
"Terima kasih," ucap Zenaya pada suaminya. Mereka baru saja tiba di Winston General Hospital.
Reagen mengangguk. "Tunggu sampai aku jemput. Jangan ke mana-mana," kata pria itu mengingatkan.
"Akan kutunggu," balas Zenaya seraya mengulas senyum.
Reagen memeluk singkat tubuh sang istri dan mengecup bibirnya lembut. Kemudian dia beralih pada perut Zenaya.
"Baik-baik, Jagoan," ujar Reagen. Tangannya mengelus gemas perut istrinya itu.
Zenaya keluar dari mobil dan menunggu di sana sampai Reagen menghilang dari hadapannya. Setelah itu baru dia masuk ke dalam gedung rumah sakit.
"Pagi, Bu," sapa Jane yang juga baru datang.
"Pagi, Jane," balas Zenaya.
"Pagi-pagi udah mesra sekali, Bu. Bikin iri para single ladies saja." Jane terkikik. Rupanya perawat muda itu melihat kemesraan mereka di mobil tadi.
"Tidak sopan tahu intip-intip." Zenaya memperingati. Wajah wanita itu pura-pura galak, padahal dia tengah menutupi rasa malunya.
"Eh, saya tidak mengintip, Bu. Kebetulan saat kalian tengah ...," (Jane mengangkat kedua tangannya dan membuat simbol ciuman.) "aku lewat," kata Jane dengan raut wajah menggoda.
"Jane!" pekik Zenaya. Wanita itu melirik ke sana kemari, takut-takut bila ada orang apa yang Jane lakukan.
Jane kontan tertawa.
Keduanya pun berbincang-bincang hangat hingga tiba di lantai lima dan berpisah di nurse station.
Sesampainy di ruangan, Zenaya meletakkan tasnya di atas meja. Wanita itu langsung mengambil berkas-berkas yang kemarin sempat terbengkalai dan belum dia periksa.
Sepuluh menit kemudian, suara ketukan pintu ruangannya terdengar.
Zenaya tak perlu menyuruh si pengetuk masuk, sebab kini, dia telah menampakkan dirinya di ambang pintu.
"Aku pikir ruangan ini masih akan kosong hingga beberapa hari ke depan." Grace muncul sembari membawa sekantong plastik berisi makanan.
Zenaya melempar senyum ramah.
"Suasana hatimu sepertinya sedang bagus. Jadi, ke mana saja kau kemarin sampai membolos kerja?" Wanita itu duduk di sofa, dan menyuruh Zenaya menghentikan aktifitasnya terlebih dahulu untuk sarapan bersama.
"Di rumah." Jawab Zenaya. "Terima kasih," ucap wanita itu dengan mata berbinar-binar. Setangkup sandwich isi daging dan tuna yang sangat menggiurkan tersaji di hadapannya.
Grace mengerutkan kening begitu mendengar jawaban Zenaya. "Di rumah saja? Kau sakit, atau apa?" tanyanya penarasan.
Zenaya menggeleng. "Aku baik-baik saja."
"Lalu, kenapa bisa bolos? Rey sakit?" tanya Garce lagi.
"Tidak juga." Jawab Zenaya sembari menikmati sandwich buatan sahabatnya itu.
"Lalu?"
Zenaya memicing sinis. "Kau ini kebiasaan sekali kalau sudah penasaran!" serunya jengkel.
"Tentu saja. Siapa yang tidak penasaran jika kau tiba-tiba bolos, lalu datang keesokan harinya dalam keadaan baik-baik saja. Wajahmu bahkan terlihat sangat cerah." Grace bersandar pada sofa dan melipat kedua tangannya.
"Kau ingin aku tidak baik-baik saja, begitu?"
Grace langsung memandang Zenaya tak kalah sinis. "Kau tahu, bukan itu maksudku, bodoh!"
Zenaya mengendikan bahunya. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengannya, melakukan segala hal dan kegiatan seperti sepasang suami istri pada umumnya ."
"Seperti?" Grace menggeser tubuhnya sedikit.
