVIP," jawab perawat tersebut.
Zenaya berterima kasih padanya lalu berjalan masuk ke lorong khusus kelas VVIP. Lantai lima memang diperuntukan khusus untuk kelas perawatan teratas. Di lorong yang dia masuki sekarang ini merupakan kelas VVIP, sementara arah sebaliknya merupakan kelas President Suite.
Biasanya Grace akan selalu datang menghampiri Zenaya di ruangannya saat jam makan siang, tetapi kini dia berinisiatif menemui sahabatnya duluan.
Zenaya menghentikan langkahnya begitu melihat papan nama kecil yang ada di depan salah satu pintu ruangan.
'Reagen Aaron Walker'
Bersamaan dengan itu, terdengar suara Grace dan beberapa orang di sana sedang berbincang-bincang.
"Kau tampak semakin cantik saja, Natalie. Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu model terkenal di sini," puji Grace basa-basi.
Zenaya tersentak. Dia tak mungkin melupakan nama yang baru saja disebutkan oleh sahabatnya itu. Zenaya mengintip sedikit dari balik kaca kecil yang tersemat di pintu itu. Selain Grace, ada juga seorang wanita cantik dan pria tampan yang ada di sana.
Tak perlu menganalisa lebih dalam, dia sudah dapat menebak siapa wanita yang tengah bersama Grace. Maklum, Natalie memang sering wara-wiri di televisi, jadi wajar saja jika Zenaya langsung mengenalinya.
"Tentu saja." Natalie tersenyum angkuh. Grace membalasnya dengan raut wajah yang sama.
Tak ingin lebih lama berhadapan dengan wanita itu, Grace memutuskan pamit pada mereka.
"Jadi, tunanganku benar baik-baik saja, kan, dokter Grace?" tanya Natalie sembari menekankan kata 'tunanganku' padanya.
Pertanyaan yang dilontarkan Natalie kontan saja membuat Grace terkejut. Zenaya yang mendengar pertanyaan itu dari balik pintu juga tak kalah terkejutnya dengan Grace.
Mendadak, tangan Zenaya terasa dingin setelah mendengar sebutan Reagen yang keluar dari mulut Natalie. Ternyata, penantian Natalie selama ini tidak sia-sia. Mereka kini telah bertunangan.
Sekelumit perasaan tak nyaman hadir mengisi relung hati Zenaya. Berbagai macam pertanyaan hadir di benaknya saat ini, terutama soal sikap Reagen ketika bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.
Zenaya mengepalkan tangannya. Reagen sama sekali tidak berubah.
Terlalu muak berada di tempat itu, dia memutuskan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Grace keluar dari ruangan beberapa saat kemudian. Wanita itu tak tahu harus bereaksi apa ketika mendengar penuturan Natalie soal hubungannya dengan Reagen. Namun yang jelas, kemarahan tampak terpancar di wajah cantik wanita itu.
"Aku mencintainya, Grace!"
Perkataan yang sempat diungkapkan oleh Reagen kini bagaikan omong kosong belaka. Buat apa pria itu mengakui perasaannya jika saat ini dia telah bertunangan dengan wanita lain?
Sejak dulu, Reagen tak pernah mencintai Zenaya. Perasaannya selama ini bukanlah cinta seperti yang dia lihat, melainkan hanya seonggok rasa bersalah atas apa yang telah terjadi sepuluh tahun lalu. Beruntung, Zenaya tidak pernah menanggapi pria itu. Jika tidak, sahabatnya pasti akan tersakiti lagi.
Grace tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia menggertakkan giginya sembari bersumpah akan menghajar Reagen jika mereka bertemu di luar rumah sakit.
__ADS_1