Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 12 : Pertemuan Kembali.


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Hari ini langit tidak begitu cerah, saat Zenaya baru saja sampai di rumah sakit. Gadis itu baru datang siang hari karena harus menemani sang ayah seminar terlebih dahulu di salah satu kampus. Hubungannya dengan Grace pun sudah kembali baik-baik saja. Pasca dua hari Zenaya mendiamkan sahabatnya tersebut, dia memutuskan untuk menelepon dan meminta maaf pada wanita itu.


Pertemanan mereka selama belasan tahun membuat keduanya tak mampu bertengkar lama, begitu pun halnya dengan Alice dan Emily.


"Siang, Bu," sapa para staf rumah sakit dan beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Mereka membungkuk hormat meski Zenaya berkali-kali melarangnya untuk melakukan hal itu.


"Siang juga." Jawab Zenaya ramah. Dia pun sempat diajak berbincang dengan dua perawat muda yang tengah asyik bergosip di depan lift.


"Ganteng orangnya, loh, Bu. Tapi sayang, Beliau harus mengalami kecelakaan tepat saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Padahal itu adalah kepulangan pertamanya setelah 10 tahun merantau di negeri orang. Untunglah sekarang keadaannya sudah semakin membaik dan sedang terapi fisik dengan Mr. David di lantai lima," ujar Jane, salah satu perawat muda yang baru saja diangkat sumpahnya.


Zenaya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalian ini, dilarang membicarakan pasien, loh," ujar gadis itu seraya bertolak pinggang.


Kedua perawat tersebut pun terkikik malu. "Maaf, Bu. Habis yang ini tidak bisa dilewatkan." Jane menyenggol Celeste untuk meminta persetujuan.


Celeste yang lebih senior dari pada Jane mengamini perkataannya. "Maaf, Bu, kali ini aku setuju dengan Jane."


Zenaya tertawa kecil. "Dasar! Ingat untuk tetap profesional dalam bekerja ya?"


Dua perawat kontan bersikap hormat. " Siap, Bu," ucap keduanya serempak. Bersamaan dengan itu pintu lift di depan mereka terbuka. Zenaya masuk seorang diri karena dia akan naik ke lantai lima, sementara Jane dan Celeste turun ke basement untuk membantu meninjau obat-obatan yang baru datang.


"Dah, Ibu." Jane dan Celeste melambaikan tangannya pada gadis itu. Zenaya membalas lambaian tangan mereka sembari memberi peringatan untuk tak lagi bergosip saat tengah bekerja. Beberapa perawat muda memang terlihat tak canggung dekat dengannya. Maklum, selain sikap Zenaya yang sangat ramah, dia juga merupakan salah satu dari lima orang petinggi rumah sakit berusia muda.


Selepas pintu lift tertutup, wajah gadis itu seketika berubah dingin. Jelas sekali dia tahu siapa yang tengah dibicarakan kedua perawat tadi.


Beberapa saat kemudian lift berhenti di lantai lima, tempat di mana ruangannya berada.


Zenaya menghembuskan napasnya tatkala mengingat perkataan Jane, bahwa pria itu tengah melakukan fisioterapi di lantai lima. Itu artinya, dia harus melewati tempat tersebut untuk sampai ke ruang kerjanya. Ruang fisioterapi khusus pasien VVIP memang berada di lantai itu.


"Good. Lakukan sekali lagi, setelah itu kita selesai," ucap Mr. David pada Reagen yang sedang berjalan dengan bertumpu pada paralel bar.


Reagen menyanggupi perintah David. Tubuh bagian kirinya yang berfungsi normal sedikit memudahkan pria itu untuk membantu menopang tubuh bagian kirinya, jika hendak terjatuh.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, jangan bebankan tubuh bagian kirimu. Perlahan-lahan saja melangkah," ujar sang terapis.


Reagen mengangguk paham. Dia pun mulai fokus melangkah perlahan-lahan mengikuti arahan David. Namun, tanpa disadari oleh pria itu, Zenaya tengah berdiri di balik pintu kaca ruangan tersebut.

__ADS_1


Zenaya memperhatikan Reagen dengan tatapan datar. Pria itu masih terlihat sama seperti yang ada di ingatannya sepuluh tahun lalu. Hanya saja, garis wajah Reagen terlihat lebih tegas dan dewasa. Tubuhnya pun terlihat semakin tinggi, terbukti dari tinggi paralel bar yang digunakan bukanlah ukuran standar.