"Seperti berbincang, pergi kencan, berbelanja bulanan, dan ...,"
"Tidur?" Grace menimpali penjelasan Zenaya.
"Yaps, tidur." Tanpa sadar wanita itu mengiyakan perkataan Grace.
Suasana hening sejenak. Zenaya sontak mengangkat kepalanya dan menatap Grace dengan sorot mata terbelalak.
Hal pertama yang Zenaya lihat adalah seringai Grace yang sangat menyebalkan.
"Singkirkan pikiran itu dari otakmu!" seru Zenaya.
"Pikiran apa?" Grace tersenyum sumringah.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan dan aku tidak akan mau mengatakan apa pun lagi!" pekik Zenaya panik.
Melihat kepanikan Zenaya, Grace malah tertawa terbahak-bahak sembari memeluk wanita itu erat.
Garce merasa sangat bahagia jika memang benar hubungan keduanya sudah sejauh itu. Itu artinya, Zenaya tak lagi takut pada Reagen dan mereka benar-benar menjalani biduk rumah tangga yang sesungguhnya.
"Kau harus menceritakan semuanya padaku!" pinta Grace seraya tertawa-tawa.
"Kau gila!" pekik Zenaya.
"Aku memang gila!" sahut Grace.
__ADS_1
"Jauh-jauh dariku!" teriak Zenaya sembari menjauhkan Grace dari tubuhnya. Namun, sang sahabat masih setia memeluk dirinya.
Zenaya mau tak mau jadi ikut tertawa melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan sahabat baiknya itu.
...***...
Adryan tersenyum pada seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan fisioterapi.
"Kau baru datang?" tanya pria itu ramah.
"Ya." Natalie menganggukkan kepalanya.
Adryan hendak berjalan menghampiri pintu, tetapi Natalie langsung menghadang tubuh pria itu.
"Kau tak pernah mengizinkanku untuk menemui kedua orang tuamu." Adryan menatap Natalie dengan kening berkerut.
"Mereka bisa salah paham padamu," kata Natalie.
Meski Adryan sudah beberapa kali bertemu, dan mengantar wanita itu pulang ke rumah, tetapi dia tak pernah diperkenankan masuk untuk sekadar bertukar sapa dengan kedua orang tua Natalie dengan dalih seperti itu. Keduanya bahkan tak jarang harus pergi diam-diam agar bisa memghindari jepretan kamera para paparazzi.
"Memang kenapa kalau mereka salah paham?" tanya Adryan.
Mendengar pertanyaan tersebut, Natalie terlihat kesal. Dia pun mendorong tubuh Adryan dan mengajaknya pergi dari sana. "Cerewet! Aku sudah kelaparan tahu!"
Adryan tersenyum simpul dan menuruti kemauan Natalie untuk pergi dari sana.
Semula mereka berniat untuk makan di luar rumah sakit, tetapi ketika Natalie mendapati beberapa orang wartawan tengah menunggu di lobby, mereka mengurungkan niatnya.
"Kita pesan makanan dan makan di ruanganku saja," usul Adryan kemudian. Mereka tak mungkin bisa makan di ruang terbuka lainnya, seperti kantin rumah sakit.
"Oke." Natalie menyetujui usul Adryan.
Mereka pun berjalan menuju ruangan Adryan. Beruntung siang ini Adryan tidak memiliki jadwal operasi, jam prakteknya pun baru akan di mulai dua jam lagi.
Sesampainya di sana, Natalie langsung melihat-lihat sekeliling ruangan kerja Adryan.
Walau kecil, ruangan tersebut tampak begitu sejuk dan nyaman. Wanita itu juga melihat beberapa lukisan-lukisan abstrak yang terpajang di dinding ruangan Adryan. Sepertinya, dia memang menyukai hal-hal berbau seni.
"Ini lukisan karya siapa?" tanya Natalie penasaran.
"Lukisanku. Jelek ya?" Adryan bertanya balik. Pria itu baru saja selesai memesan makan siang untuk mereka.
