
Hari ini Zenaya tengah berada di kediaman keluarga Walker untuk memenuhi undangan Jennia. Wanita yang baru saja lepas dari kursi roda itu, mengajak kedua menantu tercintanya untuk membuat kue bersama.
Karena Reagen sudah berangkat duluan ke kantor, Jennia akhirnya meminta tolong Sean, supir keluarga Walker yang lain, untuk menjemput menantu bungsunya itu.
Dibantu beberapa orang koki, mereka membuat berbagai macam hidangan manis, seperti Lemon Drizzle Cake, Welsh Cake, Muffin, hingga minuman Pim's tanpa alkohol.
Sembari menunggu kue matang, Jennia mengajak kedua menantunya tersebut untuk melihat-lihat foto kenangan suami mereka sewaktu kecil.
"Krystal sudah sering melihatnya, dan kini kau harus melihatnya juga, Sayang." Jennia menyerahkan setumpuk album foto lama di hadapan Zenaya.
Zenaya sengaja duduk di bawah seraya bersandarkan pada sofa, agar lebih nyaman. Satu persatu dia membuka lembaran demi lembaran foto tersebut.
Zenaya tampak takjub, sebab ibu mertuanya begitu apik merawat album-album foto keluarganya. Beliau bahkan dengan telaten menyusun foto-foto tersebut secara berurutan, dari waktu ke waktu.
Foto pertama yang Zenaya lihat adalah foto tentang Reagen. Lembaran pertama berisi potret Jennia yang sedang mengandung anak bungsunya itu.
Jennia muda begitu cantik dan mempesona. Kendati tengah hamil tua, dia masih tetap gagah menggendong Noah yang masih berusia lima tahun. Di foto-foto berikutnya, Jennia bahkan menggendong Noah di belakang.
"Kak Noah sepertinya lincah sekali," terka Zenaya dengan raut wajah jenaka.
"Memang. Mama pikir, dia akan menjadi anak yang jahil ketika adiknya lahir, tetapi ternyata tidak. Noah sangat menyayangi Rey." Senyum keibuan terpatri di wajah cantik sang ibu. Meski sudah berkepala 6, kerutan-kerutan masih tampak samar di wajah beliau.
Kulitnya pun masih terlihat kencang. Begitu pula dengan Craig yang masih terlihat gagah. Wajar saja jika kehidupan kedua mertuanya itu masih sangat harmonis.
Kemesraan mereka mengingatkan Zenaya pada kedua orang tuanya.
Zenaya membuka lembar foto berikutnya. Ada foto Reagen yang sedang merangkak ke arah ayahnya.
"Papa tampan sekali!" seru Zenaya spontan. Wajah beliau muda bahkan jauh lebih tampan dari pada kedua putranya.
Jennia tertawa. "Reaksimu barusan persis seperti kakakmu waktu pertama kali melihatnya," ujar wanita itu sembari melirik Krystal yang tengah terkikik.
Zenaya menoleh ke arah Krystal dan tertawa.
Dia kemudian membuka lembaran-lembaran foto lain. Termasuk salah satu lembaran foto yang membuat Zenaya terpaku seketika.
Semula, Zenaya merasa bahwa dia mungkin saja salah lihat. Oleh sebab itu, dia meminta izin pada sang ibu untuk mencabut foto tersebut.
"Silakan, Sayang." Jennia mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah Jennia memberikan izin, dia pun melepasnya dari album foto. Dilihatnya dengan saksama, potret orang-orang yang ada di dalam foto, terlebih, potret seorang gadis kecil yang sedang berdiri di sebelah bocah lelaki tampan.
"Ini Rey, Ma?" tanya Zenaya.
"Iya, Sayang," jawab Jennia.
Setelah meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya, Zenaya pun memekik terkejut. "Ini Panti Asuhan Hou Van God!"
"Kau tahu tempat itu, Sayang?" tanya Jennia.
__ADS_1
"Sangat tahu, Ma, dan ini aku!" Zenaya menunjuk sosok gadis kecil yang berdiri di samping Reagen. "Ini rumah sakit kami,"
Jennia dan Krystal beringsut mendekati Zenaya. Keduanya menatap foto tersebut dan membaca spanduk yang terbentang di sana.
"Terima kasih kepada Winston General Hospital dan Cole Inc. atas kebaikannya dalam memberikan pelayanan gratis bagi kami. Semoga kasih Tuhan selalu menyertai."
"Oh, my God!" pekik Jennia. Dia sama sekali tidak menyadari foto tersebut, karena memang sudah lama tidak melihat-lihatnya lagi. Begitu pula dengan Krystal.
Kedua wanita itu tertawa geli. "Kalian memang ditakdirkan bersama," ucap keduanya nyaris bersamaan.
Zenaya tak tahu harus mengatakan apa, selain menanggapi perkataan ipar dan mertuanya dengan tawa malu. Sebab ingatan wanita itu tiba-tiba berputar pada pembicaraan dirinya dengan Natalie tempo lalu.