David yang sedang mengalihkan pandangannya ke sekelilinh ruangan tiba-tiba melihat Zenaya yang sedang berdiri di luar. Pria itu pun meninggalkan Reagen sebentar dan menghampiri Zenaya.


"Zen, seminarnya sudah selesai?" tanya David ketika dia membuka pintu ruangan.


Zenaya sempat terkejut. Rupanya dia sedang melamun, sampai tak menyadari bahwa David kini ada di hadapannya.


"Belum. Seminarnya masih lama, jadi aku memutuskan untuk kemari duluan," jawab Zenaya tersenyum ramah.


David mengangguk paham.


"Sepertinya kau sedang sibuk, sebaiknya aku tidak menganggu," ujar Zenaya, bersiap untuk pergi dari sana sebelum Reagen melihat ke arah mereka.


"Tidak juga. Hari ini hanya ada satu pasien saja yang aku tangani. Sebenarnya sekarang merupakan jatahku libur, tetapi ayahmu memintaku untuk menangani pasien yang satu ini. Maklum, dia adalah anak bungsu dari pemilik Walker Group." David memasang wajah pasrah, kemudian tertawa kecil. Pria itu memang salah satu terapis muda terbaik yang dimiliki Winston General Hospital. Banyak dari kalangan orang penting dan terkenal memintanya untuk menangani terapi mereka. Jika jadwalnya sedang sangat padat, pasien bahkan harus rela menunggu giliran sampai beberapa hari.


"Ahh, begitu rupanya." Zenaya mengangguk kecil. Pantas saja David harus mengorbankan hari liburnya. Keluarga Reagen ternyata secara khusus memintanya langsung pada sang ayah, agar pria itu diprioritaskan.


"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya? Lain kali kita makan siang bersama. Kau terlalu terpaku dengan Grace sampai menolak ajakan makan siangku terus." David menepuk pundak Zenaya.


Zenaya meringis. "Ok." Dia pun pergi meninggalkan ruangan fisioterapi tanpa menoleh lagi ke dalamnya.


...***...


Beberapa staf dan petugas medis bersuka cita saat melihat salju pertama turun dari balik jendela rumah sakit. Hal yang sama dirasakan oleh Zenaya. Entah mengapa, gadis itu selalu menyukai momen saat pertama kali salju turun.


Demi menikmatinya, Zenaya memutuskan untuk keluar dari ruangannya, menuju taman buatan yang ada di lantai lima. Setiap lantai di rumah sakit tersebut memang memiliki taman buatan, agar pasien bisa tetap berjalan-jalan sembari menghirup udara segar tanpa harus turun ke lantai bawah.


Zenaya membuka pintu gedung. Sudah ada beberapa pasien dan juga staf rumah sakit di sana. Mereka menyapa Zenaya ramah begitu melihat gadis itu datang.


"Indah ya, Bu," ujar Jane tiba-tiba.


Zenaya berjengit kaget. "Loh, kamu ngapain di sini?" tanyanya. Setahu gadis itu, Jane bertugas di bagian cuci darah yang berada di lantai tiga.


"Di sini, kan, lantai paling tinggi, Bu. Jadi lebih terasa suka citanya kalau melihat salju dari sini," jawab Jane seraya memamerkan gigi-gigi putihnya.


"Kalau mau lebih terasa lagi, naik ke rooftop, Jane." Zenaya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Aiihh, Ibu." Jane pura-pura merengut, lalu tertawa. Tak ingin mengganggu ketenangan Zenaya, perawat ramah itu pun pamit meninggalkannya.


Taman sudah mulai sepi. Hanya tinggal tiga orang pasien saja yang masih menikmati salju bersama salah seorang sanak keluarga yang menemani mereka.


Setelah beberapa saat berlalu, gadis itu pun berniat pergi dari sana. Jam pulang kerjanya memang sudah lewat sejak tadi.


Zenaya berjalan menuju satu-satunya pintu yang menghubungkan taman dan gedung rumah sakit.


Saat jaraknya sudah semakin dekat, tiba-tiba Zenaya menghentikan langkahnya. Dari balik kaca rumah sakit yang transparan, dia bisa melihat dengan sangat jelas, seorang pria yang duduk di atas kursi roda sedang bergerak menuju ke arahnya.


Zenaya mundur saat pintu mulai terbuka.


Reagen yang dengan susah payah berhasil keluar dari gedung, tiba-tiba terpaku ketika di hadapannya berdiri seorang gadis yang selama ini dia rindukan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note: Paralel Bar.

__ADS_1



__ADS_2