"Bagus. Sepertinya kau berbakat di bidang seni juga," puji Natalie tanpa mengalihkan pandangannya pada lukisan-lukisan karya Adryan. Matanya kemudian menangkap sebuah foto keluarga yang terpajang di lemari kaca.
Ada potret kedua orang tuanya dan Zenaya di sana.
Natalie seketika bungkam. Dia sejenak lupa bahwa Adryan merupakan kakak dari wanita itu.
"Ini keluargamu?" tanya Natalie.
Adryan mengangguk. "Mereka ayah dan ibuku, dan itu adalah adik kecilku satu-satunya."
"Kau sepertinya sangat menyayangi adikmu." Natalie menatap Adryan.
Adryan membalas tatapan mata Natalie sembari mengulas senyum. "Sangat. Dia adalah segalanya bagiku."
Natalie menghembuskan napasnya. "Beruntung sekali. Sebagai anak tunggal aku merasa iri pada adikmu."
Wanita itu lalu menatap sederetan foto lain. Terutama foto saat Adryan melakukan kegiatan kemanusiaan beberapa tahun silam.
Natalie tak tahu bahwa Adryan sebenarnya belum lama berada di tanah air, setelah lima tahun berada di luar negeri untuk memenuhi panggilan hati.
"Kau dokter yang sangat hebat," puji Natalie.
"Terima kasih. Kau pun aktris yang–"
"Tidak beradab?" Natalie memotong pembicaraan Adryan. Entah mengapa, meski Adryan sering mengatainya dengan sebutan demikian, dia tidak pernah merasa tersinggung. Justru sebaliknya, Natalie malah merasa apa yang dikatakan Adryan memang benar.
Adryan tertawa kecil. "Kau tak lagi aktris tak beradab."
"Cih! Pembohong!" Natalie memicing sinis, lalu ikut tertawa.
...***...
Jika biasanya Zenaya akan menunggu Reagen saat jam pulang kerja, kini Reagen lah yang menunggu sang istri. Pria itu memang sengaja pulang lebih cepat agar bisa menjemput sang istri tepat waktu.
"Kau ingin makan malam di luar atau di rumah?" tanya pria itu ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Rumah saja. Aku ingin memasak makan malam untukmu," jawab wanita hamil itu.
Reagen menggenggam tangan Zenaya dan mengecupnya ringan.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di lobby apartemen. Seorang security yang melihat kedatangannya, langsung berlari menghampiri pria itu.
"Mr. Walker, ada kiriman paket untuk Anda?" Security tersebut memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat pada Reagen.
"Dari siapa?" tanya Reagen.
"Saya tidak tahu. Tadi kurir pos yang mengantar ini."
__ADS_1
Reagen menerima amplop tersebut dan berterima kasih. Dia juga sempat membolak-balikan amplopnya untuk melihat tulisan-tulisan khusus yang mungkin tertera di sana.
"Tak ada nama pengirimnya?" Zenaya ikut penasaran.
Reagen menggeleng. "Tidak. Mungkin dari salah satu kolegaku. Aku akan menanyakannya pada Frans nanti."
Sesampainya di unit apartemen, Reagen mempersilakan sang istri untuk mandi lebih dulu, sementara dia akan memeriksa amplop tersebut.
...***...
Natalie keluar dari rumahnya dan menghampiri Adryan yang tengah bersandar di pintu mobil.
Sepuluh menit lalu pria itu menghubungi Natalie karena ada satu barang milik wanita itu yang tertinggal di ruangannya.
"Apa yang tertinggal? Aku sudah memeriksa seluruh isi tas, dan semuanya utuh," kata Natalie tanpa basa-basi.
Adryan mengangkat tangannya. Terdapat sebuah ikat rambut berwarna pink di tangan pria itu.
Natalie terperanjat. "Ya Tuhan! Hanya ini?"
Adryan mengangkat alisnya. "Memangnya tidak penting?"
"Tentu saja tidak. Ikat rambut itu bahkan aku dapat dari seorang perawat saat sedang sibuk menggulung rambut." Natalie tertawa kecil.
"Kalau begitu ada hal penting lainnya." Adryan membuang ikat rambut tersebut ke sembarang arah.