"Sebelum kau mencintainya, Rey telah mencintai dirimu terlebih dahulu, jauh sebelum sebelum kau menyadari kehadiran pria itu di sekolah."
Kini dia tahu akan maksud dari perkataan Natalie.
Seutas perasaan senang sekaligus tak nyaman sontak bergelung memenuhi hati Zenaya.
Kesakitan yang dirasakan oleh Reagen atas penolakan dirinya, pasti jauh lebih besar dari pada yang dia rasakan sendiri.
Reagen memperlakukannya jahat hanya sementara, sedangkan dia nyaris belasan tahun.
Zenaya mengelus lembut sosok kecil Reagen. Seuntai kata maaf disematkan Zenaya untuk sang suami tercinta.
...***...
Mengetahui kemarahan Adryan, Natalie hanya bisa bergeming. Wanita itu baru saja membicarakan niatnya untuk pergi meninggalkan tanah air dan menetap di sana.
Memiliki jenjang karir di Perancis merupakan impian terbesar Natalie, dan dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang.
Natalie memang sempat mengurungkan kepergiannya pasca sakit yang diderita sang ayah. Namun, kondisi beliau yang sudah pulih membuat keinginan Natalie kembali bangkit. Terlebih, dia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
"Kapan kau akan berangkat?" Adryan akhirnya membuka suara.
"Akhir pekan ini." Jawab Natalie dengan suara kecil.
Helaan napas keluar dari mulut Adryan. "Tak bisakah kau berkarir di sini saja? Kau sudah mempunyai nama di sini. Aku tak bermaksud menghalangi karirmu, tetapi untuk pergi ke sana ... terlalu berat rasanya."
"Aku ...." Natalie tak sanggup meneruskan perkataannya.
"Berikan aku waktu sejenak." Hanya itu yang dapat Adryan katakan pada Natalie.
Natalie memandang sendu kekasihnya tersebut. Dia sebenarnya tak ingin mengalahkan salah satunya, tetapi apa mau dikata, kesempatan tak bisa datang dua kali.
...***...
Reagen masih terheran-heran melihat tingkah sang istri yang sedari tadi begitu perhatian padanya
Dari mulai datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput sang istri, sampai mereka kini berada di dalam mobil pun, Zenaya tak henti-hentinya memperhatikan Reagen.
__ADS_1
"Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Reagen kikuk. Dia bukannya risih ditatap sedemikian rupa oleh Zenaya, melainkan merasa malu.
Zenaya menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa? Kau aneh sekali hari ini. Apa Mama baru saja memberitahu aibku padamu?" tanya Reagen penasaran.
"Memang kau punya aib?" Zenaya balik bertanya.
"Ya ... banyak." Jawab Reagen jujur.
Zenaya tertawa kecil. Wanita itu pun menggenggam tangan sang suami sembari menatapnya sendu. "Terima kasih atas segalanya," ucap Zenaya kemudian.
"Segalanya apa?" Reagen yang tidak memahami, balik bertanya.
"Maaf, aku tak pernah mengenali dirimu selama ini."
Perkataan Zenaya selanjutnya membuat Reagen menoleh. "Maksudmu?"
Zenaya mengeluarkan selembar foto dari tasnya. Foto yang dia minta dari ibu mertuanya untuk dia simpan.
Reagen terbelalak. "Kau mengetahuinya?"
Zenaya mengangguk. "Tadi Mama mengajakku melihat-lihat foto masa kecilmu dan Kak Noah, dan aku menemukan ini."
Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, sebelum akhirnya Zenaya membuka suaranya lagi. "Aku tahu kau pasti mengetahui foto ini. Apa lagi, Natalie pernah membicarakan sesuatu padaku."
"Dia memang tidak bisa diajak menyimpan rahasia," guman Reagen jengkel.
"Sejak kapan kau tahu?" tanya Zenaya.
"Setelah pertengkaran kita dulu. Kau pasti menyadari perubahan sikapku," jawab Reagen jujur.
"Mengapa kau tidak mengatakannya?" Zenaya menatap Reagen sendu.
"Tak ada yang berubah menurutku. Lagi pula, aku tak ingin kau mengira, aku mengambil kesempatan agar sudi dimaafkan."
Setetes liquid bening mengalir membasahi pipi Zenaya.
"Sayang, kenapa menangis?" Reagen menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menghapus air mata Zenaya.
"Aku pasti jahat sekali padamu?"
Reagen sontak menggeleng keras. "Aku lah yang jahat. Maafkan aku karena menjadi pria pengecut. Andai saja aku menolak keras taruhan itu, kita pasti tidak akan seperti ini, dan kau pun tak perlu menyimpan kesakitan selama itu."
Zenaya mencium lembut tangan Reagen. "Berjanjilah kita akan bahagia," ujarnya kemudian.
Reagen mengangguk penuh keyakinan. Dia pun mendekap tubuh Zenaya erat.
"Aku berjanji, kita akan bahagia." Seuntai janji terucap dari lisan pria itu.
__ADS_1