"Apa?" Natalie tampak berpikir.
"Menyapa kedua orang tuamu," jawab pria itu.
Natalie kontan terlihat kesal. Sambil bertolak pinggang dia pun berkata, "sudah berapa kali aku bilang, tidak bisa! Mereka bisa saja salah paham dengan hubungan ini."
"Akan kubuat mereka tak salah paham." Seringai tampan terpatri dari wajah pria itu.
"Caranya?"
Adryan sontak menarik pinggang Natalie agar merapat pada tubuhnya. Dengan satu gerakan cepat pria itu tiba-tiba mencium bibir Natalie tanpa izin.
Natalie terperanjat. Dia refleks melepaskan diri. "Apa yang kau lakukan, brengsek!" hardiknya.
Adryan sama sekali tidak tersinggung saat Natalie memakinya. Pria itu malah berjalan mendekati Natalie. "Kau pernah bercerita padaku soal satu pria yang sudah kau sukai sejak lama. Hingga saat ini kau bahkan belum bisa melupakannya, kan?"
Natalie mengerutkan keningnya. "Mengapa kau tiba-tiba membahas hal itu?"
Adryan menggenggam tangan wanita itu dan menatapnya dalam-dalam. "Biarkan aku yang membuatmu lupa."
Natalie mendecih. "Katamu, aku hanyalah seorang publik figur tak beradab dan egois. Tak ada sifatku yang bagus di matamu."
"Memang."
Natalie membelalakkan matanya.
"Maka dari itu, izinkan aku mengimbangi sifat burukmu itu." Senyum simpul yang Adryan tunjukkan membuat Natalie seolah terhipnotis.
Perlahan, Adryan mendekati wajah Natalie sekali lagi. Tanpa melawan, wanita itu menerima ciuman mesra dari Adryan kembali.
...***...
"Rey, sekarang–"
Zenaya terkejut saat Reagen melempar beberapa lembar foto di atas ranjang. Sorot mata pria itu terlihat dingin dan sinis.
"Kenapa?" tanya Zenaya heran.
Reagen enggan menjawab, tetapi matanya bergulir pada lembaran-lembaran foto yang tergeletak di atas ranjang.
Zenaya mengambil dan memeriksanya satu persatu.
Mata wanita itu kontan terbelalak.
Gambar yang ada di dalam foto-foto tersebut, merupakan gambar dirinya dan Alex, yang tengah berpelukan di pinggir jalan dua hari lalu. Dari beberapa foto yang tercetak, ada satu foto yang diambil dari sudut lain. Mereka terlihat seperti hendak berciuman.
"Ini ... aku ... foto ini tidak seperti yang kau lihat, Rey," Zenaya mencoba memberi penjelasan pada suaminya.
"Jadi, memang benar kau bersama dengannya malam itu? Pantas saja kau tidak dapat menjawab pertanyaanku. Taksi mogok? Jangan bercanda, Zen." Reagen tertawa sinis.
"Aku bisa menjelaskannya, Rey. Ini tak seperti yang kau lihat." Zenaya berjalan mendekati Reagen, tetapi pria itu menjauhinya.
"Lalu seperti apa?" tanya Reagen dingin. "Maksudmu, ini lebih dari itu?"
"Rey, please," Zenaya menatap Reagen nanar.
" Aku sejak tadi memikirkannya Zen, mengapa kau tiba-tiba mau disentuh olehku. Ternyata sentuhanku, kau gunakan untuk menghapus jejak pria itu di tubuhmu." Reagen menatap Zenaya kecewa.
Air mata mengalir dari pelupuk Zenaya. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya–"
Tanpa menunggu Zenaya menyelesaikan perkataannya, Reagen sudah pergi meninggalkan apartemen mereka.
Zenaya terduduk lesu di atas ranjang, sementara air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Dia memang meminta disentuh untuk menghapus jejak pria itu, tetapi lebih dari itu, dia ingin seutuhnya dimiliki Reagen. Dengan begitu, Zenaya merasa lebih berani menghadapi Alex.
"Maafkan aku." Zenaya menangis terisak-isak.